
"Sayang coba lihat sini dari sini kita besok bisa melihat pemandangan yang begitu indah saat kita membuka mata di pagi hari semoga cuacanya besok begitu cerah, sekarang yang kita lihat hanya kelip lampu di ujung sana tetapi besok kamu akan terpesona saat membuka mata. Vila ini paling dicari sama siapapun yang sudah tahu dan pernah ke tempat ini karena view nya yang sangat cantik."
"Kamarnya lumayan bagus Mas walau hanya vila bukan sekelas Hotel."
"Mas apa kita akan membuka jendela ini terus sepanjang malam?"
"Owh nggak sayang sekarang juga ayo kita tutup,tetapi karena aman dari pandangan luar kita biarkan gordennya terbuka biar pagi yang indah menyapa kita."
"Mas yakin?"
"Yakin apa?"
"Yakin nggak di tutup?"
"Kenapa malu ya? ya sudah kita tutup saja dan nanti pagi kita buka lagi."
Aryanti menghampiri suaminya menyentuh dada dan pundaknya satu tangannya menarik resleting jaket Adrian dan mengelus wajah dingin suaminya dengan sebelah tangannya, Adrian menunduk mengecup dada istrinya yang sudah terbuka belah atasnya.
"Sayang."
"Hemght"
"Aku merindukan saat pertama kali menyentuhmu di awal pernikahan kita."
"Aku merindukan saat mas marah dan cemburu, aku menikmati kemarahan itu menjadi satu kepuasan tersendiri saat Mas melampiaskannya dengan sentuhan yang agak kasar."
"Kok selera kamu jadi berubah? bukankah selera wanita adalah kelembutan?"
"Tapi saat marah Mas terasa gagah dan bergairah, aku menikmati sentuhan itu."
"Masa ?"
"Heemght"
__ADS_1
"Kamu lagi-lagi nggak telephon ke rumah,ini sudah di kamar malah sudah malam." Adrian mengingatkan kembali tapi Aryanti begitu sibuk dan menjawabnya hanya dengan senyuman,suasana senyap dingin membuat keduanya tenggelam dalam perpaduan tanpa jarak, kerinduan suami istri di tengah kesibukan sehari hari dalam suasana baru mereka saat ini.
"Lihat sudah jam sepuluh pasti sudah tidur." Aryanti melepaskan ciumannya berdua masih sambil berdiri di dekat jendela.
Adrian mengecup leher istrinya yang pakaiannya hampir tanggal, dengan nafas tersengal menarik istrinya mendekat ke tempat tidur sekilat membopong dan membaringkannya, dengan tatapan nakalnya Adrian menyentuh menyelusuri dari ujung kaki sampai ujung kepala tubuh polos istrinya dengan mulutnya.
"Kamu begitu lembut sayang,tapi kamu menginginkan permainan kasar,kamu benar-benar nakal."
"Mas begitu kuat kalau dalam hal ini."
"Tapi kamu senang dan menikmatinya kan?"
"Iya dong."
"Kita mulai babak pertama malam ini ya."
Aryanti mengalungkan kedua tangannya dengan pasrah siap menerima sentuhan selanjutnya.
"Sayang mau tidur? pakai dulu bajunya nanti masuk angin" Aryanti membuka matanya dan malah memeluk kembali suaminya, "Aku capek Mas."
"Aku pakaikan ya bajunya mau?"
Aryanti tak menjawab hanya diam saat Adrian memakaikan kembali satu persatu pakaiannya dan Adrian mengecup sekilas bibir istrinya yang mulai memejamkan matanya dalam selimut.
Adrian bangkit memakai celana boxer nya dan duduk di sofa kecil sambil menuangkan air minum di gelas, matanya menatap istrinya yang lelap sehabis kecapaian bercinta dengannya, Adrian merasa sedikit aneh akan selera istrinya yang mulai berubah seperti begitu menikmati saat bercinta kala dirinya melakukannya saat marah, padahal saat seperti itu dirinya melakukan dengan emosi dan tanpa perhitungan tapi aneh Istrinya begitu menikmatinya.
Adrian tersenyum memandang istrinya yang tidur begitu lelap sampai tidak bergerak sama sekali, puas rasa Adrian memberikan puncak kenikmatan bersama yang mungkin tidak akan dirasakan kalau mereka bercinta di kamarnya tempat tidur yang itu-itu saja.
Terkadang Andrian punya ide dan hasrat yang di katakan istrinya bisa di bilang gila selalu ingin tuntaskan keinginannya nggak tahu itu di kantor, atau siang hari di rumah saat istirahat dengan mengunci pintu dan menarik istrinya ke dalam kamar karena menurut Adrian keinginannya selalu tertunda setelah hadirnya seorang anak selalu menjadi keinginan saja tanpa terealisasi dan ada saja halangannya.
Rasa kantuk belum datang pada Adrian,hatinya sibuk memikirkan keinginan Istrinya yang baru saja di sampaikan padanya, keinginan yang sangat aneh dulu dia menginginkannya dengan sangat untuk bisa tinggal dan menetap di Bali. Tapi wajar juga apalagi bercermin kepada kedua orang tuanya kenapa tidak betah di Bali kenapa tidak betah di Pangandaran atau di salah satu hotel di mana saja mereka bisa tinggal mungkin yang mendasar adalah itu lebih ke kekeluargaan dan lingkungan yang memberi ketenangan.
Tak apa suatu hari kita pindah dan menetap di Bandung karena itu adalah tempat kita dan orangtua kita ada di sana dan mungkin itu adalah tempat terakhir yang diinginkan istrinya.
__ADS_1
Apalagi sebentar lagi Alinea akan sekolah dan Aryanti tak ingin pindah-pindah lagi karena akan mengacaukan memori masa kecil anak, pindah ke sini pindah ke sana dengan teman baru lagi penyesuaian lingkungan baru lagi, dan Aryanti mungkin telah memikirkan jauh untuk masa depan anak dan itu memerlukan adaptasi yang cukup panjang.
Bagi Adrian dan Aryanti tinggal di pulau Bali menempati vila keluarga dan bekerja di lingkungan itu adalah suatu kenikmatan tetapi bagi Alinea anak mereka hidup hanya dengan orang dewasa dalam pagar tinggi bangunan megah kamar kamar Hotel tidak punya tetangga dan teman sebaya itu menjadi pemikiran Aryanti yang sangat mendasar.
Alinea belum punya teman bermain, belum mengenal siapapun selain di lingkungannya sendiri Papa Mamanya pengasuh den kedua orangtua mereka dari kedua pihak yang jarang mereka juga bertemunya.
Mungkin itu yang mendasari Aryanti berpikir lain untuk hengkang dari Bali dan ingin menata masa depannya untuk Alinea.
Ingin Aryanti menanamkan masa kecil terhadap Alinea seperti dirinya dulu memiliki teman masa kecil memiliki lingkungan dan bisa bersekolah dengan teman bermainnya.
Atau mungkin juga kejadian kemarin-kemarin yang membuatnya trauma? entahlah mungkin juga ataupun alasan lainya bisa saja menjadi pertimbangan.
Adrian juga berpikir dirinya juga memang setelah menikah menjadi begitu terasing begitu juga istrinya, yang di hadapi setiap hari adalah pekerjaan dan pekerjaan, tak satupun teman dirinya ataupun Istrinya yang masih berhubungan semua seakan tutup kontak, yang menjadi pengisi hidup dan hari harinya hanya pekerjaan istri dan anaknya.
Adrian tersenyum mungkin kalau pindah dan menetap di Bandung akan ada salah satu temannya atau teman Aryanti yang nyambung kembali menceriakan hari-hari mereka. Satu kerinduan juga buat Adrian dan pastinya buat Aryanti juga.
Adrian merebahkan badannya di samping istrinya yang terlelap, mengusap usap kepalanya dan punggungnya.
"Bangun dong sayang lelap amat tidurnya. Kamu sudah tidur satu jam lebih lho,kalau mau tidur di rumah saja bukan di sini." Aryanti membuka matanya dengan malas dan perasaan enggan masih menikmati perasaan posisi enak banget tidur habis bercinta di balik selimut tebalnya.
.
.
.
.
Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.
Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
__ADS_1