Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Tak ada lampu hijau


__ADS_3

Pulang beli makanan Adelia masuk kamar Kakaknya dengan mimik kesal,Adrian kelihatan habis mandi dan kelihatan seger banget,masih dengan menggosok-gosokkan handuk di kepalanya Adrian menghampiri Adelia yang lagi membuka kotak makanannya, Adelia makan sendiri dengan mimik muka yang seperti tidak senang dan cemberut,Adrian melihat itu dengan perasaan heran merasa dirinya tidak punya dosa apa-apa.


"Mukanya nggak cantik kalau di tekuk begitu,apalagi lagi marah sambil makan nanti jadi lemak jenuh semua,kenapa kamu nggak di ajak ke pantai ya ? sudah gede ini pergi aja sendiri,atau ajak teman Kongo lu... lagian suruh siapa jadwalnya beda sama orang ?"


"Nggak lucu tahu Kak..."


"Yang lucu harusnya gue jadi badut ya ?"


"Iya jadi badut asli aja sekalian ngamen di pantai..."


"Lu nggak jelas banget deh datang datang muka ditekuk,terus di lipat lipat seperti kertas buram di remek remek kayak kesel emang kenapa ?"


"Kakak nyadar nggak apa yang Kakak lakukan waktu itu aku melihat Kakak mau ke kantin sama si Jihan gandengan tangan pegangan tangan sekarang lagi dari pantai berdua pulang gandengan tangan apa-apaan itu ?"


"Oh itu jadi lu cemburu dan nggak suka ceritanya..."


"Bukan aku saja yang cemburu dan nggak suka tapi Kakak tidak menjaga perasaan Kak Aryanti juga,Aku ini perempuan juga, Kakak itu tidak boleh seperti itu,Kakak itu ada apa sama si Jihan ? main gandengan aja,ke pantai berdua apa maksudnya semua itu ?"


"Apaan...gue nggak merasa ada apa apa,sama seperti kalian berteman biasa aja,dan ingat ya gue itu nggak ada rasa sama dia puas ?"


"Syukur kalau Kakak nggak ada rasa ! tapi dia merasa di beri kesempatan sama Kakak..."


"Kesempatan apa heh ?"


"Kakak nggak ngerti sih...dia itu jelas jelas suka sama Kakak tahu nggak ?"


"Itu urusan dia mau suka mau enggak sama gue nggak peduli yang penting gue nya enggak"


"Tapi Kakak jangan malah tebar pesona di hadapan dia,seolah memberikan peluang sama dia bebas mengajak Kakak menggandeng Kakak emang baik seperti itu ? jelek tahu !"

__ADS_1


"Adelia,jangankan gue untuk berpaling ke lain hati,memendam kerinduan gue pada Aryanti itu sudah jadi beban yang begitu berat bagi gue,soal si Jihan gandeng tangan gue itu mungkin menganggapnya wajar masa harus gue lepaskan paksa ? mungkin dia juga menganggap gue temannya sama seperti ke lu"


"Itu yang salah, pandangan Kakak menganggap wajar, bayangin aja sama Kakak seandainya Kak Aryanti ada yang menggandeng seorang laki laki bagaimana perasaan Kakak ?"


"Oke oke,gue salah di mata lu tapi gue masih dalam batas wajar wajar saja"


Kalau Kakak masih menganggap itu sesuatu yang wajar saja nanti saya akan telepon kasih tahu Bapak sama Ibu,juga Kak Aryanti,silahkan menganggap kelakuan Kakak itu benar dan wajar menurut pendapat Kakak sendiri"


"Terus menurut lu gua harus seperti apa? jangan punya teman perempuan karena sudah tunangan ? begitu baiknya ?"


"Oh se sempit itu pikiran Kakak memandang seorang teman ? bukan seperti itu Kak Tapi harus ada batasan Kakak itu harus bisa melihat pada orang yang punya sorot suka terhadap Kakak,jangan malah memberikan kesempatan dan peluang berjalan berdua gandengan tangan berpasangan laki-laki dan perempuan,pergi dua duaan"


"Adelia,si Jihan itu belum tentu suka sama gue, mungkin menganggap sebagai teman,sebagai sodara..."


"Kalau Kakak masih belum tunangan,mengikat janji dengan seseorang,belum berkomitmen terserah,bebas mau gandengan,pelukan mau ngapain ngapain juga nggak jadi soal,aku sendiri merasa risih melihat tingkah Kakak seperti itu katanya kita orang timur katanya kita punya tata krama katanya kita punya sopan santun, jadi kapan dipakainya semua itu ?"


Di situlah Adrian melunak dan menyadari kesalahannya kalau sampai ada yang melaporkan dirinya kepada Ibu dan Bapaknya dengan kelakuan yang dianggap tidak wajar berarti menurut Bapak sama Ibu dirinya selama di sini tidak berkelakuan baik takut sanksi tambahan dari orangtuanya,Adrian meminta maaf kepada Adel.


"Aku nggak mau maafin Kakak"


"Kalau nggak lu maafin gue harus gimana ?


"Bodoh amat,Kakaknya juga seperti nggak ikhlas gitu"


"Emang yang ikhlas seperti apa ? pake tulisan di jidat gue dengan tulisan 'ikhlas' gitu ?"


"Kalau mau ngelawak pulang sono ke Indonesia melawak sama Sule...!"


"Maafin Kakakmu yang paling ganteng ini ya...Adelia cantik Adikku..."

__ADS_1


Adrian memeluk Adelia,yang masih diam,terus Adrian memandang Adiknya sambil senyum.


"Cantik banget kalau lagi ngambek,mirip 'Nicole Kidman' kalau nanti jadi sama orang Kongo anaknya jadi Oprah Winfrey haaaaaaaa..."


"Aaaaaah... Kakak !"


Adel meninju lengan Kakaknya sambil berteriak dan juga nggak tahan pengen ketawa, dengan segala cara Adrian menggoda Adiknya mau tidak mau Adel tertawa dengan sendirinya.


"Aku nggak mau melihat Kakak begitu dekat dengan siapapun,dengan perempuan manapun, Apakah Kakak tidak berpikir begitu baiknya Kak Aryanti begitu sabarnya dan lembutnya dia menghadapi Kakak ? Aku bukannya ngelarang Kakak berteman dengan siapapun perempuan tapi aku nggak mau Kakak terlalu dekat, Kakak jangan menciptakan masalah sendiri,jangan bikin rumit diri sendiri"


"Ok gue siap ikutin kata lu,dan janji nggak terulang lagi"


Adela tersenyum begitu puas hatinya menyampaikan uneg-uneg kepada kakaknya ingin rasanya dari kemarin kemarin menyampaikan semua ini tetapi nggak ada jalan untuk memulainya takut salah dan takut menjadi masalah antara dirinya dengan Kakaknya,tapi setelah kejadiannya ada di depan mata Adelia begitu gamblang menyampaikan semua yang mengganjal di hatinya.


"Aku mau pulang"


"Perlu Kakak antar Dek...?"


"Tahu ah gelap"


"Haaaaaaaa..."


"Bobo yang manis ya,semanis pacar Kongo mu itu" Adelia tak melirik lagi Adrian terus saja jalan dan masuk kamarnya.


Adrian menutup pintu lalu dia merebahkan diri di atas kasurnya memikirkan dan mencerna apa yang dikatakan Adel apa memang dirinya benar tebar pesona ? memberi peluang dan kesempatan kepada Jihan ? hatinya bertolak belakang perasaan hatinya tidak seperti itu Adrian menganggap Jihan hanya sebagai saudara yang bertemu di perantauan jadi Adrian merasa berkewajiban untuk bisa menjaga melindungi dan juga saling kasih sayang.


Perasaan hatinya Adrian tidak pernah memberikan lampu hijau di hadapan Jihan semua dalam batas wajar wajar saja,kalau Jihan sendiri entahlah...


Tetapi mungkin berbeda dengan pandangan perempuan seperti Adel begitu sensitif melihat hal yang seperti itu,tapi dipikir-pikir apa yang Adelia katakan tadi benar adanya dirinya juga melihat Aryanti baru duduk satu meja dengan seorang Habil apalagi sampai nyanyi diatas panggung berdua begitu cemburu luar biasa dan disitulah Adrian menyadari letak kesalahannya sendiri,dan sadar akan hal itu,Adrian menyadari juga kedewasaan Adiknya mungkin pendidikan,atau kedewasaan yang menjadikan Adel lebih dewasa secara berfikir.

__ADS_1


Adelia sampai marah segitunya di hadapannya,sebegitu nya pesona seorang Aryanti di mata adiknya,yang padahal baru beberapa kali video call hanya bertemu lewat layar kaca dan mendengar suaranya saja,belum bertemu dan tatap muka secara langsung.


Adrian mengambil ponselnya dan menatap wajah yang begitu jauh dari sisinya,di usap usapnya wajah Aryanti dengan telunjuknya yang tetap pada posisinya yang lagi tersenyum.


__ADS_2