Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Berdamai dengan hati


__ADS_3

Masih duduk terdiam di ujung tempat tidur tanpa kata tanpa ucap mereka hanya membisu dan mematung sibuk dengan pikiran masing-masing hanya tangan Adrian menggenggam sebelah tangan Aryanti.


"Nak,katanya tadi mau buah ini kok belum di buka buka..."


Mamanya nyelonong masuk kamar Aryanti tanpa tahu Aryanti dengan siapa dan ada siapa.


"Oh alah...ada Mas Adrian rupanya,gimana sudah sehat ?" Adrian menghampiri Mamanya Aryanti dan menyalaminya dengan mencium punggung tangannya.


"Alhamdulillah lumayan Bu tapi masih tetap kontrol,saya nggak sabar mau melihat kondisi Aryanti Bu...maaf tadi saya nggak melihat ada orang di luar juga di dalam karena nggak di kunci jadi saya masuk aja,Aryanti juga lagi tidur tadi"


"Ya ya ya, sudah jauh baikan tuh kelihatannya,sudah minta di beliin buah-buahan"


"Iya Bu"


"Nak,ajak Masnya duduk di luar jangan berduaan di kamar pamali itu nggak boleh,


ada buah nih pada di makan biar mulutnya seger nggak pahit, kalau lagi minum obat seperti itu rasanya mulut tidak ada nafsu untuk memakan apa-apa"


Aryanti keluar diikuti Adrian di belakang lalu mereka duduk di kursi bersebrangan, Mamanya mengambil tempat buah dan pisau dan meletakkan semua buah di atasnya.


Aryanti diam saja sambil mengupas buah dan setelah selesai lalu dia memotong-motong dan disimpan di piring kecil lalu mengupas lagi, Andrian memperhatikan Aryanti melihat semua gerak-gerik nya,dan Aryanti merasa nggak enak jengah seperti orang yang lagi punya kasus dan lagi di selidiki.


"Ngapain sih lihat lihat aku melulu Mas,ada yang aneh ? kayak orang baru kenal aja..."


"Kenalnya sih sudah lama tapi belum baikan"


"Siapa yang mau baikan sama 'bad boy' gombal"


"Haaaaaaaa...nggak ada lagi yang lebih baik sedikit bikin panggilan kesayangannya heh ? kalau tahu Ibuku aku di kasih julukan itu pasti Ibuku sedihnya tujuh hari tujuh malam"

__ADS_1


"Makan tuh udah di kupasin"


"Yah elah.... ketus amat sih sayang..."


"Terkadang kita harus ketus sama orang,kalau terlalu ramah orang nyelonong aja tanpa permisi"


"Aku kan sudah minta maaf,lagian ketuk pintu nggak ada orang Mamamu pergi ke pasar, Bapakmu nggak ada,kamu tidur di kamar ya aku ucap salam nggak ada yang jawab,pintu nggak dikunci ya aku masuk aja terus ngintip kamar kamu lagi tidur ya aku masuk aja kan aku kangen banget sama kamu, seminggu lho kita nggak ketemu..."


"Aku nggak ngitung mau seminggu mau sebulan juga setahun,hitung aja sendiri !"


"Sayang aku seperti orang gila memikirkan kamu apalagi kamu nggak bisa dihubungi,aku enggak tahu kondisimu waktu aku pergi meninggalkan kamu dalam keadaan sakit,Aku tak bisa berpikir apa-apa lagi,kamu sengaja seperti ini sengaja memberikan pelajaran kepada aku ? aku terima aku salah ! tapi apa orang salah tak bisa memperbaiki diri merubah diri mengambil pelajaran dari yang telah terjadi? aku mohon jangan bersikap seperti ini lagi,kita baikan lagi kita seperti dulu lagi kita pergi lagi ke tempat kita kerja, kita bersama-sama lagi merencanakan kembali rencana kita yang tertunda"


Aryanti terdiam kata-kata Adrian memang benar,seperti kata-kata dari mamanya yang pernah didengarnya waktu masih di rumah sakit saat nunggui dirinya.


"Kamu pikirkan baik-baik sayang, baik buruknya untuk kita, kita jangan terlalu egois dan menyiksa diri kita dengan kemarahan dengan kekesalan dengan kekecewaan dengan kecemburuan aku menyadari sekarang semua itu malah menyiksa diri kita"


Aryanti masih terdiam mencerna semua kata kata dewasa Adrian.


Aryanti menatap Adrian mencari kesungguhan semua ucapannya, keseriusan yang diperlihatkan Adrian begitu kelihatan dari bicaranya Aryanti merasa kasihan dan simpatik.


"Dan aku mengatakan semua ini kepadamu ingin mencontoh apa yang dilakukan Ibuku, bukan aku mengharuskan kamu seperti Ibuku, tetapi sekali lagi aku minta maaf kepadamu seperti kepada Ibuku agar hatiku damai agar hatiku tenang setelah menerima maaf darimu"


Aryanti tersenyum semua ucapan Adrian begitu mengena di hatinya, seandainya tidak ada kejadian kemarin mungkin juga Aryanti tidak bisa melihat kedewasaan diri Adrian.


"Mas sedari awal pun aku sudah memaafkan Mas,cuma waktu itu hatiku mungkin masih syok,Mamaku selalu mengatakan marahan jangan berlama-lama karena itu tidak baik jangan sampai kita di sadarkan setelah kehilangan orang yang kita sayangi setelah kita terlanjur melakukan kesalahan dan emosi sesaat,karena kehadiran orang yang kita cintai begitu berharga"


Adria juga tersenyum, hatinya begitu bahagia.


tak henti hentinya memandang rona merah di wajah Aryanti.

__ADS_1


"Sekarang kita ada di Bandung,kamu mau ke mana,mau apa aku antar,cuman kalau harus di gendong aku maaf nggak kuat aku masih agak sakit perutnya"


"Yeeeee...siapa yang mau di gendong ngawur saja...


"Sayang kita kerumahku nanti malam ya, Ibuku juga pasti kangen sama kamu, dari kemarin juga dia berkali-kali menyuruh menelpon kamu tapi kamunya aja yang bandel nggak aktif-aktif tuh ponselnya,kamu kan sudah kuat,sudah nggak apa apa kan ?"


"Boleh tapi aku izin dulu Mama..."


"Kamu emang anak Mama ya ?"


"Maksudnya ? Aku anak kolokan,atau anak yang nggak mandiri selalu ini itu di bantu Mamanya gitu ?


" Bukan,maksudku kenapa kamu memanggil Mama tidak Ibu seperti aku ?"


"Karena mungkin sedari kecil aku belajarnya seperti itu"


"Kalau Mas kenapa manggilnya Ibu ?"


"Mungkin karena Bapakku juga manggilnya Ibu,juga orang yang bekerja di rumahku juga manggilnya Ibu,di tempat bekerja Bapak ku juga begitu ya aku dari kecil jadi terbiasa memanggil seperti itu karena yang di dengar setiap hari yang kata-kata itu"


"Sama aja hanya masalah kebiasaan"


"Terus kamu mau di panggil apa nanti sama anak anak kita ?"


Aryanti tersipu malu dan melempar kulit jeruk ke perut Adrian,dan Adrian menangkapnya sambil tertawa.


"Anaknya kan lima jadi biarin masing masing punya panggilan sendiri sendiri" Aryanti menjawab sambil cemberut.


"Haaaaaaaa..."

__ADS_1


Tak ada obat yang lebih manjur dan mujarab selain tertawa dan mereka berdua sudah bisa tertawa bersama,Mamanya Aryanti merasa senang anak nya sehat juga Adrian,keduanya sudah memperlihatkan keakrabannya kembali, sesuatu yang baru di keluarganya kedatangan seorang tamu laki-laki mudah-mudahan mereka menjadi satu pasangan yang bisa mengapai cita-citanya sampai ke arah yang lebih serius membina keluarga.


__ADS_2