Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Jangan menangis...


__ADS_3

Semua berjalan seperti alur yang di rencanakan dalam konsep yang begitu rapi,keberadaan Aryanti begitu merubah semuanya terutama perubahan di diri Aira seperti semangat yang baru di suntikkan, gairah dan semangat baru tumbuh kembali dengan sendirinya,tanpa di ingatkan lagi Aira bangun pagi membuka mata mendapatkan dirinya tidur sama Mamanya,ini bukan mimpi seperti saat tidur kemarin kemarin yang di dapatinnya hanya Papanya saja,akankah Mamanya hadir lagi di sini ? seperti yang selalu di janjikan Papanya...dan sekarang semua nyata adanya.


Aryanti begitu kedinginan dengan selimut tebal serasa enggan meluruskan kakinya inginnya menekuk terus untuk mengurangi rasa dinginnya,Aryanti tahu Aira sudah bangun dan menatap dirinya memastikan kalau Mamanya benar benar ada di dekatnya dan tidur bersama dirinya.


''Ma...Mama..." Tangan mungil Aira memegang muka Aryanti,mengusap pipinya dan membukakan mata Aryanti dengan tangannya terasa lucu memang.


"Ya sayang Aira sudah bangun ? ini masih pagi sayang tidur aja lagi sini Mama peluk"


Aira mendekat dan bergeser lalu Aryanti memeluk nya,dan mengusap usap punggung Aira dan kepalanya.


"Ma...Papa kemana ? kok nggak tidur sama kita" Aryanti membuka matanya yang dari tadi asalnya begitu malas membuka matanya, tapi berusaha memikirkan jawaban yang harus diberikan kepada Aira,dan jawaban yang harus sangat bijaksana tentunya,yang bisa masuk dan di mengerti di fikiran anak anak.


"Papa tadi tidur di sini sayang tapi sekarang Papa sudah bangun,Aira kenapa bangun ? kan Mamanya masih ngantuk"


"Kan hari ini mau masuk sekolah,kita bangun yu Ma...kita cari Papa di mana ? Aira mau mandi mau sarapan dan ke sekolah...


"Ya sudah ayo..." Aryanti melepaskan pelukannya dan tersenyum membimbing Aira turun dari tempat tidur.


Aryanti begitu malas untuk bangun tapi demi Aira yang mungkin sudah kenyang tidur dan ingin bangun mau tidak mau akhirnya Aryanti bangun juga,terasa kepalanya sedikit pusing dan badannya seperti agak demam juga Aryanti memegang dahi dan bawah lehernya agak panas juga, badannya serasa nggak bertenaga,efek dari kurang tidur banyak terjaga karena tetap siaga.


Aira membukakan gorden mungkin itu kebiasaannya lalu membuka pintu kamar dan keluar,menengok ke kamarnya yang penuh dengan mainan terlihat Papa nya masih tidur di situ di tempat tidurnya.


"Ma Papa tidur lagi di kamarku heee...lucu Papa tidur sama bonekaku"


Made Ardika kaget pas bangun mendapatkan Aryanti dan Aira ada di pintu, Aryanti melipat kedua tangannya di dada dan Aira menghambur ke pelukan Papa nya.


"Papa ayo kita mandi sama Mama kan kita sekarang sekolah,Aira mau tunjukkan Mama ke teman teman Aira"


"Iya iya tentu saja sayang..." Made Ardika memasukkan semua kunci ke dalam tas pinggangnya seakan Aryanti tak boleh melihatnya... mulai kunci kamarnya,kunci kamar Aira, kunci semua ruangan juga kunci pintu keluar,garasi dan pintu gerbangnya,timbul rasa marah Aryanti pada Made Ardika mengingat perlakuannya pada dirinya walau akhirnya Aryanti juga pasrah dan mengikuti komitmen yang ada dengan perjanjian dan kesepakatan dan melihat wajah Aira begitu nggak tega rasa hatinya...dan ini hari ketiga Aryanti nggak tahu seperti apa rencana mengantar Aira ke sekolahnya, akankah dirinya punya peluang bisa lepas ?


Haruskah Aryanti teriak teriak di muka umum kalau dirinya di culik ? akankah orang lain percaya ? dan apa yang akan di lakukan Made Ardika pada dirinya seandainya Aryanti teriak ? membiusnya kembali ? atau melakukan pelecehan ? Aryanti begitu takut.


"Sayang Aira mandi sama Papa ya... Mama masih ngantuk kan ini masih pagi banget"


"Aira mandinya mau sama Mama..."


"Ya sudah... ayo Mama mandiin dulu" Aryanti membimbing dan menuntun Aira ke kamar mandi dan memandikannya.


Aryanti menuntun kembali Aira ke kamarnya dan menaikkan ke tempat tidurnya mengelap badannya dengan handuk,tak terlihat kedinginan walau air di sini serasa air dari kulkas mungkin karena terbiasa.


"Sekarang Aira kan mau sekolah pakai baju apa Pa...? Aryanti bertanya pada Made Ardika.


"Oh iya pake seragam dong..." dan Made Ardika mengambilkan seragamnya dari lemari Aira.


"Kalau sudah mandi pakai baju sarapan sama Me Nik ya Mama mau ke kamar mandi dulu juga berdandan ya"


"Iya Ma..."

__ADS_1


Begitu nurutnya Aira pada Aryanti seakan itu adalah Ibu nya yang asli, dan itu adalah seperti yang di inginkan Made Ardika pada Aryanti,Made Ardika begitu percaya pada Aryanti kalau Aryanti bisa menjadikan Aira mengerti jika suatu saat semua harus berterus terang apa adanya dan tak ada lagi yang di sembunyikan juga pura pura,dan semua itu harus di jalani dengan resiko yang begitu tinggi Made Ardika hanya untuk satu kebahagiaan putrinya.


Sampai saat ini Aryanti begitu sukses menjalankan peran Mama bagi Aira diatas kesepakatannya dengan Made Ardika,tapi tak sukses membuat hatinya tenang,semua serba di batasi dan ada aturan yang harus mau tidak mau mengikatnya dan rasa takut tetap membelitnya walau Made Ardika tak memperlihatkan riak riak jahat pada dirinya tetap menghargai dengan kekagumannya.


Perubahan terjadi setelah Aryanti memarahi Made Ardika dengan spontan spontan yang membuat Aryanti merasa tersinggung, walau hanya dengan ciuman pipi sekilas,pelukan dan usapan usapan...Aryanti mengancam putrinya pada Made Ardika cukup itu membuat Made Ardika takut juga kelihatannya.


Dan itu benar sangat di manfaatkan Aryanti,syarat mutlak saat tidur di kamar tak ada yang namanya Made Ardika atau Papanya Aira apapun itu alasannya,betapapun luasnya ruangan kamar ini pasti Aryanti akan merasa risih.


"Mama mau mandi ya ?" Aira menatap Aryanti.


"Mama nggak mandi sayang takut masuk angin, Mama kurang tidur nggak bisa tidur malah...jadi gosok gigi saja sama cuci muka lagian airnya begitu dingin Mama kan belum terbiasa di sini...Mama sakit kepala juga merasa demam"


"Kenapa Mama nggak tidur ?"


"Mama banyak fikiran,takut nanti Aira nggak mau sekolah lagi dan bermain lagi saat Mama berangkat harus kerja lagi..."


"Aira nggak nakal lagi Ma...juga nggak nangis lagi kalau nanti Mama berangkat kerja lagi...kan sekarang Mama mau Aira kenalkan pada teman teman semua..."


"Waaaah...pinter banget anak Mama ini...bener Aira nggak nangis lagi,juga nggak ngambek lagi sama Papa ?"


Aira menggelengkan kepalanya sambil memandang Aryanti begitu polosnya,Aryanti memeluknya dengan perasaannya sendiri,dengan kesedihan dan seribu rasa seorang Ibu yang tak terucapkan.


Dan sebelum semuanya menjadi lebih terbawa perasaan Aryanti melepaskan pelukannya pada Aira mencium pipinya dan berjalan masuk kamar mandi,tak memperdulikan Made Ardika yang menatap dirinya.


Benar saja Aryanti tak mandi perasaan badan dan fikirannya lemah mungkin dari semua kejadian baru sekarang merasa agak biasa sedikit tak begitu tegang tapi secara fikiran tetap begitu terbebani, bagaimana nggak terbebani setiap saat waktu detik yang di ingatnya hanya anak dan suaminya... jangan jangan Mas Adrian sakit ? juga Alinea Putrinya...


Kalau kelihatan Aira sudah yakin dengan segalanya Made Ardika berfikiran akan mengantar Aryanti kembali,tapi malah sepertinya Aryanti nggak fit begitu membuat Made Ardika merasa cemas dan bimbang, bagaimana kalau seandainya Bu Aryanti sampai sakit sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.


Selang seperempat jam Made Ardika mengetuk pintu kamar Aryanti perlahan di ikuti Aira di sampingnya, Made Ardika menyuruh Aira bermain dulu tapi Aira nggak mau...mau mainnya sama Mamanya.


Pintu lama nggak di buka,tapi lama lama di ketuk lagi akhirnya di buka juga,kelihatan Aryanti sudah berganti pakaian,dan Made Ardika memandangnya dari luar pintu bersama Aira yang menerobos duluan masuk kamar.


"Mama kelihatan kurang sehat ?"


Aryanti tak menjawab,dan balik lagi ke meja riasnya,sedang Aira naik dan loncat loncat di tempat tidur,Made Ardika masuk dan duduk di tepi tempat tidur dekat meja rias.


"Mama marah sama Papa ?"


"Sejak awal juga Aku begitu marah ! kenapa Made bertanya seperti itu ?"


"Ssssssssst...Aira sayang ambilkan minum dulu buat Mama sana sama Me Nik yang hangat ya"


"Ya Pa..." Aira turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu.


"Ayo kita ke sekolah dan kita selesaikan semuanya,aku sudah nggak tahan di sini !"


"Bu Aryanti tolong jangan marah marah maafkan saya semua hampir selesai,tak sampai seminggu juga kalau Aira merasa bisa di tinggalkan kita sudahi semua ini..."

__ADS_1


"Mama ini minumnya..." Aira datang dengan segelas tertutup teh hangat,Aryanti tak sampai hati melihat perjuangan Aira...lalu mengambil gelasnya menyimpannya di meja rias dan memeluk Aira dengan tangisan yang seakan nggak bisa di bendung lagi,tangis Aryanti tumpah saat itu juga...


Beban yang sekian hari tak keluar baik sebagai tangisan, hanya lewat emosi dan marah marah saja... semua keluar saat ini saat fisik dan fikirannya nggak kuat lagi Aryanti menangis di pelukan Aira yang bengong tak mengerti duduk permasalahan.


"Mama kenapa nangis ? Papa kenapa Mama nangis...kan Aira nggak nakal lagi,Aira mau sekolah mau bermain lagi...hiks..hiks.." Aira jadi ikut menangis juga.


Made Ardika orang yang paling bingung saat ini serba dilema dan hanya diam melihat Aira dan Aryanti sama sama nangis dan berpelukan,apa yang harus di lakukannya ? hanya diam mematung.


Sungguh pemandangan yang tak terfikirkan sebelumnya bagi Made Ardika,semua berjalan begitu mudahnya sesuai rencana dan hampir selesai, Made Ardika mengusap usap punggung Aira dengan perasaannya sendiri dan Mandang Aryanti dengan perasaan iba,hatinya pun tak tega tapi demi Anaknya Made Ardika berusaha menguatkan hatinya tinggal selangkah lagi ke sekolah,agenda jalan jalan nggak usah ada biarlah selesai sampai di sini semua dramanya di akhiri saja.


Melihat Aryanti dengan airmatanya seperti Made Ardika melihat istrinya Dayu Saraswati dengan segala kesedihannya,tak terkira terluka juga hati Made Ardika melihatnya, Aryanti begitu terpuruk dengan kesedihannya, dengan perasaan tertekannya,Ibu mana yang sanggup berpisah dengan belahan hatinya,dan hidup dalam tekanan perasaan.


Tak ada kata dari Made yang sanggup keluar dari bibirnya hanya berjuta maaf yang berkecamuk dalam benaknya,tak guna sesal,tak guna apapun juga semua sudah terlanjur terjadi dan satu yang ingin di usahakan nya menjaga perasaan Aira putrinya dan mengembalikan Bu Aryanti pada keluarganya dan dirinya menyerahkan diri pada aparat yang berwajib.


Made Ardika berusaha ini hari terakhir Bu Aryanti di sini dan apapun alasannya pada Aira semua bisa di bicarakannya dan merayunya sebisa mungkin Aira harus mengerti,Aira harus terima kalau Mamanya sudah harus kerja lagi dan pergi lagi meninggalkannya.


"Sudah sudah jangan menangis Papa minta maaf ya...pada Mama juga Aira,kita sekolah sebentar lagi dan biar Mama bisa berkemas untuk segera berangkat lagi..."


"Kok Mama baru sebentar sudah mau berangkat lagi sih Pa..." hiks...hiks..." Aira menangis lagi dengan begitu sedihnya...


"Aira sayang... ada yang nggak bisa di mengerti Anak Anak seperti Aira...banyak masalah orang tua yang belum bisa Aira fahami ya sayang...makanya Aira sekolah dulu yang pintar... kalau Aira sudah besar nanti Aira akan mengerti bagaimana perjuangan Papa dan Mama agar membuat Aira tersenyum"


Aryanti menyeka airmatanya,


hatinya berontak pada kenyataan tetapi begitu luluh saat melihat airmata tak berdosa di hadapannya,Aira menatap Aryanti dengan linangan air mata banyak pertanyaan tak bisa di utarakanya,hanya berharap Aryanti mengerti...apa yang ada di dalam hatinya.


Dan Aryanti begitu mengerti, memahami psikologis anak usia Aira dirinya pernah kuliah di bidang itu,mempelajari segalanya bukan hanya tekhiknya anak bisa 'calistung' dasar saja tapi mendidik menanamkan kepercayaan diri seorang anak itu bagian penting juga dalam proses belajar mengajar.


"Mama menangis karena sedih kita harus berpisah lagi...juga Mama takut setelah mama pergi Aira nggak mau sekolah lagi... jadi Mama sedih" Aryanti mengusap airmatanya dan airmata Aira dan mencoba tersenyum.


"Aira nggak akan nakal lagi kok Ma sama Aira mau sekolah lagi...tapi Mama jangan menangis ya..."


"Aira janji ?"


"Iya Ma..."


"Aira Mama janji kita akan saling telephon nanti ya kita bisa video call...Aira bisa menatap wajah Mama,dan Mama juga bisa marahin Aira kalau Aira nakal sama nggak mau sekolah lagi"


"Iya Ma iya...Aira nggak nakal lagi..."


"Airaaaaa..." Aryanti memeluk lagi Aira.


"Sebenarnya Mama kurang enak badan, Mama demam sedikit juga sakit kepala,tapi kuat kok antar Aira ke sekolah tapi Mama nggak turun dimobil saja ya...terus Aira ajak teman temannya ke mobil dan kenalin sama Mama ya... biar mereka semua tahu Mama Aira sudah datang"


Aira tersenyum dengan polosnya tanda setuju,senyum yang membuat hati Aryanti begitu teriris.


# Mantap episode panjang, 2 episode di sekaligus kan ! di tunggu comment nya ya...salam!

__ADS_1


__ADS_2