Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Saya tak mau menunggu !


__ADS_3

"Apa kita langsung ke rumah tetua adat saja Pak Daud ?" Pak Bharata bertanya pada Pak Daud yang sejak tadi diam saja seperti berfikir dan mencari jalan yang dianggap nya benar jangan sampai ada langkah yang salah dan mengakibatkan timbulnya masalah baru.


"Boleh seharusnya begitu sekalian kita minta izin untuk informasi pada keluarganya"


Adrian hanya diam mengikuti semua apa yang di arahkan Pak Daud,mobil melaju ke perkampungan khas Bali yang begitu asri suara khas gamelan terdengar dari kejauhan dan semakin dekat semakin kedengaran jelas semua itu dari semacam Balai warga setempat, tempat bersama latihan tari,melakukan segala yang berhubungan dengan peribadatan melakukan acara acara dan ritual adat juga budaya lainnya,yang merupakan sebuah suguhan pertunjukan juga buat turis turis asing dan lokal, sekarang semakin marak dan begitu di lestarikan di tiap perkampungan di Bali menjadi perkampungan wisata.


Tetua adat menyambut semua tamu yang datang dan mereka masuk ke semacam aula dengan pintu masuk seperti gapura banyak relief relief dan hiasan hiasan,setelah berbasa-basi Pak Daud menyampaikan maksud dan tujuan yang sebenarnya.


Pak Tetua Adat menyimak semua apa yang di sampaikan Pak Daud dan mengerti.


''Saya sebagai yang di percaya di tua kan di sini mengerti kegelisahan keluarga Pak Surapraja,dan kami akan membantu semampunya, adapun mau bertanya dan menggali keterangan pada keluarga Made Suardika silahkan kami tak melarang apalagi menghalangi,setiap perbuatan ada timbal baliknya,di setiap agama pasti ada ajaran kebaikan dan keburukan"


Pak Daud dan semua mengangguk,begitu bijaksananya Pak tetua Adat ini.


"Kami ingin kalau Made salah serahkan pada yang berwajib dan proses menurut hukum tapi kalau terbukti tidak bersalah pulihkan nama baiknya,kami juga akan mencari tahu di mana keberadaan Made dan ingin semua masalah ini secepatnya selesai"


"Iya Pak sebelumnya kami semua mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekhilafan kami semua"


"Ya sama sama...mari saya antar pada keluarganya"


Masuklah pada rumah yang lumayan mewah dari rumah rumah lainnya dan mendapati orang tua Made Ardika yang belum begitu tua dan mempersilahkan untuk duduk pada semua tamunya dan memandang satu persatu tamunya dengan pandangan penuh selidik juga curiga dan berhenti pada sosok Adrian dan orangtuanya Made mengerti mungkin ini masalah Hotel.


Tetua Adat mulai bicara menyampaikan niat dan tujuannya kepada orangtua Made Ardika,di sambung sama Pak Daud,hanya ingin menemukan Made,bertanya motif penculikan kalau di bilang penculikan,dan menemukan Ibu Aryanti kembali,karena ini adalah kriminal seandainya terbukti Made yang melakukannya.


"Dasar apa yang membuat semua masalah ini di tuduhkan pada anak kami Made Ardika ?" Bapaknya Made Ardika kelihatan tidak senang.

__ADS_1


Pak Daud dengan bijaksana dengan memandang tetua adat yang dari tadi begitu memperhatikan dan menyimak pembicaraan lalu mengangguk angguk.


"Hubungan kerja di Hotel kami memang telah usai tapi masih menyisakan masalah walau semua masalah sudah di tutup atas instruksi Pak Surapraja semua terbukti Made melakukan penyelewengan dana tapi tidak di polisikan itu kebijaksanaan Pak Surapraja,tapi ini merembet pada keluarga besar Pak Surapraja,jadi kami tidak bisa tinggal diam dan kami semua mulai marah,dan geram atas tindakan Made yang menurut kami sudah keterlaluan, melakukan kriminal,penghinaan dan pelecehan pada keluarga Pak Surapraja"


Semua pada diam hanya amarah Adrian yang begitu menggebu, merasa terbangun kan lagi semua amarahnya oleh ucapan yang di sampaikan Pak Daud,semua kecemasan dan ketakutannya kembali memuncak Adrian berdiri dengan muka merah karena marah.


"Kalau semua ini tak selesai dalam 24 jam saya yang akan membakar rumah ini dan akan membuka kembali kasus Made di Hotel kami ! jelas semua bukti mengarah pada Made tak bisa di ragukan lagi"


"Sabar Mas Adri...sabar..."


"Saya tak bisa sabar Pak Daud ! hanya satu yang bisa saya tenang menemukan istri saya dan memenjarakan Made !"


"Iya iya...semua ada prosesnya kita kumpulkan keterangan dulu duduklah...Pak Daman tolong Mas Adri di kasih minum"


Ibunya Made Ardika hanya menangis terisak isak mendengar Bapaknya menuturkan cerita soal anaknya.


"Tak bisa di pungkiri Made Anak kami tumpuan harapan kami satu satunya,semua kami korbankan untuk kebaikannya tapi kalau bersalah proses lah,temukan dan hanya tolong biarlah hukum yang akan menghukumnya, hanya kami ingin cucu kami biar bisa di rawat di sini..."


"Apa Bapak sama Ibu melihat keganjilan di cara berfikir dan bertindak Made Ardika selama ini ?"


"Anak kami sehat tidak sakit hanya mungkin kurang konsentrasi akibat terlalu banyak fikiran dan masalah yang di hadapinya"


"Salah ! Made itu sakit jiwa saya punya bukti bukti yang begitu jelas,dia menginginkan keluarga Surapraja lenyap,menginginkan Hotel dan menguasainya,juga menginginkan Istri saya kalau bukan sakit jiwa apa semua itu namanya,ayo Komang Putri bicara sampaikan semua bukti bukti...jangan jadikan konflik keluarga di sini menjadi konflik kami, sekarang kami sudah lapor polisi tinggal menunggu hasil Made Ardika di nyatakan dalam posisi Daftar Pencarian Orang atau DPO...''


Semua diam tak terkecuali orangtua Made Ardika.

__ADS_1


"Made sakit jiwa ! Made tidak bekerja di Beachwalk tapi dua kali bertemu istri saya mengaku kerja di Beachwalk agar istri saya percaya Made tidak kelihatan sakit jiwa,padahal sehari harinya Made mengintai kami menunggu saat kami lengah dan kejadiannya tadi pagi,tak mungkin istri saya joging tak pulang pulang,dan satu lagi Made dengan terang terangan di suratnya menyatakan suka pada istri saya apa semua itu bukan seorang pecundang brengsek ? semua itu seperti layaknya kelakuan binatang ! tak beretika tak ada sopan santun tak ada moral dan tata krama !"


Tumpah semua emosi Adrian sambil mengacung acungkan pemantik api Adrian kalap di bakar amarah,mengancam semua orang yang ada di situ seperti singa yang terluka dan Pak Daud melerai denga penuh pertimbangan dan tetap dengan kepala dingin...


"Mas Adri nggak ada untungnya Mas Adri marah marah di sini toh orangnya tidak ada di sini,sabar dulu..."


"Saya sudah nggak sabar,kalau ada di sini saya cincang habis orang sakit jiwa itu,saya tantang dia maunya seperti apa ? atau bila perlu saya bakar dulu rumah ini biar dia muncul,sudah mau berapa jam dari jam enam pagi ? bagaimana nasib istri saya ? apa ada yang bisa jamin kalau dia baik baik saja ?


"Mas Adri tolong sabar sedikit semua orang lagi berfikir,kami mengerti perasaan Mas Adri tapi kita juga jangan bertindak gegabah dan tanpa perhitungan"


"Sudah cukup ! saya pergi ayo Komang kita sisir semua tempat usahanya dan tempat tempat yang memungkinkan orang sakit jiwa itu membawa istriku malam ini juga,cukup tahu saja orangtuanya kita adakan tindakan sekarang !"


Adrian berdiri dan melangkah keluar nggak bisa lagi di halang halangi,semua terlanjur emosi dan amarah yang membuncah, Pak Daud, Pak Daman dan Pak Bharata ngobrol sebentar dengan tetua adat dan orangtua Made Ardika lalu menyusul Adrian yang lebih dulu memasuki mobil,semua maklum adanya kemarahan, kekecewaan Adrian yang begitu tumpah seketika.


Setelah semua duduk di mobil baru Pak Daud angkat bicara.


" Ayo kita atur strategi ke mana dulu tujuan kita ?"


"Kita bakar galerinya di jalan Legian ! lanjut ke kantor travelnya dan terus ke vila vilanya di Bukit Kintamani !"


"Stop ! kalau Mas Adri mau main hakim sendiri saya turun di sini, kecuali ikut aturan ayo kita lanjutkan sampai di manapun ke liang semut pun kita cari orangnya"


Adrian dan semua yang ada di mobil diam.


"Ya saya minta maaf Pak Daud,saya hanya emosi dan hanya meluapkan perasaan saya saja,saya merasa tidak puas dengan orang lain jadi saya juga ingin ikut turun mencari,saya tidak mau hanya menunggu dan menunggu jadi kalau saya turun langsung mungkin akan lain semangatnya,saya tahu hukum saya tahu aturan tapi saya tak mau menunggu"

__ADS_1


__ADS_2