
"Katakan sekali lagi !? jangan sampai aku salah dengar !!!"
Pak Surapraja begitu murka, walaupun Pak Daud menyampaikan dengan kata kata yang sangat bijak,tetap saja bagai suatu tonjokan yang bertubi tubi di rasakan pak Surapraja.
"Seperti itu Pak...Dek Aryanti sudah tiga hari menghilang dan belum di ketahui keberadaannya juga khabarna sampai saat ini"
"Ah ah ah....ini mimpi buruk benar benar...lalu apa yang Pak Daud lakukan selama tiga hari tak mengabari saya ?"
"Saya di cegah Mas Adrian karena takut membuat Pak Praja sama Ibu syok"
"Bagus ya !!! sekarang hasilnya apa ?nggak ngabarin saya sukses menemukan Dek Aryanti ? bisa menangani semuanya ? Bisa menyelesaikan masalahnya heh ? sekarang sudah tak mampu baru mengabari saya ? semua keterlaluan ! semua nggak ada yang bisa di andalkan"
Pak Daud mengerti kemarahan Pa Praja,dan itu sudah ada di perkiraannya pasti Pak Praja marah besar,dilema bagi Pak Daud menuruti Anaknya Adrian nggak ngasih khabar sama orangtuanya dengan pertimbangan juga,ujung ujungnya di marahi sama Pak Praja nggak nurut gimana seakan egois dengan keinginannya sendiri Hadeuuuuuuuh...beginilah jadi bawahan.
"Terus apa yang bisa kalian lakukan sekarang hanya diam ? hanya menunggu khabar ? terus sampai kapan ? Aaaaaah... semua salah salah besar !!! mengizinkan Anak dan menantuku tinggal di Bali,dulu Aku begitu ragu mereka menetap di Bali,semua sekarang jadi merasa terancam sekarang apa yang bisa kita lakukan setelah semua kejadian !?"
"Pa Pa...ada apa ini kok sore sore gini marah marah,ya yang sabar sedikit bicaramu begitu keras dengan siapa Bapak bicara ?"
"Ibu duduk saja dulu nanti kalau selesai nelephon Bapak ceritain..."
Bu Handayani duduk dan tetap menyimak apa yang di bicarakan suaminya walau dirinya tak begitu mengerti apa yang di bicarakan hanya menangkap sedikit sedikit...
"Terus sampai saat ini tak sedikitpun kabar,atau mengatakan siapa yang bertanggungjawab,apa minta tebusan atau motifnya apa ?"
"Belum Pak,tapi kita berusaha mengintai di tempat tempat Made Ardika berinteraksi dengan orang,misal di tempat usaha usahanya nggak mungkin dia nggak ada kepentingan atau beli sesuatu kebutuhan"
"Kenapa bisa pada orang itu yang menjadi terduga sementara dan kenapa kecurigaan semua terarah pada orang itu ?"
"Ada banyak bukti yang mengarah maupun saksi Pak
__ADS_1
bahkan ada surat segala yang bisa di jadikan barang bukti "
"Surat apaan ? siapa yang kirim surat segala sekarang kan zaman ponsel..."
"Ya mungkin nomor ponsel nggak punya apa salahnya kirim pesan lewat surat,dan kemungkinan Made Ardika selalu mengintai kegiatan Dek Aryanti"
"Jadikan kemungkinan itu satu bukti bagaimanapun caranya, jangan hanya berkemungkinan saja !" Pak Surapraja marah,dan Pak Daud diam sudah tahu karakternya jadi menyudahi pembicaraan dengan diam itu lebih baik.
"Sudah sudah... saya beres beres dulu nanti kesitu jaga cucu saya jangan sampai terjadi apa apa"
"Pa...ada apa ini ?" Bu Handayani begitu ingin tahu.dan menghampirinya saat nama cucu keluar dari bibir dan mulut pak Surapraja.
"Ibu duduk dulu dan dengarkan saya bicara" Pak Surapraja membimbing istrinya duduk dan sambil memikirkan apa yang harus di sampaikan nya.
"Anak dan menantu kita di Bali lagi mendapat masalah sekarang Ibu beres beres dulu kita ke Bali hari ini juga"
"Ibu duduk dan tenang jangan menambah kepanikan,Menantu kita Dek Aryanti sudah tiga hari hilang,Pak Daud sudah di Bali tapi tadinya mungkin bisa mengatasinya tanpa memberitahukan kita tapi sampai hari ini belum ada kabar apapun pencarian tetap nihil"
"Astaghfirullahaladzim...Pa gimana Adrian dan cucu kita ? ya ampuuuuun,hilang gimana Pak ?"
"Ibu yang tenang dan sabar... Bapak juga nggak tahu pokoknya Dek Aryanti joging hari minggu terus nggak pulang pulang... untuk lebih jelasnya kita ke Bali saja sekarang"
"Apa masalahnya Pak apa anak kita punya masalah sampai melibatkan Dek Aryanti segala,perasaan Anak kita sudah menjadi orang yang lebih baik...pantesan dari kemarin Ibu teringat cucu kita dan kepikiran terus sampai ada di pelupuk mata perasaan Ibu itu,saking inginnya Ibu ketemu"
Pak Praja hanya mematung menatap istrinya yang lagi menangis terisak sambil memanggil mantunya.
"Oh alaaah Dek Aryantiiiiiiii...apa yang menimpamu Nak,kamu begitu sabarnya ,tapi ujian mu begitu berat..."
Bu Handayani mulai menangis begitu sedihnya memikirkan bagaimana nasib mantu kesayangannya tak sabar rasanya ingin segera bertemu dan memeluk cucunya.
__ADS_1
"Masa tak ada tanda tanda sebelumnya Pak ? kan semua ada tujuannya,kalau berselisih faham dengan siapa juga punya permasalahan serius dengan siapa ?"
Pak Surapraja seperti berfikir dalam hatinya jangan jangan ini semua menyangkut keinginan Aryanti yang ingin mengembangkan Hotel itu dan menambah area untuk inovasi terbarunya yang menginginkan punya kebun binatang mini di Hotelnya,pasti berawal dari masalah ini,tapi sampai saat ini belum dapat kabar bisa membeli tanah lagi dari luar baru pemanfaatan lahan sisa di belakang dan samping juga merubah taman yang ada...
Aaaaah...Pak Surapraja bingung juga ada saja masalah untuk Hotelnya yang di Bali itu,dari mulai susahnya mendapatkan pembebasan tanahnya dulu, begitu alotnya bernegosiasi dengan semua warga,sampai ada konflik segala di antara keluarga yang menjual tanahnya itu.
Pak Surapraja kembali teringat awal awal pertemuannya dengan orangtuanya Made Ardika yang begitu berkharisma bisa menjembatani dirinya dan keluarganya sampai bisa terlaksana akad jual beli,tapi entah kenapa berujung konflik di keluarganya, Pak Surapraja tak mengerti hanya Bapaknya Made Ardika menitipkan Anaknya yang lagi kuliah di luar negeri untuk bisa bergabung di perusahaannya jika suatu saat pulang dan sudah lulus,dan Pak Surapraja menyanggupinya,maka jadilah pimpinan yang mengelola Hotel di Bali itu I Gusti Made Suardika.
"Ya ampuuuuun Pak gimana nasib mantu kita...Dek Aryanti gimana nasibmu Nak...apa yang sebenarnya terjadi ? hiks...hiks..."
"Ibu yang sabar berdo'a dan memohon yang terbaik untuk Anak mantu juga cucu kita,beresin barang yang perlunya saja,takut kita agak lama di sana"
Bu Handayani tak menjawab hanya menangis sambil memilih baju baju dirinya juga untuk suaminya di tumpuk di kasur dan di masukan ke dalam koper.
Melihat istrinya begitu bersedih Pak Surapraja ikut sedih juga,dan duduk sambil memperhatikan istrinya dengan tergesa memasukan semua pakaiannya.
"Bapak bingung Bu...kok jadi seperti ini,apa yang harus di lakukan Bapak ?"
"Bapak yang semangat jangan malah memperlihatkan lemah apalagi Ibu nggak tahu dan nggak bisa berfikir lagi"
Ayo langkah pertama kita tenangkan Anak kita Nak Adrian baru kita mikir lagi yang lain lainnya nanti kalau sudah di sana,Bapak kan punya banyak kenalan di sana siapa tahu jadi bahan tempat musyawarah"
"Iya Bu Ayo kita berangkat semoga lancar perjalanan kita"
"Fikirkan lagi jangan sampai ada yang lupa,karena terburu buru, yang beres saja dulu semuanya"
"Iya Pak...Ibu juga sambil mikir, Bapak bawa kedepan koper ini dan Pak Agum takutnya tidur bangunkan dulu... Ibu mau pepatah sama Bi Ani sama kunci kunci kamar dulu..."
Dengan kepanikan Pak Surapraja juga Ibu Handayani berdandan dan ganti pakaian alakadarnya dan sudah siap di teras rumah menunggu di antar ke Bandara sama Pak Agum.
__ADS_1