
Adrian kembali ke rumahnya menemui Aryanti istrinya dan akan berpamitan memenuhi kewajibannya sebagai warga yang taat hukum dengan diantar satu polisi yang menunggunya di pintu depan...Adrian masuk ke rumah dan mendapatkan istrinya lagi menyisir rambutnya di kamar.
Aryanti begitu kaget saat melihat Adrian ada di belakangnya di balik pintu kamar yang terbuka sedikit, Aryanti langsung bangkit dan berdiri memandang Adrian yang datang tiba tiba juga sedang menatapnya...
"Mas ada apa ?"
"Sayang Aku harus ke kantor polisi harus memberikan kesaksian lanjutan sebagai tersangka penganiayaan orang gila itu !"
"Mas nggak bisakah Mas di periksa di sini saja kan ada saksi Bapak,Pak Daman, Pak Bharata juga Komang Putri ? tak bisakah mereka menjadi jaminan Mas untuk tidak di tahan ?"
Nggak bisa sayang, polisi takut Aku menghilangkan barang bukti dan melarikan diri dari jerat hukum,nggak apa apa kita berpisah lagi,biar semua cepat selesai..."
"Mas..." Aryanti begitu sedih dan memeluk Adrian.
"Sabar sayang biar semua selesai dulu" Adrian mencoba menghibur istrinya.
"Baru saja kita bertemu kita harus berpisah lagi"
Airmata Aryanti tak bisa di bendung lagi,menangis di pelukan suaminya,belum juga dirinya juga suaminya melepas rasa kangen mereka harus dipisahkan lagi karena kasus baru yang di tuduhkan pada Adrian apa boleh buat semua harus berjalan sesuai prosedur dan aturan.
Adrian mengusap usap punggung istrinya dan memegang dua sisi wajah Aryanti dan menciuminya dan memeluknya,mendekap kembali di dadanya tanpa kata apapun,mencium bibir Aryanti yang berlinang airmata,dan kembali melepaskan pelukan dan ciuman hangatnya,lalu keluar kamar di ikuti Aryanti yang berdiri di depan pintu melihat suaminya pamitan sama Ibunya yang lagi melihat lihat burung yang berkicau dan terbang kian kemari di dalam sarangnya yang banyak sudah mengisi kandang dan sarang sarang yang sudah di sediakan.
Aryanti menggendong Alinea saat Mas Adrian berpamitan dan berpelukan dengan Ibunya sama seperti dirinya, Ibunya juga banjir air mata untuk anaknya,di tepuk tepuk pundaknya untuk memberi dukungan dan kekuatan,muka Adrian begitu mendung saat melepaskan pelukan Ibunya dan menghampiri putri kecilnya Alinea di ciumnya pipi Alinea kiri kanan dalam tatapan Aryanti,hanya melirik sekilas pada Aryanti dan mengangguk kan kepala lalu berjalan di ikuti seorang polisi yang mengantarnya tadi.
__ADS_1
Aryanti duduk di sofa dan memeluk Alinea yang tak mengerti apa apa,Alinea terdiam mungkin merasakan perasaan Mamanya,Ibu Handayani duduk di dekat menantunya yang lagi menangis dan berusaha menghapus airmatanya yang mengalir lagi mengalir lagi semua berawal dari keteledoran dirinya...Aryanti menyalahkan dirinya,kalau saja waktu itu dirinya tak joging,tak joging ke jalan raya, dan mendengar kata kata suaminya untuk lebih bisa menjaga diri dan hati hati tak mungkin semua ini terjadi,tak mungkin Mas Adrian jadi tersangka,tak mungkin Adrian menjadi kalap dengan amarahnya aaaaaaah.... semua memang salah Aku !
Bu Handayani memeluk Aryanti,berusaha menenangkan semua rasa yang ada di diri Aryanti.
"Ibuuuuu...maafkan Aku,semua ini salah Aku... Aku tak mendengar kata kata peringatan suamiku,maafkan Aku Bu..."
"Ssssssssst...nggak ada yang salah semua sudah ada ketentuanNya,sudah...sudah jangan menangis di depan Anakmu,ada Ibu juga Bapak di sini... pasti semua ada jalan keluarnya,tenangkan hatimu dan fikiran mu semoga semuanya cepat selesai..."
Aryanti menyeka airmatanya saat Pak Praja datang di depan pintu bersama Pak Daud,mereka menghela nafas melihat Aryanti habis menangis dengan hidung merah dan mata berair juga merah, Pak Surapraja duduk di susul Pak Daud...
"Ambilkan air minum tolong Bi Inah biar Dek Aryanti minum dan tenang" Bu Handayani meminta tolong sama Bi Inah,dan Bi Inah yang sejak tadi duduk di kasur lantai tempat main Aira berdiri langsung mengambil air minum dan memberikannya pada Aryanti.
"Makasih Bi...sekalian Dedek nya di ajak main ya Bi..."
Setelah Aryanti kelihatan tenang,baru Pak Daud bicara.
"Dek Aryanti...Mas Adrian hanya akan memberi keterangan saja di kantor polisi...nanti malam atau besok kita bisa menengoknya, yang di khawatirkan polisi karena Made Ardika masih di rawat takutnya Mas Adrian belum puas amarahnya,jadi sementara Mas Adrian di amankan dulu" Aryanti hanya diam tak bicara atau menjawab apapun yang di sampaikan Pak Daud.
"Istirahatlah mungkin besok mulai pulih semua butuh keterangan yang benar dari semua pihak termasuk Dek Aryanti" Pak Daud menambahkan.
"Apa semua keluarga Made Ardika,Aira,Me Nik, Jefferson dan Ashley sudah di mintai keterangan ?" Aryanti mulai bicara.
"Sudah...dan sudah kami tangkap motifnya,tinggal kepolisian dan kami menyeimbangkan dari kedua belah pihak yakni Dek Aryanti sebagai objek dan Made Ardika sebagai subjek,mereka di pulangkan ke rumah orangtuanya Made Ardika di dekat sini,Dan sewaktu waktu di perlukan mereka di panggil kembali.
__ADS_1
"Saya sudah merasa sehat Pak Daud kalau sekedar untuk bercerita kronologi kejadian,saya ingin semua cepat selesai dan berkumpul bersama keluarga semua" Aryanti pasti meyakinkan dirinya.
"Jangan Dek Aryanti polisi mengharuskan sehat lahir bathin tanpa tekanan,tanpa pemaksaan...jadi yang di perlukan Dek Aryanti sekarang adalah istirahat dulu sampai besok, baru kita mulai ungkap semua kebenaran" Pak Daud menolaknya.
"Sabar Nak nanti juga Kamu berkesempatan mengemukakan semua kesaksian mu di hadapan polisi dan semua orang..." Bu Handayani mengusap pundak Aryanti yang tak sabar ingin membuka semua kebenaran,dan satu harapan Aryanti Aira sehat dan dirinya merasa tenang kalau Aira bersama keluarga Made Ardika dan kejujurannya sebagai seorang anak tak bisa di setting seperti orang dewasa,semoga pernyataan Aira membuka mata dan hati semua orang pada kasusnya terlebih di hadapan keluarganya.
Aryanti merasa sangat bersalah pada Aira karena di akhir masa perpisahannya Aira di suguhkan kejadian yang begitu membuat semua orang trauma berat Aryanti yang di mata Aira adalah Mamanya pingsan melihat Made Ardika di lumpuhkan amarah dan emosi Mas Adrian dengan darah bercucuran...seperti perasaannya Aryanti merasakan perasaan Aira yang terkoyak tak mengerti yang terjadi.
Jauh di lubuk hati Aryanti begitu teringat pada Aira tapi apa boleh buat skenario telah berubah dan dramapun usai menyisakan kepingan hati Aira yang retak,jangankan melihatnya sekedar khabar pun tak bisa di dapat Aryanti.
Juga bagaimanakah khabarnya Made Ardika pada siapa Aryanti akan bertanya tak ada yang bisa memberitahukannya karena pihak Made Ardika masih dianggap ancaman bagi dirinya, penyebab semua kerusuhan dan pemicu kekacauan begitu mengganggu ketentraman kehidupannya.
Mas Adri menjadi orang pertama yang mempertanggung jawabkan perbuatannya yang semua adalah efek domino dari masalah yang di tebar Made Ardika,tak ada yang menyalahkan Mas Adrian semua akan punya amarah seperti itu dan melampiaskan secara tak perhitungan tak memikirkan asas praduga tak bersalah.
Begitu lelah Aryanti berpikir dan mengingat semua kejadian,ingin segera dirinya memberi kesaksian dan Aryanti tak berdaya tertidur di sofa ruang tamunya.
Bu Handayani yang melihatnya mencoba membangunkannya dan membimbingnya pindah tidur di kamarnya,terbayang capeknya fikiran dan perasaan menantunya di tambah lagi dengan kasus terakhir suaminya menyiksa Made Ardika di depan matanya.
"Terimakasih Bu..."
"Heemght..." Bu Handayani tersenyum.
Masih sempat tersenyum pada Ibu mertuanya di tengah kantuk yang menguasainya, Aryanti melemparkan tubuhnya ke tempat tidur dan tertidur dengan pulas nya.
__ADS_1