
Aryanti keluar kamar menemui Mamanya setelah berpakaian lengkap kembali,dan memastikan Adrian telah tertidur pulas.
"Kamu nggak tidur Nak ?"
Aryanti menggeleng sambil menggigit bibirnya,sedikit senyum dan kelihatan capeknya,Mamanya meneliti setiap sudut muka Aryanti,sedikit agak pucat tapi binar matanya kelihatan bahagia.
"Ma,sekarang Yanti dan Mas Adrian nginep di sini besok di rumah Mas Adrian dan besoknya lagi Mas Adrian mengajak Yanti ke Bali seminggu sebagai liburan pernikahan kami"
Mamanya Aryanti menghela nafas panjang,begitu banyak yang ingin di sampaikan sebagai wejangan pada anaknya,dengan berbagai pertimbangan dan keinginannya sebagai orangtua yang bijak pada anaknya.
"Kalau itu keinginan suamimu,ikutilah selagi bukan jalan kejelekan,tadinya Mama berfikir apa nggak lebih baik di sini saja tidak pergi jauh jauh Pangandaran nggak kalah indahnya dengan Bali, Mama khawatir pada kalian,kan di sana tidur di sini juga tidur,tapi untuk kenangan bulan madu kalian Mama nggak bisa melarangnya,sekali seumur hidup mungkin suamimu mau menyenangkan kamu,tapi hati hati jangan sampai lupa diri.
Aryanti hanya terdiam dan meresapi apa yang di ucapkan Mamanya,selalu saja menentramkan setiap Mamanya memberi nasehat.
"Bahagiakan suamimu,layani dengan sepenuh hati dan Ikhlas memenuhi semua kebutuhannya,walaupun kita dalam keadaan capek,karena itu adalah Ibadah,kamu ibarat pakaian bagi suamimu dan sebaliknya, seorang istri adalah harga dirinya juga kehormatannya"
"Iya Ma..."
"Suami telah mengangkat derajat mu hargai dirinya seperti menghargai seorang raja, tutupi semua aibnya jangan sampai tahu sekalipun orangtuanya,hanya dirimu dan suamimu yang berhak tahu segala kekurangan diri kalian"
"Jadi Mama izinin Yanti sama mas Adrian ke Bali Ma ?"
"Mama nggak bisa menahan mu sekarang,karena yang yang berhak atas dirimu adalah suamimu,jadikan kebahagiaanmu rasa syukur jangan lupakan itu...rezeki mu begitu berlimpah,hidupmu penuh berkah,jangan sampai lupa diri dalam kemewahan, Mama selalu dan selalu ingatkah kamu kalau seorang perempuan itu setinggi apapun jabatan dalam pekerjaan setinggi apapun status sosial di masyarakat tetapi di rumah kamu tetap seorang istri yang harus melayani suami yang harus mengurus suami.
Aryanti terpekur dalam diamnya,dalam hatinya akan selalu mengingat ingat apa yang dipesankan Mamanya memang benar hidupnya penuh dengan kemujuran dari mulai kecil udah hidup begitu penuh limpahan kasih sayang dari orangtuanya,bisa sekolah bisa kuliah bisa lebih dari yang lain karena dia cuman satu satunya anak Mama dan Bapaknya, begitu mudahnya Ia mendapat pekerjaan begitu melesat karirnya dan mendapatkan jodoh sesuai dengan harapannya sesuai dengan cintanya sesuai dengan kriteria yang diinginkannya,seseorang yang sangat ideal di hatinya dan Aryanti mencintainya sepenuh hatinya,dan itu seorang Adrian yang kini menjadi suaminya.
Menikah dengan kemewahan yang luar biasa tanpa hambatan dari semua keluarga dan orang tua masing-masing begitu merestuinya, do'a dan restu semua menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Aryanti dan Adrian juga mahar yang belum dia lihat sampai sekarang mungkin masih disimpan sama Mamanya 100 gr emas murni satu unit kunci rumah beserta isinya dan juga 1 kendaraan yang sampai sekarang Aryanti belum melihatnya mungkin belum dikirim atau sudah ada di rumahnya Adrian Aryanti tidak memikirkan semua itu dirinya hanya punya cinta kejujuran dan ikhlas mencintai dan tulus sepenuh hati menjadi istri seorang Adrian tidak melihat Adrian dari sisi lain seperti juga Adrian mencintai dirinya tanpa syarat itu cukup bagi dirinya.
"Istirahat saja,biarin tanaman mah Mama yang sirami apa suamimu tidur ?"
"Heemght..." Aryanti mengangguk.
Aryanti beranjak dari teras rumahnya yang sekian puluh tahun mungkin seusianya dia menempati rumah itu dengan berbagai kenangan masa kecilnya bersama orang tuanya ada rasa sedih di hatinya meninggalkan orang tuanya melangkah memasuki gerbang rumah tangga,walau setiap ingin bertemu dia bisa meluangkan waktu,tetapi hidup bersama-sama berkumpul seperti dulu lagi untuk saat ini sesuatu yang tidak mungkin.
__ADS_1
Sedangkan dirinya pun kini tidak pasti entah setelah menikah dia akan masih bekerja di Hotel Pangandaran dan tinggal di sana bersama Adrian atau tinggal di Bandung dengan tinggal di rumah sebagai mahar dari pernikahannya atau Adrian menginginkan tinggal di rumahnya Aryanti belum tahu.
Aryanti masuk ke ruangan tengah meneliti setiap sudut dan ruangan-ruangan yang telah menjadi saksi perjalanan hidupnya sampai usianya sekarang,dan Aryanti akhirnya masuk kamar dan duduk di depan meja riasnya,memandang sekeliling kamarnya yang apik dan bersih dengan nuansa pink,lemari dan isi baju bajunya,rak sepatu,lemari bonekanya dan tempat tidurnya yang sekarang telah berisi dua orang.
Aryanti mendekati tempat tidur lalu duduk di pinggirnya dan menatap penuh cinta Adrian yang tengah tidur bertelanjang dada, betapa gagahnya Adrian,saat merengkuh dan memeluk dirinya,hangat setiap pelukannya menenangkan dirinya,sorot matanya begitu membuat damai dan membuat dirinya ingin bermanja selalu.
Tiba tiba Adrian menariknya perlahan,sambil matanya masih terpejam,dan memindahkan kepalanya ke pangkuan Aryanti dan memeluk perutnya,Aryanti merasa geli dan berteriak kecil.
"Iiiiiiiiiih Mas geli tahu..."
Adrian tertawa sambil menarik Aryanti tiduran kembali.
"Yang nggak geli sebelah mana ?"
"Mas udah ah...kita mandi yu udah sore..."
"Tapi mandinya bareng ya heee..."
"Enakan sempit sayang jadi kita berdekatan terus"
"Ah Mas malah kemana mana..."
"Sini atuh sebentar lagi kita ngobrol saja sambil tiduran,aku nggak minta "itu" lagi heee..."
Aryanti menatap muka Adrian yang tidur satu bantal dengan dirinya begitu dekat muka mereka.
"Mas boleh aku cium Mas ?"
"Haaaaaaaa...dengan senang hati sayang"
Aryanti bangun dan Adrian masih tidur di bantal di bawah,Aryanti mulai mencium pipi dulu lalu kening dan bergeser ke alis dan kelopak mata Adrian di kecup nya dan terakhir di bibirnya ,Adrian hanya diam begitu menikmatinya tapi tangannya tetap mencari pegangan yang ada di depan dada Aryanti.
"Sayang kok jadi kamu yang semangat heh ?"
__ADS_1
"Aku ingin mencoba merubah image kalau perempuan bukan hanya objek,tapi bisa mengekspresikan perasaannya,bisa sama punya keinginan yang tersalurkan,bisa memberi rasa bukan hanya menerima"
"Haaaa...aku senang banget,aku setuju banget dengan pemikiran kamu..."
Aryanti terus menciumi leher Adrian dan Adrian mendapatkan sesuatu di dada Aryanti sepertinya posisi yang begitu pas,dan mereka menikmatinya luar biasa.
Aryanti berhenti ,tapi Adrian belum mau lepas Aryanti hanya melenguh dan seperti kejang,dan keduanya berpelukan dengan muka Adrian di dada Aryanti.
"Tok tok tok...Nak sudah sore sudah waktu Ashar bangun dulu"
"Ya Ma"
Aryanti menatap Adrian sambil senyum.
"Kayak bayi aja"
"Haaaaaaaa... tar malam kita ulang berapa kali ya...?"
"Pokoknya aku tidur malam ini,ya Mas..."
"Enak aja,terus aku ngapain ?"
"Ya tidur juga lah"
"Nggak bisa,nggak boleh,silahkan kalau bisa tidur,tapi kemungkinan akan nggak bisa karena aku akan ganggu kamu terus"
Aryanti bergidik mendengarnya tapi hatinya senang juga,malam pertama begitu habis habisan,tak ada yang tersisa dan terlewatkan,Aryanti mau tahu sampai kapan Adrian akan menguranginya,sedangkan kelihatan semakin bersemangat saja.
"Ayo kita mandi"
Adrian bangun dan memakai kaosnya kembali dan keluar kamar beriringan dengan Aryanti, Mamanya yang melihat anak dan menantunya mau mandi bareng tersenyum dan masuk ke kamarnya.
Sayup sayup terdengar dari kamar mandi Aryanti teriak kecil,entah rebutan gayung,atau saling sabun an dan merasa geli,atau juga yang yang lainnya entahlah...
__ADS_1