Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Masih emosi


__ADS_3

"Semua brengsek ! Aaaaaaah... nggak ada yang becus bekerja, malah hari ketiga nggak ada khabar apapun,nggak ada tanda tanda sama sekali bagaimana ini ? bolak balik tiap hari ke polres mana hasilnya ? di cari nggak sih ?"


"Kami sudah berusaha Pak bahkan kami tungguin di kantor polisi segala...nggak mungkin kami harus camping di halaman kantor polisi"


"Lakukan apapun bila perlu di lakukan !"


"Tiap hari juga laporan kehilangan keluarga ada saja Pak Adrian bukan hanya kita,jadi semua juga di tanggapi di pelajari dulu permasalahannya, kami tiap hari juga di interogasi berdasarkan kecurigaan, mengarah ke mana,bermusuhan dengan siapa dan lain lainnya"


"Jangan bicara lagi ! jangan samakan istriku dengan orang gila,hilang ingatan,dan berkebutuhan khusus,yang menghilang dari rumah karena linglung... tapi istriku orang yang pintar, berotak cemerlang, intelektualnya diatas rata rata,jadi kita harus berfikir bukan orang bodoh yang menculik dan membawa istriku,kalau bukan untuk tujuan tertentu untuk apa ?"


Pak Daud,Pak Daman,Pak Bharata juga Komang Putri semua pada diam,tiap hari tiap malam tempat tempat yang dianggap persembunyian Made Ardika selalu di intai nya, dengan Intel polisi juga,tetapi sampai saat ini belum ada perkembangan yang menggembirakan,bahkan di kampung Belakang di rumah orangtuanya di jaga ketat takut ada yang mencurigakan.


"Masa polisi kalah dengan brengsek satu itu ? seberapa luas pulau ini bukankah polisi lebih banyak jaringan ?"


"Mas Adrian,emosi tak menyelesaikan masalah,semua ada saatnya,cobalah berserah diri pada Yang Maha Kuasa, pasrahkan segalanya dekatkan dirimu Nak,minimal kita dapatkan ketenangan,tak ada yang bisa di perbuat selain memohon yang terbaik pada Yang Maha Kuasa,saya mengerti perasaanmu,saya juga khawatir luar biasa,juga takut yang teramat sangat,Dek Aryanti sama Nak Adrian seperti Anakku, ayo kita basuh muka kita dengan air wudhu kita tundukkan sedalam dalamnya diri kita tak ada daya dan upaya selain pertolongan Nya"


Adrian lupa dirinya laki laki, hatinya begitu bimbang dan gamang,seumur hidupnya baru dirinya merasakan rasa kehilangan,sakit hati,cemas, khawatir,dan marah segala rasa yang tak berujung,Adrian menangis di pelukan Pak Daud,dan Pak Daud menepuk nepuk pundak Adrian dan Pak Daud juga berlinang Air mata merasakan kesedihannya.


"Sudah sudah...besok nggak usah ke kantor polisi lagi apalagi harus camping segala... kita tunggu khabar di sini saja sambil kita bergerilya buat lagi team baru,kita lacak dengan membawa saudaranya sebagai petunjuk arah"


Pak Daud membimbing Adrian ke Mushola yang ada di Hotel itu dan melakukan sujud juga pengakuan segala keteledoran dirinya dalam menjaga amanat yaitu istrinya,juga segala kealpaan dirinya yang datang saat di beri cobaan dan saat ada masalah dan lagi terpuruk.


Ada rasa tenang dalam diri Adrian dan duduk bersila di pinggir tembok dan bersandar, duduk pula Pak Daud di sampingnya,menarik nafas dalam dalam dan mulai bicara.


"Bukan untuk menyebar kecemasan,tapi kita memohon do'a dan keridhaan orang tua,apa tidak lebih baik Bapakmu di beritahu sama Ibumu biar datang ke sini agar dia bisa menenangkan,juga siapa tahu ada solusi lain yang lebih bijaksana,siapa tahu...Bapakmu itu ahli strategi juga suka lain sama orang pemikirannya,tapi selalu juara dalam hasil"

__ADS_1


Adrian lama berfikir,dan tak memberikan jawaban,sampai Adrian di tanya untuk kedua kalinya sama Pak Daud.


"Aku terserah Pak Daud saja mana yang terbaik Aku ikut saja,Aku juga merasa cemas saat si kecil Alinea Aku tinggal tinggalin cuma di jaga sama Bi Inah pengasuhnya"


"Ya sudah Aku merasa Pak Praja perlu tahu juga,juga aku bosan berkelit setiap saat dia telephon aku selalu berbohong tiga hari ini"


Adrian diam paling Ibunya memarahi dirinya yang teledor nggak bisa jaga anak istri dan sekarung lagi marah marah lainnya.


"Ayo kita makan dulu,kelihatan dari kemarin jarang makan dan nggak pernah kelihatan makan"


Pak Daud bangkit di ikuti Adrian mereka menuju Restourant The Praja Hotel,kelihatan Adrian makan walau sedikit tapi lumayan lah daripada enggak sama sekali.


Adrian memanggil Komang Putri ke Restourant dan Komang Putri datang nggak pakai lama dan langsung duduk di hadapan Adrian dan Pak Daud.


"Sudah makan belum ?kalau belum makan saja dulu..." Pak Daud menyapa Komang Putri.


"Coba Komang Putri ingat ingat,selama menjadi sekretarisnya Made Ardika apa Komang Putri pernah tahu relasi dari usahanya siapa bidang apa dan di mana ?"


Komang Putri berusaha berfikir dan mengingat ingat...tapi berakhir dengan gelengan kepala.


"Waktu itu yang saya urus urusan Hotel ini Pak bukan pekerjaan atau usaha yang lain milik Bli Ardika"


"Iya saya juga mengerti tapi kan siapa tahu kamu kenal salah satunya,dan sekecil apapun informasi kita jadikan bahan untuk kita teliti dan evaluasi.."


"Saya bekerja di Hotel Made Ardika jarang menerima tamu pribadinya di sini..."

__ADS_1


"Iya saya faham..."


"Aku takutnya Bli sudah membawa Bu Aryanti ke luar pulau,apalagi Bli punya jaringan travel yang lumayan banyak dengan tujuan ke luar pulau...bagaimana kalau kita datangi lagi dan minta satu satu telephon sopir sopir mobil travelnya apa pernah Bli keluar kota atau keluar pulau ?"


"Bagus itu juga sebagai masukan yang masuk akal...dan harus kita dalami"


"Satu lagi kita efektifkan pengintaian di beberapa titik yang menurut keterangan keluarganya menjadi kebiasaan nya,atau barangkali ke tempat kesehatan bukankah anaknya sakit ?"


"Dulu sempat sakit tapi mungkin sekarang sudah sehat,yang saya dengar anaknya mogok makan,mogok main dan sekolah karena meminta Mamanya datang,tapi Dayu Saraswati kan sudah meninggal..." Komang Putri sedikit bercerita menurut apa yang dia tahu.


"Kasihan juga Made Ardika, sebegitu beratnya permasalahan yang dia hadapi"


"Jangan menaruh rasa kasihan pada orang seperti itu,nggak ada yang perlu di kasihani, perbuatannya begitu menusuk jantung,yang ada orang seperti itu membusuk di penjara !!!" Adrian selalu emosi dan emosi menatap pada Pak Daud.


"Nggak ada yang membenarkan untuk perbuatannya Mas Adrian seandainya benar perkiraan kita Made Ardika yang melakukan semua ini dan Made Ardika di balik semua ini,tapi melihat permasalahan pribadinya yang begitu rumit menjadi penelaahan kita selanjutnya apa motifnya kan begitu ?" Pak Daud tetap bijaksana melihat permasalahan yang ada.


"Sabar dan tenang itu kunci berhasilnya semua kasus bisa kita bongkar,sekarang saya mau mengabari Pak Praja dulu siapa tahu ada solusi yang tidak kita fikirkan,selalu ada jalan dari pemikiran orang lain di saat kita buntu dan tak ada jalan keluar"


"Komang tugasmu ke kantor travel,minta keterangan yang sedetil detilnya tunjukkan bukti bukti yang mengarah pada Made Ardika,kalau menolak katakan kami sudah kerjasama sama kepolisian,kalau nggak pasang orang di sana untuk mantau situasi di sekeliling kantor travel itu,juga di aset aset lain seperti di vila vila sewaan simpan orang untuk mantau,juga di toko galery oleh oleh Jalan Legian...bawa security secukupnya pasang di tempat tempat dan titik titik yang memungkinkan Made Ardika interaksi dengan orang orangnya, instruksinya hari ini seperti itu kita menunggu di sini, kabarkan sekecil apapun sesuatu penemuan yang mencurigakan kami siap dengan segala kemungkinan"


"Baik Pak Daud...kami pamit berangkat sekarang"


"Bersama Pak Daman saja biar ada yang lebih bisa menyampaikan dan ada yang di tua kan"


"Iya siap Pak Daud kami pamit..."

__ADS_1


Adrian hanya mondar mandir saja ke meja kerjanya ke kaca jendela mengharap keajaiban dan mukjizat akan datang pada dirinya...wajah cantik istrinya seakan begitu dekat di pandangannya dan hal buruk selalu menghantuinya dan ujung ujungnya Adrian mengutuk dirinya yang malas menemani istrinya kala istrinya mengajak olahraga atau sekedar jalan jalan,kalau saja dirinya waktu itu mau joging pagi pasti semua tak akan pernah terjadi hal seperti ini...


"Sayang maafkan aku,aku begitu egois dengan kemalasan ku,aku tak mengerti kemauan mu,dan kini setelah semua terjadi hanya sesal yang ada di diriku"


__ADS_2