
Habis maghrib Adrian menjalankan mobilnya menuju rumah Livia,dalam hatinya ingin menyudahi semua ketidak beresan hubungan yang setiap pertemuan selalu berantem dan berantem,sedikit sedikit salah faham,sedikit sedikit ngambek, sedikit sedikit nuntut ini itu,sedikit sedikit tersinggung,sedikit sedikit ngadu masalah keluarganya, sedikit sedikit shoping,ujung ujungnya uang,lelah hati dan fikiran mengikuti alur gaya hidupnya,yang seakan memanfaatkan dirinya atas nama cinta.
Diajak kompromi nggak pernah satu tujuan dan tak ada kesamaan selalu ingin menang sendiri,tapi kenapa dirinya mencintainya ? begitu sempit kah dunia ini ? Adrian tersenyum sendiri,hanya mencintai tak melihat sisi lain di diri Livia,tapi sekarang rasa itu telah hilang jadi seonggok perasaan yang tak bermakna sama sekali,yang muncul adalah rasa kecewa setelah tahu karakter yang sesungguhnya.
Mobil berhenti di rumah yang gedenya sedang,Adrian berjalan dan membuka pagar yang tak di kunci hanya di cantel,lalu mengetuk pintu dan mundur dua langkah menunggu,tak ada jawaban lalu mengulangi lagi dan lagi tapi tak ada jawaban Adrian mengintip ke dalam dari celah kain gorden tapi tak ada aktifitas sama sekali,tapi lampunya nyala,di tunggu semenit,dua menit seperti orang kesasar Adrian celingukan sendiri,lihat lihat sekeliling halaman seperti lama nggak di bersihkan.
Adrian keluar pagar dan mencari tahu ke orang sekitar,lalu menuju warung di sebrang jalan sambil membeli air mineral.
"Bu maaf mau tanya yang punya rumah di sebrang itu pada kemana ya ?"
"Mas ini siapa ?"
"Saya teman anaknya yang bernama Livia"
"Oh Mas ini temannya Neng Via,Ibu kurang tahu percisnya masalahnya Mas,cuma denger khabar pada pindahan,malah rumahnya juga mau di jual menurut teman Mama nya Neng Via yang suka belanja ke sini"
"Hah pindah ? pindah kemana ya Bu ?"
"Ibu nggak tahu Mas,cuma selentingan rumah tangga Mamanya Neng Via juga udahan katanya,terus adik laki lakinya pernah di tahan polisi segala yang Ibu tahu hanya itu,Ibu takut salah Mas"
"Ya ya ya...ya ampuuuuun Livia kemana harus saya cari"
"Mas pacarnya Neng Via ya ?"
"Oh bukan bukan, saya temannya Bu,ya sudah terimakasih informasinya ya"
"Kalau mau tahu lebih jelasnyaq tanya aja ke rumah RT tuh rumah yang kuning"
"Oh gitu ya,ya sudah saya coba tanya ke sana"
"Silahkan Mas"
Adrian bertanya pada RT setempat tapi tak mendapat jawaban yang memuaskan hampir percis informasinya seperti dari si Ibu warung tadi,karena mereka pindahan tanpa melapor juga pindahannya malam hari,nggak tahu juga kemana pindahannya,hanya ada pamannya yang mau pasang plang berita kalau rumah ini mau di jual,tapi tak ada no telephonnya.
Dengan lunglai Adrian berjalan ke mobilnya dan berdiri dekat pintunya lalu menelephon Adit temannya,di telephon berkali kali tapi tak di angkat,lalu Adrian naik mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah kafe tempatnya dulu menghabiskan malam bersama temannya.
Nggak begitu rame dan pelayan masih kenal dengan boss muda yang datang sendirian ini.
Adrian memesan segelas kopi ala kafe itu dan ngobrol dengan pelayannya.
"Hai Mas bro, dah lama nggak datang sendirian aja ?"
"Heemght,siapa aja yang masih suka ke sini ?"
"Paling Mas Adit,ceweknya,Kevin siapa lagi ya....."
__ADS_1
"Pernah Livia datang ke sini nggak ?"
"Pernah beberapa kali sama temannya"
"Temannya cowok cewek ?"
"Teman ceweknya"
Adrian mencoba menelephon Adit teman dekatnya yang dari tadi nggak diangkat.
"Hai bro pa kabarnya ? sorry tadi nggak ke angkat lagi di kamar mandi"
"Lu gue tunggu di tempat biasa sekarang,on time ya gue SOS banget"
"Gue lagi nggak enak badan boss"
"Apaan preman sakit pokoknya ke sini"
"Emang ada apaan gue habis berobat,ngomong di telephon aja"
"Ya udah gue ke rumah lu,kalau memang bener lu sakit ya"
"Eh jangan jangan gue nggak enak boss biar gue maksain ke situ tunggu aja"
"Ya udah di tunggu ya..."
Adit datang dengan jaket resleting full,juga kelihatan sayu,bener kayaknya nih orang sakit fikir Adrian,dan juga batuk batuk.
"Hai kemana aja lu hilangnya jauh banget" Adit datang datang langsung interogasi.
"Ada aja jauh dikit,lu bener sakit ya,gue minta maaf di kira lu bohong"
"Slow aja,emang ada apa ?"
"Gue mau tanya Livia,tadi ke rumahnya kosong tanya tetangga sama Pak RT nggak ada yang tahu,kemana ya dia ?"
"Akhirnya lu kangen juga haaaaaaaa"
"Ssssssssst,bukan itu bro tapi gue mau menyelesaikan masalah gue sama dia,lu kan tahu gue udah lama nggak sejalan lagi sama dia,tapi demi kebaikan kita masing-masing minimal ada satu kata dari kita berdua"
"Serius lu mau putus ?"
"Ya begitulah,biarlah dia mencari kecocokannya sendiri,gue juga begitu,jadi kapan lu ketemu terakhir sama dia ?"
"Udah lama banget gue nggak ingat,nomor ponselnya juga nggak aktif "
__ADS_1
"Justru itu kalau ada nomornya gue nggak nyari
elu,eh lu mau minum apa pesan aja..."
"Sorry gue lagi nggak ngopi dulu lagi batuk heeee..."
"Lu sekarang ngapain ?" Adrian menatap Adit di sela sela minum kopinya.
"Akhirnya gue juga kayak elu elu semua mulai dengar apa kata bokap nyokap,gue belajar bisnis suruh mengelola showroom kendaraan milik ortu haaaaaaaa"
"Haaaaaaaa khirnya...selamat ya semoga sukses !" Adrian menepuk bahu sahabatnya.
"Ya ya ya terimakasih boss"
"Lu masih jalan sama Irene ?"
"Ya begitulah haaaaaaa"
"Jangan jangan itu jodoh lu"
Mereka tertawa bersama,itulah sahabat tak ada beban apapun semua terasa bebas dan rahasia saling mengisi dan memberi,terkadang bisa lebih dekat melebihi saudara.
"Gue belajar mengelola Hotel di Pangandaran kalau ada waktu mau liburan gue tunggu,ajak juga Irene ya pokoknya gue servis full buat elu berdua"
"Wow surprise banget bro... pasti,kalau gue ada waktu pasti datang"
"Ya misi gue ke sini kali ini gagal,tapi coba cari tahu Livia minimal dapat nomornya ya,gue tunggu banget"
"Kenapa begitu urgent boss,kan bisa lain kali atau kapan saja ?"
"Itu tuntutan cewek gue,juga gue nggak mau ada masalah kedepannya,gue jalin hubungan serius sekarang,mungkin ini cinta sejati gue"
"Wah wah wah kejutan banget bro,orang mana ?"
"Alah nanti aja pada saatnya nanti juga akan tahu"
"Oke kalau begitu gue cabut dulu ya,lu juga pulang istirahat,jangan lupa kalau dapat informasi Livia hubungi gue ya di tunggu banget"
"Siap boss,lantas kapan balik lagi ke Pangandaran ?"
"Kemungkinan besok siangan"
Adrian membayar kopinya dan berpisah dengan salam tinju kedua sahabat itu beradu.
"Sukses ya,salam buat cinta sejatinya haaaaaaaa" Adit tertawa sambil batuk mengantar Adrian dengan kedua tangannya di atas.
__ADS_1
"Ok ntar aku sampaikan"