
Hari ini hari Senin Aryanti begitu semangat bangun pagi, sholat dandan dan sarapan. Satu keheranan lagi bagi Mamanya, kemarin sehari hampir nggak makan, sekarang ada yang beda dari dandanannya Aryanti memoles sedikit wajahnya dengan make up tipis juga pewarna bibir merah muda sangat tipis tapi tetap kentara perubahannya, Mamanya senyum-senyum melihat perubahan puteri nya sejak ia bekerja, tapi semua tak di ungkapkan nya takut puteri nya malu.
Biarlah satu kelaziman seseorang itu berubah menuju kedewasaan pikir mamanya. Aryanti kelihatan dewasa dengan dandanan seperti itu dengan rok span panjang blazer dan syal di lehernya, juga kerudung yang di ikatkan ke belakang menambah jenjang lehernya kelihatan cantik banget.
Tak terasa waktu begitu cepat mendewasakan putrinya, rasanya baru kemarin menimbang dan mengayun meninabobokan dan kini telah dewasa.
"Kayaknya pagi banget berangkatnya Nak?"
"Iya Yanti sama teman Yanti di pindahkan ke bagian marketing mulai hari ini,jadi ya kita baru harus paling rajin minimal datang lebih awal."
"Kerja yang jujur dan tanggung jawab itu kunci sukses, jangan lupa berdo'a di setiap permulaan pekerjaan."
"Hemght, Ma Yanti berangkat dulu Bapak udah ke pasar ya?" Aryanti pamit sambil berdiri membereskan roknya, di ciumnya pipi dan tangan Mamanya.
"Ya Nak, hati hati."
Aryanti biasa naik angkot walau lumayan agak jauh ke tempat kerjanya dua kali naik karena nggak ada yang satu jurusan dari jalan tempat tinggalnya. Sebenarnya ada motor tapi mamanya belum ngasih izin untuk jarak jauh, lebih aman naik angkot dan Aryanti nurut saja.
Sampai di Hotel tempat kerjanya Aryanti absen dulu lalu masuk ke Front office dan menyibukkan dirinya di sana bersama rekan yang sudah ada, ada rasa iri dari teman temannya terhadapnya kok Aryanti begitu di istimewa kan oleh atasannya, sedangkan anak baru kemarin masuk kerja juga yang aneh kerjanya seperti itu seperti nggak diberi tanggungjawab dan di satukan sama anak boss nya, tapi apalah daya semua aturan yang membuat atasan dan boss nya.
Aryanti merasa dirinya jadi sorotan mata karyawan lain yang lebih senior, tapi dirinya pura pura nggak tahu aja kata Pak Daud intrik di tempat kerja biasa seperti itu. Perlihatkan saja kemampuan dan keseriusan kita, dirinya hanya fokus fokus dan fokus.
Mengacu pada perkataan Pak Daud Aryanti merasa tenang walau tetap hatinya merasa risih dengan tatapan mungkin juga omongan orang lain. Aryanti titipan khusus Pak Surapraja dari mulai melamar kerja tanpa tes ini itu tanpa syarat tanpa wawancara juga tanpa seleksi, masuk kerja di perlakukan seperti pada anaknya Adrian dan bukan kerja yang di lakukan Aryanti tapi belajar di semua bagian bagian yang mencakup semua pekerjaan di Hotel.
Dan satu lagi bukan Aryanti yang melamar pekerjaan tapi Pak Daud yang di utus Pak Surapraja meminta Aryanti bergabung di perusahaannya, aneh memang tapi Pak Surapraja bukan tanpa alasan juga bukan orang yang tidak punya pengalaman terhadap membaca karakter seseorang, intuisi tinggi seorang pimpinan tak akan meleset dan itu jatuh pada sosok Aryanti yang baginya Aryanti pemberi inspirasi.
Adrian datang dengan kaki agak jinjit jinjit dikit, katanya keseleo kecil sore kemarin waktu ikut latihan taekwondo bersama Aryanti, waktu itu juga udah di urut sama instruktur nya dan Aryanti merasa sangat bersalah, dan Adrian menganggapnya sepele lain lagi dengan Aryanti yang kelihatan cemas.
"Hai Mas, masih sakit itu kakinya?"
"Udah nggak begitu tinggal dikit." Adrian berusaha senyum.
"Rencana kemarin itu gimana Mas?"
"Seperti yang di rencanakan, tapi kita ketemu Pak Daud dulu."
"Hemght."
Adrian memperhatikan gerak gerik Aryanti dari samping cantik juga teman kerjanya ini bathin Adrian, tiap hari ketemu dan tiap hari nggak bosen memandangnya, wajah eksotik nya begitu manis dengan setelan muslimah nya ada yang berbeda antara cantiknya Aryanti dan kekasihnya Livia dan Adrian hanya punya pandangan yang berbeda aja di keduanya.
Kenapa Aryanti belum punya pacar? padahal kurang menarik apa? apa pilih-pilih, apa di larang orangtuanya atau belum menemukan yang pas aja, nggak tahu hanya Aryanti yang tahu jawabannya.
__ADS_1
Hilir mudik aktifitas orang di Hotel begitu ramai setiap harinya. Rombongan tamu rapat dari instansi pemerintah juga swasta, tamu harian, yang masuk atau cek out belum yang di Restourant nya, dan personil hotel itu sendiri yang sibuk dengan aktifitasnya masing masing seakan nggak sempat memperhatikan kegiatan orang lain.
Adrian dan Aryanti duduk di sofa ruangan Pak Daud.
"Gimana gimana nih Adrian sama dek Aryanti ada apa?"
"Begini Pak, saya sama Aryanti mau ke bagian lain mulai Senin ini boleh nggak pak?"
"Oh boleh boleh banget, seperti yang di amanat kan Pak Surapraja semua harus di pelajari dan di dalami, bagian mana yang menurut kalian mau di masuki terlebih dahulu?"
"Marketing Pak."
"Boleh saya nanti beritahu Bu Ratna, ruangannya ada di ujung sebelah Restourant."
"Iya terimakasih Pak."
"Ya ya ya...silahkan."
Aryanti dan Adrian bersalaman dengan yang namanya Bu Ratna, orangnya belum begitu tua sepantaran Mamanya Aryanti, ramah, banyak bicara khas marketing dan murah senyum.
"Silahkan silahkan duduk, apa yang bisa saya bantu buat Mas Adrian sama mbak Aryanti."
"Saya mau belajar banyak di sini."
"Ya Bu." Adrian dan Aryanti tersenyum dan mengangguk, dua puluh tahun di sebut baru,apalagi kita kita baru memulai.
"Mas Adrian dan mbak Aryanti sudah berpartner bagus jadi ada teman sharing dan diskusi, secara garis besar marketing adalah memasarkan Hotel dan Restourant kita pada publik dan sasarannya Instansi pemerintah, swasta, pabrik juga tamu perorangan dan keluarga bagaimana cara dan triknya kita bisa melobi merayu pimpinannya biar bisa tertarik dan menggunakan Hotel kita sebagi fasilitas kegiatannya, intinya itu sehingga terjalin kerjasama dan saling memenuhi."
Adrian dan Aryanti mengangguk.
"Silahkan pelajari dulu dengan orang orang marketing yang sudah ada, Mas Adrian sama Mbak Aryanti bisa ikut dulu mendampingi mereka sebelum ada kesanggupan mau mencoba berdua, ada agenda-agenda jadwal rapat, gathering, anniversary dan lain lain begitu banyak peluang di luar sana dan juga promosikan fasilitas yang ada di Hotel kita semaksimal mungkin dari segala segi sehingga menarik minat mereka."
"Terimakasih banyak Bu."
"Ya ya ya kiranya segitu dulu dari saya selamat bergabung." Bu Ratna tersenyum memandang keduanya.
Bu Ratna pergi keluar ruangan, Adrian dan Aryanti bergabung dengan orang yang sudah lebih dulu di situ, mulailah pembelajaran bagi mereka Aryanti begitu serius dan Adrian juga kelihatan semangat, seperti pepatah Bapaknya semua ilmu bisa di pelajari asal kita mau dan rajin, semua bertahap dan mulai dari bawah.
Sampai pada waktunya istirahat keduanya masih sibuk memelototi laptop dan diskusi dan Adrian mengingatkan temannya.
"Hai makan yu istirahat dulu."
__ADS_1
"Heemght."
"Aku lapar."
Aryanti membuka kacamata bacanya dan memandang Adrian merasa dirinya nggak toleransi. Aryanti mengangguk dan tersenyum tanda mengiyakan, begitu menyejukkan sikapnya.
Entah apa yang ada di fikiran Adrian, setiap makan siang selalu keluar padahal sudah ada di sediakan buat semua karyawan atau kalau dia mau bisa makan di Restourant nya, tapi Aryanti tak menanyakannya hanya ada di dalam hatinya.
Seperti biasa mereka makan bersama di luar dan Adrian yang membayarnya. Aryanti merasa nggak enak tapi sikap Adrian selalu begitu.
"Dunia baru lagi Mas, aku senang banget bisa banyak ilmu dan pelajaran berharga."
Aryanti bicara di sela sela makan dan suapannya.
"Kamu enjoy banget kayaknya Yan?"
"Memang aku senang banget, aku sudah beli buku sebagai referensi di bidang bisnis dan Perhotelan, malah udah mau tamat bacanya kalau Mas mau baca boleh tapi ada di rumah."
"Kayaknya di perpustakaan Bapak ku juga ada banyak, tapi boleh lah aku pinjam punya kamu, walau aku nggak begitu suka baca, tapi kapan aku sempatnya aku baca."
Aryanti memandang Adrian, seperti tak terfikirkan seorang Adrian itu anak siapa, sudah pasti semua fasilitas ada jangankan cuma buku Perhotelan Hotelnya juga banyak, jangankan cuma perpustakaan keluarga percetakannya juga kalau mau dia bisa punya.
"Kamu kalau senang baca kali-kali aku ajak kamu ke rumah aku biar kita bisa memilih buku di perpustakaan keluargaku."
"Aku nggak enak Mas malu."
"Malu sama siapa? di rumah nggak ada siapa siapa kok."
"Ya ya ya boleh suatu waktu..."
.
.
.
.
Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.
Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝