
Pertemuan Jihan dan Adelia begitu menghadirkan suasana baru bagi Jihan dan harapan baru buat Adelia yang mendapatkan kondisi rumah tangga sahabatnya seperti yang jauh dari bayangannya, kenyataannya dengan permasalahan sepele mereka berpisah, mereka mengorbankan anak mereka mempertahankan ego masing-masing yang padahal mereka sendiri sama-sama menginginkan kedamaian dalam rumahtangga.
"Apa kabarnya Kakak lo Del?" tanya Jihan, itu pasti pertanyaan yang sudah Adel duga, Jihan selalu ingin tahu khabar kakaknya.
"Kak Adrian, Kak Aryanti baik-baik saja, rumahtangga yang begitu jadi impian semua orang, mereka begitu serasi dan harmonis menjalani rumah tangga bahagian dengan keluarga kecil mereka. Terkadang gue juga iri terhadap mereka anaknya baru satu begitu cantik dan mereka tinggal di pulau impian di pulau Bali setiap hari yang mereka lakukan banyak hal yang sangat menyenangkan, menikmati kebersamaan mereka."
"Mereka tinggal di Bali? bukan di Pangandaran?" tanya Jihan merasa kaget karena setahu Jihan Adrian dan Aryanti tinggal di Pangandaran.
"Sudah lama mereka tinggal di Bali, mengelola Hotel bagian mereka dan menempati vila keluarga Surapraja, Makanya lo liburan sana ke Bali mereka semua orang baik, gue kemarin bareng liburan sama Linda asisten Kak Aryanti waktu masih di Pangandaran, mereka baru menikah jadi kami seru-seruan di sana." jawab Adel begitu antusias.
Jihan lagi-lagi diam begitu lama dirinya tak melakukan liburan dan menikmati kebersamaan dengan suami dan teman-temannya.
Terlalu lama dirinya mengurung diri hanya dengan rasa egonya saja, memikirkan orang lain yang belum tentu orang Iain itu memikirkannya dan juga perduli pada dirinya.
Selama ini yang ada dalam pikiran Jihan, Aryanti dan Adrian masih di Pangandaran. Dalam pikirannya lagi, suaminya masih selalu berhubungan dengan Aryanti walaupun mereka hanya berhubungan secara pekerjaan, itu yang selalu mengganggu pikiran jeleknya.
Ternyata selama ini apa yang di sangkakan pada suaminya Habil Ismail salah semua, semua itu hanya kecemburuan yang tanpa alasan sama sekali.
Menyadari kebodohannya sendiri Jihan berniat ingin ikut bareng Adel sama Fath ke Pangandaran, biar sedikit ada alasan kalau sama sahabatnya sendiri.
Jihan menyadari apa yang selama ini ada dalam pikirannya semua salah, orang lain mungkin tak memikirkan dirinya tapi kenapa dirinya masih saja berkutat dengan rasa yang sebenarnya sudah berlalu, mereka bahagia sedang dirinya menderita sendiri dengan rasa yang tak beralasan dan di ciptakan sendiri.
Mengingat ucapan Adelia dirinya yang sekian lama tak berhubungan baik dengan suaminya, baik hubungan suami istri atau secara harmonis sebagai keluarga membuat Jihan merasa bersalah. Juga sekaligus takut, takut Kak Habil berpaling ke lain hati mencari kenyamanan yang tak di dapatnya dari keluarga dan dirinya sebagai istri.
Memang benar apa kurang suaminya? baik, pengertian, sayang, sudah memberinya kebahagiaan anak yang tak terhingga, tapi kenapa dirinya menyia-nyiakan nya?
__ADS_1
"Rasanya gua juga kangen Pangandaran Adel." lirih suara Jihan. Mata Jihan menerawang hampa.
"Kangen Pangandaran apa kangen bapaknya Zaid? makanya bareng gue ntar ke sana ya," ajak Adel begitu antusias.
"Boleh, kita liburan bersama Adel, sepertinya Zaid akan senang kalau ketemu lo nanti."
"Yang senang bukan Zaid liburan sama gue, tapi lo sama suami lo yang harus bahagia! kalau lo sama suami bahagia anak nggak usah di tanya!"
"Bener kata lo Adel, gue nggak sayang Zaid, karena keegoisan gue."
"Berhentilah mengikuti pikiran dan khayalan yang sebenarnya nggak jelas itu Ji, apa yang lo pikirkan tentang suami lo itu hanya efek dari masa lalu yang selalu tak bisa lepas dari kehidupan kita, tanggalkan semuanya. Kita hidup udah masa sekarang dan masa depan kalau kita terus berpikir ke sana kapan kita majunya?"
"Mungkin gue salah Adel, tak punya pikiran jauh kayak lo, gue hanya memikirkan sesuatu yang tak mendasar samasekali, hanya emosi dan cemburu yang tak beralasan. Gue sebenarnya hanya terbawa perasaan gamang dan galau perasaan awal hati gue pada Kak Habil."
"Sudahlah, sekarang nggak usah berpikir macam-macam lagi, hanya suami anak dan masa depan lo dengan mereka. Pokoknya gue nggak bisa tenang kalau lo belum baikan sama Pak Habil."
"Emang lo nggak mau kalau gue berharap rumahtangga lo bahagia dan kembali normal?"
"Bukan itu, gue jadi sadar sekarang, kalau lo sama Kakak lo sama baiknya, jujur gue dulu mencintai Kakak lo dan berharap kita bisa jadi sodara. Tapi harapan tak seindah bayangan dan khayalan, ternyata gue bukan yang terbaik buat Kakak lo, terbukti kita nggak jadi ipar juga kita tetap jadi sodara." Jihan tersenyum, karena dirinya sadar kini bukan saatnya mengikuti kata hati dan perasaannya, kini sudah ada anak dan suami yang semua butuh pengorbanan dirinya.
"Gue emang nggak berharap jauh seperti itu Ji, karena gue juga mau Kak Aryanti yang telah begitu sabar ngadepin Kak Adrian sejak awal hubungan mereka. buktinya kita sekarang juga merasa seperti sodara kan?"
"Iya Adel terimakasih banyak lo sudah sedikitnya membuka hati gue sekarang, gue merasa jadi orang paling bersalah dan berdosa terhadap suamiku sendiri dan juga dosa terbesar dosa pada anakku."
"Sudahlah Ji, yang penting kita ada niat baik untuk merubahnya, yang gue harapkan hanya kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga lo. Jangan sampai orang orang se-intelek lo masih bisa terkecoh dan terganggu oleh kerikil-kerikil yang yang bersifat cemen dan cengeng seperti itu."
__ADS_1
"Lo salah Adel, se-intelek apapun orang kalau berurusan dengan perasaan dan hati tetap akan merasakan dimana emosi kadang mengalahkan logika."
"Masa kuliah kita dulu benar gue kagum sama kepintaran lo begitu super banget dalam bergaul juga dalam mengemukakan pendapat jago argumen apapun, lain lagi sama gue yang begitu cuek dengan hal-hal yang begituan, makanya gue merasa heran saat mendengar rumahtangga lo seperti itu, ternyata yang gue tahu permasalahannya hanya sepele seperti itu. Lo telephon anak ganteng lo ke sini cepet biar gue culik anak lo!"
"Lo sama Fath sudah cek ke dokter apa belum? masa tiap hari tiap malam lo bulan madu melulu bahkan durasi lo sama Fath sudah seperti minum obat tiga kali semalam plus siangnya masih belum bisa ada hasilnya?" Jihan tersenyum menelisik Adel yang masih kelihatan langsing dan cantik tak banyak berubah dari masa mereka bersama dulu di Australia.
"Cek untuk awal sudah berapa kali cuman untuk chekup secara mendetail sampai tingkat akurat aku belum menyempatkan diri."
"Lo kelihatan subur banget, sekali tancap langsung jadi!"
Haaaaaaaa .... lo bisa aja!"
.
.
.
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
__ADS_1
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏