Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Semangat


__ADS_3

Adrian berjalan kaki sama Aryanti pulang dari latihan sambil ngobrol soal yang ringan ringan saja. Ternyata Aryanti orangnya enak banget buat diajak ngobrol fikir Adrian selalu nyambung di setiap topik pembicaraan, juga cara ngobrolnya juga nggak seperti sok tahu walaupun memang dia tahu, begitu menghargai setiap omongan lawan bicaranya tak seperti teman ceweknya Livia percis nya kekasihnya selalu ingin dia aja yang punya topik pembicaraan juga hanya dia yang paling benar dan tahu.


Begitu kontras perbedaan diantara keduanya tapi pada Livia Adrian mencintainya entah alasan apa atau dari sisi mana. Adrian juga nggak tahu, mungkin saat ini hanya Livia yang mengisi hatinya dan mungkin ini karena cinta pertamanya atau mungkin juga Adrian belum melihat sisi wanita lain.


"Tadi kelihatan serius banget nelephon pacar ya? heeeeee..."


"Ya begitulah, cuma dia lagi ngambek."


"Samperin dong jangan sampai berlanjut ngambeknya, kasihan dia."


"Biarin aja memang dia yang selalu memicu dan memulainya."


"Kok gitu? ya jangan begitu lah walau aku seorang cewek aku bukan berpihak pada dia, tapi objektif aja ya harus ada yang ngalah salah satunya bukan begitu?"


"Harusnya begitu tapi biasanya aku yang ngalah, tapi sekarang lagi males aja."


"Hemght...begitu ya..."


"Hai situ sendiri udah ada cowoknya?"


"Oh aku? belum heeee..."


Aryanti tersipu agak malu, terkadang punya keinginannya seperti perempuan lainnya punya pacar punya teman cowok tapi semua di tepisnya, hidupnya aja masih jadi beban orangtuannya nggak mau di repotkan dengan urusan pribadinya, walau ada aja cowok yang mendekatinya tapi selalu kecewa dengan penolakan halusnya.


Aryanti bukan tak cantik tapi belum di poles dan selalu berpenampilan sederhana seperti pribadinya, badannya yang tinggi sedang dan ramping dengan muka tirus dan hidung mancung juga alis alami yang hitam sudah terbentuk begitu manis kalau tersenyum dengan lesung pipi di sebelah kirinya menjadi ciri khas nya yang selalu di ingat orang dari dirinya.


Dengan pembawaan yang lembut dan tutur kata sopan orang tak puas hanya memandangnya sekali saja, pasti melirik kedua dan ketiga kalinya.


Aryanti lahir sebagai anak tunggal orangtuanya yang tadinya di vonis nggak bakal punya anak tapi keajaiban datang dengan kelahirannya, di besarkan dalam kesederhanaan dan rasa syukur Aryanti tumbuh menjadi perempuan yang mandiri dalam segala hal, merasa dirinya sendiri nggak ada saudara jadi menganggap orang lain adalan saudaranya. Mereka hidup dalam keluarga yang sederhana walau kata orang Pak Nurhadi depositonya banyak tapi dia selalu merendah Alhamdulillah bisa sekolahin anak sampai kuliah itu juga sudah luar biasa.


Pak Nurhadi dulunya sopir bus antar kota antar propinsi, berhubung sejak Aryanti mulai besar juga pekerjaan itu penuh resiko Pak Nurhadi memutuskan berhenti demi ketenangan anak istrinya, sempat beralih punya angkot tapi nggak lama juga kalah saing sama ojek online yang berbasis aplikasi, 3 angkot nya di jual dan untuk kegiatan sehari harinya dia memiliki odong odong yang biasa di naikin anak anak, satu di pertigaan pasar dan satunya lagi di pinggir alun alun kota dan sisa uangnya di deposito kan untuk masa depan anak semata wayangnya Aryanti.


"Eh... aku udah mau sampai nih mampir ke rumahku Mas."


"Oh boleh kamu nggak keberatan?"


"Loh keberatan apa? cuma aku malu rumahku jelek di gang sempit lagi, tapi ya inilah tempat tinggal keluargaku."

__ADS_1


"Aku nggak melihat rumahnya yang penting penghuninya ramah heeee..."


"Lewat sini Mas." Aryanti jadi berjalan di depan.


Aryanti berjalan duluan masuk gang yang hanya bisa di lewati satu mobil kalau berpapasan terpaksa yang satu berhenti dulu, melewati beberapa rumah baru sampai.


Aryanti malau-malu mempersilahkan Adrian masuk dan duduk. Adrian masuk dan bersikap seperti biasa walaupun rumahnya menurut dia dirasa unik, rumahnya mungil kamarnya dua bawahnya lantainya pakai keramik motif kayu tapi dindingnya pakai kayu yang halus dan rapi mirip bungalo bungalo gitu.


Halaman dan terasnya penuh dengan bunga terutama anggrek, terasa sejuk dengan teras yang lumayan luas dan ada kursi sederhana buat ngadem.


"Mas silahkan duduk, aku panggilkan Mamaku dulu ya"


"Heemght... di sini aja enak di teras nih adem."


Tak lama Aryanti keluar lagi bersama Mamanya dan memperkenalkan dirinya. Adrian bersalaman sambil mengangguk.


"Mas mau minum apa kopi teh?"


"Biarin nggak usah kan tadi udah minum sama kamu."


"Ya sudah terserah kamu aja."


Aryanti ke belakang dan datang lagi dengan 2 cangkir teh dan kue kue kecil di bawa Mamanya.


"Cuma teh tawar aja Mas, tadi kan maunya apa aja."


"Sudah cukup terimakasih biarin tawar aja kan yang bikinnya udah manis heeee..."


"Ah,Mas bisa aja."


Mamanya Aryanti masuk lagi setelah basa basi dan pamit ke belakang, membiarkan putrinya dengan tamunya, sesuatu yang tak pernah putrinya lakukan membawa tamu laki lakinya tapi ini teman kerjanya biasanya teman perempuan teman kuliah atau taekwondo nya.


Mereka mengobrol lagi sampai pada waktu mau maghrib. Adrian pamitan diantar Aryanti sampai depan, Aryanti tersenyum melambaikan tangan sambil mengangguk.


Baru kali ini Adrian bersosialisasi dengan orang lain, bertamu berkenalan dengan orangtuanya dan berpamitan, entah apa yang ada di pikirannya ada rasa damai dan lega aja di hatinya nikmat juga jadi orang biasa ya ternyata...


Tak seperti biasanya naik turun mobil yang di temui teman temannya, di rumah dengan pembantu pembantunya orangtuanya yang sibuk dengan urusan pekerjaan membuat Adrian punya dunia dan kebiasaan sendiri, pulang tidur ganti baju makan lalu pergi lagi sekehendak hatinya dan teman temannya.

__ADS_1


Terkadang jenuh juga menjalani hidup tanpa juntrungan dan tujuan hanya memuaskan diri dan waktu yang sia sia tanpa di manfaatkan dengan baik, ada kesadaran dalam jiwanya bahwa hidup itu harus dinamis, seperti kata Bapaknya "masa depanmu di tentukan oleh kamu sendiri" juga "cintai semua pekerjaanmu suatu saat kamu akan kangen dengan pekerjaanmu bukan bosan."


Adrian berjalan kaki entah mau sampai mana yang pasti dirinya begitu ingin berjalan kaki. Mungkin kalau sudah capek baru menyetop taksi atau angkot.


Begitu meresapi kata kata Bapaknya juga semua pelajaran hidup yang hari ini yang di lihatnya di depannya dan sosok Aryanti yang menjalani hidup dengan kesederhanaan dalam bicara sikap serta segala hal, pantes hidupnya damai dia penuh rasa syukur tak seperti dirinya sedikit sedikit uang dan ngambek juga nggak pulang.


Dari semua obrolannya Aryanti tetap merendah, tetap merasa dirinya belum menjadi apa apa dan keramat utamanya sebagai anak adalah orangtua, begitu sayang dan hormatnya Aryanti pada orang tuanya sampai sampai segala hal atas hasil musyawarah dengan orangtuanya, juga seandainya orangtuanya menjodohkan dirinya dengan seseorang Aryanti siap berbesar hati menerimanya seandainya itu yang membuat bahagia orangtuannya.


Tadi juga sedikit beradu argument antara Aryanti dan dirinya karena Adrian merasa kalau menentukan jodoh adalah hak semua orang memilih dan menentukan juga bukan urusan orangtua kalau urusan jodoh adalah urusan hati, tapi Aryanti berbeda pendapat dengan dirinya soal itu.


"Serius nih sikap kamu seperti itu Yan?"


"Itu adalah bagian dari rasa hormat saya sebagai anak Mas."


"Dengan mengorbankan kebahagiaanmu sendiri?"


"Tapi belum tentu tak bahagia kan?"


"Ya ya ya..."


Adrian tersenyum mengingat percakapan tadi dengan Aryanti, dan masih terbayang wajah Aryanti yang datar mengungkapkan perasaannya...


.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2