Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Senangnya di rumah ortu


__ADS_3

"Ibu senang melihat kalian begitu akur dan bahagia, juga waktu yang kalian sempatkan berbulan madu lagi ke sini. Apa khabar besan Ibu di Malaysia sana Nak Fath apa mereka baik-baik saja?"


"Baik Bu kemarin juga sampaikan salam dari Ibu Bapakku buat Bapak Ibu di sini."


"Iya Nak Fath, terima kasih dan sampaikan juga salam kembali dari sini."


"Iya Bu."


"Usahanya masih lancar di sana Nak Fath?"


"Alhamdulillah Bu semenjak Adel ikut membenahi manajemennya pekerjaanku terasa ringan dan yang pasti banyak kemajuan. Karena kita sudah di pisah sama orang tuaku untuk bisa mengelola sendiri jalannya bisnis yang dikasihkan mereka."


"Oh jadi kalian sudah belajar mandiri rupanya ya?"


"Iya Ibu."


"Tapi Ibu minta terutama sama Nak Fath ingatkan Adelia ya jangan sampai dia kecapean, bekerja boleh-boleh saja selagi untuk mengisi waktu tetapi pada dasarnya perempuan adalah ratu dalam rumah tangga, kalau memang suami sudah mapan perempuan tidak harus capek-capek ya kan Nak Fath?"


"Iya Bu, sebenarnya bekerja juga bukan kemauanku tetapi dia yang maksa minta daripada jenuh di rumah katanya menunggu suami pulang kantor jadi apa salahnya. Jadi kami bisa berangkat sama-sama dan pulang bersama-sama dan kami lebih bisa saling menjaga."


"Ya ya ya dan itu kalian tidak akan kesepian lagi kalau nanti pada saatnya kalian sudah dikaruniai anak dan kamu sendiri Nak Adelia akan disibukan oleh anakmu sendiri."


Adelia memandang Fath mungkin dengan perasaan bersalah karena sampai saat ini dirinya belum bisa hamil tapi apa daya keinginannya bukan ditunda atau dihalangi oleh mereka tetapi mungkin belum saatnya saja.


Fath mengangguk menjawab pandangan istrinya menandakan dia memberikan dukungan, biarlah orang berharap orangtuanya berharap dan mereka berdua juga sangat berharap dan harapan itu suatu saat semoga menjadi kenyataan.


Fath mendapatkan sinyal kalau Istrinya mulai tidak betah di sini hanya karena hal sensitif yang di rasakannya, walaupun Ibu mertuanya tidak langsung ke titik permasalahan tetapi mereka berdua menangkap sinyal kalau mereka begitu berharap akan hadirnya seorang cucu bagi mereka, Dan harapan itu sama juga seperti harapan mereka yang mendambakan hadirnya anak di tengah-tengah mereka.


Acara renang dan makan cilok selesai sudah melalui hari ini dengan kebersamaan dan keceriaan, tetapi Adelia masuk ke kamar dengan muka cemberut.


Fath mengerti kegelisahan istrinya hanya karena sedikit di singgung soal anak oleh Ibunya sendiri.


"Kenapa sih semua orang selalu memojokkan seseorang yang belum hamil dalam pernikahannya? Apakah ada di dunia ini seorang perempuan yang tak ingin hamil dan punya anak?"


"Ssssssssst...kenapa sih kok jadi gampang ngambek begini, Ayo kita coba lagi sekarang dan kamu harus tambah durasinya kata Bapak juga tadi waktu habis main catur."


"Fath!? semua laki-laki sama saja nggak mengerti perasaan orang maunya enak aja ,nggak kamu nggak Adrian nggak Bapakku sendiri, pokoknya aku mau pulang ke Malaysia!"


"Lho lho...kok ngambeknya jadi keterusan katanya mau ketemu Jihan. Kita tanya Jihan siapa tahu dia punya resep atau punya gaya yang manjur ala Arab, konon katanya orang Arab anaknya banyak-banyak siapa tahu Jihan udah menguasainya."


"Alah si Jihan sok jual mahal belum tentu dia juga udah punya anak."


"Siapa tahu dia sudah punya empat anak heee..."


"Yang logis aja Fath masa nikah duluan kita si Jihan belakangan sudah punya empat anak?"


"Siapa tahu dia subur banget jadi sekali hamil isi dua, lalu dua lagi"


"Lucu juga ya kalau memang gitu anak kembar Fath." Adelia memeluk Fath dan Fath mengusap dan mencium istrinya dengan sepenuh hatinya.


" Jadi nih tambah durasinya?"


"Aaaaah...katanya mau jalan jalan kamu kok ***** banget sih?"

__ADS_1


"Itu lihat jam masih setengah empat, kita masih punya satu jam setengah waktu leluasa untuk satu ronde, kata orang bagus berhubungan suami istri sebelum ashar dan sangat di anjurkan."


"Suka ngarang aja deh kamu Fath, kalau tergoda,ya tergoda saja saat aku pakai swimsuit tadi kan?" Fath tak menjawab lagi dan mulutnya langsung membungkam mulut istrinya sembari tangannya menarik tubuh istrinya dan menidurkannya dalam sekejap mereka telah melakukan pemanasan yang sangat mengundang gairah.


Semua tanggal dan tinggal melakukan satu sesi lagi.


"Fath kamu kunci pintunya nggak?" Adelia dengan nafas ha heh hoh.


"Nggak tahu aku lupa." Fath sama dengan nafas terputus-putus nya.


"Iiiiiiiiiih...lihat dulu sana, kamu ceroboh amat nanti kita jadi tontonan gratis Bi Ani atau Ibuku yang suka nyelonong saja masuk."


"Tanggung sayang."


"Aaaah...aku nggak mau sana kunci dulu!" Mau nggak mau Fath turun dari tubuh Istrinya dan mengunci pintu kamarnya.


"Nyalain AC-nya aku kepanasan nih."


"Ya ampuuuuun tinggal pijit doang Non itu remote nya di kepalamu."


"Kamu yang mau jadi kamu yang harus lakukan semuanya, aku tinggal terima beres saja."


"Iya iya...sekarang apalagi?"


"Kamu maunya belah mana dulu ya buka sendiri."


"Kalau pekerjaan itu aku paling senang melakukannya heee... nggak di suruh juga aku pasti buka." Fath dengan semangat membuka underwear yang masih melekat di tubuh istrinya.


"Selimut, selimut mana?"


"Ya seimbang lah dengan permintaanmu dari semalam kamu bisa ngitung nggak?"


"Heeee... malam dua kali, pagi satu kali, empat kali sama ini."


"Malam nanti masih minta?"


"Pasti"


"Tanya Bi Ani cariin tukang urut!!!"


"Kan yang ini belum tuntas sayang!"


"Kuat nggak kuat tuntaskan!"


"Kayak kampanye saja, tuntaskan lah emang aku sudah jadi suami yang loyo apa? aku masih kuat."


Fath memperlihatkan kegagahan gairah mudanya, hasrat yang membara, asmara yang menggelora, dan rasa cinta yang mendalam menyempurnakan setiap pertarungannya di atas tempat tidur membuat Adelia seperti menggelepar tak kuasa menolaknya.


Hanya menerima semua dan tak bisa dirinya berbuat banyak selain mengimbangi dengan sama sama berhasrat dan menjadi candu yang begitu di nanti bagi Adelia.


"Bi Bangunkan Adel sudah sore gini apa nggak pada sholat ashar?"


"Mungkin sudah Bu di kamarnya."

__ADS_1


"Alah Ibu nggak yakin dengan mereka, pastikan dulu sana kalau mereka sudah bangun apa belum?"


Mau tidak mau akhirnya Bi Ani naik juga ke atas dengan ragu mengetuk kamar Neng Adelia seperti yang diperintahkan Ibunya.


"Tok tok tok...Neng, kata Ibu bangun sudah sore ashar dulu."


"Tok tok tok...Neng, kata Ibu bangun sudah sore ashar dulu."


"Neng kamu di bangunin tuh." Fath memeluk istrinya yang masih belum pakai pakaian.


"Jawab dulu biar Bi Ani nya pergi."


"Iya, Bi aku baru bangun dan masih di tindih susah bergerak nih."


Suara Bi Ani tak kedengaran lagi mungkin sudah turun ke bawah.


Fath mencium pipi istrinya berkali-kali dan melihat kedalam selimut tubuh mereka yang masih sama sama belum berpakaian, Adel merasa malu dan mendorong Fath menjauh tapi Fath malah menarik kedua tangan Adel mereka jatuh sama sama dari tempat tidur.


"Aaaaaaw...sakit Fath."


"Lagian kamu ngapain dorong aku?"


"Kamu yang ganggu aku."


"Aku cuma lihat."


"Kamu tuh ngeres aja pikirannya."


"Sama seperti kamu juga." Fath nggak mau kalah.


"Ya sudah, sini biar aku gendong."


Fath menggendong istrinya dan di tidurkan kembali di tempat tidur ,tapi Adel malah bangun dan memijit sebelah kakinya yang terasa sakit.


Fath menyodorkan pakaiannya dan Adel masih cemberut.


"Cup cup...sayang sudah ya maafkan aku, aku yang salah ayo kita mandi"


.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏

__ADS_1


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2