Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Puisi kerinduan


__ADS_3

Dalam perjalanannya ke Bandung Adrian tersenyum sendiri mengingat semua hubungannya dengan Aryanti yang di laluinya begitu penuh dengan manis madu cinta, Dirinya berhasil menaklukan hati seorang Aryanti yang belum pernah pacaran sama sekali walau hanya cinta monyet sekalipun,


Adrian begitu menjaga perasaan Aryanti,jangankan untuk berbuat tak sopan apalagi tak senonoh dirinya maupun orang lain segan dengan kharismanya.


Saat senja di pinggir pantai yang di nikmati nya berdua,jadi moment favorit mereka, senyumannya yang menawan tak akan lekang hilang oleh waktu, kerlingannya dan sentuhan hangatnya terasa sampai di dasar hati terdalam,dan curi pandangnya membuat hati Adrian selalu merindu.


Mukanya merona merah saat malu,tersenyum dan menunduk saat menyembunyikan rasa,terdiam dan pejamkan mata saat Adrian memeluk dan mengusap usap kepalanya dengan penuh perasaan.


Adrian seakan melayang hanya dengan membayangkan sosok seorang Aryanti yang di cintai nya,seperti mabuk kepayang benar adanya,tak ada yang di inginkan nya selain bertemu,melihat senyumnya,memandang dan mendengar suaranya.


Adrian membuka ponselnya memandang


gambar dirinya dan Aryanti di ujung senja semalam,background mentari tenggelam dengan tangan di rentangkan bersama dan badan di satukan sejajar,tak ada momment seindah malam tadi.


Adrian melihat lihat pesan WhatsApp,Adrian melotot ada pesan panjang dari Aryanti dan membukanya,kapan dia ngirimnya ?


Wahai cinta pertamaku


cepatlah kembali bawa hatimu


jangan biarkan aku dalam rindu menunggu


mentari senja begitu muram tanpamu


deburan ombak seakan bisu menunggu


semilir angin tak syahdu lagi tanpamu


Jangan biarkan hatiku sepi sendiri


di ujung senja yang tak bertepi


datanglah wahai nakhoda ku


tempat ku tambat kan cinta dan hatiku


Akan selalu ku tunggu dan ku tunggu


sebab senja tak akan mengkhianati malam


akan datang tepat pada waktunya


menepati janji pada sang rembulan


dan memeluk bintang bintang


hingga pagi dan siang menjelang


-Aku merindu.


Adrian terpaku membacanya,di bacanya kembali dan berulang ulang badannya merinding,Aryanti begitu puitis dan begitu indah merangkai kata mencurahkan isi hatinya pada sepenggal puisi yang begitu mengena di hati Adrian.


Aryanti,aku juga merindukanmu,aku pulang paling dua malam tapi rasanya tak akan sanggup lama lama jauh darimu,walau tak ada kata kata puisi dariku bagiku kamu sudah menjadi puisi terindah di hidupku.


Tak terasa Adrian dan Pak Tono sudah mau memasuki kota Bandung,jam udah hampir jam 12.00 siang, hari terasa panas,mungkin Aryanti lagi makan siang atau nggak makan sama sekali dan hanya tiduran di kamarnya.


"Pak Tono kita nggak usah istirahat,nanti aja di rumah sekalian makannya ya,bentar lagi juga sampai"


"Baik Pak Adrian,iya nggak apa apa"

__ADS_1


Adrian membuka lagi ponselnya dan memijit satu nomor dengan nama Livia,tapi berkali kali tak kunjung ada jawaban.


"nomor yang anda panggil tidak menjawab silahkan ulangi beberapa saat lagi"


Berulang ulang kali di hubungi tetap jawabannya seperti itu,lalu mengalihkan panggilan ke nomor yang ada namanya Aryanti dan menghubungkannya.


"tik tok tik tok tik tok..."


"Ya Mas gimana udah nyampe ?"


"Belum sebentar lagi"


"Oh jadi belum makan dong"


"Kamu gimana udah makan ?"


"Udah,sama Linda dan Pak Edi"


"Baguslah"


"Bagus apanya,orang makan kok bilangnya bagus"


"Aku kangen kamu jadi nggak mau makan,juga baca puisi kerinduan kamu,jadi hilang nafsu makan ku,maunya segera bertemu kamu"


"Cengeng banget"


"Sembarangan yang cengeng itu siapa ? emang kamu nggak merasakan ?"


"Nggak !"


"Awas ya !"


Pak Tono yang mendengar percakapan majikannya walau nggak tahu Adrian bicara dengan siapa senyum mesem mesem aja anak muda lagi jatuh cinta ya seperti itu.


"Hai Mas,ada yang lupa waktu malam tadi itu"


"Apaan ?"


"Kan malem itu baru permintaan ku yang Mas jawab,terus permintaan Mas apa yang harus aku jawab ?"


"Nanti aja kalau kita ketemu udah beres semuanya,tapi permintaanya jadi dobel"


"Yah satu aja belum terjawab malah minta dobel"


"Jangan jadi fikiran,ya udah lanjutin lagi aktifitasnya ya bentar lagi aku nyampe rumah"


"Ya sudah hati hati ya,jangan lupa laptopnya,juga ada seseorang di sini yang punya puisi menunggumu"


"Ya sayang,sampai jumpa..."


Mobil berbelok ke arah rumah megah keluarga Surapraja,tapi rumah megah dua lantai itu hanya diisi oleh Pak Surapraja dan Ibu Handayani juga pembantu pembantunya dan sopirnya, anaknya yang hanya dua satu kuliah di luar negeri dan yang paling besar ya Adrian ini.


"Pak Tono,minta makan aja ya langsung ke Bi Ani, soalnya saya ada perlu sebentar lagi mau keluar"


"Baik Pak Adrian"


Adrian masuk rumahnya yang terbuka sebelah daunnya dan celingukan sendiri sambil memanggil Ibunya.


"Bu,Bu...!"

__ADS_1


"Eh Mas Adrian baru datang ?"


"Iya Bi,Ibu kemana"


"Bapak biasa ngantor,Ibu Arisan tadi pesannya begitu"


"Arisan dari jaman dulu nggak selesai selesai gitu Bi ?"


"Ya Bibi nggak tahu Mas,arisannya banyakan kali sekampung Mas heeeeee"


"Ya udah Bi,Bibi tolong aku kumpulin semua kemeja aku semua mau aku bawa,sama stok kemeja Bapak yang baru baru aku bawa sebagian sama kan ukurannya"


"Memangnya Mas sudah Izin Bapak ?"


"Belum tapi biarin nanti aku yang bilang sama Bapak"


"Baik Mas"


"Terus Pak Tono kasih makan,aku mau keluar dulu"


"Mas Adrian nggak sekalian makan ?"


"Nggak nanti aja"


"Mas mau kemana nanti kalau Ibu atau Bapak tanya ?"


"Ke rumah teman dulu"


Adrian sudah di mobilnya dan melaju diantar tatapan Bi Ani yang mengurusnya sejak kecil, seperti menapaki jalan kenangan bersama Aryanti,Adrian menjalankan mobilnya melewati kantor kecamatan tempat Aryanti berlatih dan melatih taekwondo di halamannya,terus ke pertigaan Pasar tempat pertama kali dirinya mengalami kecelakaan kecil,tapi odong odong Bapak nya Aryanti sudah tak beroperasi karena udah mau sore,Adrian menghentikan mobilnya di ujung gang dan turun,di sini pernah dirinya menunggu Aryanti mau mengantarnya sidang skripsi,tapi dirinya telat dan Aryanti sudah naik angkot.


Adrian tersenyum sendiri berjalan di gang yang hanya masuk motor itu,dan sampailah di rumah mungil yang asri dengan tanaman hias macam macam di depan rumahnya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salaam..."


Keluar Ibu Ibu usia empat puluh lima limapuluh tahunan Mamanya Aryanti dan Adrian langsung menyalaminya.


"Siapa ya,ini Nak Adrian temannya Yanti ? Ada apa ya ? silahkan masuk..."


"Ya Bu saya teman kerjanya Aryanti,saya ada perlu ke sini saya di titipin pesan sama Yanti untuk mengambil laptop yang ketinggalan waktu itu"


"Oh iya,sehat Yanti Nak Adrian,sampai sekarang belum ngabari Bapak sama Mamanya,Mau nelephon dari sini takut lagi sibuk kita belum tahu waktu kerjanya"


"Waktu itu juga sudah saya ingatkan untuk ngabarin Bapak sama Ibu,mungkin lupa lagi,maklum banyak kerjaan berbenah Hotel baru"


"Saya panggilkan Bapaknya sama bikin minum,Nak Adrian saya tinggal dulu"


"Ya Bu silahkan"


Adrian video call ke Aryanti,dan Aryanti setengah teriak saat tahu Adrian ada di rumahnya.


"Hayo tebak ini di mana ?"


"Maaaaaas,itu kan di rumahku, Mamaku mana ?" seperti anak kecil yang lama tak bertemu dengan Ibunya Aryanti antusias banget sampai meloncat loncat di sofa.


"Nih Mamamu mau bicara..."


Adrian tersenyum dan menyerahkan ponselnya pada Mamanya Aryanti,Bapaknya datang dan ngobrol sambil minum teh manis hangat.

__ADS_1


__ADS_2