Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Aku kangen Kak!


__ADS_3

Jihan masuk kamar dimana Zaid tidur, menciumnya dan menatap wajahnya. Muka Habil ada di muka Zaid yang tidur terlentang.


Jihan menatap sekeliling kamar dan ruangan lain yang lama di tinggalkannya, semua masih terawat dan masih seperti dulu.


Mungkin suaminya jarang pulang, kelihatan dari semua barang yang bukan baru di pakai sama si empunya. Termasuk kamar mandi yang kering dan handuk yang kering banget.


Jihan keluar ruangan dan berjalan ke teras rumah di mana dulu selalu berjemur saat dirinya sakit duduk di kursi roda dan dengan setianya Habil membawa Jihan jalan-jalan mendorongnya dalam keadaan hamil.


"Bi tolong bawakan pakaian saya ke kamar."


"Baik Neng, yang tadi antar Neng siapa kok nggak lama di sini neng?" tanya Bibi sambil mendorong koper kecil milik Jihan.


"Itu temanku Bi, mereka habis liburan dari Anyer, temanku semasa kuliah di Australia dua-duanya." jawab Jihan sambil melihat-lihat sekeliling isi tengah rumah yang masih saja seperti dulu seperti waktu terakhir dirinya meninggalkan rumah ini.


"Bi apa Bapak sudah lama tidak pulang ke rumah?"


"Begitulah Neng, terkadang Pak Habil pulang ke sini minta sarapan atau dia datang tiba-tiba tidur, lalu mandi dan pergi lagi terkadang Bapak juga nggak pulang ada dua malamnya, terkadang juga dia tidur di rumah berhari-hari begitulah kebiasaannya tidak bisa ditentukan."


"Ya sudah Bi, nanti saya telephon kasih tahu kalau saya sudah di sini."


"Iya Neng."


Jihan meraih ponselnya dan duduk di tepi ujung tempat tidur, menimbang nimbang apa yang akan di katakan nya saat bicara sama suaminya.


Nada panggil telepon berbunyi Jihan masih bingung apa yang akan diucapkannya, membiarkan suasana yang akan membawanya.


"Ya, Halo Dek? apa Zaid sehat sehat saja?" suara khas suaminya di sebrang sambungan telephon.


"Sehat Kak Alhamdulillah, kok cuma Zaid yang di tanya?"


"Maaf aku salah ya? kamu juga sehat Dek? gimana khabar semua keluarga? maaf juga aku belum bisa nengok putra kita aku begitu sibuk, mungkin minggu depan aku ke sana, aku sudah kangen banget."


"Kak, lagi sibuk apa?"


"Persiapan menyambut tahun baru, ini juga habis rapat."


"Kak Habil nggak pulang?"


"Sepertinya enggak Dek, aku istirahat di hotel saja, sama aja di rumah istirahat di sini istirahat."


"Kak! pulanglah, ada yang mau bertemu."


"Apa maksudnya Dek?" Habil merasa heran.


"Aku sama Zaid ada di rumah, pulanglah!"


"Kamu Dek sama Zaid ada di rumah? rumah mana?"

__ADS_1


"Di rumah kita. Di Pangandaran."


"Astaghfirullahaladzim, kenapa kamu tidak mengabari aku Dek? biar aku yang jemput kalian."


"Aku belum percaya coba video call aku mau melihat Zaid."


"Dia lagi tidur Kak, kecapean."


Jihan mengalihkan panggilan yang tadinya hanya panggilan suara menjadi panggilan video call.


Hati Habil entah seperti apa rasanya, melihat putranya Zaid ada di rumahnya, ada apa dengan Jihan? kenapa tanpa gugur dan angin tiba-tiba datang dan pulang ke rumah?


Habil setengah berlari keluar dari ruangan kantornya tak memperdulikan apapun, asisten dan anak buahnya melihatnya dengan keheranan dalam hati mereka penuh tanda tanya dan berprasangka takut terjadi apa-apa, tetapi Habil tidak menggubris apapun dan pertanyaan semua orang yang melihatnya berjalan dengan terburu-buru ke parkiran.


Sejuta pertanyaan dan keheranan memenuhi dada Habil, rasa bahagia rasa senang dan juga entah rasa yang lain yang tak bisa dirinya ungkapkan dengan kata-kata, mungkin yang paling dominan dari dalam hatinya adalah perasaan bahagia.


Habil menyetir dengan hati-hati, wajah Zaid dan istrinya Jihan begitu membayang di mukanya silih berganti.


Ada senyum dan juga kekhawatiran di wajahnya.


'Ya Allah apa Jihan sudah berubah? seperti yang selalu ada dalam doa-doanya?'


'Apa gerangan yang mengetuk hati Jihan untuk pulang?''


Sampai pintu pagar Habil begitu tak sabar, berkali-kali memencet klakson mobilnya sampai Bibi datang membukakan pintu pagar.


Semakin menghitung langkah Suaminya, perasaan Jihan semakin deg degan, ingin melihat antusias muka suaminya saat melihat dirinya sama Zaid, semoga rasa suaminya sama seperti apa yang dirasakannya saat ini.


Pintu di dorong dari luar perlahan karena tak di tutup rapat, Jihan melirik Habil yang berdiri di pintu dengan pandangan tak percaya.


Habil bergantian memandang Jihan dan putranya Zaid yang lagi tidur karena kecapean. Jihan perlahan bangkit dan berdiri berjalan menghampiri suaminya dan memeluknya sangat erat.


"Kak Habil, aku pulang sama Zaid karena aku merindukanmu."


Setitik air bening keluar dari bola mata Jihan seiring dengan pelukan yang bersambut dan tutur kata yang diucapkan juga disampaikan kepada suaminya.


"Maafkan Jihan Kak, Jihan bukan istri dan Ibu yang baik selama ini, tapi beri kesempatan untuk bisa memperbaikinya."


"Masya Allah Dek, selama ini kamu sama Zaid yang selalu ada dalam do'a ku, di setiap pintaku, kembalikan istri dan anakku, Jangan meminta maaf sayang, Aku juga bukan suami yang sempurna, tapi mari kita jadikan hidup kita sempurna."


Jihan tumpah tangis di dada suaminya, melepaskan semua penyesalan meninggalkan suaminya selama ini dengan alasan yang sangat tidak dimengerti Habil, tapi walaupun begitu Habil tetap bersabar sampai rasa sadar Jihan datang dengan sendirinya. Dan saat ini semua itu menjadi kenyataan.


"Tapi aku ingin mendengar Kak Habil memaafkan ku!" lirih suara Jihan dengan rasa kangennya.


"Apa maaf itu harus di ucapkan?" jawab Habil sambil melonggarkan pelukannya, menatap wajah cantik Jihan sambil mengangkat dagunya dan mencium bibir yang terkatup di hadapannya.


"Aku begitu merindukan kamu sayang!"

__ADS_1


"Katanya tadi kangen sama Zaid? sama aku nggak di sebut tadi?"


"Aku memang kangen sama Zaid tapi lebih kangen sama Mom nya!"


"Ah, Kak Habil!"


"Ssssssssst ... jangan teriak nanti anak kita bangun, mau aku tunjukan kalau aku kangen sama kamu sayang?" ucap Habil sambil menutup pintu dan menguncinya perlahan, Jihan tak menjawab hanya mukanya merona merah.


"Apa Zaid sudah lama tidurnya sayang?"


"Sudah."


"Waduh, sempat nggak ya?" Habil tak bisa menahan rasa kangennya. Jihan membuka satu persatu kancing kemeja licin suaminya, mengusap dadanya yang penuh dengan bulu lebat dan menciumnya perlahan, dada yang sangat di rindukannya.


"Boleh aku melakukannya sekarang sayang? sebentar saja takut keburu Zaid bangun." Jihan mengangguk sambil tersenyum.


Habil menarik tangan Jihan perlahan ke atas tempat tidur, di situ mereka menumpahkan segala kerinduan yang tak tertahankan, sekian lama jarang bertemu, sekali-kali bertemu juga jarang melakukan hubungan suami istri kalau Habil tak memaksa Jihan.


Terakhir mereka melakukannya saat waktu Habil menengok Zaid mungkin tiga bulan yang lalu atau lebih, saat Habil mau pulang waktu itu hujan begitu deras, mertuanya yang juga pamannya Husein Al Rasyid melarangnya pulang terpaksa Habil menginap di Anyer.


Habil tak bisa kalau dekat sama Jihan istrinya kalau tak menyentuhnya, walau Jihan saat itu menolaknya dengan alasan ngantuk, tapi Habil tak habis akal sampai semuanya dapat, selalu saja Jihan tak banyak bicara dan memandangnya tak suka sampai Habil berpamitan pulang


Tapi kini Jihan begitu pasrah dalam pelukannya, Habil tak ingin bertanya apapun dulu semua terlupakan oleh kebahagiaannya sendiri.


Habil melihat dan merasakan Jihan begitu berbeda dari sejak mereka menikah, Jihan dapat memberikan respon yang positif pada dirinya, tapi entah kenapa saat ini Jihan begitu bergairah banget dirasakan Habil, Habil merasakan sentuhan rasa cinta yang sesungguhnya.


Satu babak tak memerlukan waktu lama, berpacu dalam kenikmatan suami istri. Habil terkulai di samping Jihan yang menyuguhkan senyum cantiknya.


.


.


.


.


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2