Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Untuk pertama kalinya


__ADS_3

Sepeninggal Adrian semua terdiam Pak Surapraja juga bingung keputusan apalagi yang akan diambil Andrian memang punya karakter unik dikerasin dia diam, juga dilembutin dia seperti itu terkadang emosinya meledak-ledak terkadang bikin kesal juga diam dengan se diam diam nya dalam waktu lama.


"Dek Aryanti bagaimana siap untuk mengganti posisi pimpinan di Pangandaran ? saya harap tidak ada kata tidak siap"


"InsyaAllah saya siap Pak"


"Bagus saya senang dengar semangat tinggi dek Aryanti"


"Pak Daud posisi dek Aryanti biar tidak terlalu sibuk tolong di kondisikan kirim satu orang untuk bisa membantunya,tetap dalam pemantauan dan selalu koordinasi dengan management pusat dengan Pak Daud ya dek Aryanti,saya salut melihat kesanggupan dek Aryanti dan saya fikir dek Aryanti pasti bisa"


Aryanti mengangguk sama bareng Pak Daud.


"Ya Pak siap..."


" Bu,biarkan Adri berpikir sendiri dulu, biarkan Adri menenangkan diri dulu, dan untuk mensupport boleh dek Aryanti samperin dia ke kamarnya di atas silahkan...mungkin hanya dek Aryanti yang bisa menenangkannya juga membujuknya"


Bu Handayani bangkit meraih tangan Aryanti dan membimbingnya menuju tangga Ibunya Adrian mengantarkan Aryanti sampai ujung tangga atas dan menunjukkan kamar Adrian, lalu ibu Handayani turun kembali dan bergabung entah apa yang di obrolkan nya semua kembali serius mengobrol.


Di depan pintu kamar Adrian Aryanti berdiri mematung dan bingung memikirkan entah apa yang harus diucapkan,jangankan Adrian dirinya pun begitu kaget mendengar semua keputusan yang serba mendadak ini.


"tok tok tok...Mas ini aku... boleh masuk, boleh kita bicara ?"


Pintu terbuka Adrian menarik Aryanti masuk, dan secara bertubi-tubi Adrian mendorong Aryanti sampai terduduk di pinggir tempat tidur,Aryanti gelagapan sampai sampai tas Aryanti terjatuh,Adrian menutup pintu kamarnya dengan menendangnya pelan,Aryanti yang duduk di pinggir tempat tidurnya seperti ketakutan hanya terdiam sambil menatap semua yang dilakukan Adrian.


"Mas kita keluar nggak enak kita di dalam kamar berduaan"


"Ssssssssst...nggak usah bawel,kan mereka yang menyuruh kamu masuk ke sini, untuk membujuk aku,jadi aku bebas mau melakukan apa apa juga sama kamu...!"


"Mas maksudnya apaan ? aku nggak ngerti"


Adrian menarik Aryanti untuk berdiri lebih dekat dan muka mereka hampir bersentuhan.


"Yanti apa kamu akan kuat kita berpisah dan nggak bertemu selama setahun ? aku nggak sanggup,aku nggak akan sanggup, jangan biarkan aku menjadi gila"


Aryanti memeluk Adrian dengan pasrah,menyenderkan kepalanya di dada Adrian,mendengarkan detak jantung yang berpacu dengan kencang dag-dig-dug dan juga nafas yang tidak teratur.


"Mas aku tak punya kata-kata lagi untuk kita bahas untuk mengungkapkan perasaan kita semua telah terjadi dan keputusan telah diambil Bapakmu,jadi sekarang aku hanya ingin Mas sama aku mengisi hari-hari sebelum kita berpisah itu aja,biar kita ada sedikit kenangan untuk diingat saat kita saling merindukan nanti"

__ADS_1


"Sayang benar banget itu"


Adrian menatap wajah Aryanti dan memegang kedua sisi muka Aryanti dengan kedua telapak tangannya, seakan ingin memastikan dan melihat dengan jelas wajah Aryanti yang selalu di hatinya masih dihadapannya.


Perlahan Aryanti mulai berani melingkarkan tangannya ke pinggang Adrian,seperti di hipnotis semua begitu perlahan di luar kendalinya,seakan di beri sinyal dan kode Adrian mendekatkan bibirnya ke bibir Aryanti,Aryanti pasrah dalam gelora asmaranya memejamkan mata dan menikmati


setiap sentuhan Adrian yang memberikan efek panas menjalar ke seluruh tubuhnya,tungkainya seperti tak bertenaga serasa terbang melayang layang entah ke dimensi mana saat bibir Adrian mengulum lembut bibirnya,Aryanti membalas kelembutan itu dengan melakukan hal sama dengan bibir yang bergetar hebat,dan itu untuk pertama kalinya bagi Aryanti, nafas keduanya seperti di pacu dengan kecepatan tinggi yang menenggelamkan semua rasa dan hanya rasa rindu yang tak tertahankan menunggu saatnya pelampiasan.


"tok tok tok..." Mas Adri kata Ibu sudah malam segera antar neng Aryanti pulang..."


Aryanti seperti tersadar dari mimpinya,terkejut dan mendorong Adrian menjauh dari hadapannya,Aryanti menyadari apa yang telah dilakukannya bersama Adrian,dirinya telah khilaf terbawa arus perasaan,Aryanti merapihkan bajunya yang berantakan dengan perasaan malu.


Begitu juga Adrian kaget luar biasa dan langsung melepas pelukannya sambil menjawab.


"Ya Bi Ani...!"


Aryanti melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya waktu menunjukkan pukul 22.03


"Mas ayo kita pulang"


"Heemght..."


"Langsung pulang ya Nak,jangan terus keluyuran dan begadang kamu kan masih dalam masa pemulihan"


"Iya Bu"


"Dek Aryanti hati hati ya..."


"Iya Bu,saya permisi dulu"


Adrian duluan keluar dan membukakan pintu mobil untuk Aryanti,Aryanti tersenyum lalu naik,mobil melaju dengan perlahan sejenak keduanya hanya diam tak ada yang berkata-kata hanya sibuk dengan dirinya dan fikirannya masing-masing, Aryanti bersandar di jok mobil nya dan memejamkan matanya,dan Adrian fokus perhatiannya ke arah jalan yang akan dilalui nya.


Sampai di muka gang menuju ke rumahnya Aryanti, mobil berhenti Adrian memegang tangan Aryanti dan Aryanti menolehkan kepalanya.


"Sayang sampai saat ini hatiku masih bimbang menerima keputusan itu"


"Mas,kita jalani saja,karena Itu adalah konsekuensi kita,kesalahan kita,semua yang dikatakan Bapak tadi benar dan tidak ada salahnya walaupun hati kecil saya juga tidak bisa menerima kalau mengikuti perasaan dengan membayangkan kita akan berpisah jauh dalam waktu lama"

__ADS_1


"Sayang aku harus bagaimana ?"


"Berfikirlah secara dewasa Mas,jangan kecewakan lagi Bapak,Ibu,dan juga ada aku yang mencintaimu,juga menunggumu dengan tak sabar pastinya"


"Sayang mungkin benar inilah yang terbaik buat aku jalani"


"Niatkan dengan Ikhlas jangan marah marah lagi,juga jangan ngambek dengan diam seribu bahasa lagi,kasihan Ibu yang begitu sayang sama kita"


"Sudah ya,Mas pulang istirahat tidur,biar kita melihat permasalahan dengan fikiran tenang dan mengambil jalan yang benar menurut hati nurani"


"Ya,terima kasih sayang, kamu telah menjadi penyemangat hidupku dan juga mungkin karena kamu aku akan lebih bisa dan kuat menjalani semua yang diinginkan orangtuaku"


"Heemght..."


"Satu lagi terimakasih hadiah istimewanya..."


"Hadiah apa ? kan tadi yang beliin cincin itu Mas..."


"Bukan itu,tapi yang sebelum Bi Ani ngetuk pintu dan menyuruh aku antar kamu pulang heeee..."


"Maaaaas...!" Aryanti begitu malu lalu meninju lengan Adrian.


"Aku antar sampai rumah enggak ? ini sudah malam lho "


"Nggak usah Mas dekat ini"


"Ya sudah,besok aku samper kamu sekitar jam sembilan,kita ngobrol lagi rencana kelanjutan cincin itu,aku juga ngobrol dulu sama Ibuku"


"Ya"


Aryanti turun Andrian juga ikut turun mengantar Aryanti dengan pandangan matanya,Aryanti berjalan masuk gang dan sampai Aryanti menghilang di belokan,lalu Adrian masuk kembali ke mobil lalu menjalankannya dan mobil pun melaju pulang.


Sensasi tersendiri bagi Adrian bisa memeluk Aryanti di kamarnya,sesuatu yang jauh dari dugaannya Aryanti tiba tiba mengetuk pintu dan masuk kamarnya,yang paling memungkinkan masuk kamarnya adalah pasti Ibunya,menyusulnya, tapi kali ini salah.


Masih terasa hangat dan lembutnya bibir yang bergetar,dengan hangatnya nafas beradu tak beraturan,juga tangan lembut Aryanti yang masih terasa melingkari pinggangnya, memelukmu adalah kebahagiaan bagiku sebelum kita jauh,merengkuh mu adalah ekspresi perasaan cinta dan sayang yang tanpa batas.


Adrian tersenyum sendiri mengingat hangatnya wajah Aryanti di dekat mukanya, seperti mimpi yang tak ingin cepat pergi, ingin selalu diingat dan di kenangannya dan berharap mimpi itu terwujud lagi di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2