Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Pertemuan Adel Jihan


__ADS_3

Fath naik dari kolam renang mengambil ponsel istrinya setelah mereka sama-sama nyemplung bersama.


Sebenarnya Fath malas banget pengennya bermesraan, berduaan renang sepuasnya tapi karena Adelia maksa takut Jihan datang. Terpaksa naik juga dari kolam renang mendekatkan ponselnya.


"Nih di sini sayang, ponselnya, sekarang mana imbalannya?"


"Ya, makasih sayang." Adel tersenyum melihat Fath terjun kembali ke kolam renang dan menyergap dirinya.


"Aaaaaaw ... Fath! kamu mau ngapain aku?"


Fath hanya tertawa sambil memeluk Adelia dalam keadaan basah dengan air sedada.


Adelia hanya bisa pasrah sambil menyipratkan air ke arah Fath. Sambil tertawa Fath menepisnya.


Kesekian kalinya mereka berciuman di kolam renang.


Fath semakin liar menjelajahi tubuh istrinya, seperti baru menemukan sesuatu yang begitu aneh dan unik.


"Stop Bos sampai sini, aku udahan renangnya nanti keburu ada si Jihan." Tapi Fath nggak terima begitu saja. Adel yang berenang melepaskan diri dari rengkuhannya di tariknya kembali dan di halangi jalannya.


"Fath lepasin! Ih kamu nggak ada puas-puasnya."


"Sebentar saja sayang, aku mau sekali di sini di pinggir kolam renang ini ya!"


"Kamu ngaco banget Fath, sakit tahu pinggangku, nanti di tempat tidur aja."


"Aku mau mencoba di sini sayang, boleh kan?"


Adelia hanya bisa pasrah, dan setelah nafas keduanya begitu ngos-ngosan Fath membisikkan sesuatu di telinga Adel.


"Apaan sih serius mau di sini? nggak! nggak!"


"Emang kenapa?"


"Sebentar lagi ada si Jihan nggak enak main di sini pegel tahu!"


"Itu Ada kursi pantainya, sayang."


"Fath! yang bener aja kamu ini, masa mau main di ruangan terbuka gini?"

__ADS_1


"Ini ruangan tertutup sayang, ayolah ...."


"Fath tolong jangan di sini! aku nggak mau, nanti ada saat sama jadwalnya!"


"Justru yang enak jangan di rencanakan dan waktu dan tempatnya begitu di buru-buru, jadi biar seru!"


"Nanti ya Fath sayang, aku naik handukan dulu sama ganti baju ya."


Akhirnya Fath ikut naik juga, memang nggak seru kalau berenang hanya sendiri.


Asyiknya kalau berdua, bisa melakukan apapun di situ, apalagi ini ruangan private, Cabana room, mau tanpa selembar benangpun bisa semua di lakukan.


Fath hanya bisa memandang tubuh istrinya saat mereka membersihkan diri di kamar mandi, mukanya cemberut saat keinginannya tak di penuhi sang Istri.


Adel melihat itu, tapi tak hirau membiarkan Fath manyun kayak botol limun. Adel tahu suaminya ngambek tapi biarin saja.


Biasa seperti itu tak ada lagu permasalahan diantara mereka selain keinginan yang tidak terpenuhi. Fath yang selalu ingin buru-buru tapi Adelia yang begitu banyak aturan dan lebih tertib disiplin dalam segala hal, itu membuat mereka sering salah paham tapi ujung-ujungnya saling merindu dan melepaskan rasa kangen mereka.


Akhirnya bel ruangan berbunyi, Adelia membukanya perlahan.


"Jihan?"


"Ya ampuuuuun ... lo masih aja seperti ini!" Mereka berpelukan lama. Jihan melihat Adel seperti tidak berubah, masih saja cantik belum gemuk seperti dirinya.


Jihan masuk ke ruangan itu, bersalaman sama Fath, dan duduk di sofa.


"Lo jadi orang jahat banget Ji, apa lo jaim apa lo mengundurkan diri dari dunia luar? sepertinya lo menutup diri untuk akses orang luar sehingga gue nggak punya nomor telepon lo yang aktif, nggak bisa hubungin lo di dunia Maya juga." Adel mencecar Jihan dengan seabrek pertanyaan.


Jihan hanya tersenyum saja, meneliti Adel sahabatnya dari atas hingga bawah.


"Nikah nggak kabar kabari seolah kita nggak punya arti sedikit juga, lo gimana sih, jadi seperti apa kehidupan yang lo jalani sekarang?"


"Lo boleh marah sama gue, tapi beginilah kehidupan gue sekarang gue jadi seorang ibu satu anak laki-laki, dengan status pernikahan nggak jelas."


"Maksud lo? Lo sudah punya anak Ji?"


"Gue ngambil keputusan salah, sehingga menjalani semuanya dengan salah juga. rumah tangga gue berantakan nggak jelas sampai sekarang juga, walaupun kami tetap berhubungan baik karena ada pertalian saudara, juga ada ikatan karena ada anak."


"Ya ampuuuuun Jihan! kenapa lo begitu labil dalam mengambil keputusan? gue kira lo begitu jenius sudah pertimbangkan semuanya."

__ADS_1


Fath ikut menambahkan "Itu bukan labil sayang, tapi sepertinya hatinya Jihan masih mendua, menjalani rumah tangga gue sama Adel begitu nikmatnya Ji! mau apalagi? walaupun gue belum dikasih anak bahagia saja, harusnya lo seperti itu lebih bahagia lagi."


"Harusnya seperti itu teorinya Fath, tapi kenyataannya hati gue seperti nggak terima."


"Gue pengen tahu, jujur dari hati nurani lo sebenarnya ada apa? kenapa lo nggak bisa menerima dan menjalani dengan ikhlas? Pak Habil yang notabene masih keluarga lo, hubungan lo begitu direstui orang tua kalian, ganteng hidup lebih dari mapan, berkecukupan dengan posisi seorang pemimpin di perusahaan sendiri apa sih kurangnya?" Adel selalu blak blakan dalam bicara itu semua jadi bahan pertanyaan buat Jihan.


"Ada hal lain yang buat diri gue marah, tapi sudahlah semua sudah terjadi. Rumah keluarga gue tidak jauh dari hotel ini kalau jalan santai joging pagi-pagi gue suka sampai ke sini sambil jalan-jalan tapi kalau naik mobil juga nggak begitu jauh, gue harap kalian bisa datang ke rumah keluarga orang tua gue, masih numpang sama orang tua walaupun usaha ada sedikit yang gue rintis sendiri." Jihan sepertimengalihkan pembicaraan tentang ingin lagi membahas tentang rumah tangganya.


"Boleh pasti kita mampir, gue pengen lihat jagoan kecil lo."


"Kalian nikah duluan kenapa belum ada hasilnya? apa terlalu sering bulan madunya? di jaga dong terlalu sering juga nggak baik bagi yang punya program kehamilan, selang satu hari baru itu benar."


"Hah? selang satu hari? Fath mana bisa begitu Ji, sehari semalam tiga kali belum kalau lagi libur begini masih minta nambah."


"Seru juga rumahtangga lo berdua, terserah memang itu hanya teori yang pasti kalian belum waktunya saja. Buktinya gue hubungan kurang harmonis juga akhirnya jadi juga Zaid anak gue sama Habil."


"Jihan apalagi lo harmonis pasti anak lo sudah empat, haaaa ...." kekeh Adelia sambil menepuk tangan Jihan.


"Gila lo! emang nggak sakit lahiran apa?"


"Tapi buktinya pada banyak anak, sebenarnya sakit lahiran itu mudah lupa saat nikmat membuatnya" jawab Fath sambil mengusap punggung Adelia istrinya.


"Ah Fath suka ngaco aja!"


"Oke, kalian disini masih lama kan, bersenang-senanglah, siapa tahu pulang dari sini ada hasilnya. Gue sekarang pulang dulu nanti sore gue jemput dan gue undang ke rumah buat makan malam di rumah ya, sambil gue mau mengenalkan putra kesayangan pada kalian."


"Siap Ji, sekarang gue mau bulan madu lagi." jawab Fath sambil mencium samping kepala istrinya.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏

__ADS_1


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2