Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Cabana room


__ADS_3

Adelia dan Fath melanjutkan kembali perjalanan mereka sehingga sampai tujuan dan sekitar Jam 10:10 mereka sampai di Anyer Beach Hotel.


Hotel dengan nuansa pantai yang sangat asri dan nyaman begitu megah menjulang dengan jarak ke bibir pantai hanya beberapa puluh meter saja bisa dihitung dan dibilang ini adalah hotel termewah yang ada di Anyer Banten.


Adelia dan Fath sudah sepakat mereka ingin membuat kejutan buat Jihan teman mereka. Dan mereka tidak datang bertanya langsung kepada resepsionis Hotel, tetapi mereka membooking dulu kamar dan baru setelah mereka mendapatkan kamar Adelia akan menelepon Jihan seakan mereka masih berada di tempat lain di mana lah... padahal mereka sudah ada di hotel keluarganya.


Tak lama dan tak susah mereka telah memasuki kamar yang lumayan besar dengan fasilitas yang begitu komplit. Fath ingin kamar yang paling bagus dengan kualitas yang nomor satu karena menganggap ini adalah bulan madu mereka.


Dari mulai standard room sampai presidential yang di tawarkan Fath memilih class 'cabana room' biar bangun tidur langsung bisa berenang-renang saat buka pintu kamar. Alias punya private pool sendiri, Pilihan tipe kamar hotel Cabana Room ini tak di tolak sama Adelia istrinya, mereka sama sama senang dan langsung mengunci kamar mereka di dalam kamar dan menikmati suasananya.


Tipe kamar hotel ini memang didesain dengan kolam renang private, dengan pertimbangan mereka senang berenang. dan Fath ingin memberi kenyamanan untuk istri tercintanya. Luas kamar Cabana Room ini sekitar 30–40 m. Wow banget ternyata hotel keluarga Jihan begitu mewahnya dan menyediakan fasilitas sangat menyenangkan.


Fath tak ingin memilih lagi yang lain dan ruangan ini begitu mempesonanya. Hingga pas di sodorkan kamar ini dengan segala fasilitasnya Fath langsung saja memesannya dan menyetujui segalanya.


"Fath kok malah tiduran kan aku lapar! penelantaran istri itu dalam kasus pengaduannya."


"Haaaaaaaa...sini aku peluk dulu nanti hilang laparnya atau mau renang dulu?"


"Yang ada aku pingsan, pokoknya aku mau makanan yang paling spesial dan istimewa di hotel ini dan mau makannya di sini!"


"Oke. aku siap pesankan buat istriku tercinta, tapi sini dulu peluk aku di sini baru nanti aku pesankan makanannya."


"Fath jangan mengada-ada aku nggak suka pokoknya pesankan sekarang." Adelia merajuk.


"Sudah mirip Kak Adrian ini, kalau ada maunya pasti nggak bisa ditolak dan juga ditunda-tunda, awas ya giliran nanti aku ada maunya kalau kamu menolak aku juga akan teriak-teriak."


"Teriak teriak aja biar semua orang tahu kamu itu sudah membiarkan istri kelaparan."


"Waduh sadis amat, oke aku turun dulu biar jelas pesanannya, sekaligus minta no telephon si Jihan."


"Jangan lama-lama."


"Ayo makan di bawah aja biar nggak lama nunggunya, daripada nunggu di sini perasaan kita pasti akan merasa lama kalau di sana kita bisa melihat lihat yang lainnya siapa tahu resepsionis tidak menyimpan nomor telepon Jihan, mending kita turun dulu nanti aku kasih bonus sebelum renang heee..."


Adelia melotot dan Fath hanya mesem tersenyum, merasa lucu melihat istrinya yang gampang ngambek juga gampang baikan kembali.


"Aku paling nggak bisa kalau melihat kamu ngambek, jadi kesannya aku pengen selalu mencium kamu"


Fath menarik tangan istrinya yang berdiri dekat jendela dengan pemandangan kolam renang di luar, dan memeluknya seketika lalu mendudukan di ujung tempat tidur dan sekali lagi Fath menariknya sehingga mereka terlentang berdua di tempat tidur yang begitu rapi. Adelia tak bisa menolak saat suaminya merangkul tubuhnya memberikan ciuman-ciuman panas.


"Fath ampun aku sungguh nggak mau saat ini aku mau makan dulu, aku berikan dengan sukarela nanti pokoknya, kamu mau yang mana dulu aku pasrah aku janji."


"Sebentar aja sayang."


"Percis Kak Adrian"

__ADS_1


"Kan sudah aku katakan gurunya dia heee..."


Tak ada pilihan lain bagi Adelia selain mengikuti dulu keinginan suaminya baru dia nanti akan mau mengikuti keinginannya. Dan setelah keinginan suaminya terpenuhi baru Adelia bernafas lega lalu membetulkan kembali pakaiannya yang berantakan.


"Sebenarnya nanggung sayang."


"Fath sayang kan aku janji nanti, ayo kita turun kamu ke


restoran aku ke kantor atau ke resepsionis."


Akhirnya dengan perasaan enggan Fath bangun bangun juga dan mereka turun menuju restoran dan Adelia bertanya kepada resepsionis.


"Permisi Mbak."


"Ya ada yang bisa di bantu Bu?"


"Saya temannya Jihan dari Bandung, dan saya lagi menginap di hotel ini boleh saya meminta no telephonnya?"


Resepsionis itu tertegun dan meneliti Adelia dari atas sampai bawah sampai Adelia merasa malu dan kikuk sendiri. Lalu dia malah permisi kepada Adelia dan bertanya kepada seorang temannya yang sedang duduk dibelakangnya sambil membuka-buka buku entah buku apa, dan mengobrol sebentar.


Setelah balik lagi ke depan berhadapan kembali dengan Adelia resepsionis itu kembali bicara.


"Maaf dengan Ibu siapa ini?"


"Oh, apa ibu sudah janji mau ketemu?"


"Yeeee...kalau aku punya nomornya nggak bakal tanya sama kamu, makanya aku bertanya itu aku nggak punya nomor teleponnya. Yang lama sudah tidak aktif jadi aku nggak bisa janjian ya aku datang ke sini saja ini kan Hotel keluarganya?"


"Iya ini hotel keluarga Husen Al Rasyid."


"Jadi ada no telephonnya?"


Maaf Bu karena ini menyangkut orang asing yang meminta nomor telepon Bu Jihan jadi saya tidak berani memberikan nomornya. Jadi begini saja saya minta nomor telepon Ibu dengan Ibu siapa ini? nanti saya sendiri yang akan menyampaikannya kepada Ibu Jihan biar Bu Jihan sendiri yang menelepon Ibu"


"Oh boleh saya Adelia sama suami saya Fath, tapi secepatnya ya, ini nomor saya." resepsionis itu mengambil kembali buku yang Adelia menuliskan nomor teleponnya di situ.


"Ya sudah di tunggu."


"Iya Bu terimakasih."


Adelia bergegas menuju ke restoran dan disitu Fath sudah duduk di satu meja dengan makanan yang sudah tersaji di depannya.


"Kok lama banget sayang?"


"Orang penting, nggak sembarangan memberikan nomor telepon, jadi aku nggak dikasih nomor telepon si Jihan keputusannya aku yang ngasih nomor telepon sama resepsionis itu dan resepsionis itu yang akan menyampaikan kepada Jihan. Kita tunggu saja telepon dari Jihan, sekarang yuk kita makan."

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi Adelia langsung menyantap makanan yang sudah ada didepannya, dan Fath tersenyum melihatnya begitu senang dirinya saat melihat istrinya makan apapun yang dia makan enak kelihatannya.


"Pelan pelan sayang masih banyak kalau mau tambah juga boleh kok, aku bukan suami yang pelit buat istriku yang paling cantik ini."


"Kalau mau pelit juga silahkan, emang aku nggak punya duit apa?"


"Haaa...bercanda sayang, saking aku cinta banget sama kamu."


"Aku biasa aja sama kamu."


"Aaaaaah...sayang kamu bohong, buktinya tiap malam kamu nggak bisa tidur kalau nggak memeluk aku."


"Ayo bilang kalau kamu sayang dan cinta sama aku."


"Nggak mau."


"Bilang."


"Males."


"Aku kasih surprise deh sama kamu."


"Nggak mau surprise kamu, aku mau balik ke kamar dan nungguin telephon si Jihan."


"Oow...kembali ke kamar itu paling aku suka."


.


.


.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2