
Waktu sekitar tengah hari Aryanti yang ditungguin Mamanya menunjukkan ada perubahan,tangan dan kakinya ada pergerakan kelihatan ada gerakan gerakan kecil dan matanya seperti berkedip tapi seakan berat untuk di buka terus aja seperti berkedip-kedip, Mamanya mengusap-usap tangan dan kepalanya sambil terus manggil-manggil namanya.
"Yanti ! Yan,apa kamu sudah sadar Nak ? Mamamu ada disini,sadarlah Ingat Allah,Nyebut Nama Allah..."
Aryanti mulai sedikit membuka mata lalu beristighfar dan kepalanya mulai bisa digerakkan kekiri dan ke kanan, kepalanya terasa sakit dan berat juga badannya nyeri seperti tak berdaya untuk digerakkan,matanya berusaha dibuka untuk bisa melihat sekeliling terlihat agak buram dan terus dibuka dan di kedip kedip kan semakin terang semakin ada yang bisa di lihatnya dalam terang.
"Mama !"
"Iya sayang Mamamu ada disini..."
"Bapak juga ?"
"Alhamdulillah Pak Yanti sadar, coba Bapak ke sini !"
Pak Nurhadi menghampiri Aryanti dan Ibunya dengan bergegas terus dia memegang tangannya dan juga mengusap-usap kepala Aryanti.
"Aku di rumah sakit ya ?"
"Iya kamu tak sadar dari semalam kamu pingsan dari semalam kamu kecelakaan kecil kamu dalam perawatan dokter di sini,jangan dulu banyak bergerak istirahat saja, jangan banyak yang dipikirkan dulu kosongkan hatimu kosongkan fikiran fokus pada dirimu sendiri agar cepat sembuh.
"Kepalaku sakit Ma,serasa berputar "
"Iya nanti kita konsultasikan ke dokter biar diberi obat kamu kan sekarang sudah sadar tenanglah, sampaikan semua keluhan mu nanti"
"Yanti haus Ma"
"Bagus tubuhmu sudah merespon kamu sudah merasakan haus juga mungkin lapar"
__ADS_1
Aryanti meminum air yang disodorkan Mamanya seperti orang yang begitu kehausan seperti orang yang pulang dari perjalanan jauh,Aryanti meminum habis satu botol air yang disodorkan Mamanya.
"Pejamkan matamu cobalah untuk santai cobalah untuk tenang dan beristirahat,jangan memikirkan apapun apalagi yang terjadi kemarin,Mama mau ngasih tahu dokter dan mengkonsultasikan obat buat kamu"
Aryanti memejamkan kedua matanya tapi refresh pikirannya,tapi malah mencoba mengingat terakhir kali apa yang terjadi dengan dirinya semakin ingat semakin hati Aryanti nggak tenang,satu yang paling di ingatnya,yang membuat semakin kuatnya sakit di kepalanya yaitu kata kata Livia,
"Tidak, kami sudah janji malam ini aku dan Adrian akan bersama sama menghabiskan malam dengan berkesan,dan itu sudah disepakati walau ini untuk terakhir kalinya"
Seandainya itu benar adanya betapa Adrian telah menghianati dirinya betapa Adrian telah menyakiti hatinya,sekejap semua rasa cinta itu di bawa entah kemana oleh Adrian,yang ada hanya kebimbangan dalam diri Aryanti, semua rasa seakan tak berarti,dalam hati Aryanti putus ya putus kenapa harus ada kesepakatan lain ? mukanya terasa panas air matanya menetes dari ujung kedua matanya.
Sampai saat ini juga Aryanti tidak mendengar kabar Adrian juga tidak melihat hadir di hadapannya, orang-orang disekitarnya saat ini tidak ada yang membicarakan atau memberitahukannya dan bertanya pun Aryanti tidak hanya kebimbangan aja dalam hatinya entah bagaimana cerita cintanya selanjutnya.
Dokter datang diikuti seorang suster Mamanya dan juga Linda yang tadi habis pulang terus sudah datang lagi untuk menemani.
"Oh Neng Aryanti sudah siuman rupanya, tenang istirahat ya, apa sekarang yang dirasakan ?" dokter memeriksa Aryanti, detak jantung tensi darah juga membuka kelopak mata Aryanti menyorot dengan senter mulut dan telinga memeriksa luka-luka nya dan bertanya keluhan-keluhan yang dirasakan.
"Pusing hebat dokter,lemas,nyeri sekujur tubuh,nafas agak sakit juga kepala selain pusing juga terasa sakit,untuk berkedip saja terasa berat"
"Terima kasih dokter..." dan Dokter pun pergi di ikuti perawatnya.
Linda mendekati Aryanti sambil memegang tangannya untuk saling menguatkan, duduk di kursi di samping nya.
"Alhamdulillah Bu Aryanti sudah siuman saya begitu khawatir Bu saya takut dan cemas dan saya juga panik waktu itu"
"Linda maafkan Aku, aku telah merepotkan mu dan juga merepotkan semua orang juga saya terima kasih banyak sama kamu"
"Iya Bu Aryanti sama-sama, jangan banyak pikiran dulu biarin saja yang terjadi sudah terjadi biar cepat sembuh dulu biar nanti kita berfikir lagi"
__ADS_1
"Linda Apakah Pak Adrian di tangkap polisi atau di mana sekarang ?"
"Memangnya Bu Aryanti belum ada yang ngasih tahu ya ? Pak Adrian lagi diperiksa sama dokter karena disinyalir di tulang rusuk belakangnya ada yang memar atau kemungkinan patah, tadinya kan sama Bu Aryanti dikamar ini sama dirawat terus ada tindakan lanjut pemeriksaan dokter, Bapak dan Ibunya juga sudah ada di sini, Bu Aryanti belum ketemu ya ? juga Pak Daud"
"Astagfirullah... belum Linda"
"Tadi waktu Bu Ariyanti belum siuman Pak Surapraja Ibunya juga Pak Daud semua ada disini nungguin,juga Pak Adrian"
Mendengar nama Adrian airmata Aryanti kembali menetes entah apa yang dipikirkannya yang ada yang dirasakannya hanya rasa sakit dan rasa perih di hatinya.
"Ibu istirahat saja saya barusan habis pulang terus mampir dulu ke Hotel dan ini saya bawa kan ponsel Ibu juga tas tangannya" Aryanti hanya mengangguk.
"Bu Aryanti, tadi saya ngobrol di luar sama Pak Daud mereka punya rencana setelah Bu Aryanti siuman mereka akan membawa Adrian pulang duluan ke Bandung untuk mendapat perawatan lebih lanjut dokter ortopedi di sana dikarenakan disini tidak ada dokter spesialis untuk tulang, karena hasil rontgen Pak Adrian sudah keluar"
Aryanti hanya terdiam mendengar cerita Linda,entah apa yang ada di pikirannya hanya bingung bimbang pikirannya tidak fokus hanya satu yang di rasakannya selain sakit, hatinya begitu marah pada Adrian, dan kalau memungkinkan Aryanti tak mau melihat dulu wajah Adrian, sampai Adrian menyadari apa yang telah dilakukannya dengan Livia begitu menyakitkan hati dan perasaannya.
"Bu Aryanti saya mau melihat keadaan Pak Adrian mencari tahu kondisinya juga saya mau ngobrol sama Pak Daud, saya tinggal dulu ya"
Linda berjalan menuju ke ruangan lain yang di luarnya ada Pak Surapraja dan Pak Daud,lalu Linda memberitahukan kalau Aryanti sudah siuman pada mereka dan sudah bisa diajak ngobrol,lalu pada Adrian dan Ibunya.
Semua mengucap Alhamdulillah dan antusias untuk menemuinya,termasuk Adrian,dengan sambil meringis berusaha menahan sakit meminta duduk di kursi roda.
"Bu bawa aku mau menemui Aryanti Bu aku tak sabar ingin meminta maaf"
"Adri sabar,Aryanti dalam keadaan sakit baru siuman dari pingsannya begitu juga kamu jangan memaksakan diri banyak gerak ingat kamu juga sedang sakit,kamu harus tenang harus bisa menjaga perasaannya,jangan bebani lagi fikiran Aryanti dengan sikap bersalah Kamu di hadapannya itu hanya akan menambah sakit perasaannya"
"Terus aku harus bagaimana Bu ?"
__ADS_1
"Tenang nanti juga ada saatnya karena Aryanti sekarang sudah siuman nanti kita bisa pamitan kita berangkat ke Bandung dan Aryanti biarin dirawat di sini saja sampai kondisinya pulih, baru setelah itu kalau dia mau istirahat mau pulang nanti bisa diantar bersama orang tuanya ke Bandung, yang terpenting sekarang semua kesehatan terutama kamu yang harus segera ditangani dokter spesialis tulang"
Adrian terdiam ingin dirinya segera menemui Aryanti tetapi apa yang diucapkan Ibunya memang benar adanya dan mungkin Aryanti sekarang membencinya, Aryanti menemukan dirinya dalam satu kamar dengan perempuan lain juga menemukan dirinya dalam keadaan mabuk apalagi setelah itu terjadi kontak fisik Aryanti diserang Livia, sehingga kondisi mereka jadi seperti ini Adrian bisa membayangkan bagaimana perasaan Aryanti, hanya sesal yang dirasakan Adrian perasaan egois,cemburu telah menguasainya dan satu kesalahan terbesarnya adalah Adrian bersama Livia malam itu.