Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Pangandaran saksi kenangan


__ADS_3

Hati Jihan begitu tak tenang sebelum dirinya memastikan bertemu dengan Habil.


Sepanjang perjalanan Jihan lebih banyak diam memikirkan apa yang seharusnya di lakukannya saat nanti sampai di Hotel suaminya, Pangandaran Beach Hotel atau di rumah mereka akan ketemu.


Jihan berniat mau datang ke rumahnya yang pernah yang ditinggali bersama Habil suaminya sejak awal pernikahan mereka.


Rumah yang menjadi saksi pernikahannya, perjalanan awal rumah tangganya, menjalani kehamilan dan memiliki Zaid.


Hatinya telah bulat ingin memberi kejutan di rumahnya sendiri, dan ingin menata kembali masa depannya bersama suaminya serta anak tercinta mereka.


Kerinduan yang selama ini hanya ada dalam hatinya tak bisa dipungkiri. Jihan hanya manusia biasa yang sama punya rasa cinta punya rasa rindu serta rasa egois dan marah juga cemburu.


"Lo mau gue antar ke mana Ji?" Tanya Adelia sambil melirik Jihan yang lagi mengusap-usap Zaid yang tidur pulas.


"Gue mau ke rumah saja, kasihan Zaid biar bisa istirahat, nanti biar gue telephon Kak Habil dari rumah."


"Lo nggak mampir dulu ke The Praja Hotel dan Restourant Pangandaran? nanti gue kenalin sama Linda biar jadi teman lo, dia care, baik banget."


"Nanti sajalah, takut malah ganggu bulan madu lo! oke kalau gue ke Hotel lo kenalin Linda ya"


"Siiiiip, Dasar lo!"


"Rencana berapa lama lo di sini Del?"


"Se-betahnya saja Ji, liburan sebulan gue baru di jalani dua minggu, sekarang The Praja Hotel dan Restourant Pangandaran kelolaan bagian gue, ortu sudah membaginya, tapi sampai saat ini gue sama Fath masih belum berpikir untuk pindah ke Indonesia, kami masih betah di sana entah suatu saat nanti mungkin gue akan tinggal di Bandung atau di Bali atau juga di Pangandaran gue masih senang seperti ini bisa ke mana-mana dengan bebas sebelum memiliki buntut kayak lo."


"Rasanya mungkin bahagia jika suatu saat lo pulang ke Indonesia dan lo mau menetap di sini di Pangandaran dekat dengan gue serasa kita benar-benar menjadi saudara."


"Semoga saja Ji."


"Adel, kadang gue tak bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu dan harapan gue. Sebenarnya semua itu hanya harapan yang tak sampai, perlahan gue bisa keluar dari permasalahan itu dengan semua kesibukan."


"Ji, semua orang akan mengalami masalah itu, tapi tak ada yabg sama porsinya, dulu sebelum gue pacaran sama Fath gue pernah banyak cita-cita dan gamang dengan masa depan gue sendiri, akan seperti apa kehidupan gue sebenarnya, tapi semua di jalani biasa saja."


Jihan diam, memahami apa kata-kata Adel.


"Setelah pacaran juga gua tetap merasa bimbang akan seperti apa hubungan gue sama Fath, bisa lo bayangkan tidak mudah memahami dua asal negara yang berbeda, dua kebiasaan, dua budaya dan semua yang berbeda, tapi kini gue jalani semuanya selalu ada jalan keluarnya. Walau pada awalnya seperti beban yang menghalangi begitu berarti ada di depan gue."

__ADS_1


"Iya Adel terkadang kita itu iri dengan yang di miliki orang lain padahal menurut orang lain kita lebih beruntung."


Mobil melaju perlahan tapi pasti masuki kawasan Pangandaran, setelah mereka berhenti di tempat-tempat tertentu yang mereka inginkan makan ke toilet jajan dan mengabadikan spot-spot indah di sepanjang jalan yang mereka lalui.


"Lo serius nggak menemui Pak Habil di tempat kerjanya? emang lo mau ke rumah bisa masuk nggak? ini masih belum terlalu sore lho mungkin Pak Habil belum pulang."


"Gue punya kuncinya Del, biar gue menikmati dan adaptasi lagi dengan rumah tinggal gue dulu."


"Oke gue mengerti, semoga lo bahagia dan semuanya berjalan seperti yang kita harapkan."


Jihan tersenyum dan mengangguk, kerinduan pada Habil semakin merasuk isi hatinya perasaan bersalah menghadirkan pengakuan dan penyesalan terdalam dari dalam dadanya.


Jihan teringat respon kedua orangtuanya yang begitu tak percaya saat dirinya menyampaikan keinginan Jihan pergi ke Pangandaran.


Entah ada apa semua begitu drastis berubah, seperti biasa keras hati Jihan tak bisa di tolak kedua orangtuanya. Tak ada pilihan lain selain mengizinkan putri dan cucu kesayangannya pergi bersama kedua sahabatnya semasa di Australia.


"Adel, ada saatnya gue tak bisa melupakan masa lalu dan cita-cita gue yang tak bisa gue raih." ucap Jihan seperti menerawang jauh.


"Semua orang akan mengalami masa itu Ji tetapi mungkin porsinya yang berbeda gue juga sama pernah gamang memikirkan masa depan gue sendiri akan seperti apa sama sekali tak terpikirkan. setelah pacaran dengan Fath juga gue tetap merasa gamang akan seperti apa kehidupan rumah tangga gue tetapi setelah semua dijalani kita enjoy saja."


Mobil sampai dan berhenti di satu rumah yang ditunjukkan Jihan. Sebuah rumah minimalis modern yang sangat cantik.


"Oh alah Neng Jihan?"


"Iya Bi."


Mobil masuk halaman setelah Bibi membukakan pintu gerbang.


"Apa Pak Habil tahu Neng Jihan datang?" tanya Bibi sambil berdiri di pintu mobil mau membantu Jihan membawakan semua keperluan Zaid.


"Belum Bi, biar nanti saya telephon, Zaid nya tidur biar saya tempatkan dulu biar tak terganggu tidurnya."


Adel melihat cara Jihan begitu telaten mengangkat tubuh mungil yang tidur di jok belakang mobil, kelihatan Zaid menggeliat lalu di bopong nya mengikuti Bibi yang duluan berjalan masuk ke dalam rumah.


Hati Adel begitu sedih dan bahagia melihat perubahan yang diperlihatkan Jihan yang berubah secara tiba-tiba, sedih saat dirinya belum bisa menuntun tangan kecil seperti Zaid.


Tapi nasib orang lain-lain Jihan yang tidak begitu peduli dengan pernikahannya sejak awal tapi kenapa dia begitu mudah diberi keturunan? itulah nasib dan takdir yang tak bisa di tawar.

__ADS_1


Bahagia saat melihat perubahan pada diri Jihan sendiri setelah mengobrol dan saling memberikan faham, ngobrol tentang kehidupan akhirnya Jihan merasa tersentuh. Kalau selama ini dirinya hanya berkutat dengan perasaan salah. Jihan telah memahami kalau kebersamaannya bersama Habil suaminya itu yang terbaik buat buah hati mereka dan juga buat masa depannya.


'Tak ada masa depan yang lebih indah selain ditata dan di rencanakan berdua'


Kata kata Adel terus terngiang di telinga Jihan menjadikan satu motivasi yang begitu menyadarkan dirinya, kalau selama ini dirinya telah melakukan banyak dosa pada suami pada rumah tangga dan juga pada anaknya.


Jihan masuk menidurkan kembali Zaid di kamar, rumah terasa lengang dan rapi. Fath sama Adel masuk belakangan setelah menurunkan bawaan Jihan.


Melihat-lihat sekeliling rumah yang begitu asri dan menyenangkan dengan udara pantai yang begitu terasa.


Bau air asin tak bisa di hilangkan dari area itu, walau jauh jarak antara rumah sama pantai terdekat.


"Ji, gue nggak bisa lama-lama di sini kasihan Fath biar istirahat, kamu baik-baik saja kan?"


"Tenang saja, besok kita ketemu ya! Nggak minum dulu?"


"Nanti saja, salam buat Pak Habil, selamat berbulan madu Ji."


"Haaa ... bisa aja lo!"


.


.


.


.


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2