
Adelia datang Rabu siang dan langsung berpisah dengan keluarga Fath,keluarga Fath di Hotel dan Adelia di Rumah melakukan ritual pengantin berupa pingitan, siraman, pengajian dan do'a do'a lainnya.
Peluk cium sayang Ibunya yang begitu kangen juga hangatnya pelukan Bapak tersayang Pak Surapraja,dan pandangan kesal sama Kakak satu satunya...dan beralih Adelia memeluk Kakak iparnya dan Adrian hanya tertawa saat tahu Adelia tak memeluknya malah mengacungkan tinjunya.
Adelia tak ingin membahasnya dengan Kakaknya cukup sikap dirinya yang jadi sikap tak setuju dengan apa yang dilakukan Kakaknya,begitu sayangnya Adelia sama Kakak iparnya Aryanti apalagi tahu Kakak iparnya lagi hamil muda,dan ingin melihat dewasanya Kakaknya bukan kabar yang nggak enak yang sampai pada dirinya.
Adelia tahu dirinya tak akan tinggal di Indonesia,lalu pada siapa menitipkan kedua orangtuanya juga aset usahanya kalau bukan pada Kakak dan Kakak iparnya,Adelia mendengar selalu dari Ibunya juga dari Bapaknya kalau Aryanti bisa di andalkan dan di persiapkan untuk memegang keseluruhan management Hotelnya jika suatu saat Bapaknya harus sudah istirahat dan pensiun.
"Kak Aryanti gimana rasanya ngidam itu mual,pusing,mau tidur melulu,nggak mau melihat matahari atau gimana mau marah marah,atau begitu sensitif nya?"
"Haaaaaaaa...Kakak belum merasakan semua itu Del tahu ini masih muda banget,atau nggak ngidam sama sekali ya Alhamdulilah pokoknya belum ada perubahan apapun hanya mau marah sama sebal saja sama Kakakmu akhir akhir ini heeee..."
"Itu mah bukan dari ngidam kali Kak haaaa... memang orang yang satu itu bikin kita keki...perlu kesabaran extra menjinakkan dia mah"
"Memangnya aku ini binatang apa heh ? nggak jadi lah aku kasih cilok ini,nggak ada nilai baik baik nya sih buat aku... lagian pengantin nggak boleh banyak makan pedas efeknya nggak baik buat stamina"
"Alaaah...sok tahu amat Kakak ini emangnya ahli gizi ? justru pedas itu merangsang selera makan jadi otomatis akan menambah stamina"
Adelia merebut mangkuk dari tangan Adrian lalu di simpan di meja dan memberi satu tusuk sate pada Aryanti dan mereka makan bersama,Adrian duduk di karpet di bawah kaki Aryanti duduk dan Adrian mengusap usap punggung istrinya sambil menonton istri dan Adiknya makan sesuatu yang dirinya nggak suka,lalu menaruh kepalanya di pangkuan Aryanti dan Aryanti mengusap usap rambutnya sambil sebelah tangan kanannya makan.
"Idiiiih... Kak Adri kolokan banget udah mau ada anaknya juga"
"Haaaaaaaa...Kamu sekarang boleh ngomong gitu tapi lihat nanti Si Fath akan lebih kolokan lagi lihat saja..."
"Nggak laaah..." Adelia ngakak sendiri dan Aryanti jadi ikut tertawa.
"Alaaah buktikan saja nanti kayaknya Si Fath diam diam juga pasti lebih menghanyutkan... biasanya juga begitu,pasti kamu berdua nggak keluar kamar tiga hari tiga malam"
"Idiiiih Kakak ngarang aja...emangnya Kak Adrian sama Kak Aryanti ?"
"Aku mah udah jelas nih ada hasilnya ya sayang" Adrian mengusap usap perut istrinya"
Aryanti hanya tertawa,begitu lucunya Kakak sama Adik ini sampai dewasa,sampai menikah pun tetap saja saling jail dan ledek ledekan dalam keakraban.
"Kamu sama Fath mau liburan bulan madu di mana ? aku pertimbangkan dan aku sarankan jangan di Malaysia deh apalagi di gedung kembar Petronas jangan naik yang tinggi tinggi ngeri sebatas perut kamu saja tingginya"
__ADS_1
"Yeeeee...siapa yang mau honeymoon di Malaysia ? Kita nanti sehari harinya di Malaysia nggak asyik dan bosen lah... dan kami sudah putuskan akan honeymoon di Pangandaran... heeee..."
"Serius ini ?" Aryanti begitu senangnya dengan muka penuh kebahagiaan,dan Adelia mengangguk mantap sambil tertawa.
"Wow wow wow... surprise banget itu pilihan paling tepat dan bijaksana,kita bakal jadi tuan rumah orang honeymoon sayang haaaa..." Adrian juga nggak kalah girangnya.
"Pokonya kita servis semaksimal mungkin Mas,oke Kakak tunggu ya Adel,tapi Adel harus berbesar hati jika nanti Adel jadi objek usil Kakak mu haaa..."
"Iya Kak itu mah sudah biasa,sepertinya nggak ada pilihan lain selain Pangandaran,kami begitu menikmatinya walau sudah dua tahun yang lalu,sehari hari kita di Negara empat musim,sepertinya nggak aneh dan menarik lagi buat kami,jadi daerah tropis pilihan kami"
"Pinter juga kamu heee..." Adrian mengusap usap kepala Adelia,dan Adelia hanya nyengir saja.
Datang Ibu Handayani dan Bi Ani juga duduk dan nimbrung bareng.
"Sepertinya asyik banget ngobrolnya,enak nggak makanannya ?"
"Enak ya Kak Aryanti ? makasih ya Bi Ani heee..."
"Adel sayang mulai sore ini nggak boleh keluar besok luluran,di temani Dek Aryanti ya sama jangan kemana mana... sudah di kasih tahu Fath ?"
"Warna sama model sesuai pilihanmu Nak nanti biar yang merancangnya saja kesini,paling nanti malam untuk nge pas aja, perbaikan sedikit sedikit sudah Ibu atur semuanya"
"Heee...Adel yang mau nikah jadi Ibu yang repot heee...makasih ya Bu" Adelia memeluk dan mencium pipi Ibunya manja.
"Iya sayang,juga baju buat Kakakmu sama Dek Aryanti sekalian di coba nanti ya...heee untung hamilnya belum gede jadi Ibu pesannya yang standar kan pesannya sebelum ada khabar Dek Aryanti hamil,takutnya nggak muat soalnya sekarang Dek Aryanti kelihatan agak berisi"
"Perubahannya belum terasa banget kok Bu..." Aryanti hanya tersenyum.
"Aku malah nggak sabar mau melihat kamu perutnya sudah gendut sayang heee... sepertinya tambah cantik saja"
"Alaaah...gombal itu Kak Aryanti biasanya cowok paranoid istrinya gendut"
"Yeee...kalau gendut saat hamil itu lain lagi,bukan gendut sehari harinya,mana ada yang hamil nggak gendut"
"Hush...sudah sudah apaan sih ribuuut saja kalian ini,mau gendut mau langsing yang penting sehat titik ya kan Dek Aryanti...?" Bu Handayani menjadi penengah selalu.
__ADS_1
"Iya Bu...heee"
"Entar kita lanjutin bikin rujak ya Bi Ani kita pake resep nya Kak Aryanti sambelnya pake kacang goreng sedikit huuuuuuuu mantap sama pedasnya yang level 10 heee...nanti Fath aku lihatin rujaknya aku video call biar jadi ngiler minta di anterin"
"Nikahnya belum,ngidam juga belum,makannya udah rujak sama pedas gimana kalau sudah ngidamnya ya ?" Adrian tertawa juga Aryanti sama Ibunya dan Bi Ani.
"Iya Neng Adel udah Bibi siapin bahannya bawa Neng Aryanti tadi banyak banget"
"Nggak ada makanan lain yang mewakili semua ini Bi selain cilok pedas dan rujak rujakan ?"
"Di kulkas banyak Mas Adri,ada buah,salad,puding juga makanan beku sosis,nugget, rolade mau apa nanti Bibi goreng..."
"Aku mau gado gado pake lontong ada nggak Bi ?"
"Nggak ada itu mah Mas Adri harusnya beli ke depan nyari banyak sepanjang jalan ada aja yang jualan gitu mah..."
"Haaaaaaaa...ini mah laki laki nya yang ngidam maunya yang aneh aneh Idiiiih Kakak ngidam itu !"
"Mau ngidam atau apa pokoknya aku mau makan itu,aku mau nyari sendiri,siapa yang mau aku beliin,sayang mau ? Ibu ? Bi Ani ?"
"Ibu boleh beliin satu ya Nak"
"Aku nggak mau Mas soalnya mau makan rujak"Aryanti menolak.
"Bibi Mau Mas..."
"Aku nggak,Mau bikin rujak buah"
Adelia nyengir.
"Itu sudah aku perkirakan,pasti pilihannya lebih menarik rujak"
Begitulah keakraban yang diperlihatkan keluarga Pak Surapraja,begitu bersahajanya tanpa melihat ini Bi Ani,ini menantu dan ini anak, juga Ibu Handayani sebagai permaisuri istilahnya di rumah itu,semua jauh dari apa yang di takutkan,yang di khawatirkan Aryanti awal awal mengenal Adrian,semua membaur menusuk cilok dari mangkuk yang sama,mencolek sambal rujak dari cobek yang sama.
Terkadang Aryanti merasa penghargaan semua keluarga Mertuanya terlalu berlebihan pada dirinya,semua tak ada sikap yang di sembunyikan jauh dengan status sosial mereka yang diatas rata rata semua humble apa adanya.
__ADS_1
Kedua mertuanya begitu menyayanginya tak beda dengan kepada anaknya,juga Adelia adik iparnya begitu sayang banget dan satu lagi suaminya jangan di kata lagi,seakan mencintai dan menyayangi dirinya melebihi rasa sayang dan cintanya pada dirinya sendiri walau terkadang ada sifat nyelenehnya rasa solider pada orang lain begitu berlebihan.