Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Drama belum selesai


__ADS_3

"Katakan kalau ada kekurangan "


"Sepertinya sudah begitu cantik dan percis banget"


Tak begitu menemukan kesulitan bagi Aryanti dandan seperti itu dan seolah terbiasa, setiap hari dirinya di haruskan tampil fresh dan begitu sempurna untuk berhadapan dengan orang konsumen luar atau semua bawahannya.


Pintu di ketuk dan Made Ardika membukanya,begitu degdegan juga Aryanti pertama kali bertemu orang luar selain Made Ardika,masuk satu orang laki laki bule ini mungkin yang kata Made Ardika Jefferson dan satu wanita juga bule yang ini namanya Ashley Hart juga satu wanita masih begitu muda kira kira usia 40 tahunan warga lokal mukanya kelihatan asli Bali.


Made Ardika menyalaminya begitu juga ketiga orang itu menyalami Aryanti sambil tersenyum dan mengangguk juga mengenalkan diri dengan menyebut nama masing masing.


Setelah ketiganya duduk mungkin ketiga nya sudah saling kenal satu sama lainnya dan Aryanti menatap ketiganya dengan intuisi tinggi khas manager yang berpengalaman, seperti tidak ada kebohongan di muka muka mereka dan Made Ardika mengemukakan sekali lagi rentetan drama yang akan di pentaskan mulai siang ini dan Aryanti menambahkan bicara.


"Saya juga perlu dukungan dari Jeff, Ashley juga Me Nik untuk kelancaran semuanya dan juga dari Made Ardika sendiri tujuan kita satu yaitu Aira menganggap saya Mamanya titik"


Semua mengerti dan mengangguk mungkin pengarahan dari Made Ardika sudah begitu detilnya,dan Aryanti bertekad tak ingin keluar dari konteks perjanjiannya ingin menyelesaikan misi ini kalau di sebut misi dengan suksesnya, dan membawa Aira sebagai jaminan juga saksi saksinya di hadapan keluarganya dan surat perjanjian yang sudah di tanda tanganinya.


"Saya tidak tahu bagaimana cara berjalan Dayu Saraswati,cara senyum,dan cara cara lainnya hanya saya punya wajah mirip saja,juga semua ini saya lakukan atas dasar mau nggak mau, artinya harus saya yang memerankannya dan kami terikat surat kesepakatan bersama di atas perjanjian,terus terang saya di paksa melakukan ini,tapi sekarang saya ikhlas menjalaninya semoga jadi kebaikan"


"Oke waktu hampir habis Bu Aryanti,silahkan para saksi menandatangani ini dulu dan kembali ke aktifitasnya masing masing" Made seperti mengerti arah bicara Aryanti.


Made Ardika menarik gagang pegangan koper dua koper pakaian Aryanti sama perlengkapan lainnya sudah di dekatkan dan mereka bersiap keluar dari ruangan itu, Made Ardika menerangkan kalau saat ini Aira lagi bermain di kamarnya ada di lantai bawah jadi mereka berjalan lewat samping yang tak melewati kamar Aira,dan pengasuhnya di suruh turun duluan untuk sekedar mengalihkan perhatian Aira.


Aryanti mematut dirinya sekali lagi dan memakai sepatunya dan tas selempang sudah di bahunya,Made Ardika menggenggam tangan Aryanti dan mengangguk menuruni tangga dan belok ke pintu samping berjalan sedikit ke taman depan dan masuk mobil di ujung garasi hampir di muka gerbang,Aryanti melihat sekeliling begitu hangat cahaya matahari dan Made Ardika langsung mengunci pintu otomatis dari depan.


Bangunan seperti vila vila yang begitu mewah dan megahnya lantai bawah yang di sebut studio komersil yang di kelola Jeff dan Ashley,bagian belakang di pakai hunian dan di atas satu ruangan di pakai koleksi alat musik dan entah ruangan lainnya Aryanti belum tahu.


Made Ardika membawa dulu Aryanti keliling di jalan raya sebentar sekedar merefresh fikiran dan pemandangannya.


"Bagaimana rasanya menjadi istri dan Mama dari anak saya ?"


"Sangat tidak menyenangkan"


"Tapi nikmatilah"


"Aku akan berusaha senatural mungkin"


"Bagus lupakan dulu pengambilan paksa pagi kemarin,kita fokus pada skenario dan dan alur ceritanya"


Aryanti tak ngomong apapun hanya diam saja memikirkan apa ucapan pertama saat bertemu dengan Aira Anak pura pura nya.


Mobil perlahan belok ke pintu gerbang dan masuk halaman dan Aira sama Me Nik pengasuhnya sudah ada di depan teras menyambut mereka,sekilas Aryanti melihat Aira yang kurus sudah tinggi dan tetap dalam diamnya menyaksikan Papanya yang keluar mobil duluan dan membukakan pintu buat Mamanya.

__ADS_1


Aira melihat Aryanti begitu terkesima dan bengong serasa nggak percaya mata bulatnya melihat mamanya telah kembali Aryanti tersenyum dengan airmata yang bukan pura pura juga bukan drama mengembang di matanya.


Made Ardika merengkuh bahu Aryanti dan membimbingnya mendekat dan setelah dekat Aryanti menurunkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya.


"Ma ma...!?"


"Iya Aira sayang ini Mama sudah pulang"


"Mamaaaaa..."


Aira seketika memeluk Aryanti dengan eratnya dan Aryanti menciuminya dengan perasaan rindu dan airmata semuanya tumpah termasuk Made Ardika dan Me Nik pengasuhnya.


"Papa tidak bohong kan sayang ? kalau Papa pasti datang habis menjemput Mama" Aira mendongakkan kepalanya memandang Papanya sambil terurai air mata.


Made Ardika memeluk Aryanti dan Anaknya yang lagi berpelukan dan Aryanti membuyarkan Made Ardika yang terhanyut perasaannya dan pelan pelan berdiri.


"Nggak ajak Mama masuk sayang ?"


Aira tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian bulan bahkan tahun senyum itu hilang dari bibirnya,Aryanti mengusap air mata Aira dan Aira menariknya menuntun Aryanti masuk ke dalam rumah.


"Me Nik tolong Kopernya Dayu keluarin dari bagasi mobil ya"


"Ya Made..."


"Aira senang sayang Mama pulang ?"


Aira mengangguk dan Made Ardika duduk di samping Aryanti begitu dekatnya,datang Me Nik membawa dua koper Aryanti.


"Masukin kamar Dayu saja langsung ya Me Nik"


"Ya Made..."


"Aira suka mainnya sama siapa boleh Mama tahu siapa saja temannya ?" Aira menggeleng...


"Terus teman sekolahnya ?" Aira menggeleng lagi...


"Kenapa ? memang Aira nggak sekolah lagi juga nggak pernah bermain lagi ?" Aira menggeleng lagi...


"Mulai besok Aira harus sekolah lagi dan harus punya teman ya...biar Mama antar sekolahnya, bukan begitu kan Pa...?"


"Oh ya ya ya...kan sekarang Aira ada Mama sudah pulang jadi bisa kenalin Mama sama temannya Aira ya ?"

__ADS_1


"Iya Pa..." suara Aira terdengar lagi.


"Aira kan Anak pintar Pa...pasti sekolah lagi,sekarang Mama akan kasih Aira apa coba ?"


Aira hanya senyum senyum memandang keatas dan giliran memandang Papanya juga Mamanya...


"Mama akan kasih Aira hadiah oleh oleh Mama..."


"Horeeeeee....Mama bawa hadiah" begitu senangnya hati Aira,bertolak belakang dengan perasaan Aryanti dan Made Ardika juga Me Nik yang menyaksikan kembalinya keceriaan Aira yang selama ini hilang.


"Mama bawa oleh oleh apa ?"


"Mama bawa oleh-oleh tas sekolah dan boneka Beruang...lucu kan...Aira senang ?"


Aira mengangguk sambil loncat loncat tersenyum memeluk hadiah yang di berikan Aryanti,dan mencium pipi Aryanti,Aryanti begitu terenyuh...


"Kalau buat Papa Mama bawa oleh oleh apa ?"


"Buat Papa ada, niiiiiih... buat Papa juga buat Me Nik juga ada..." Aryanti memberikan bungkusan yang entah apa isinya pada Made Ardika.


"Terimakasih sayang..." Made Ardika mencium sebelah pipi Aryanti,dan Aryanti tertegun sambil memandang Made Ardika karena itu nggak ada di skenario mereka,tapi Made Ardika spontan mengangguk sambil menyatukan tangannya di dada,tanda memohon maaf.


"Buat Om Jeff sama Tante Ashley ada nggak Ma ?"


Made Ardika melambaikan tangan pada Aryanti tanda tidak ada dan tak termasuk dalam skenario nya juga.


"Oh...buat Om Jeff sama Tante Ashley Mama nggak bawa soalnya kopernya kepenuhan sayang...memang Om Jeff sama Tante Ashley baik sama Aira ?"


"Iya Om Jeff sama Tante Ashley teman Aira bermain"


"Ya sudah besok Om Jeff sama Tante Ashley kita ajak makan makan saja gimana ?"


"Iya horeeeeee...Om sama Tante pasti senang..."


"Tapi Aira janji mau sekolah sama bermain sama teman teman lagi ya...?" Aira pun mengangguk.


Satu babak drama telah usai Aira ceria bermain kembali dengan mainannya di temani Me Nik dan Aryanti masuk kamarnya di susul Made Ardika.


"Terima kasih sayang..."


"Ssssssssst... keluar !"

__ADS_1


Aku tak sabar ingin mengucapkan terima kasih padamu Bu Aryanti.


"Keluaaaaaar drama belum selesai,sebelum cek cair dan Aku mendapatkan lahan area perluasan Hotel dan semua saksi menjadi saksi yang benar !"


__ADS_2