Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Momen yang indah


__ADS_3

Pagi-pagi di rumah keluarga Surapraja.


"Sayang mau berapa malam di Anyer nya?"


"Ibu, paling aku berangkat pagi ini nyampe siangan semalam lah Bu besok sudah ke sini lagi."


"Ya sudah hati-hati di jalan ya sayang ingat Fath jangan terlalu cepat dan terlalu kencang membawa mobilnya. Kalau nggak kenapa kamu menolak untuk memakai sopir nggak apa-apa Pak Agum itu walaupun sudah agak tua tapi Bapakmu sangat percaya pada keahliannya."


"Iya Bu." Fath meyakinkan Ibu mertuanya dan memastikan kalau dirinya mampu dan bisa menjadi pelindung bagi Adelia.


"Bukan kita nggak percaya Bu Adel percaya dari zaman dulu kan Adel sudah bersama-sama Pak Agum, mau ke mana-mana mau ini itu tapi perjalanan kami ini Bukan perjalanan yang resmi. Artinya begini Bu kami akan sesampainya saja di sana tidak target kami mau berhenti ya berhenti ada yang lihat ya kami akan turun jadi jalan-jalan intinya, ke Anyer itu hanya satu tujuan saja kami lebih ke ingin mencari sesuatu yang baru itu aja Bu." Adelia menambahkan untuk bisa lebih meyakinkan Ibunya.


"Ya sudah selamat jalan-jalan ya jangan lupa nanti belikan Ibu apa itu keripik tangkil yang dikasih nama geprek karena biji tangkil yang dipipihkan sedikit terus digoreng dipakai bumbu balado rasanya nikmat, kalau nggak salah daerah sana banyak banget, sekalian juga buat oleh-oleh kamu ke Malaysia mungkin dirasa aneh jadi bawa yang seperti itu."


"Iya Bu tenang aja biar aku pesankan dulu sama si Jihan biar dia menyediakan jadi kita nggak usah keliling mencari pasti dia tahu."


Adelia memeluk Ibunya dan ibu Handayani kelihatan begitu sedih baru dua malam di rumah sini Adelia dan Fath harus pergi lagi yang katanya mau jalan-jalan ke Anyer sekalian bertemu dengan sahabatnya.


Fath keluar duluan menempatkan satu tas pakaian mereka di bagasi belakang. Ibu Handayani membekalkan makanan yang sebenarnya Adel tak mau tetapi tak mampu menolak apa yang dikasihkan Ibunya.


Selalu saja ada alasan seorang Ibu agar makanan yang dibekalkan nya suatu waktu dibuka dan dimakan itulah perhatian seorang Ibu. Walaupun di jalan banyak makanan kapan saja bisa berhenti dan membelinya tetapi Bu Handayani takut saatnya malas tinggal makan yang ada.


Mobil berjalan perlahan keluar dari halaman, dan membelah keramaian Kota Bandung Adelia memasang navigasi pada aplikasi ponselnya agar perjalanan mereka tidak nyasar untuk sampai pada tujuan.


"Kalau Ibu sama Bapak ikut kayaknya akan senang ya kita jadi ngobrol banyak sama mereka"


"Aku malah nggak senang sayang."


"Lho kenapa? orangtuaku kan jadi orangtuamu juga Fath"


"Aku nggak bebas cium kamu di mobil ini jadinya kalau ada beliau-beliau."


"Mesum amat sih kamu Fath."


"Suami istri kan ingin kebebasan di manapun juga"


"Seperti kurang servis saja kamu Fath."


"Bercanda sayang, maafkan aku ya, servis kamu maksimal cuman laki-laki selalu merasa kurang dan mudah terpesona."


"Ganjen nanti aku deportasi kamu."


"Sadis banget."


"Biarin."


"Kalau kangen gimana kamu, susah mau peluk aku saat tidur yang ada hanya guling mewek jadinya."


"Aku nggak lebay kayak kamu."

__ADS_1


"Haaaaaaaa...kamu lucu sayang, sebentar marah cemberut, sebentar manja, dan sebentar kangen sama aku."


Adelia masih saja cemberut.


"Jangan cemberut dong kan bentar lagi kamu ketemu sama kakak ipar nggak jadi dan lolos seleksi si Jihan."


"Hehe...aku jadi ingat si Ji sudah punya anak apa belum ya? terus sudah gendut nggak badannya?"


Kalau dibiarin nggak ada yang warning nggak ada yang halangi dan aku yang marah-marah melulu saat Kakakku Adrian dan Jihan di Australia mungkin mereka udah jadi Kakak ipar ku, males banget gue kayaknya punya kakak ipar seperti si Jihan sepertinya kurang asyik haaa..."


"Bukankah akan lebih asyik asalnya teman berubah jadi Kakak ipar?"


"Nggak juga, Kakak itu harus bisa menjadi contoh dalam segala hal untuk adiknya menjadi tempat curhat yang nyaman buat adiknya, dan juga menjadi tempat konsultasi pribadi dari adiknya.


Si Jihan mana ada karakter itu?"


"Orang seperti dia nggak ada rasa sayang-sayangnya kepada adiknya apalagi aku yang jadi adik iparnya haaa... selama di Australia juga nggak pernah dia ngomong-ngomong adiknya atau cerita tentang adiknya, seingat aku dia malah ngomong ada unsur iri terhadap adiknya karena mungkin adiknya lebih cantik dari dia nggak tahu dah."


"Mungkin itu sisi yang kita tidak tahu saja sayang, siapa tahu pada kenyataannya si Jihan sayang keluarganya, sayang suaminya dan juga sayang adik-adiknya semoga saja begitu"


"Ya semoga saja,tapi yakin dia itu keras kepala aku lama berteman sama dia."


"Kakakmu juga sama keras kepala kan?"


"Iya sama, cuma Adelia adiknya sangat lembut, baik, penuh pengertian dan juga bikin kangen..."


"Heemght!"


"Oh aku suka banget, malah doyan banget kalau mendengar kata lembut otakku langsung berkelana traveling deh."


"Ini orang kebangetan ya ganjen nya kayak kurang kasih sayang saja, kamu itu Fath sudah seperti Kakakku saja Kak Adrian ngomong yang ngeres-ngeres malah kata Kak Aryanti makin kesini manjanya makin menjadi."


"Haaaa...Kakakmu aja yang sudah punya anak dan nikah lama masih saja manja, apalagi aku?"


"Iiiiiiiiiih...dasar laki-laki."


"Sama aja sayang pada dasarnya perempuan juga begitu cuman kalau perempuan menurutku lebih bisa menekan rasa malu, itu saja kalau laki-laki tidak, laki-laki lebih terbuka apa-apa itu dan menginginkan hal-hal yang terbuka."


"Stop! konsen ke jalan! Nanti ngomong yang terbuka juga sekalian mau buka-bukaan sudah sampai di Anyer dan sudah dapat kamar."


"Aku suka itu sayang, kamu ternyata pengertian banget."


"Tahu ah, aku mau ganti ngobrolnya yang lain saja."


"Ngobrol itu aja gimana soal curhatan Kak Aryanti tentang Kaka Adrian manjanya seperti apa?"


"Kak Adrian manja banget sama Kak Aryanti sama seperti kamu Fath."


"Terus kalau cowok sudah menikah manjanya sama siapa? sama bantal sama guling atau sama Ibunya?"

__ADS_1


"Ya nggak usah manja lah, biar yang manja itu cewek."


"Pada dasarnya cewek cowok sama-sama manja sayang, nggak apa-apa asal kita tahu hanya pada orang yang kita sayang kita bisa bermanja, apalagi kita sebelum ada anak kita puas-puasin dulu sebelum nanti kita direpotkan dengan urusan anak perhatian kita pasti terbagi lihat aja nanti."


Fath meminggirkan mobilnya dan Adelia merasa heran.


"Kok berhenti kan kita belum nyampe Fath?"


"Aku dapat momen bagus sayang, kita abadikan yuk."


Adelia ikut turun, dan benar saja jalan di pinggir pantai begitu menyajikan pemandangan yang sangat indah. Seperti pantai yang masih perawan dan belum banyak terjamah manusia. Fath mengambil kameranya dan Adelia begitu antusias melihat sekelilingnya.


Pantai yang begitu indah dengan riak ombak memutih di ujung gulungan-gulungan yang menepi menghempas di pasir putih landai, pepohonan hijau rindang di sepanjang pinggir pantai. Di pinggir-pinggirnya pandan pantai liar tetapi menunjukan khas pantai belum begitu terjamah. Adelia dan Fath memandang itu semua dari atas jembatan yang airnya mengalir dengan kelihatan dasar batu-batu kecil dan berkelok mengikuti arah yang lebih rendah menuju ke pantai sungguh pemandangan yang jarang sekali mereka lihat, perpaduan air laut dan sungai yang begitu indah luar biasa.


"Di mana ya ini?"


"Aku lebih nggak tahu sayang, yang pasti sudah masuk wilayah Anyer, coba lihat di peta lokasi aplikasi."


"Yang kita tuju Anyer Beach Hotel ya Fath? iya Fath sudah dekat nih pantesan aku sudah lapar."


"Sama aku juga, tapi nanti aja ya kalau sebentar lagi kita sampai biar langsung istirahat."


Jarak antara kota Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia dan Anyer, Banten, secara umum adalah 257.10 km atau 159.40 mil. Untuk mengatasi jarak ini dengan kecepatan kendaraan rata-rata 80 km / jam membutuhkan 2.6 jam atau 153.8 menit.


Adelia dan Fath cukup santai apalagi mereka berangkat sekitar jam 07:00 mereka masih bisa berhenti berfoto ria bahkan berpelukan mengabadikan momen dengan background alam yang indah di belakang mereka.


Kamera mengabadikan mereka.


"Fath! ih jangan banyak orang tuh, kamu suka berlebihan deh ah."


"Mana orangnya jauh banget itu, lagian biarin aja anggap aja nggak ada orang."


"Dasar kamu ini mesum melulu pikirannya."


"Kan sayang kita dapat tempat indah begini kita abadikan dengan kamera, dan kita nikmati keindahannya dan isi dengan kemesraan"


.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏

__ADS_1


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2