
Aryanti terbaring masih dalam keadaan lemah,semua sudah di bersihkan dan Aryanti sudah berganti pakaian,Adrian dan Mamanya juga Pak Edi di sambut dengan senyumannya walau wajahnya masih agak pucat,Adrian menghambur ke pelukan Istrinya dengan perasaan sukacita yang mendalam,di ciumnya kening dan kepala istrinya dengan penuh perasaan.
Di genggamnya tangan Aryanti dan di usap usapnya perlahan, datang suster membawa troli meja makanan dan minuman menyimpannya di samping tempat tidurnya.
"Bu Aryanti di makan ya makanannya semoga cepat memulihkan tenaganya kembali, juga susu hangatnya,nanti akan ada kunjungan dokter Ibu harus sudah makan dan akan di bawakan bayinya,silahkan Ibu...saya permisi"
"Ya suster..."
Aryanti menggeser kan agak ke atas badannya masih sambil meringis.
"Mau agak bersandar Mas kepalanya"
"Ganjal pakai bantal lagi ya juga tempat tidurnya itu tolong Pak Edi kan bisa di setel tinggal putar tuas nya yang itu di ujung"
"Iya ya..." Pak Edi menyetel tempat tidur pasien secara perlahan sampai Aryanti kelihatan nyaman.
"Makan dulu ya biar aku suapi,apa minum susu dulu ?" Adrian mendekatkan troli meja makanan.
"Makan dulu Mas Aku lapar banget"
"Iya sayang...tentunya pasti sangat lapar" Adrian membuka plastik steril yang membungkus tiap porsi makanan dan menyuapi Aryanti,melihat istrinya makan terasa kenyang perut Adrian semua telah terwakili hanya satu keinginannya ingin cepat melihat senyum Aryanti kembali,dan istrinya cepat pulih dari semua rasa sakitnya.
Adrian masih menyuapi Aryanti yang mungkin suapan terakhir datang suster mangantar Pak Surapraja dan Ibu Handayani,Pak Surapraja memberi ucapan selamat pada Aryanti dan Adrian di ciumnya kepala menantunya dan Adrian di peluknya sangat lama sambil di tepuk tepuk pundaknya,juga Ibu Handayani mencium Aryanti sambil berlinang airmata dan Adrian tersungkur di pangkuan Ibunya,dengan rasa sayang Ibunya mengusap usap kepala Anak lelakinya.
Kebahagiaan semakin terasa saat dokter Ratih datang dengan dua orang suster di belakangnya dan mendorong kereta Bayi,lalu memangku nya dan di serahkan pada Aryanti yang dengan gemetar mencoba menggendong di pangkuannya.
"Pak Adrian Bu Aryanti selamat sekali lagi ya...Anaknya berjenis kelamin perempuan yang sangat lucu dan cantik,secantik Mama dan Papanya,putri anda lahir normal tanpa kurang suatu apapun,berat tiga koma tiga dan panjang lima puluh delapan centi meter,silahkan Bu Aryanti menciumnya untuk pertama kali,dan untuk selanjutnya Ibu Akan mendapat pengarahan,tata cara bangun paska melahirkan dan ke kamar mandi,juga cara pengenalan asi pertamakalinya.
silahkan Bayinya di gendong Papanya atau neneknya"
__ADS_1
Aryanti mencium buah hatinya dan memeluknya perlahan dan membelai kepalanya,dan tersenyum seakan melihat dirinya di muka bayi merah itu,lalu Aryanti memberikan pertama kali pada Adrian dan dengan tanpa kata Adrian mencium begitu lama kepala bayi mungil itu dengan sejuta perasaan di dalam hatinya lalu Pak Surapraja dan dengan gemetar Pak Surapraja menggendong cucu pertamanya dan menciumnya dan membisikan do'a di telinga cucunya yang begitu terlelap lalu memberikan secara estafet pada Mamanya Aryanti dan juga menciumnya seperti rasa sayangnya pada anak sendiri bahkan mungkin ke cucu melebihi rasa sayang pada anaknya dan terakhir Ibu Handayani berkesempatan menggendong untuk pertama kali,dengan meneteskan airmata Ibunya Adrian memeluk dan menciumnya perlahan,'selamat datang sayang cucu Ibu... semoga hidupmu berkah,menjadi pelita yang tak pernah padam di setiap waktu,sholehah dan di beri kemudahan setiap langkah langkahmu kedepan'
Tak ada kebahagiaan sebahagia keluarga Pak Surapraja saat ini dan Adrian mengabadikannya dengan jepretan kameranya dan di kirim pada Adiknya Adelia di Malaysia,betapa akan bahagianya Adelia mendengar khabar baik ini.
"Bu Aryanti silahkan istirahat dulu untuk bisa cepat kembali pulih,jangan lupa obat pengurang rasa sakitnya di minum ya dan kalau ada apa apa pencet bel di samping tempat tidur anda suster 24 jam siap membantu anda..."
"Baik dokter terimakasih..." dokter dan dua suster berlalu meninggalkan Aryanti dan keluarganya.
"Kenapa nggak khabari Ibu dari awal awal Nak ?"
"Aduh maaf Bu Adri juga tahu sudah tengah hari,Yanti nelephon langsung minta di antar ke klinik ya Adri panik boro boro mau kabari siapa siapa..."
"Kemungkinan selentingan sudah dari sore cuma nggak di rasa menurut perkiraan Mama mah Nak Adri,seperti Biasa Nak Yanti nggak mau bikin panik semua orang" Mamanya Aryanti menjawab.
"Memang benar Bu Adri panik luar biasa Yanti sudah nggak mau diajak ngomong dan Adri belum makan sampai sekarang dari pagi heee..."
"Ya ampuuuuun...sana makan dulu dan itu kemeja nggak di kancing kenapa ?"
"Kenangan kok kemeja tanpa kancing nggak ada yang lebih bagus lagi buat kenangan ?" Bu Handayani menatap Anaknya yang aneh aneh aja.
Aryanti merasa teringat,sudah ada dua kemeja kenangan berarti nanti yang akan mengisi lemarinya heee...
"Apa kalian sudah punya Doa terbaik yaitu Nama buat putri kalian ? atau mau di kasih nama sama Kakeknya ?" Pak Surapraja kembali mendekati cucunya di gendongan Bu Handayani.
"Kami sudah punya Pak dan mempersiapkan satu nama yang begitu indah dan sarat akan makna" Adrian menggenggam tangan Aryanti.
"Coba siapa namamu cucu Kakek yang cantik ini ?"
"Dengan mengucap, Bismillahirrahmanirrahim kami atas nama orang tua kami beri nama anak kami tercinta dengan do'a dan nama "Alinea Aura Senja Pangandarani Surapraja" Dengan Makna kami punya cerita yang begitu indah di Pangandaran ini sebagai Alinea yang tak pernah usai"
__ADS_1
"Wah wah wah.. nama yang cantik sekali dan pasti akan secantik orangnya,semoga. antik juga akhlaknya"
"Aamiin..."
"Mas Makan dulu,mandi sama ganti baju sana biarin aku sama Mama juga Ibu di sini,yang penting aku sudah selamat lancar semuanya"
"Iya sayang..."
Adrian memeluk kembali istrinya dan mencium keningnya,betapa senangnya Adrian melihat Aryanti sudah mulai bisa tersenyum kembali dan begitu tenangnya hatinya.
Adrian berangkat pulang dulu bersama Pak Edi dan Pak Surapraja,ada Mamanya juga Ibu mertuanya yang menunggui,dan semua tercukupi tak ada yang di inginkan Aryanti selain istirahat dan menggendong buah hatinya yang masih ada di ruangan bayi kembali.
"Lelah yang sangat menenggelamkan Aryanti dalam pulas tidur dan kumandang adzan maghrib mendayu membangunkan dirinya,Aryanti menggeliat dan membuka matanya terasa sakit seluruh tubuhnya seperti habis apa entahlah setiap sendi terasa ngilu dan otot otot tubuhnya begitu pegal,Aryanti mengusap perutnya yang sudah agak kempis dan sudah bilang semua rasa mulasnya.
"Coba belajar bangun sudah dua jam kamu tidur dan istirahat Nak...kalau di bawa diam dan semua di rasa begitu akan semakin terasa semua perempuan mengalami hal ini yang namanya habis melahirkan, ayo coba belajar bangun pelan pelan gerakkan badanmu pelan pelan,sini Mama bantuin ayo belajar ke kamar mandi kalau sudah sanggup"
Aryanti mencoba bangun begitu sakit di selangkangannya,tapi berusaha dengan menahan semua rasa,sampai keringatan...
"Pelan pelan saja jangan di paksakan,harus bisa gerak nanti malam kita coba belajar menyusui yang benar,kalau belum gerak gimana kamu bisa menggendong dan menyusui"
Dengan berpegangan Aryanti sudah bisa duduk dan menjulurkan kakinya ke bawah ranjang,dan Mamanya mengambil anak tangga kecil buat naik turun dan mendekatkan ke bawah kaki Anaknya dan Aryanti mulai menginjak dan di bantu Mamanya bisa turun dan di bimbing ke kamar mandi.
"Jangan jongkok berdiri saja mau buang air kecil air besar juga biar kamu tidak kaget,biarkan semua nanti Mama yang beresin,
nyalakan air biar kamu merasa segar dan relaksasi, Mama tinggal dulu nanti kalau selesai panggil Mama"
"Ya Ma..."
Semua di lakukan sesuai perintah dan pengalaman sebagai orangtua, Aryanti mulai enak bisa berjalan dan membanjur banjur kan air hangat ke badan bagian bawahnya dan semua bisa di lakukannya, asalnya begitu ngeri mau buang air kecil juga tapi semua di lakukan dengan sangat hati hati,Aryanti malah bisa keluar kamar mandi sendiri walau pelan pelan.
__ADS_1
Adrian menunggunya di balik pintu kamar mandi karena sudah datang dengan berbagai makanan dan buah di belinya,lalu
berjalan kembali dari kamar mandi dengan di bimbing Adrian pelan pelan membimbing Aryanti kembali ke tempat tidurnya.