
Aryanti tak banyak cerita pada mamanya ia hanya mau kuliah dan merevisi skripsinya biar cepet selesai. Aryanti bingung pake baju mana ya? bukan karena mau ketemu Bu Dosen tapi karena mau jalan sama Adrian temen kerjanya, kok aku salah tingkah begini sih? Hai Aryanti kenapa kamu? gede rasa banget biasa aja orang Adrian juga punya teman cewek kok lagian siapa dirimu juga siapa Adrian?
Aryanti mematut dirinya depan cermin kamarnya dan baju berantakan di atas kasurnya bekas pilih-pilih, Mamanya heran dari tadi di kamar melulu belum makan makan.
"Nak makan dulu dari tadi nggak makan-makan, kan mau sekolah nanti nggak bisa mikir kamu."
"Ya Ma, nanti dulu belum beres."
"Jangan lupa sholat dulu."
"Ya."
Aryanti keluar kamar dan melihat meja makannya tapi seleranya nggak ada hanya membuka tutup saji dan menutupnya kembali, lalu membuka kulkas dan mengambil buah naga dan membelahnya lalu memakannya dengan sendok Mamanya kelihatan heran.
"Dari pagi sarapan nggak makan nggak, nanti sakit lho apalagi aktifitas kamu banyak kuliah nanti sore ke sasana, makanlah sedikit Mamamu masak capek capek cuma di intip doang."
"Heeeeeee ...Yanti kan udah makan ini nanti pulangnya makan Ma..." Aryanti mengangkat sebelah buah naga yang lagi di makannya.
"Kamu kalau di bilangin orangtua ada aja alasannya."
"Yanti berangkat ya Ma...habis belum lapar, kalau nanti pulangnya pasti lapar."
Aryanti pamitan mencium pipi dan tangan Mamanya.
"Hati hati..."
"Ya Ma."
Aryanti celingukan di ujung gang nggak ada siapapun. Adrian yang katanya mau menunggu di sini nggak ada jangan-jangan hanya janji doang atau lupa atau ketiduran atau...ah biarin ngapain masuk di hati banget jadi ya ayo, nggak ada datang ya nggak apa apa...
Aryanti menunggu sejenak berdiri di samping kios kios-kios dagangan matanya menyapu tiap sudut nggak ada yang namanya Adrian, lalu melirik jam tangannya waktu sudah mulai menunjukan dirinya harus udah di perjalanan.
Tapi biarin aku tunggu 5 menit lagi kalau nggak ada ya aku berangkat saja, dan setelah waktunya habis Aryanti menyetop angkot dan naik duduk di kursi paling ujung dan memandang keluar berharap ada seseorang yang menyusulnya.
Mungkin begitu kalau dalam satu hubungan juga barangkali pasti ada kekecewaan jika salah satunya janji dan nggak di tepati dengan seribu alasan. Makanya Aryanti menutup dirinya untuk pacaran seperti orang lain belum siap waktu belajarnya tersita oleh masalah seperti ini.
Aryanti asyik dengan lamunannya tiba tiba sopir angkot ngerem mendadak sampai sampai semua penumpang pada kaget terhentak kedepan, dan semua penumpang berteriak.
Suara roda beradu dengan aspal di rem berdecit lalu berhenti, sopir angkot ngomel ngomel sambil turun.
"Ada apaan sih ini ada ada aja."
"Ayo Bang lah udah telat nih." salah satu penumpang protes.
"Biarin aja Bang jangan di ladeni."
Tiba tiba sopir angkot balik ke mobil dan melongokan kepalanya ke dalam mobil lalu senyum-senyum.
"Siapa yang namanya Aryanti?" semua penumpang saling pandang.
__ADS_1
Aryanti kaget ada apa dengan dirinya lalu memberanikan diri mengangkat tangan.
"Saya Bang ada apa emangnya?"
"Itu ada yang nungguin di depan mobil hitam."
"Ayo turun, pacarnya ya?"
"Bukan Bang"
"Ayo turun di tungguin tuh."
Aryanti terpaksa turun lalu mau membayar ongkos tapi di tolak sama si Abang sopir sambil memperlihatkan uang selembar warna merah.
"Sering-sering berantem ya, haaaaa..."
"Huuuuuuuu," penumpang yang lainnya menimpali si Abang sopir.
Aryanti merah mukanya karena malu, lalu turun dan menghampiri mobil hitam di depan angkot yang kacanya sudah terbuka.
"Naik! sorry aku telat sorry banget udah bikin kamu nunggu."
Aryanti naik sambil terdiam, dan mobil melaju meninggalkan angkot.
"Kamu Marah ya?"
"Aku marah? kenapa harus marah, nggak lah lagian ngapain juga Mas Adrian repot-repot mau ngantar aku segala?"
"Hampir aku punya pikiran dan pandangan berbeda lho."
"Maksudnya?"
"Aku punya prinsip dan pemikiran yang entah itu benar atau penilaian ku saja, setelah kita kenal seseorang terus kita tahu karakternya jadi kita punya penilaian sendiri, seperti tadi Mas janji mau nunggu aku mau nganter aku dan aku bisa menilai seandainya bener datang dan nggak jadi datang."
"Jadi kamu menilai orang dari kejujuran dan janjinya berarti."
"Ya betul, kalau bukan dari janji yang di tepati dan yang nggak di tepati darimana lagi hayo?"
"Untung aku bisa ngejar mobil angkot kamu hampir saja penilaian kamu sama aku negatif haaaaaaaa...tapi sungguh aku tak berniat jelek sama kamu hanya aku tadi ada urusan dulu."
"Biasa aja Mas."
"Justru kamu yang aku anggap luar biasa Yan."
"Aku? dimana luar biasanya?"
"Pokoknya kamu lain dari wanita wanita pada umumnya."
"Hem...perasaanku sama aja"
__ADS_1
"Pokoknya lain."
"Ya sudah semua orang berhak dengan penilaian masing masing."
"Kamu lama nggak ketemu dosennya?"
"Emang kenapa?"
"Yanti aku lagi males ketemu teman temanku males ketemu pacarku, males balik lagi ke tempat kerjaku, juga males pulang ke rumah, aku tunggu kamu ya...?"
"Hah nunggu aku? nggak salah nih? Ya Ampuuuuun Mas ngapain kayak anak TK di tungguin, kalau lama gimana?"
"Perasaanku pasti kamu nggak lama terus kita pulang lagi bareng aku mau mulai ikut taekwondo ntar sore boleh kan?"
Aryanti menatap Adrian ingin memastikan apa ini orang serius apa bercanda hatinya bimbang apa akan fokus nggak bimbingannya nanti seandainya di tungguin? Ada apa dengan orang ini pikir Aryanti.
"Ya kalau kamu boleh, kalau nggak aku jalan lagi duluan."
"Sebenarnya boleh boleh aja Mas, tapi apa nggak ada kegiatan lain?"
"Kan sudah aku katakan aku bosan aku ingin suasana lain, kamu santai aja nggak usah terbebani karena aku tunggu."
"Ya sudah, Mas mau nunggu aku di mana, di cafe-cafe itu atau di mana?"
"Aku tunggu di gedung olahraga itu aku suka lihat-lihat kegiatan olahraga."
"Ya udah deal, aku turun di depan ya."
Aryanti turun dan tersenyum pada Adrian. Hatinya nggak tenang dan bimbang tapi berusaha tenang dan biasa-biasa aja, ada ketakutan di dalam hatinya tapi nggak tahu dan tak beralasan.
Aryanti berjalan gontai terasa lemas tungkainya, otaknya tak bisa mencerna tujuan temannya yang semua serba tiba tiba tanpa aba aba, juga tak memperlihatkan niat jelek itu yang membuat Aryanti tenang dan menghibur dirinya.
Ada sedikit terbersit dalam hatinya apa Mas Adrian suka pada dirinya ya? tapi ah... apa mungkin buru buru Aryanti menepisnya tak membiarkan khayalnya semakin berkembang liar tak menentu.
Siapa yang nggak mau sama seorang Adrian sih? gagah, tampan anak orang kaya segala ada masa depan cerah, apa yang kurang darinya? bak seorang anak sultan sepintas dalam pandangan orang tapi yang sebenarnya di jalaninya sama seperti dirinya kerja dari bawah, bahkan makan siang waktu itu juga dirinya yang bayarin...
.
.
.
.
.
Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.
Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝