Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Menunggu maafmu


__ADS_3

Sejak naik mobil sampai sudah separuh perjalanan Adrian hanya diam tidak berkata hanya diam tidak bersuara dan tidak bicara sepatah kata pun baik kepada Pak Daud waktu mobil istirahat di rest area ataupun kepada kedua orangtuanya,mobil mereka beriringan Pak Daud dengan sopirnya, Dan Pak Surapraja dengan sopir pribadinya Pak Agum sepanjang perjalanan terasa kaku, hanya Ibunya Adrian yang selalu bertanya takut Adrian merasakan apa-apa atau menginginkan sesuatu walaupun tanpa jawaban sekalipun Ibunya tetap aja bicara dan bertanya.


Ditanya mau istirahat,mau makan atau barangkali mau ke toilet semua di jawab dengan enggak,kedua orang tuanya sangat paham dengan sifat anaknya Adrian, Adrian kelihatan marah kesal dan kecewa tapi itu entah untuk siapa entah marah pada Aryanti atau dirinya sendiri atau kepada Livia teman temannya yang lain ? Adrian entah marahnya ini untuk siapa mungkin marah pada kenyataan dirinya harus berpisah dengan Aryanti tak bisa menunggui Aryanti dengan keadaannya yang seperti sekarang ini.


"Bicaralah Nak biar Ibu tahu apa mau mu,kalaupun mau nelepon bicara sama Nak Aryanti ini ponsel Ibu bicaralah..."


"Kalau nggak makan apa apa gimana kamu mau sehat dan sembuh gimana kamu mau cepat ketemu lagi Nak Aryanti,saling doakan biar sama-sama cepat sembuh cepat beraktifitas lagi seperti biasa dan meneruskan lagi semua rencana yang tertunda"


"Makan sedikit brownis nya ya,mau Ibu suapi apa makan sendiri ? kamu sebenarnya marah sama siapa ? Ibu Bapakmu ? Nak Aryanti ? teman temanmu itu atau pada dirimu sendiri ?"


Sampai tanjakan Nagreg,masuk ke Bandung Adrian masih saja nggak bicara,malah Pak Surapraja yang bicara kepada Pak Agum.


"Pak Agum langsung saja ke Rumah sakit Hasan Sadikin mumpung masih sore biar Adrian langsung bisa ditangani sama dokter"


"Baik Pak..."


Sampai di Rumah Sakit yang dituju hari menjelang sore sudah mendekati ke arah Magrib dan benar adanya dokter yang dituju prakteknya pas habis magrib jadi sangat kebetulan Adrian bisa langsung daftar dan bisa langsung mendapat pemeriksaan dari dokter spesialis.


Menurut pemeriksaan dan diagnosa dokter tulang rusuk Andrian tidak begitu parah dan menghawatirkan hanya retak karena benturan dan memar di sekelilingnya,bisa berobat jalan dan istirahat di rumah dan bisa pulang tidak begitu membahayakan cuman untuk penyembuhan mungkin perlu waktu yang agak lama, perlu kontrol yang rutin dan pemeriksaan yang teratur.


Sampai rumah sekitar jam 8.30 malam Adrian langsung menempati kamarnya, setelah sebelumnya Ibunya memaksa Adrian untuk makan barang beberapa suap yang dilanjutkan dengan meminum obat dari dokter di rumah sakit tadi.

__ADS_1


"Ini ponsel Ibu kalau memang perlu pakai, kalau mau bicara sama Nak Aryanti teleponlah,biar kamu tenang dan tahu keadaannya"


"Kamu enggak mau cerita sama Ibu? kamu maunya diem aja dan sampai kapan itu ? Nggak apa apa sekarang istirahat minum obat sudah tidur jangan banyak pikiran besok bangun biar kelihatan segar biar kamu tidak meringis ringisan lagi, luka luarnya sini biar Ibu olesin sama salep"


Ibunya Adrian mengolesi setiap luka di tubuh Adrian di tangan di kaki juga di atas paha dan sebelah betisnya, diusap-usap nya punggung anaknya dengan penuh perasaan kasih seorang Ibu yang tak ada batasnya,kasih sayang mulai dari kecil sudah gede dan sampai dewasa bahkan mungkin sampai berkeluarga juga tidak ada perubahan perasaan seorang Ibu terhadap anaknya tetap aja khawatir tetap tak percaya inginnya membatu dan mengawasi dalam segala hal dan satu lagi takut anaknya salah langkah.


"Sudah ibu tinggal dulu ya..." Andrian menatap Ibunya senyum sedikit dan mengangguk,Ibunya begitu senang baru menyahut segitu juga Adrian sudah perubahan yang sangat besar untuk usahanya sedari siang.


"Kamu yakin ibu tinggal ? Ibu mau bersih-bersih badan dulu"


Sekali lagi Adrian menggangguk pada Ibunya, dan Ibunya keluar dari kamarnya turun ke lantai bawah dan melihat Bi Ani di ujung tangga seakan mau bertanya tentang keadaan Mas Adrian.


"Bi Ani tolong Adri di kasih air minum yang agak banyak di poci aja sama gelasnya terus takutnya dia malam-malam lapar sediain apa kue kue atau apalah buat cemilan"


"Iya"


Bi Ani lalu mengambil air minum dan membawanya di baki bersama gelas ke atas lalu mengetuk pintu dan masuk karena pintu belum rapat ditutup lalu menyimpan air di meja kecil di samping tempat tidur Adrian.


Terlihat Adrian sedang bersender di tempat tidurnya dengan punggung yang diganjal bantal sambil memegang ponsel dan menimbang-nimbang nya tak menghiraukan adanya orang masuk,Bi Anipun keluar tanpa bicara apapun.


Memasukkan nomor Aryanti yang diingatnya ke ponsel Ibunya dan mencoba untuk menyambungkan,tapi tak ada respon telepon yang di tuju hanya suara operator,sedang tidak aktif dan tidak bisa menerima panggilan, diulangnya sekali lagi sekali lagi dan sekali lagi tetap saja tidak bisa menghubungi nomor itu, kesal pada operator selular yang tanpa salah apapun yang bicara sama selalu begitu,Adrian melempar ponselnya ke dinding dan mental mengenai gelas yang ada di baki dan juga poci air minum yang disimpan Bi Ani di meja tadi,semua muncrat pecah berantakan di lantai dan Adrian menarik selimutnya tanpa menghiraukan apapun.

__ADS_1


Mendengar ada suara barang pecah Ibunya naik lagi naik masuk ke kamar Adrian dan melihat banyak pecahan dari gelas dan juga ponsel yang sudah tergeletak di bawah pintu, Ibunya mengambil ponsel dan menyimpannya kembali di atas meja kecil.


"Bi Ani naik lagi bawa sapu sama pengki ke kamar Mas Adri...!"


"Kamu ini kenapa Nak ? ngomong enggak, marah marah aja kerjaannya apa kamu juga mau menyakiti Ibumu dengan pecahan gelas ini ? ini semua masalah kamu,ya belajar menyelesaikannya sendiri, Ibu kan nggak tahu masalahnya"


Ibunya keluar,gantian Bi Ani masuk menyapu semua pecahan dan bubuk kecil dari gelas yang pecah tadi.


Di ruang keluarga Pak Surapraja duduk sambil menyalakan televisi lalu Ibunya juga duduk disampingnya Pak Surapraja melirik pada istrinya yang tampak capek dan juga lelah.


"Masih nggak mau ngomong Bu ?"


"Ya seperti itu lah,malah semakin marah kelihatannya,ponsel Ibu di lempar kena gelas kosong pecah semua..."


"Sepertinya nggak bisa menghubungi dek Aryanti,biarkan saja dulu asal makan minum obat itu aja dulu"


"Iya Pak,Ibu istirahat dulu, Bapak juga jangan lama-lama nonton televisinya lihat sudah jam berapa itu ?"


"Ya ya ya...."


Adrian memikirkan omongan terakhir Ibunya tadi,memang benar ini masalahnya sendiri dan dirinyalah yang harus menyelesaikannya bukan orang lain memang benar juga dirinya harus belajar menyelesaikan masalahnya karena orang lain tidak mengerti masalahnya.

__ADS_1


Mengingat Aryanti yang begitu marah,kecewa dan sakit hati pada dirinya sampai-sampai dia tidak mau melihat ke arah wajahnya disitulah Adrian merasa marah juga pada dirinya sendiri, Melihat orang yang sangat dicintainya menangis dengan perasaan sakit hati yang mendalam dan dirinya yang menjadi permasalahan tak bisa berbuat apa-apa hanya pasrah hanya menunggu maaf dari Aryanti,


"Sayang maafkan aku..."


__ADS_2