Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Em-el


__ADS_3

Adelia masuk kamar duluan dan menanggalkan pakaiannya karena merasa gerah, dan mengambil kembali ponselnya lalu rebahan di tempat tidur.


Fath yang melihatnya tersenyum melihat istrinya hanya memakai tangtop dan rok dalaman saja.


Jiwa laki-lakinya merasa terpanggil dan gairahnya merasa tersulut, kemolekan Adelia istrinya membuat Fath selalu tak sanggup menolak hasratnya. Walau Adelia sikapnya terlalu manja dan kolokan tapi terkadang juga keras kepala dan sulit untuk diatur kalau sudah menyangkut prinsip dan keinginannya.


Semua itu malah membuat Fath semakin cinta, Fath merasakan Adelia akhir-akhir ini semakin uring-uringan melihat sikap keluarganya, orang tuanya dan mungkin juga orang luar yang selalu bertanya tentang anak dan keturunan.


Selalu Fath yakinkan hati istrinya, itu adalah suatu kewajaran semua orang berhak dengan pertanyaannya dan kita jawab senyaman mungkin dan apa adanya. Tidak ada yang bisa memaksakan dan tidak ada yang bisa dipaksakan kita hanya berusaha dan menunggu, harapan orang-orang seperti halnya keinginan kita juga.


Tidak apa-apa orang selalu bertanya kepada kita karena itu akan menjadi do'a buat kita, dan satu yang belum dilakukan Fath sama Adelia yaitu mengecek kesehatan dan kesuburan mereka kepada dokter ahli kandungan.


Fath mengerti kegelisahan istrinya yang ingin segera merasakan sempurnanya sebagai seorang Ibu yaitu menikah, hamil dan mengurus anak. Juga dorongan dari orang tuanya walaupun tidak secara langsung tetap saja membuat istrinya menjadi lebih sensitif.


Fath merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan memandang Adelia yang masih sibuk melihat-lihat ponselnya.


"Belum ada si Jihan menelepon?"


"Belum Fath, tahu sudah menjadi orang sibuk mungkin sekarang, atau malah menjadi orang penting."


"Atau malah lagi sibuk ngurus anak barangkali?"


"Iya ya, pasti anak si Je-hoon (sebutan lain si Jihan) nanti akan lucu-lucu ya?"


"Heeee... perpaduan timur tengah sama timur tengah menghasilkan keturunan yang timur tengah, sedangkan kita campuran Malaysia dan Indonesia akan seperti apa Fath?"


"Ras Melayu lah haaa..."


"Upan & Apin" lucu kali ya?"


"Iiiiiiiiiih...aku nggak suka kayak gitu masa anak kita botak terus?"


"Haaa... bikinnya aja belum, jadi sekarang kita bikin dulu yuk?"


"Nggak, nanti aja!"


"Sayang ngapain di nanti-nanti, maunya juga sekarang, kalau nanti kita kan keburu sibuk ketemu Jihan, jalan-jalan, dan entah kemana lagi. Mumpung sekalian kita istirahat kita santai di sini kita bikin deh permulaan bulan madu kesekian kita."


"Fath sayang, aku mau menelepon dulu Kak Aryanti."


"Nanti-nanti juga kan masih bisa nelephonnya, kita begitu enak banget nih udah di dalam kamar istimewa aku pilihkan paling istimewa buat kamu, tempat tidur begitu besar dan sangat nyaman, ruangan super mewah, fasilitas begitu komplit masa membiarkan suami hanya menonton saja? ayo dong kita jadikan di kamar ini kita adalah pemeran utama.


Fath menarik perlahan ponsel yang dipegang istrinya dan disimpan di atas kepalanya. Adelia berbalik menatap suaminya sambil tersenyum dan memberikan lampu hijau untuk siap bercinta.


Fath mencolek hidung Adel beralih ke bibirnya lalu dagu dan telunjuknya mulai turun ke leher dan perlahan ke bawah lagi, Adel menggelinjang dan memunggungi Fath sambil tertawa dengan posisi badan meringkuk seolah tak ingin di sentuh. Fath juga tertawa sambil membalikan badan Adel sambil mendekatkan mukanya di leher istrinya, di ciumnya dengan lembut sambil sesekali bertatapan mata dan tangan Adelia telah mengalung di leher Fath, tak ada kata bosan dan usai setiap memulai pemanasan mereka.


Asmara yang mereka rasakan sejak dulu kini bebas sudah tak ada kata larangan, setiap saat bisa mereka nyatakan dalam hasrat yang menggebu.

__ADS_1


Pemanasan yang semakin menggairahkan menggiring keduanya menuju puncak. Fath telah memulai sesuatu yang sangat di sukai nya saat istrinya begitu bergairah.


Hanya senyum dan nafas yang terputus-putus dan degup jantung begitu tak beraturan terpacu begitu cepat.


rrrrrrrrd... rrrrrrrrd... rrrrrrrrd...


Bunyi telephon di atas kepala Adelia berbunyi dengan nada panggil dan getaran.


"Biarin aja, sa-sayang...ngga u-usah di a-angkat..." Fath masih di atas tubuh istrinya bicara terputus putus sambil menggelengkan kepala.


Tapi Adel sudah meraih ponselnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan.


"Ji-Jihan Faaaaath ... kamu jalan aja sendiri lanjutkan sampai ke tujuan."


"Yaaaaah ...?"


"Halo, Ji ... ni gu-gue."


"Lo Adel kan?"


"I-iya, masa lo nggak kenal lagi suara gu-gue..."


"Ya, ampuuuuun lo sekarang di mana?"


"Gue se-sekarang di bawah suami gue, he he hemght..."


"Gue lagi em-el sama lakik gue, gue ada di Cabana room Hotel keluarga elo di Anyer."


"Apa? serius lo?"


"Apa lo perlu video call, gue malu lagi ngos-ngosan nih, cek aja ke resepsionis kalau lo nggak percaya."


"Ya ampuuuuun... Adel gue percaya, tunggu gue ke situ dalam sepuluh menit ya."


"Hai, Ji dua puluh menit ya, gue lagi tanggung bikin kusut seprei Hotel lo."


"Dasar mesooooom haaaa...."


Masih terdengar tawa Jihan tergelak jauh di ujung telephon. Klik sambungan telephon terputus.


"Fath, kok turun?"


"Udah, kurang enak, habisnya kamu asyik aja telephon, serasa bercinta sama pohon tumbang."


"Haaaaaaaa ... kan masih bisa prasmanan sendiri? enak aja aku di samain sama pohon tumbang. Awas ya ...."


"Habisnya nggak ada perlawanan, jadi nggak seru."

__ADS_1


"Ya harus di maklumi kalau istri lagi sibuk, terus kamu maksa, ya buka sendiri jalan sendiri dan beresin lagi sendiri heee..."


"Pokoknya nanti malam ganti."


"Nggak! apaan pake ganti segala emang pakaian di ganti? kalau malam minta lagi itu namanya nambah."


"Udah sana bersihin, nanti keburu si Jihan datang ke sini."


"Biarin saja, biar si Jihan ngiler terus pengen ikut-ikutan kayak kita, pokoknya kamu duluan bersih-bersih aku mau renang."


"Enak aja, itu teman kamu, aku juga mau renang lah sama kamu, ayo aku bopong kamu biar aku cemplungin di kolam itu."


Fath membopong tubuh istrinya yang masih setengah tak berpakaian, Adelia teriak-teriak dan meronta dalam rengkuhan Fath suaminya, tapi Fath tak menggubrisnya malah tertawa terbahak-bahak Fath seperti ingin membalas karena Adel barusan tak melayaninya.


"Haaaaaaaa...pokoknya kita nyemplung bersama."


"Faaaaath...aku takut jatuh nih, turunin...."


"Nggak!"


"Pokoknya aku balas nanti awas ya."


"Balas aja, haaaa ...."


Fath dengan nikmatnya tertawa sambil membopong tubuh istrinya ke bibir kolam renang yang ada di ruangan kamar ekslusif itu.


Tapi sebelum nyemplung ke kolam renang Fath menurunkan tubuh Adelia yang meronta berontak.


Fath memeluknya di tepi kolam renang sambil mencium bibir Adelia dengan lembut.


"Kita ulang di pinggir kolam ini, mau ya?"


"Gila! tuh si Jihan datang."


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2