
Hari menjelang sore saat Adrian dan Aryanti turun di pelataran Hotel dan Aryanti masuk kembali ke kantornya ada pekerjaan yang ingat rasanya belum di selesaikan nya dan Aryanti tenggelam kembali di meja kerjanya... Adrian masuk juga ke ruangannya dan tak lama menelephon istrinya.
"Bawa obatnya ke sini !"
"Ya Mas..."
Aryanti mengambil obat oles yang tadi beli di apotik dan membawanya ke ruangan suaminya.
"Tutup pintunya...!"
"Apaan sih Mas... pakai tutup pintu segala cuma mau di obati bibir saja"
Aryanti duduk di pangkuan suaminya sengaja ingin menggodanya sambil mengacungkan obat di hadapannya.
"Tuh kan kalau di lihat orang pasti di kira kita mesum di sini" Adrian membiarkan istrinya duduk di pangkuannya,malah dengan senang hati Adrian menyelusupkan mukanya ke dada istrinya dengan manja.
"Sini biar nggak jadi orang yang bersalah Aku obati...tinggal sedikit lagi juga sembuh ini mah dasar kolokan"
"Tapi Aku sama sekali merasa belum terobati dan sembuh..."
"Yeeeee...Maunya seperti apa ?"
"Masih saja bertanya...!? sungguh tak pengertian dan tak punya perasaan"
Adrian mendekap tubuh istrinya yang masih duduk di pangkuannya dengan gemas,dan Aryanti merasa bersalah telah membangkitkan semangat rasa suaminya yang sekian lama terpendam,Aryanti mencium pipi Adrian dan tak di lepaskan maju 'dan bergeser ke lehernya... Adrian memejamkan mata dan begitu menikmatinya.
Aryanti merasa kasihan dan tak bisa melanjutkan lagi,dan suaminya jadi menahan perasaannya sendiri lalu Aryanti turun dan duduk di samping suaminya dan bangkit mau keluar.
"Tidurkan saja biar tenang,dan biarkan obatnya bekerja...Aku masih banyak pekerjaan !"
Aryanti mengambil bantal dan mendorong tubuh Adrian biar bisa tidur dan istirahat,lalu keluar dan menutup pintu.
Berfikir perjuangan suaminya yang ingin berdamai dengan dirinya begitu patut di acungi jempol walau Adrian pada akhirnya gagal total,dan hanya menelan pil kekecewaan dan Aryanti begitu geli mengingatnya...tenang saja Mas Aku melakukan perawatan dulu biar kamu tergelincir...sekalian mendatangkan semua perawatan kecantikan ke Hotel ini biar menjadi fasilitas pribadi dan juga orang lain bisa menikmatinya.
Benar benar lepas dari beban yang mengelilinginya Adrian tidur dengan pulas nya,dan saat ingat ada rasa pahit di bibirnya yang masih luka dan Adrian bangun menyadari dirinya tidur di sofa kantornya.
Menyisir rambutnya dengan sepuluh jarinya Adrian keluar mendapati meja kerja istrinya kosong Komang Putri juga tidak ada...pada kemana semua orang ?
Berjalan ke cafe dan memesan minuman segar Adrian melihat ke pelataran parkir Hotel dan terlihat Istrinya bersama Komang Putri keluar dari mobil dengan belanjaan dan tentengan kantong plastik...
Cewek memang tak lepas dari jiwa belanja nalurinya hanya belanja dan belanja tak ada bosannya beda dengan laki laki yang hanya ingin kenyamanan yang yang mungkin bikin bosan kaum perempuan...
Semakin melihat istrinya yang berjalan dengan sepatu hak tingginya juga dengan padu padan pakaian yang sangat matching dari atas sampai bawah semakin pusing saja kepala Adrian...tak ada obat yang bisa meredakan semua keinginannya sebelum istrinya sendiri yang jadi obatnya, semakin menarik saja Aryanti di mata Adrian dengan tubuh yang semakin langsing ideal seorang perempuan membuat Adrian tak bisa ke lain hati,materi yang mumpuni membuat Aryanti bebas mengekspresikan dirinya dalam merawat dari ujung kaki sampai ujung kepala,dengan alasan sangat masuk di logika dirinya berhubungan dengan area publik yang di tampilkan bukan hanya fasilitas Hotel tapi pelayanan yang enak di ajak ngobrol dan negosiasi dan order pun mengalir.
__ADS_1
Merasakan keinginan yang sekian lama di tahannya membuat semangat Adrian begitu tinggi... padam seketika mengetahui kondisi istrinya tak boleh di sentuhnya,sabaaaaaar paling tiga hari lagi tidur boleh serumah tapi kamar tetap terpisah apa artinya ? berarti sama saja seperti hari kemarin..
Adrian meneguk semua juice mangga yang tersisa dan meraba bibirnya yang mulai nggak terasa sakit mungkin akan sembuh kalau di usapnya sama bibir istrinya atau di pakai memainkan sesuatu di dada istrinya kelihatan sangat menarik untuk di cobanya...kelihatan begitu vulgar ? nggak lah sah sah saja semua di lakukan suami istri dan Adrian keluar cafe masuk ke kantor lagi kepalanya agak pusing dan mau pulang saja dan Adeian terus di ganggu oleh perasaannya sendiri.
"Hai Mas sudah bangun ya rupanya..." suara lembut manja istrinya sambil menyimpan belanjaannya
Adrian hanya menatap istrinya dingin dan menelan ludahnya... yang terasa pahit.
"Dari mana ?"
"Dari salon...kan jadwal perawatan,terus belanja...ada buah buahan tuh juga beli alat cukur Mas,katanya sudah tumpul..."
Adrian ngeloyor saja masuk ruangannya dan mengambil sesuatu lalu keluar lagi.
"Mas mau kemana ?"
"Pulang ! sakit kepala..."
Aryanti melihat jam di pergelangan tangannya dan memang hari sudah sore tapi Aryanti ada janji dengan seorang panitia rapat yang akan mengisi Hotelnya selama sebulan kedepan.
"Mas pulang aja dulu Aku masih ada janji dengan panitia rapat,nanti selesai aku nyusul ya...obat obatan di kotak obat komplit...istirahat saja di rumah"
"Heemght" Adrian tak menjawab lagi hanya berjalan melewati istrinya yang memandangnya dengan tatapan cemas.
Aryanti gelisah panitia belum datang juga sedangkan suaminya tadi pulang mengeluh sakit kepala,tapi semua jangan sampai gagal harus dirinya yang menghadapai panitia rapat kali ini biarlah Mas Adri istirahat dulu toh obat obatan ada di kotak obat.
Adrian pulang ke rumahnya dan menyapa si kecil cantik Alinea yang berlari memeluknya sambil ngomong yang sudah begitu pasih nya.
"Papa Papa..."
"Hai sayang...muach...sayang lagi ngapain ?"
Adrian memangku Alinea di junjung nya ke atas dengan sayangnya dan Alinea ketawa dengan renyahnya
"Agih...Pa Agih...heee..."
"Lagi ? oke Papa lempar lagi ke atas ya...."
"Agih Pa...Agih...heee..."
"Iya lagi..."
"Aduuuuuuh...Papa pegal tangannya sayang ... Dedek main lagi ya...Papa mau minum dulu"
__ADS_1
Alinea berlari lari lagi dan Bi Inah hanya mengawasinya Adrian tertawa melihatnya,lalu masuk ke dalam rumah membuka kulkas dan mengambil minuman ringan kaleng membukanya dan meneguknya.
Duduk di sofa ruang tamu membuka sepatunya dan merebahkan badannya di sofa panjang mencoba tidur tak bisa dan Adrian masuk kamar mandi dan menyalakan air hangat lalu berendam,lumayan...rileks menenangkan tapi tak membuat semua selesai dan akhirnya menonton tv dengan tayangan olahraga jadi pilihannya.
Hampir maghrib Aryanti baru pulang dengan bawaan tentengan belanjaan di kantong plastik besar dan masuk di sambut Alinea yang begitu cerewet memanggil manggil Mamanya.
"Mama Mama ini apa Ma...? Dedek mau ini Ma...ada coklat ya Ma...?"
"Iya sayang nanti dulu...bawa sama Bi Inah sana Mama buka dulu sepatu nya ya..."
Adrian yang dari tadi duduk berdiri juga mengambil belanjaan istrinya dan Alinea menguntitnya lucu sekali dan ingin segera membukanya.
"Papa Papa buka Pa..."
"Iya sabar...emang Mama beli apa ini ya..."
"Coklat Papa..."
"Buat siapa coklatnya ?"
"Buat Dedek..."
"Buat Papa aja..."
"Iiiiiiiiiih...Papa.."
Aryanti datang ikut membukanya dan Alinea duduk di pangkuan Aryanti dan Aryanti memeluknya sayang Adrian membukakan makanan buat putrinya dan di kasihnya dengan melihat Alinea memakan jajanan.
"Sudah mandi Mas ?"
"Sudah dong,emang Mamanya Dedek masih bau..." Aryanti tersenyum.
"Bisa tidur dan sudah minum obat ?"
"Nggak !"
"Loh katanya sakit kepala... ?
"Mungkin tiga hari lagi sembuhnya !"
Aryanti tersenyum,dan mengerti rupanya sakit kepalanya ada alasannya...
"Ya sudah tunggu saja dengan sabar"
__ADS_1