
"Mama Mama... Aira boboknya mau sama Mama nanti ya..."
"Iya sayang tentu saja boleh... kan Mama juga masih kangen sama Aira kita nanti malam bercerita atau mendooooooo.... ?"
"Ngeeeeeeng..." Begitu senangnya Aira keluar kamar lagi bermain dan loncat loncatan tertawa dengan cerianya tak seperti hari hari sebelum nya tak ada gairah sedikitpun selain mogok segala kegiatan juga tak pernah ada senyum yang begitu tulus seperti saat ini.
"Mama Mama Aira mau makan siangnya sama Mama ya..."
"Iya pinter...Aira makannya mau sama apa ?"
"Sama Ayam aja ya...?" Made Ardika menjawabnya,dan Aira mengangguk angguk dan Aryanti tersenyum.
Aryanti duduk di ujung tempat tidur dan Made Ardika di kursi yang ada di kamar yang luas itu,Made Ardika memandang Aryanti dan membayangkan sosok istrinya yang ada di diri Aryanti,begitu sempurna acting Aryanti ataukah itu murni kasih sayang ? karena sejak pertemuan pertama Aira dan Aryanti begitu lengketnya.
"Jangan memandang Aku seperti itu Made ! Aku adalah istri orang,Ibu dari seorang anak yang Aku tinggalkan ! setiap pelanggaran akan ada sangsinya jangan macam macam dengan perjanjian itu juga jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan,seolah tidak sengaja,itu aturan sebelum Aku berubah fikiran,dan Aku nggak akan segan menghempaskan putrimu dalam kesedihan yang terdalam !"
"Aku menyadari itu semua Bu Aryanti,walau kerinduanku akan sosok yang Aku cintai tak akan pernah terobati tapi biarlah aku mengagumimu meski semua tak akan pernah aku gapai, kebahagiaan ku sekarang hanya putriku Aira karena dia satu satunya peninggalan istriku yang paling berharga di banding dengan aset aset yang kami miliki"
Aryanti diam tapi tetap dalam kewaspadaan,'setiap saat dirinya merasa terancam' itu yang selalu diingat di dalam hatinya,jangan sampai dirinya terbuai kata kata Made Ardika yang begitu menghanyutkannya.
"Selesai ini bahkan Aku akan menyerahkan diri pada aparat yang berwajib dan akan mengkondisikan dan memastikan Aira ada dalam pengawasan orang tuaku di Kuta"
Aryanti mulai membuka hati dan menelisik keseriusan bicara Made Ardika,ada rasa simpatik,prihatin dan rasa kasihan saat Aryanti mendengar setiap ucapan Made Ardika,dan dirinya ingin menuntaskan drama ini sampai tamat dan ending dengan bahagia bukan dengan kesedihan terutama untuk Aira.
Aryanti duduk di samping meja yang sebelahnya duduk Made Ardika.
"Apa Made serius dengan semua itu ?"
"Kita lihat saja nanti setelah semua usai" Made Ardika menggenggam tangan Aryanti yang tak sengaja Aryanti letakkan di atas meja, Aryanti membiarkannya... sesaat Aryanti seperti terbawa arus perasaan Mada Ardika.
__ADS_1
Datang Aira dan memandang malu saat Mama dan Papanya lagi berpegangan dan Aryanti perlahan melepaskan pegangannya dan Made Ardika menggendong Putri nya.
"Sekarang Anak Papa sama Mama makan dulu ya yang banyak biar sehat dan pintar" Aryanti begitu perhatian.
"Sana ke Me Nik siapin dulu nanti Mama yang suapi Aira sayang ya..."
Aira tak bersalah Aira tak berdosa dan Aira hanya seorang anak yang alami menginginkan seorang sosok Mamanya hadir dalam kehidupannya,karena setiap teman temannya selalu mengatakan dan menanyakan pertanyaan yang sama saat yang hadir di sisinya selalu Papanya, keinginan yang sangat wajar karena Aira kecil belum mengerti apa Arti meninggal hanya baru mengerti apa arti sebuah kehilangan.
Hati Aryanti mulai cair mulai bisa menerima kenyataan,dan mulai bisa berfikir dengan baik walau tetap saja waspada siaga satu di ingatkan dan di tanamkan di dalam hatinya,terutama dari serangan nakal Made Ardika yang terkadang sangat menggodanya apalagi di suasana berdua dan begitu dingin,juga spontan spontan dan ketidak sengaja an yang seolah reflek di lakukan...semua itu harus bisa di antisipasinya.
Aira makan di depan tv dan Aryanti duduk lesehan di karpet yang empuk,dengan senangnya Aira makan di suapi Aryanti dan dengan senyum sumringah Made Ardika tiduran di samping Aryanti,betapa semua itu pemandangan yang begitu harmonis satu keluarga tapi begitu menyedihkan di mata Aryanti.
"Aira sayang...Aira janji mau sekolah mau main sama teman temannya lagi besok ya...juga Aira jangan menangis kalau Mama nanti harus kerja lagi ya..."
Aira tertegun tapi tetap senyum.
"Mama mau kerja lagi ? tapi Aira ikut...Aira mau ikut Mama..."
Aira tersenyum dan mengangguk entah apa yang ada di fikirannya mungkin hanya ingin memperlihatkan sama teman temannya kalau dirinya juga punya Mama seperti mereka.
"Begitu kan Pa ?" Aryanti melirik Made Ardika yang tiduran di sampingnya.
"Iya sayang... Mamamu benar,kan ada Papa..."
Made Ardika bangun dan mendudukan Aira di pangkuannya mengusap kepalanya dan menciumnya dengan perasaan sayangnya,tak terlukiskan perasaan Made Ardika senangnya melihat perubahan yang begitu besar dengan usahanya saat ini,dari kemarin kemarin dirinya hanya stres menghadapai sikap anak tersayangnya yang menuntut dengan keinginan yang berbeda dengan anak yang lainnya.
Sempat Made Ardika juga dekat dengan seorang gadis dan di perkenalkan pada Aira tapi apa kenyataan ? bukan solusi terbaik yang di dapatkan tapi malah masalah baru yang ada di hadapan,seolah di mata Aira Papanya tak sayang Mamanya, tetap mogok segala kegiatan.
Sampai sampai terbersit lah rencana gila seperti yang saat ini terealisasi walau dengan proses melawan hukum,pemaksaan dan penyekapan tanpa kekerasan, Made Ardika mulai mengintai kegiatan Aryanti,mengikuti kebiasaannya dengan menahan perasaannya sendiri akankah semua ini berhasil ? dan terjadilah skenario seperti ini.
__ADS_1
Made Ardika mengusap usap punggung Aryanti juga kepala Aryanti dalam tak sadarnya, Aryanti memandang dengan jengah Made Ardika,dan Made Ardika menyadarinya...kenapa selalu ada spontan seperti ini ? Aryanti seperti marah dan bangkit menyimpan piring kotor dan Me Nik membawa air minum buat Aira dan membawa piring ke tempat cucian.
"Maafkan Aku Bu Aryanti"
"Berulangkali Made melakukan itu dan berulangkali minta maaf" Aryanti seperti kelihatan begitu marah,tapi Made Ardika malah meraih tangan Aryanti dan menciumnya,beri Aku sedikit simpatik mu Bu Aryanti... Aku tahu batasan ku,aku tahu norma norma dan tata krama juga sopan santun kalau kita bukan suami istri, Izinkan Aku menyayangimu seperti Aku menyayangi saudaraku sendiri"
"Stop ! jangan mengajak Aku berdebat di depan anak ! atas dasar apapun itu tetap salah besar, aku nggak mau ambil resiko apapun yang namanya perasaan kecuali kita batalkan semu kesepakatan ini,kalau Made tak bisa menjaga sikap !"
Made Ardika diam dan mungkin berfikir atau menyesal atau entah apalagi yang ada di fikirannya, Aryanti merasa kasihan tapi perbuatan seperti itu bukan untuk di maafkan dan dibenarkan.
"Sekali lagi Aku tegaskan Aku Aryanti, bukan siapa siapa Made Ardika,Istri dari seorang suami yang sah dan Ibu seorang Anak yang sekarang aku terlantarkan demi satu kata kemanusiaan !"
Semua hening.
"Aku telah berusaha mencairkan hatiku,membuat Aku masuk dalam skenario dan begitu menghayatinya... Made Ardika jangan memancing emosi dan gairah saya dan jangan menebar pesona di hadapan saya semua itu adalah sesuatu yang sia sia bagi Made Ardika !"
"Maafkan saya Bu Aryanti,karena saya mencintaimu ..."
"Hah Apa ??? nggak salah ini semua ?" Aryanti melempar semuanya bantal, guling semua yang ada di meja rias semua berantakan.
"Tidak ! jangan katakan itu tolong jangan katakan hal konyol itu....Aku tak ingin mendengar itu semua,atau kita bubarkan dan buyarkan semuanya... keluar ! keluar kataku !"
"Mama...Papa kenapa berantem ?" Aira berdiri di pintu kamar.
"Jleb !" semua pada diam,orang dewasa memang semua pada egois semua tak ada kendali tak memikirkan perasaan orang lain, hanya keinginannya saja yang di kedepankan dan suka berdebat entah apa yang di inginkan nya,suka marah marah dan suka berantem nggak jelas mungkin begitu fikiran Aira.
"Sayang Aira... Mama nggak berantem sama Papa Mama cuma ngasih tahu Papa kalau Aira nggak mau sekolah Mama pasti marahnya seperti itu...ya kan Pa... ?"
"Iya sayang... Papa janji nggak akan bikin Mamamu marah marah lagi"
__ADS_1
"Betul Pa ?" Made Ardika mengangguk dan Aira tersenyum.