
Jihan menelephon adiknya untuk membawa Zaid ke hotel karena Adelia pengen ketemu.
Selang beberapa menit Salwa datang sama Zaid yang begitu malu saat ketemu sama orang baru.
Zaid hanya gelendotan pada Jihan Mamanya. Berkali Jihan mencium rambut ikal Zaid yang di biarkan agak gondrong.
Adelia begitu gemes melihat wajah tampan khas Timur Tengah di muka Zaid, Adel mendekat sambil menyalaminya.
"Halo handsome.....what's his name?"
"Hello too Aunt, my name is Zaid."
"Astaghfirullahaladzim, you are very beautiful dear, what is your Mama's name?"
"My mom's name is Jihan."
"What's your papa's name Zaid?" tanya Adel lagi, sambil menatap kagum pada Zaid
"My papa's name is Habil Ismail."
"Masha Allah you are very smart dear, can you kiss aunty here?"
"No! because auntie is new."
"Haaaaaaaa ... oke Zaid kamu nggak mau Tante cium? ya sudah karena kamu anak yang sangat pintar nanti Tante ajak kamu jalan-jalan."
Zaid kecil melongo nggak mengerti mungkin lagi berpikir siapa orang yang begitu sok akrab di hadapannya itu.
Jihan tertawa saat Zaid mengatakan tidak saat Adel ingin menciumnya, anaknya memang pintar tapi tak begitu banyak di kenalkan pada orang luar, kecuali mungkin nanti kalau sudah sekolah.
"Suamimu tidur melulu Del, malam lembur terus ya?" ujar Jihan menyambung obrolan mereka.
"Begitulah, kalau sekarang nih gue bangunin dia malah tarik gue suruh tidur lagi, kalau nggak dia meminta jatah siang, makanya gue lebih baik jalan-jalan."
"Lo kelihatan enjoy banget sih Del?"
"Memang iya, kenapa harus di bikin ribet? kapan kita menikmatinya? walau pada kenyataannya kadang gue merasa sedih tersinggung dan sensitif karena begitu ingin segera punya yang cantik seperti Alinea atau Zaid."
"Kalau belum saatnya semuanya juga susah Del, orang baik seperti kamu pasti ada saja ujiannya, sabar dan banyak berdo'a juga tetap berusaha."
"Iya Ji, gue mencoba semua resep yang dikatakan orang-orang, semua gue lakuin tetapi kalau belum saatnya belum aja. Jadi sekarang gue pasrah dan membersihkan hati gue dari prasangka dan berusaha ber prasangka baik."
"Tuh suamimu bangun lagi ke sini!" Jihan menunjuk Fath yang lagi berjalan dengan celana pendek bermuda dan kemeja tangan pendek tak di kancing dengan dalaman putih.
Adel tersenyum saat Fath mencium kepalanya dan duduk di sampingnya sambil tangannya merengkuh bahu Adelia dengan manja.
__ADS_1
"Fath lihat produk Jihan sama Pak Habil ganteng banget."
"Kita bawa aja ke Malaysia, biar punya nama papa komplit." jawab Fath sekenanya.
"Emang Zaid anak kucing apa? main bawa aja sebentar lagi Jihan sama Pak Habil mau bulan madu kedua Fath bareng kita ke Pangandaran." Jawab Adel sambil mengusap pipi Fath.
"Wah! serius nih? syukurlah. Terkadang kalau sudah ada pengikat diantara kita Ji menjadikan kita kalah demi satu pilihan, terutama menyangkut anak, rasanya egois dan rasa lain itu akan hilang saat kita melihat anak, gue juga belum punya anak tapi memiliki Adel membuat gue selalu mengalah demi kenyamanan bersama."
"Makasih sayang." Adel merasa tersanjung.
"Pernikahan yang gue jalani sama Adel serasa bulan madu setiap saat, karena kita berusaha saling memahami, bukannya nggak ada masalah tapi semua kalah oleh saling memahami tadi."
"Iya Fath, hati gue merasa terbuka dan di ketuk sama kalian berdua, gue pikir kapan gue bahagianya kalau tidak gue ciptakan sendiri?"
"Kenapa lo tidak berpikir begitu sejak awal Ji?" tanya Adel kelihatan senang melihat Jihan berubah dan menyatakan kalau perubahan itu karena merasa ada kontribusi dirinya dan Fath.
"Semua ilmu dan pemahaman orang tak akan bisa di serap sekaligus Adel, perlu waktu sampai kita bisa mengakui kesalahan dan kebenaran."
"Betul itu Ji." jawab Fath singkat.
Zaid berlari ke sana ke mari begitu senangnya. Fath mendekatinya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, Zaid teriak karena merasa takut, Fath malah senang.
"Uncle, Zaid is afraid to fall, please put him down!"
Zaid wants to see your papa tomorrow?
"Iya sayang, turun dulu Zaid nya, besok naik di pundak papa Habil ya?" Jihan melambaikan tangannya saat Zaid di turunkan Fath dari pundaknya.
Zaid mengangguk, sambil memeluk Jihan dan mencium pipinya.
"Cium juga dong Tante cantik kan kita sudah kenal sekarang. Besok Tante temani Zaid ketemu Papa ya sayang" Adel menyodorkan pipinya.
Zaid mencium pipi Adelia kiri dan kanan sambil malu.
"Om Fath jangan cemburu ya!" kata Adel saat Zaid mencium pipinya. Fath hanya nyengir saja Zaid kembali berlari-lari begitu senangnya.
"Ji lo tak terusik melihat putra lo begitu lucu dan senangnya? tak merasa ingin menyempurnakan kebahagiaan Zaid sejak kecil?"
"Gue bukan orang sempurna Adel, mungkin hati gue terketuk nya saat sekarang setelah bertemu lo sama Fath, gue jadi kangen Kak Habil dan suasana Pangandaran."
"Oke Ji, gue mengerti besok kita berangkat sama-sama ke sana, apa lo mau bilang dulu sama papanya Zaid kalau lo mau datang apa mau bikin kejutan?"
"Menurut lo baiknya seperti apa?"
"Bikin kejutan saja, pasti senang banget dia melihat lo sama putra lo datang tiba-tiba."
__ADS_1
"Lo berdua nggak jadi dong mengeksplor Anyer, malah mau ke Pangandaran?"
"Dua malam cukup di Cabana room bikin kusut seprai Hotel lo, kemana mana juga Fath sama gue pergi, mau ke Pantai mau ke mana yang penting tempat tidurnya yang nyaman yang lain-lainnya nomor dua."
"Dasar lo mesooooom melulu!"
"Gue bawa mobil besok apa nggak ya?" Jihan kelihatan begitu semangat.
"Nggak usah! gue masih kangen sama Zaid, biarin kita jalan santai saja sesampainya saja, kita kan bisa ngobrol kalau satu mobil."
Jihan kelihatan mukanya senang seperti habis mendapat pencerahan, dan itu di syukuri Adel mereka tertawa tawa melihat Zaid begitu senangnya bermain sama Fath yang selalu usil dan meledek Zaid.
"Gue sama Fath nggak usah ke rumah lo ya, karena gue sudah ketemu Zaid di sini."
"Masa lo nggak ketemu orangtua gue dulu?"
"Nggak apa-apa kapan-kapan masih bisa, yang terpenting lo bilang saja dulu sama ortu lo kalau lo mau pindah lagi ke Pangandaran, karena Zaid minta adik!"
"Adel!"
"Haaaaaaaa ...."
Semakin terbuka saja hati Jihan, dan ingin segera bertemu Papanya Zaid dan meminta maaf.
Seiring dewasa semakin dewasa juga cara berpikir seseorang termasuk Jihan, semua yang ada di pikiran jeleknya ternyata tak semuanya benar, setelah mendapatkan faktanya barulah Jihan menyesal dengan sikapnya selama ini.
Aryanti tak ada di Pangandaran yang di sangkakan Jihan suaminya masih suka berhubungan, mereka bahagia dengan kehidupan mereka sendiri.
Jihan siap menjemput kebahagiaannya sendiri, dan menyerahkan hidupnya pada cinta suaminya.
Apalagi sudah ada anak diantara mereka. Kalau disadari benar-benar dirinya tidak bersyukur selama ini, Adelia dan Fath yang begitu mengharapkan kehadiran buah hati sampai sekarang masih belum dikasih, tetapi dirinya yang begitu menikah bisa langsung hamil dan sekarang sudah memiliki putra, tapi kenapa dirinya begitu egois menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga dan menelantarkan Zaid dari kasih sayang dan kebersamaan keluarga kecilnya.
.
.
.
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
__ADS_1
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏