
Adrian tak ada yang bisa dilakukannya selain memegang tangan istrinya saat kontraksi datang,dan Aryanti seakan ingin mendapat suntikan kekuatan dari suaminya memegang dan selalu memanggil nama Adrian.
Adrian kelihatan begitu stress dalam ruangan dengan suasana semua tegang dan panik termasuk Mamanya Aryanti, Adrian melihat orang yang sangat disayanginya merintih menahan rasa sakit hatinya begitu perih juga,seandainya bisa di bagi semua rasa itu dengan siap dirinya menerima rasa sakit itu untuk orang yang sangat di cintainya.
"Tarik nafaaaaaaaas dan hembuskan"
Suara suster memberi arahan pada Aryanti,Aryanti begitu pasrah dan sabar menjalaninya kelihatannya semakin Adrian merasa sakit dalam dadanya,Aryanti begitu sabarnya mengikuti instruksi suster,kalau buka istrinya yang terbaring dengan keringat membanjiri dari ujung kepala sampai ujung kaki mungkin Adrian tak akan sanggup, pemandangan yang begitu privasi seorang Ibu mau melahirkan dengan di tutupi selimut kaki di tekuk dalam keadaan ngangkang,bersimbah keringat sampai gigi kedengaran gemeretuk menahan rasa sakit, hati siapa yang tidak teriris.
"Mas Aku semakin lemas..."
"Sabar sayang, berdo'a walau dalam hati juga,Aku ada di sini..."
"Ma Aku mau minum..."
"Ya Nak, ini teh manis hangat semoga menjadi tenaga buatmu"
Adrian mengangkat kepala Istrinya dan Mamanya menyodorkan sedotan ke mulut Aryanti dan meminumnya hampir habis satu gelas gede,Adrian mengelap keringat di dahi Aryanti dan mengusap rambutnya yang basah.
Tak henti hentinya Aryanti meringis dan kini semakin sering dalam jeda waktu menit,
Mamanya dengan sabar dan telaten selalu membisikan kata kata penyemangat dan Adrian juga selalu membisikan kata kata sayangnya yang tiada henti sampai pada pemeriksaan dokter terakhir dokter memanggil Bidan dan mereka menghampiri Aryanti yang semakin hebat merasakan sakit dan mulasnya.
"Sabar Bu ya ini sudah hampir sempurna sudah masuk pembukaan delapan,jangan terlalu banyak bergerak akan semakin cepat waktunya dan tidak akan lama lagi...
"Ayo ambil nafas panjang dan hembuskan berpegangan pada apa saja..."
"Ambil kekuatan dalam diri Ibu,sambil berdo'a,ambil kembali nafas dalam....tahan di dada keluarkan....dan...
__ADS_1
"oe oe oe....oe oe oe" terdengar suara tangisan bayi Aryanti masih mengatupkan mulutnya,matanya terpejam tangannya masih mencengkram kemeja Adrian sampai kancingnya pada mental entah ke mana,tiga kancing bajunya copot saking kencangnya Aryanti berpegangan tangan padanya,
Aryanti begitu menikmati suara tangisan kecil itu yang begitu meresap ke dasar sanubarinya.
Perlahan Aryanti melemah dan lemas yang di rasakan seperti tak bertenaga lagi selain yang di rasanya Adrian suaminya memeluknya bersimbah airmata sambil membisikan kata kata kebahagiaan,Aryanti terkulai kehabisan tenaga
"Alhamdulillah sayang, terimakasih Anak kita telah lahir" Aryanti tak mampu menjawab atau sekedar mengangguk, dirinya seperti dalam mimpi yang melayang layang antara kenyataan dan khayalan masih dengan memejamkan matanya,
hanya bulir airmata menetes di ujung bola matanya yang terpejam.
Sampai pada saat Mamanya memberi selamat Aryanti membuka matanya.
"Buka matamu Nak sayang selamat kamu sudah menjadi Mama...semua sudah terlewati,anakmu sehat.
Mamanya mencium kening Aryanti dan Adrian sujud di lantai,suster dan bidan sibuk mengurus bayi yang menangis dan di bawa ke ruang perawatan bayi dan di periksa lebih lanjut oleh dokter,di timbang,juga di ukur panjangnya dan dokter memberi petunjuk dalam pengurusan Ibu paska melahirkan.
"Pak Adrian sama Ibu tolong keluar dulu Ibu Aryanti mau di bersihkan dulu dan akan di pindahkan ke ruang perawatan silahkan Bapak sama Ibu tunggu di luar"
"Baik suster..." Adrian melepaskan pelukannya dan mencium pipi istrinya dan keluar menggandeng Mama mertuanya.
Diluar Adrian sudah di tunggu suster dan dokter yang menggendong bayi sudah di bungkus kain.
"Pak Adrian seandainya anda keluarga muslim silahkan bayinya di adzankan dulu di sebelah kanan telinganya dan Iqamah di sebelah telinga kirinya"
"Baik dokter"
Adrian Adzan untuk bayinya yang baru lahir di saksikan Pak Edi dan Mama mertuanya,terasa merinding bulu bulu Adrian,saat selesai Meng adzankan dan meng Iqamah kan Anaknya,lalu pertama kali Adrian mencium dan mengelus kepala bayi kecil itu dengan rambut lembutnya, sebelum kembali suster membawanya ke ruang perawatan khusus bayi.
__ADS_1
Lega se lega leganya hati Adrian saat duduk di ruang tunggu klinik,dan Mama mertuanya menyodorkan sebotol air mineral dan Adrian berterimakasih lalu membukanya dan langsung meminumnya dalan beberapa tegukan.
"Pak Adian saya sudah khabari Bapak sama Ibu,mereka dalam perjalanan ke sini"
"Ya terimakasih Pak Edi,juga Mama khabari Bapaknya Aryanti apa Mama sudah mengabarinya ?"
"Iya sudah Nak Adrian,mungkin Bapaknya baru kesini besok"
"Ya ya ya..."
"Ya ampun... terimakasih banyak Ma...juga pada Pak Edi,semua begitu mendukung saya sama istri saya,Ya Allah terimakasih telah memberikan anugrah tak terkira buat kami,dan Aryanti telah merubah hidup saya Pak Edi..."
Pak Edi mengerti semua Bapak tak akan percaya akan semua yang terjadi di depan matanya,memiliki buah cinta sesuatu yang tak ternilai harganya,dan menyaksikan istri bergelut antara hidup dan mati membuat hati ikut tersiksa seakan berontak ingin memberikan apapun dan membantu atau sekedar meringankan rasa sakitnya seandainya bisa,menyadari semua itu itu Adrian menenggelamkan muka dan kepalanya di pangkuan Ibu mertuanya,dan Mamanya Aryanti mengusap usap punggung menantunya dan Pak Edi menepuk nepuk bahu Adrian.
"Selamat ! sekali lagi Pak Adrian,juga pada Bu Aryanti,anda menjadi seorang laki laki sejati,seorang suami yang sempurna,anda sekarang telah berhasil menjadi seorang Bapak,dan menjadikan Pak Surapraja kakek dan nenek juga mertuamu" Pak Edi sekali lagi mengucapkan selamat.
Adrian bangkit dan mengangguk seraya tersenyum.
Perasaan baru kemarin Adrian menjalani semuanya,menjalani segalanya dengan Aryanti, rentetan perjalanan cintanya,juga perjalanan hidupnya tergambar jelas,saat dirinya dan Aryanti diparterkan dalam bekerja,
saat perjalanan pertamanya dari Bandung ke Pangandaran mengawali kerja membenahi Hotel,saat menyatakan perasaannya di Pantai,dan menjalani juga melewatkan setiap senja yang begitu indah dan menjadi moment paforit mereka berdua,pertama kali menginjakkan kaki di Pangandaran,menjalani hari hari indah dengan bunga bunga cinta,dan merasakan kerinduan yang tak tertahankan saat mereka berpisah jauh,sampai akhirnya mereka resmi menikah dengan buncahan menggunung perasaan cinta,menjalani penantian hadirnya anak dan melewati kehamilan dengan antusias tinggi sampai pada hari ini memori sejarah telah menuliskan lahirnya buah hati mereka,Pangandaran begitu membekas di hati Adrian juga Aryanti semuanya ada di sini menjadi catatan perjalanan penting dalam hidup mereka, menorehkan sejuta kenangan indah tak terlupakan.
Kebahagiaan yang sempurna bagi Adrian,memiliki Istri Aryanti yang sangat di sayangi nya juga di sayangi keluarganya,Aryanti adalah titik awal perubahan hidupnya,membawa dirinya pada dunia yang berbeda yang di jalani Adrian sebelumnya yang hidup bebas dengan limpahan uang yang tinggal gesek,kasih sayang kedua orangtuanya tak membuatnya merasa cukup,hidup bebas di luar tanpa memikirkan masa depan dan pendidikannya,sampai datang Aryanti dalam kehidupannya merubah total jalan hidupnya,dan satu lagi merubah pandangan orangtuanya dengan memberi pendidikan dan ultimatum yang keras dan pilihan yang Adrian tak mampu memilih hanya sanggup menjalani.
Seorang suster menghampiri Adrian, Pak Edi dan Mamanya Aryanti yang lagi bersukacita dengan perasaannya masing masing.
"Pak Adrian,Bu Aryanti sudah di ruang perawatan,sudah bisa di tengok dan di temani,Bapak sama Ibu mari ikut saya..."
__ADS_1
Adrian bangkit sambil tersenyum sumringah dan menggandeng tangan Ibu mertuanya berjalan mengikuti suster,begitu jauh perasaan Adrian berjalan lurus di lorong klinik yang bulak belok,ingin segera bertemu dengan istrinya dan mengucapkan selamat dan memeluknya dengan kecupan sayang.