
"Welcome to City Beach Mas Adrian heee..."
Jihan merentangkan kedua tangannya, dan Adrian tertawa.
Begitu indah pemandangan pantai di sore hari, dengan masih hangatnya sinar matahari mungkin orang begitu enggan meninggalkan pantai,tapi Adrian merasa begitu tak nyaman saking banyaknya orang yang masih tiduran di pasir putih dan lalu lalang orang dengan berbikini dan hanya berbaju renang atau pria hanya bercelana kolor,sedangkan dirinya setelan lengkap kemeja dan celana jeans juga tas gendongnya karena memang pulang dari kampus.
Memang ada juga orang yang berpakaian rapi seperti biasa tetapi rata-rata setelan pantai yah mungkin seperti itu biasanya, Adrian hanya ingin tahu saja suasana pantai disini jauh berbeda dengan saat dirinya dan Aryanti berada di pantai Pangandaran.
"Kita duduk aja yu cari bangku bangku agak daratnya di bawah pohon pohon yang rindang itu kita cari minum"
"Kenapa Mas nggak mau menyentuh airnya ?"
"Nggak enak aja dengan kostum begini...heee, cukup menikmati pemandangan dan ramainya orang..."
Yang terpikirkan Adrian dari angan-angan dan menurut apa yang ada dalam angan-angan sebelumnya adalah pantai yang tenang angin semilir dan lalu lalang banyak orang tidak terlalu bising.
Mengajak kembali pulang Jihan begitu nggak enak,masa iya baru datang sudah kembali pulang, sepertinya Jihan begitu menikmatinya,seakan terbiasa dengan suasana seperti ini,Adrian masih merasa belum terbiasa dengan pemandangan seperti ini,perbedaan budaya membuat kita harus adaptasi lebih lama lagi dan itu benar adanya kalau belum terbiasa memang nggak nyaman, Adrian hanya berusaha menikmati suasana yang ada,tak ingin dirinya mengecewakan Jihan yang telah berusaha memberi waktunya dan mengajak dirinya,juga memperkenalkan salah satu sudut sudut kota Perth.
"Ada nggak pantai di Perth yang suasananya tidak seramai ini ?"
"Mungkin Cottesloe Beach lebih nyaman untuk bersantai...apalagi sama pasangan heee..."
"Hmmmmmmm..."Adrian manggut manggut.
Mereka hanya duduk sambil menikmati angin dan pemandangan,ramainya orang, dan juga pesan minuman seadanya.
"Aku penyuka pantai Mas Adrian,masa kecilku di habiskan di Anyer di tempat Hotel keluargaku 'Anyer Beach Hotel'
__ADS_1
"Aku sih anak kota heee...,tapi buka berarti tak suka pantai,terakhir aku belajar kerja sebelum ada di sini di daerah pantai juga,terasa damai di hati saat kita memandang jauh tanpa batas,suasana pantai dengan angin yang sejuk,gemericik ombaknya,suara camar nya,apalagi kita menikmatinya sama orang terkasih di saat senja"
"Wow Mas Adrian romantis juga rupanya,penggambaran suasana yang indah heeeee..."
"Haaaaaaaa..."
"Semua bisa di gambarkan di pantai sesuai dengan suasana hati kita, kesedihan,
perpisahan,ketegaran,penantian,juga harapan,pantai menjadi tempat pengaduan yang tanpa batas,merenung,tafakur juga syukur kita"
"Good...penjabaran yang masuk akal menyentuh dan kena di semua hati"
Jihan menatap Adrian mendengar obrolannya, mendengar kata-katanya Jihan semakin yakin kalau Adrian itu orang yang baik orang yang sangat hebat,orang yang punya perhatian,dan juga romantis,selain memiliki masa depan yang cerah dan terlihat juga orang yang sangat menarik dari penampilan sedikit humoris dan bisa menghidupkan suasana dimanapun Adrian berada.
"Apa kamu sama Adel masih pada jomblo ? setiap malam minggu ada aja di rumah,nggak keluar nge date,nggak ada cowok yang nyamper, nggak ada telepon yang masuk, nggak ada janjian juga hehehe..."
Semakin dewasa seseorang semakin selektif juga dalam memilih teman dan pasangan hidup, selain alasan masa depan juga alasan lain menjadi bahan pertimbangan yang sangat harus dipikirkan dengan matang tidak seperti jatuh cinta saat masa-masa di SMA semua semua berjalan tanpa pemikiran masa depan.
Jihan mencari celah di setiap pembicaraan dirinya dan Adrian tetapi Jihan tidak menemukan celah itu di diri Adrian untuk membuka diri berbicara ke arah pribadi.
Adrian selalu berbicara mewakili pendapat umum atau pandangan semua orang terhadap apa yang dibicarakannya, tapi Jihan tetap antusias menanggapinya.
Begitu menariknya Adrian menjadi teman ngobrolnya,ingin rasanya Jihan bertanya yang sangat pribadi terhadap Adrian tetapi sedikit banyak dia masih menganut paham timur walaupun dia hidup di kota modern di belahan dunia yang begitu bebas mengekspresikan perasaan mengemukakan pendapat mengemukakan perasaan.
Kharisma Adrian dimata Jihan begitu sempurna tak bisa dipungkiri hatinya tertarik tapi Jihan tidak tahu, tidak bisa menggambarkan tidak bisa mengartikan sorot mata adrian antusias terhadap dirinya,lebih banyak melamun tapi Jihan menghibur diri mungkin ini belum,mungkin Adrian belum memperlihatkan perasaannya.
"Sudah sore pulang yu Ji...apa masih betah dan mau di sini ?"
__ADS_1
"Boleh kita pulang aja mulai sepi pantainya juga,sebenarnya enakan waktu malam kalau kita pengen menikmati suasana pantai"
"Mungkin lain waktu kita datang lagi ke sini"
"Kalau nggak jangan di musim panas kayak gini,kita coba datang ke pantainya saat musim dingin,atau musim semi, mungkin akan lain suasananya"
Di dalam bus pulang mereka duduk kembali berdampingan terasa longgar rasanya di dalam bus yang begitu nyaman Adrian merasa lelah setelah seharian beraktivitas, Jihan menatap wajah Adrian yang ada di sampingnya seorang yang sempurna menurut pandangan Jihan dengan garis muka yang tegas hidung mancung dan alis yang lebat,bekas kerokan kumis dan jenggot nya masih meninggalkan tanda menambah sempurna ketampanannya, belum lagi tangan tangannya dengan bulu halus dan kekar seperti olahragawan, tinggi tegap badannya ideal seorang laki-laki.
Mungkinkah Jihan bertanya kepada Adelia tentang seorang Adrian tidak ada kata malu bagi Jihan karena dirinya mungkin juga Adelia berpikiran sangat modern tidak ada tabu dalam dirinya menanyakan status seseorang dan tidak ada aturan yang mengharuskan laki-laki yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu di zaman modern dan negara modern semua berhak mengemukakan perasaan mengemukakan rasa sukanya dan mungkin itu yang Jihan pikirkan mungkin dari Adelia dia bisa menggali atau mencari tahu.
Adrian seperti kelelahan dan tertidur di bus dengan tangan terlipat di dada sampai-sampai Jihan membangunkannya karena bus telah sampai ditempat tepat di jalan mereka tinggal,Adrian merasa kaget saat terbangun dari mimpinya dan dia meminta maaf kepada Jihan karena dirinya sendiri ditinggal tidur dalam perjalanan pulang.
"Kita udah mau sampai ya Ji...aduh maaf ya aku ketiduran habis kayak di ayun ambing nyaman banget bus nya"
"Nggak apa,sampai yu turun..."
Bus berhenti dan mereka turun,dan masih mengobrol sepanjang jalan menuju kamar mereka,dan saat masuk naik lift Jihan memegang tangan Adrian dan menggandengnya karena di dalam lift nggak ada orang kecuali mereka,Adrian hanya menganggap Jihan reflek saja mungkin perasaannya seperti pada temannya yang perempuan.
Lift terbuka Adelia depan lift mau turun beli makan,dan melihat pemandangan seperti waktu di kantin siang itu,sejenak Adelia tertegun tanpa berucap apapun hanya memandang pada Adrian dan Jihan bergantian seolah mempertanyakan ada apa dengan mereka,Jihan menarik tangannya perlahan dan Adrian seperti tanpa dosa apa apa hanya tersenyum datar.
"Hai Adel... mau kemana ?" Adrian dan Jihan keluar dari lift.
"Beli makan, Kak Adrian mau sekalian nggak di beliin apa kalian sudah makan di luar ?"
"Boleh beliin gue belum makan,kamu Ji beliin juga sekalian ?"
"Oh nggak usah biarin aku belum mau makan terimakasih" Jihan menjawab sambil senyum.
__ADS_1
Mereka berpisah depan lift,dan Adelia masuk lift dengan perasaan dongkol.