Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Curhatan Jihan


__ADS_3

"Kenapa memang, apa Pak Habil jadi menikah sama Jihan? gimana rumahtangganya?" tanya Aryanti.


"Justru itu belum ngobrol jelas Kak, tapi kelihatan mereka tidak harmonis karena mereka berpisah walau sudah ada anak diantara mereka." tutur Adel.


"Ya Ampuuuuun, masa sih Adel? Kasihan banget nasib mereka berdua, kenapa mereka menikah kalau semua tak di jadikan titik awal perubahan yang baik bagi mereka?" Aryanti menyayangkan semua yang terjadi dengan sahabat baiknya Habil Ismail.


"Aku belum ngobrol panjang lebar Kak, baru Jihan menemui kami di hotelnya, mungkin meyakinkan aku sama Fath benar-benar lagi ada di Anyer, karena awalnya dia tak percaya."


"Apa tujuanmu ke Anyer hanya ingin ketemu teman lama saja, apa mau liburan dan bulan madu?" tanya Aryanti, karena menurutnya lebih baik mereka bersenang-senang bersama kedua orangtuanya, melepaskan kangen dan mungkin mereka Pak Suraparaja dan Ibu Handayani masih terlalu kangen, tapi Adel sama Fath malah memilih liburan ke tempat sahabatnya.


"Aku mau ketemu Jihan, karena hilang kontak, hilang dari peredaran, dia sepertinya hilang tak bisa kami hubungi lewat apapun." jawab Adel.


"Itu pilihan dia, apapun kita harus menghargainya."


"Aku jarang pulang, sekali pulang ke Indonesia rasanya ingin bernostalgia bersama sahabat lama, juga sekalian liburan, waktu menikah dia datang, tapi kenapa dia menikah tak sedikitpun kasih kabar, aku merasa bersalah saja."


"Ya sudah, selamat liburan Adel, jangan lupa Bapak sama ibu bawain oleh-oleh kesenangannya."


"Iya Kak Aryanti, Alinea mana?"


"Lagi jalan-jalan sama Papanya."


"Sudah dulu ya Kak."


"Iya Adel."


Adelia menutup ponselnya dan menghampiri Fath yang masih tidur.


"Fath bangun sudah mau sore, aku sudah mandi nih kita jalan-jalan, masa jauh jauh ke sini cuma mau tidur aja?" ucap Adel sambil goyangkan badan Fath.


Fath memang doyan tidur tak cukup sekali dua kali Adel membangunkan suaminya, kadang kalau lagi malas Adel Biarkan saja semaunya dia tidur. Di biarkan sampai kapanpun dia se-bangunnya sendiri, apalagi kalau memang tidak ada kegiatan dan acara penting.


Malas bangunin Fath, kalau bangun juga suka malah narik dirinya mengajak tiduran lagi dan ujung-ujungnya pasti ke arah yang satu itu.


Jihan menelephon lagi saat ponsel Adel masih di genggaman.

__ADS_1


"Ya Ji ...?"


"Adel, gue belum pulang masih di office hotel ini, sambil sekalian tungguin lo, sudah kelonan siangnya belum? kalau sudah turun dong sini kita ngobrol sambil minum coklat susu panas kesukaan lo!"


"Oke Ji, gue turun sekarang, tapi lo keluar gue malas interogasi Intel lo, soalnya dari gue datang mata resepsionis sama security sepertinya curiga saat gue tanya nama lo!"


"Haaaaaaaa ... itu hanya bagian dari pekerjaan mereka Adel"


"Dikiranya gue mata-mata suruhan suami lo kali!"


"Lo turun sekarang, nih gue keluar."


"Siap."


Adelia menutup sambungan telephon dan berpakaian dandan sedikit alakadarnya, lalu menghampiri Fath yang masih lelap tidur.


"Fath aku ke bawah dulu mau ngobrol sama Jihan, kalau bangun aku di bawah ya!"


Fath hanya menggeliat sebentar lalu tidur lagi, entah dengar apa tidak apa yang dipesankan istrinya, Adel mencium pipi Fath lalu keluar dan menutup pintu.


Kaligrafi dan lukisan sungai Nil, menyambut tamu yang masuk ke ruangan ini, juga gambar pohon kurma serta lukisan kuda dan unta serta Padang pasir, serta hiasan dengan nuansa emas seperti pedang dan alat makan apik dalam lukisan dinding dan pajangan di pojok ruangan.


"Ji, lo sebagai apa di hotel mewah ini?" tanya Adel setelah mereka duduk di sofa ruangan itu.


"Gue sebagai pimpinan operasional, karena gue anak paling gede nggak ada cowok di keluarga gue. Adik gue dua-duanya masih kuliah." tutur Jihan sambil meneliti wajah sahabatnya.


"Kenapa lo lihatin gue, ada yang aneh ya?"


"Sepertinya lo nggak banyak berubah, cuma agak gemuk dikit." ucap Jihan sambil tetap mengamati Adelia dari atas sampai bawah.


"Gue cocok suntikan nya, makanya agak gemuk dikit, cuma belum gemuk di sini aja." Adel menunjuk perutnya sendiri sambil tertawa.


"Kalau gue nikah langsung isi, jadi deh Zaid anak gue." jawab Jihan


"Lo kelihatannya tokcer banget sih, masa menikah langsung isi aja? gimana cara mainnya?"

__ADS_1


"Dasar! mainnya sama saja tapi kesuburan dan faktor lain-lainnya yang berbeda, gue pas nikah habis datang bulan jadi pas masa subur-suburnya."


"Ji, gue tanya status lo sekarang gimana? apa masih sama Pak Habil itu apa gimana?"


"Adel, status pernikahan gue ya seperti ini, gue masih terikat tali pernikahan resmi tapi gue yang malas-malasan kalau Bapaknya Zaid datang ke sini."


Jadi selama ini halo papa gitu papa biru di Pangandaran dengan pekerjaan dan hotelnya memilih di sini tinggal bersama orang tua lo juga bekerja di Hotel lo sendiri?


"Ya begitulah Adel, kalau gue harus cerita dari awal terlalu panjang tapi beginilah nasib gue, juga nggak tahu entah sampai kapan gue bertahan seperti ini. awal gue menikah memang gue dijodohkan tapi lebih ke dikenalkan dan kita yang menjalani semuanya, dengan kesepakatan bersama walaupun gue jujur tidak begitu antusias istilahnya tidak begitu mencintai, tapi gue akan berusaha belajar untuk bisa menerima pada awalnya." Jihan mulai cerita kelihatannya jujur, dan memang seperti itu pembawaannya.


"Lalu apa masalahnya?"


"Hanya berawal dari obrolan ringan dan sangat biasa pada masa-masa kami bulan madu, ada kata-kata Kak Habil yang mengatakan kalau perempuan idamannya yang menjadi idolanya adalah yang seperti sahabatnya yaitu kakak ipar lo Aryanti. Entah darimana asalnya gue sama Kak Habil mulai ngobrol dan akhirnya sampai ke situ, Gue jadi sadar ternyata suami gue punya idola lain yang membuat hati gue sakit dan tak bisa menerima, selama ini berarti yang ada dalam khayalannya dan bayangannya adalah seorang Aryanti walau gue sama dia sudah menikah."


"Ah, Ji! masa iya?"


"Lo nggak bakal percaya Adel! lu bayangin saja gimana rasanya perasaan gue seandainya yang mengalami itu adalah lo! kita berhubungan suami istri setiap saat tapi yang ada di otak suami kita adalah orang lain, yang ada pikiran suami kita adalah orang lain?"


"Terus?"


"Kejujuran yang sangat tidak pada tempatnya menurut gue, gue berontak, bertengkar hebat sampai gue lepas kendali bawa mobil menabrak pohon, gue cedera lumpuh ringan sebelah kaki tidak bisa menginjak dengan sempurna, pengobatan dan terapi berapa waktu lamanya akhirnya gue bisa sembuh dan itu gue jalani dalam keadaan hamil bisa lo bayangkan!"


.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏

__ADS_1


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2