
Setelah kejadian waktu itu sepulang dari pantai City Beach bersama Jihan Adrian benar-benar mengubah strategi setiap pagi dia berangkat duluan atau malah berangkat belakangan tidak bareng sama Adel dan Jihan lagi, terkadang kalaupun terpaksa berangkat bareng pasti ada Adelia dan selalu bertiga,demi menjaga semua perasaan, akantetapi tidak membuat Jihan serta merta menjadi mundur begitu saja.
Dan pagi itu setelah melewati satu musim menuju pertengahan musim kedua keberadaan Adrian di Perth Australia,Adrian sudah berangkat ke kampus duluan,dan kalau Jihan tanyain Adrian pada Adel,Adel menjawab,mungkin sibuk,banyak tugas atau apa aja.
Adelia bersama Jihan berangkat ke Kampus berdua, setelah terlebih dahulu Jihan nyamper ke kamar Adel.
"Del Mas Adrian dah berangkat ?"
"Aku nggak tahu Ji"
"Kamarnya dah sepi"
"Aku belum lihat pagi ini" Adel memakai mantel hangatnya di depan pintu lalu keluar dan mengunci pintu.
"Kita makan siang bareng ya nanti"
"Boleh... kayaknya lama nggak makan bareng"
Adelia melirik Jihan sambil senyum dan mengangguk.
"Kita sibuk masing masing..."
"Iya"
Jihan nggak tahu apa nggak ngerti fikir Adelia, tapi mungkin juga nggak ngerti karena belum ada yang ngasih tahu, matanya tetap bersinar dan semangat saat berbicara soal Adrian, dan itu jelas dilihat Adel, pokoknya suatu saat kalau ada kesempatan ingin rasanya Adel menyampaikan status kakaknya yang sekarang ini.
Berdua berpisah di koridor kampus yang berbeda kelas mereka saling melambaikan tangan,di antara begitu banyaknya mahasiswa lain yang lalu-lalang.
Adelia selalu berfikir dari mana awal untuk memulai cerita ke Jihan,dan harus seperti apa ceritanya agar kelihatan nggak di sengaja dan nyambung,belum terfikirkan dan nggak ada celahnya.
Sampai siang menjelang waktunya istirahat jam pelajarannya hanya diisi 2 jam istirahat lalu melanjutkan lagi sampai sore, Adelia telah duduk disalah satu kursi kantin dan memesan makanan terlihat di luar Jihan masuk dan menghampirinya.
"Aku udah pesan Ji,tinggal kamu takutnya mau yang lain heee..."
__ADS_1
"Ya sudah aku pesan dulu ya" Jihan menaruh tas yang di atas meja setelah terlebih dulu mengambil dompet lalu berjalan ke tempat order makanan.
Mereka makan siang,seperti awal awal mereka kenal seperti biasanya tak ada yang berbeda,hanya topik obrolan mereka agak beda tidak melulu soal cowok,karena terkadang sekarang ada Adrian di tengah tengah mereka sesekali makan siang bareng.
"Kakakmu semakin sibuk aja ya Del..."
"Iya kali ke kamarku juga jarang kalau nggak lapar lapar banget mah"
"Oh gitu ya..."
"Aku belum sempat nanya sih,takutnya ada masalah sama ceweknya barangkali..."
"Kakakmu sudah punya cewek ya hehehe..? Jihan bertanya seolah datar dengan pertanyaan itu.
"Malah udah tunangan..."
"Wow so sweet...sebenarnya Aku juga mau ngomong ke kamu Del soal Kak Adrian"
"Aku suka sama Kakak kamu,setelah aku kenal dan ngobrol,begitu banyak kecocokan diantara kami"
"Kak Adrian kan udah punya cewek Ji...malah udah tunangan aku katakan tadi"
"Adelia,nggak masalah buat aku mau punya pacar atau tunangan juga, kami masih bisa mencari kecocokan lain diantara banyaknya ketidakcocokan dengan pacarnya atau tunangannya"
"Kok prinsip kamu seperti itu Ji ?"
"Memang apa salahnya ? kita sama-sama kompetitor untuk mencapai suatu tujuan yaitu pemenang, cincin kan baru melingkar di jari, janur kuning belum terpasang melambai di halaman dan semua orang juga masih berhak untuk mengejar apa yang diinginkannya"
Adelia terdiam Jihan memang seperti itu,ngeyel sifatnya dengan dirinya sendiri, ngeyel dengan keinginannya dengan pendapatnya seakan semua yang di ucapkan nya benar semua,seakan semua yang di fikirkan nya adalah ide bagus buat orang lain.
"Oke terserah kamu cuma aku hanya mengingatkan takut itu hanya sesuatu pekerjaan yang sia-sia bagi kamu"
"Oh Adelia, bagiku nggak ada pekerjaan yang sia-sia selama itu membuat aku enjoy aku akan jalani semuanya,masalah kecewa itu adalah bagian dari proses dan hasil yang tidak sempurna dari usaha kita"
__ADS_1
"Ji Aku sebenarnya nggak setuju dengan prinsip mu itu, tetapi aku menghargainya, Aku hanya mengingatkan seandainya kamu mau berubah haluan masih Ada kesempatan untuk mengarahkan energimu kearah lain,Aku hanya mengingatkan memasuki sebuah hubungan bertentangan dengan prinsip ku dan aku menganggap hal seperti itu salah"
"Heeeeeee... Adelia,bisnis itu kotor,politik itu kotor,ambisi juga kotor dan persaingan apapun itu kotor termasuk persaingan hati dan perasaan..."
"Terserah kamu lah kita kan bukan untuk berdebat masalah itu"
"Tapi setidaknya aku tahu berarti kamu tidak mendukung aku"
"Haaa..ya jelaslah Ji aku tidak berada di pihak mu berjuanglah sendiri dan aku ingatkan kembali semoga kamu tidak kecewa dengan hasil yang kamu dapatkan"
"Ok Adel aku mengerti,yu udah makannya..."
Adelia bangkit menyusul Jihan yang sudah berdiri duluan sambil merapikan pakaiannya yang kusut bekas duduk.
Perasaan Adelia lega nggak lega setelah menyampaikan dan ada jalan untuk bercerita pada Jihan,leganya menyampaikan status Kakaknya,tak leganya melihat sikapnya Jihan yang kekeuh seakan yakin dengan perjuangannya dia untuk mendapatkan Kak Adrian,sesuatu yang mengherankan di pikiran Adel orang segitunya suka tanpa pedulikan apa-apa selain ambisinya sendiri, padahal cinta yang sejati adalah yang datangnya dari hati tulus bukan dengan niat untuk merebut atau bersaing juga menjatuhkan dan menyakiti.
Sedikit lincah dan pandai bicara mengolah kata,juga membius orang saat ngobrol Jihan terlalu memilih untuk mencari seorang pacar, suatu waktu pernah Adelia ngobrol sama Jihan tentang pendapat Jihan kepada Adelia seolah memprotes kok Adelia begitu sembarangan nya berpacaran dengan orang luar negeri dengan orang Malaysia bahkan dengan orang Negara Kongo campuran Australia,pendapat Adelia nggak apa-apa jadi ibarat kita mencari calon suami itu adalah menyaring dulu untuk bisa adaptasi dan pengalaman, nggak apa-apa kita tidak sekaligus menjadi jodoh,tetapi kita bisa memilih satu yang terbaik diantara yang pernah kita kenal.
Jihan dan Adelia berpisah di persimpangan kelas mereka, setelah sebelumnya mereka saling melambaikan tangan Adelia tersenyum dan Jihan pun mengangguk juga.
"Sudah di fikirkan baik baik belum Del kamu pacaran sama orang luar ?" masih terngiang kata sindiran Jihan saat Adelia habis jalan bareng sama Fath yang asli orang Malaysia.
"Aku sih nggak di bikin ribet Ji...kita hanya menjalankan proses saja,masalah jodoh aku berserah diri pada Yang Maha Kuasa, karena kita tidak tahu cinta sejati kita itu adalah siapa dan orang mana"
"Kalau Aku sepertinya akan di tentang sama kedua orang tuaku"
"Orang tuaku adalah orang tua yang berpikiran maju jodoh adalah hak azasi semua orang, jodoh adalah masalah hati, jodoh tidak bisa dibeli dan kebahagiaan seseorang jodoh tidak bisa dibayar dengan uang,orang tuaku tidak seperti itu,cuma sekedar memberi masukan manfaat dan mudharat nya nanti setelah berkeluarga antara negara itu begitu sulitnya seandainya keadaan ekonomi kita belum mapan"
"Tetapi alangkah lebih baiknya jika kita memilih jodoh kita adalah seseorang yang dari satu negara kita"
"Ya itu kalau kamu dapat cowok idaman satu negara,kalau nggak ya nggak pacaran pacaran dong ?" Adel me nyekak Jihan dan Jihan hanya tertawa.
Dan sekarang pilihannya jatuh ke Kakaknya sendiri pilihan Jihan memang sepertinya orang yang seperti Adrian punya masa depan dan sama di bidang Perhotelan dan yang paling penting satu negara, makanya Jihan tetap ngeyel ingin memperjuangkan perasaannya,dan itu diucapkannya terang-terangan di hadapan Adelia, walaupun Jihan tahu Adelia tidak mendukungnya alasan Adrian sudah punya tunangan.
__ADS_1