
Adrian duduk di kursi meja belajar dan memandangi istrinya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya dalam remang lampu tidur,istrinya yang telah memberinya beribu kebahagiaan pada dirinya dan kini satu lagi kebahagiaan dia lagi mengandung darah dagingnya, Adrian tenggelam dalam kesedihannya sendiri dalam penyesalan,tak ingin rasanya membuat Aryanti kecewa atau sakit hati tapi semua di luar kendalinya,dirinya begitu tanpa pikir jauh juga begitu mudahnya mengabaikan perasaan istrinya.
Aryanti merasa terusik dan perlahan membuka matanya,dan alangkah terkejutnya melihat suaminya tengah duduk menjaganya,Aryanti bangun dan menghampiri suaminya dan memeluknya, Adrian mengusap perut Aryanti dan menciumnya perlahan dan membimbing kembali istrinya ke tempat tidur dan menyelimutinya.
Tanpa kata Aryanti mencoba memejamkan matanya kembali membiarkan Adrian mengusap usap tangannya,entah dari mana Adrian harus memulai bicara dan membiarkan istrinya memejamkan matanya dan Aryanti pun begitu enggan untuk memulai bicara.
Adrian membaringkan tubuhnya di samping istrinya masih dalam diam keduanya,Adrian memeluk tubuh istrinya dan Aryanti berbalik membelakanginya dan Adrian membiarkannya dan tetap memeluknya dari belakang sampai mereka tertidur dalam kantuknya.
Aryanti bangun dan tersadar duluan, dan baru mengingatnya setelah duduk dulu sebelum benar benar bangun dan ini di rumahnya dan ada di dalam kamarnya dengan nuansa pink dan di sebelahnya masih terlelap Suaminya masih dengan baju yang kemarin pagi di kenakan nya.
Haruskan dirinya tetap diam diaman dengan suaminya atau baikan saja ? tapi mengingat kata kata Jihan di pesan Aplikasinya Aryanti begitu nyesek di dadanya juga seperti ada yang di umpet umpetin sama suaminya membuat Aryanti malas untuk bicara.
Aryanti merasa jadi orang yang bodoh dan seenaknya di permainkan apalagi sama orang yang namanya Jihan,seperti niat banget memanfaatkan suaminya,dengan menulis kata kata di pesan singkatnya seperti itu pada suami orang sungguh tidak pantas dan tak ada sopan santunnya,sekolah boleh sampai luar negeri tapi cara berfikir begitu sempitnya.
"Aku singgah walau bukan untuk sesuatu yang sungguh...Kamu begitu ada di hatiku itu yang sungguh heee...dan itu sungguh belum berlalu"
"Apa artinya semua ini ? ataukah suamiku dan Jihan pernah ada apa apa selama di Australia ? semua sungguh keterlaluan"
Sungguh itu kata kata orang yang sulit di pahami hanya orang yang mengeluarkan kata kata itu yang bisa memberi arti tersendiri juga tujuannya,Aryanti begitu sebal membacanya.
Aryanti bangun dan berjalan ke kamar mandi,Ibunya langsung mengeluarkan jurus kata katanya.
"Mulai sekarang masuk kamar mandi jangan lupa berdo'a dulu,hati hati lantai kamar mandi itu licin jaga jangan sampai Ibu hamil itu jatuh atau kepeleset,semua harus serba hati hati"
"Iya Ma"
Aryanti begitu menikmati kran pepatah dari Mamanya,semua orangtua pasti seperti itu atas nama kasih sayang dari kecil sampai sudah berkeluarga tetap saja rasa itu tak pernah hilang malah semakin bertambah dengan akan kehadiran cucu sebagai generasi selanjutnya.
Mamanya Aryanti memandang putrinya keluar kamar mandi masih dengan pepatahnya.
__ADS_1
"Nak kamu kan lagi hamil,jangan suka membelit kan handuk di leher,kata orangtua pamali, handuk di pegang tangan saja"
Aryanti menurut saja dirinya memang nggak mandi tapi tetap bawa handuk buat me lap muka dan tangannya,segitu detilnya orangtua itu baru aturan ke kamar mandi saja...belum kegiatan rutin lainnya seperti lagi makan jangan pakai piring gede,pakainya yang putih dan kecil saja seperti tatakan gelas,lagi duduk saja ada aturannya seperti jangan menggantung kaki di kursi dan mengayun ayunkan kaki saat duduk kalau diatas diatas saja kalau di bawah injakan ke lantai,kalau melihat bulan bershalawat lah biar anakmu cantik atau tampan dan segudang lagi aturan untuk ibu hamil...
Aryanti begitu taat pada orangtuanya semua di terimanya dengan hati ikhlas dan riang tak menjadi sebuah beban bagi dirinya,semua yang keluar dari mulut Mamanya adalah kebaikan untuk dirinya.
Aryanti menggelar sajadah dan bersujud dengan khusyuk nya rasa syukurnya begitu dalam atas kehamilannya,dalam do'a nya selalu meminta yang terbaik untuk jalan kedepannya.
Aryanti membiarkan suaminya tidur,merasa kasihan karena Mas Adrian datang sekitar jam satu malam,jadi pasti masih ngantuk,dan Aryanti pergi ke dapur membantu Mamanya mengerjakan pekerjaan paginya.
"Bikin minum sana harus selalu sarapan ingat sekarang apa apa yang kamu makan dan minum untuk berdua dengan janin di perutmu itu"
Aryanti hanya tersenyum dan melirik Mamanya.
"Jam berapa malam suamimu datang ? Mama sampai nggak ingat Bapakmu buka pintu"
"Aku nggak tahu percis Ma aku juga ngantuk mungkin jam satuan..."
Aryanti masuk kamarnya dan Adrian sudah bangun,Aryanti menyodorkan handuk dan Adrian menerimanya dan langsung berjalan ke kamar mandi, Aryanti membereskan tempat tidur nya dan menggelar sajadah buat suaminya dan dirinya meneruskan membantu Mamanya di dapur.
Selesai sholat Adrian duduk di kursi sambil sesekali melihat istrinya yang lagi membantu Mamanya bikin sarapan,kelihatan istrinya sedang membuat minuman,Aryanti kelihatan masih langsing cuma agak berisi kelihatannya,entah karena lagi berisi seorang perempuan suka bertambah kecantikannya,entah kenapa di mata Adrian istrinya selalu cantik dan menarik,seperti saat ini dengan memakai baju santai tunik tanpa legging dengan rambut tanpa hijab di ikat keatas semua kelihatan lehernya yang jenjang dan putih menjadikan pesona dan obsesi juga fantasi tersendiri bagi Adrian,dan kalau bukan di rumah mertuanya dan bukan dalam kondisi diam diaman pasti Adrian sudah memeluk dan menariknya ke tempat tidur dan mencumbunya.
Aryanti datang dengan minuman kesukaan suaminya teh tak terlalu manis atau kalau ada pakai madu saja,atau juga minuman coklat hangat setelah minum air putih,Aryanti menyimpannya di depan Adrian dan balik lagi mengambil makanan pendampingnya dan menyimpannya kembali di depan Adrian dan Aryanti melangkah lagi entah mau kemana dan Adrian menangkap tangannya dan memandangnya.
"Sudah duduk di sini,mau ngapain lagi,ini sudah cukup mana minuman kamu,yang harus sarapan itu kamu bukan aku"
Aryanti duduk di samping Adrian kelihatan masih enggan bicara dan pandangannya juga kemana saja tak melihat pada suaminya.
"Sudah minum itu minumannya,aku nggak mau minum kalau kamu belum kelihatan minum atau memakan sesuatu"
__ADS_1
Aryanti bangkit ke dapur dan mengambil mug yang lumayan besar dan meminumnya di depan Adrian dan menyimpan kembali di meja.
"Haaa...mentang mentang buat dua orang pakainya cangkir yang gede ya" Adrian juga mengambil minumannya dan meminumnya.
"Sayang sampai kapan kamu nggak mau ngomong sama aku ?jangan biarkan aku merasa bersalah untuk kesekian kalinya,apa kamu nggak mau memaafkan aku ? mungkin kamu akan tertawa kalau aku memohon maaf tapi itu kata yang ada di hati dan bibirku hanya kata "maaf"
Aryanti balik badan dan menatap Adrian dengan tajamnya dan mata yang liar penuh kemarahan.
"Apa Mas kira dengan kata itu semua selesai ? begitu mudahnya orang berbuat salah lalu dengan kata maaf semua beres..."
"Sayang kamu salah faham,biarkan aku jelaskan semuanya,jangan marah dulu,kan kamu lagi hamil jangan marah marah kasihan yang ada di dalam perutmu nanti kaget"
"Aku belum memberitahukan kehamilanku pada Mas,ini kehamilanku bukan urusan Mas"
"Haaaaaaaa...terus yang bikinnya siapa ? kamu nggak mungkin hamil kalau nggak ada aku,apa dengan meninggikan kaki ke tembok saja kamu bisa hamil ?"
"Aaaaaah masa bodoh,pokoknya aku benci sama Mas !"
Aryanti bangkit masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kencang,Mamanya yang kebetulan lewat sampai kaget Adrian menghampirinya dan mengusap usap punggung Mama mertuanya,Adrian tersenyum dan mengangguk.
"Mama sudah mengira kalau kalian lagi ada masalah,Yanti pasti datang ke sini tanpa pamit sama Nak Adrian kan kemarin ?"
"Hanya salah faham saja Bu,nggak apa apa memang nggak pamit tapi Alhamdulillah sampai dengan selamat saya sampai khawatir Bu dan langsung menyusulnya"
"Sabar ya Nak Adri istri hamil kadang aneh aneh dan tak masuk akal"
"Iya iya Bu saya coba menenangkannya"
"Jangan di paksa ya Nak Adri biarkan saja lebih baik kita ngalah sedikit demi kebaikan..."
__ADS_1
"Iya iya Bu..."