
Hari pertama Adrian dan Aryanti kerja hanya keliling keliling ke semua bagian diantar Pak Daud. Pertama yang di datangi adalah bagian Front office.
"Silahkan dek Adrian sama dek Aryanti komunikasi dengan orang orang di bagian office ini ada supervisor nya mau seminggu mau sebulan di office silahkan sampai faham ini itunya saya tinggal dulu ya."
"Silahkan Pak terimakasih, Adrian sama Aryanti tersenyum sambil manggut."
Pak Daud berlalu diikuti asistennya, meninggalkan Adrian sama Aryanti juga seorang resepsionis perempuan yang dengan cekatan melayani telephon dan sesekali tamu yang datang juga pergi. Aryanti melirik pada Adrian.
"Hai, saya panggil apa sama Mas Adrian? saya panggil Mas aja ya?"
Adrian melirik sambil mengangguk tersenyum dingin.
Aryanti bingung harus ngomong apa sama Mas Adrian, akhirnya Aryanti ngobrol sama resepsionis mulai dari A sampai Z dan Aryanti mulai belajar menerima telephon sambil agak kaku dan masih malu malu karena belum terbiasa, juga melayani tamu yang mau masuk, mengambil kunci kamar sampai mengantar ke kamarnya.
Adrian hanya memperhatikan sambil sesekali mencoba apa yang di coba oleh Aryanti, bagi Aryanti seperti menemukan dunia baru serba ingin tahu ingin bisa dan ingin mencoba segala hal. Tak seperti Adrian kelihatan seperti enggan melakukan apa apa hanya hadir dan ada di setiap apa yang di lakukan Aryanti dan sesekali senyum mengangguk mengiyakan atau menolak.
"Mas, kayaknya ini waktu istirahat mau makan atau ngopi aja dulu aku ambilkan ya."
"Nggak nggak, aku mau makan di sini aku mau keluar aja."
"Lho kok keluar kan di sini juga ada Restourant nya, aku makan dulu sama karyawan lain ya di belakang."
"Hai Aryanti, eh Yanti kamu ikut saya aja makannya di luar."
Aryanti tertegun, sebentar mempertimbangkan dan mengangguk tersenyum tanda mengiyakan, tak enak rasanya Aryanti menolak biarlah kali ini aku ikut ajakan anak pimpinan kesempatan biar bisa ngobrol dan juga akrab jadi saat bekerja bisa lebih cair suasananya pikir Aryanti.
Adrian memakai mobil operasional Hotel melaju keluar tak begitu jauh dari Hotel bersama Aryanti. Aryanti ikut aja dan duduk di meja lesehan yang di pilih Adrian.
"Aku udah dapat menunya, kamu pilih yang mana?"
"Aku belum dapat Mas, samain aja deh aku bingung banyak banget menunya."
"Ya sudah hehehe..."
Sesuatu yang jarang bagi Aryanti makan di tempat seperti ini, selain keluarganya sangat sederhana, juga sama temennya sama pas-pas an,atau dengan pacar boro boro kenal yang namanya pacar, pacaran itu seperti apa belum pernah, jangankan untuk makan di tempat gini buat bayar semesteran udah waktunya ada ya Alhamdulilah.
Hidup baginya di syukuri dengan penuh syukur walaupun kecil tapi manfaat dan berkahnya itu yang jadi pegangannya.
"Hai ngelamun aja, minumnya apa?"
"Oh... ah eh iya samain aja Mas, kalau enggak saya teh tawar hangat aja hehe..."
"Serius nggak mau yang lain banyak lho pilihan minumannya."
__ADS_1
"Udah itu aja cukup."
"Kamu lagi program diet ya nggak minum manis sama es?"
"Oh enggak."
Diet dari Korea apa? fikir Aryanti tiap hari juga menu di rumahnya udah diet di sesuaikan dengan keadaan yang penting sehat.
Tak lama makanan pesanan datang. Adrian duluan mengambil porsinya lalu Aryanti dan mulai makan sambil sesekali Adrian melirik Aryanti yang makan dengan pelan hampir tak kedengaran, begitu apik gadis ini pikir Adrian.
"Yanti kamu kerja di Hotel Bapak ku tu prosesnya gimana?"
"Ya aku ngelamar, tadinya coba coba karena waktu itu pulang dari rumah sakit Bapak mu ngasih kartu nama perusahaan Hotel ini karena Bapak mu janji kalau aku ngelamar pasti di terima tanpa seleksi dan bener janjinya ditepati, aku diterima kerja di Hotel itu."
"Oh."
"Sebenarnya aku dilema antara kerja dan enggak."
"Dilema soal apa?"
"Aku kan masih kuliah, masih semester akhir, aku takut aku nggak konsen pada pekerjaan karena aku ingin banget menamatkan kuliah dulu."
"Terus kamu kan sekarang kerja, kuliahnya gimana?"
"Aku udah konsultasi sama dosen pembimbing, kuliah tinggal akhir bisa di alihkan malam sama hari Sabtu Minggu dan semua sudah aku sampaikan sama Pak Daud nggak masalah katanya."
"Pilih aja salah satunya kalau dirasa berat."
"Ya seperti itu yang aku jalani kini, aku coba kerja seperti kamu mulai dari bawah."
"Mas Adrian beruntung tak kuliah juga perusahaan sudah menanti."
"Apa katamu? aku beruntung?"
"Ya semua di fasilitasi orangtua, tinggal menjalani saja."
"Walau di fasilitasi tapi tetep kan aku mulai dari bawah sama kamu nggak langsung jadi supervisor, jadi manager jadi kepala pimpinan kan memang semua perlu pelajaran dan pengalaman."
"Sebenarnya Mas bisa saja jadi apapun lho wong Mas anak pemilik hotel ini kan, tapi Mas sendiri mampu nggak di posisi itu? dan Bapak mu itu tak salah menempatkan Mas sebagai pembelajaran dari bawah, sebenarnya Mas maunya apa?"
"Iya sih, saya masih merasa mentah banget dalam pekerjaan apalagi kuliah saya nggak tamat, saya nggak tahu mau apa aku merasa nggak punya pilihan, untuk itu mau nggak kamu jadi teman saya?"
"Kan sekarang ini juga kita sudah berteman."
__ADS_1
"Maksud saya kamu bantu saya biar semua ini terlewati dengan sukses menanamkan kepercayaan Bapakku."
"Ya kita bareng bareng aja mempelajari semuanya, aku senang aja bisa banyak belajar sambil bekerja, aku nggak tau mau di simpan di bagian mana nanti tergantung yang menilai aja mungkin Pak Daud punya penilaian nanti."
Lagi enak enak makan tak terasa sambil cerita sana sini. Aryanti sudah minum dan Adrian ingat dirinya nggak punya duit kartu kredit sama ATM nya di blokir Bapak nya, Adrian panik dan gelagapan.
"Astaga aku lupa..."
"Ada apa Mas Adri?"
"Yanti maafkan aku, aku ajak kamu makan di sini tapi aku nggak pegang duit,aku biasa memakai fasilitas orangtua kartu kredit sama ATM semua tinggal gesek tapi sekarang semua di blokir."
"Oh begitu, nggak apa apa aku pegang duit cash biar aku yang bayar tapi berapa ya? cukup nggak duitnya ya? heeeee..."
"Ya sudah aku tanya dulu, pelayan!"
Seorang pelayan datang dan menghitung semuanya.
"Semuanya dua ratus dua puluh ribu Mas."
Dan Aryanti membayarnya, Adrian hanya terdiam begitu nggak ada harga dirinya dengan kejadian ini, semua jadi pelajaran bagi dirinya seorang Aryanti yang hanya tukang jaga odong odong di pertigaan pasar telah membayar makan siangnya, seorang Adrian anak pemilik Hotel dan Restourant terkenal di kota Bandung.
"Yanti maafkan aku ya, ini kejadian kali kedua aku habis makan nggak bisa bayar, SIM ku masih di tahan di restoran Jepang saat aku habis makan sama Livia teman perempuan ku."
"Nggak apa apa Mas untung aku bawa uang, nggak usah di fikirkan kita kan teman."
"Tapi suatu saat pasti aku ganti ya." Adrian meyakinkan Aryanti.
"Nggak usah Mas, biarin yang udah ya udah, kita fokus aja ke pekerjaan ya biar kita mendapat ilmu dan kepercayaan."
Adrian terdiam sambil nyetir balik lagi ke Hotel betapa semua kata kata Aryanti benar. Kayaknya nggak salah aku di pasangkan kerja sama dia oleh Pak Daud, betapa semangatnya dia bekerja dan antusias akan semua ilmu yang baru di dapatnya.
Adrian memarkir mobilnya di area parkir dan menyerahkan kunci ke bagian resepsionis, dan resepsionis itu manggut sambil membungkuk.
.
.
.
.
Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.
__ADS_1
Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝