
Hari menjelang sore Adrian begitu nggak sabar dan nggak sabar apa yang harus di lakukannya ? semua terbentur Aturan benar adanya Pak Bharata datang dengan hasil laporannya polisi belum ada tindakan apapun sebelum hilang batas minimal yaitu 1 x 24 jam,kalau sudah waktu itu terlewati baru di nyatakan hilang walau laporan tetap di terima dan barang bukti serta keterangan di catat sebagai penyerta laporan.
Adrian hanya satu menunggu Pak Daud datang,sebagai ganti Orangtuannya semua masalah selalu cair dan clear dengan tangannya.
Adrian nanar dan sayu melihat sofa yang di duduki Komang Putri,di situlah hari kemarin dirinya bercumbu dan bercinta dengan istrinya,diawali Aryanti yang datang dengan tiba tiba dan memeluk sebelah tangannya dan bermanja pada dirinya, semua terasa manis dan masih terasa hangatnya,tapi sekarang di mana kamu sayang ? semoga kamu dalam keadaan baik baik saja,ada setitik bening panas mengalir di ujung bola mata Adrian dan Adrian menutup mukanya dengan telapak tangannya,dan menghapus buliran kristal itu dari ujung matanya.
Dan di jendela kaca itu selalu dirinya dan istrinya memandang jauh keluar dan ujung ujungnya berpandangan dan berpelukan lalu berciuman panas,semua mengingatkan, semua menjadi pengingat,dan semuanya sekarang menjadi pesan dalam do'a jauh di lubuk sanubari Adrian lewat tetesan airmata, Do'a yang tak terucap hanya ada di benaknya tidak melebihi batas kemampuan dirinya dalam menyampaikan keinginan dan kerinduan dalam cemas,risau juga khawatir... dalam harapnya memohon yang terbaik buat jantung hatinya yang seakan separuh nafasnya hilang terbawa entah kemana.
Begitu bimbang dalam ketakutan dan cemas yang berlebihan Adrian menatap piring nasi yang di tutup plastik steril dan teh di gelas yang sudah dingin di meja kerjanya yang sudah retak dan pecah,photo photo Istrinya Aryanti dan si kecil Alinea juga dirinya yang sengaja di simpan di bawah kaca meja kerjanya menjadi buram dan terhalang garis garis memanjang pecahan kaca,dan tetap semua photo pasang posisi tertawa ceria Aryanti dengan senyum manisnya juga Alinea tersenyum lucu juga dirinya dengan senyum simpatiknya... Adrian memandang semua photo itu...dan menatap ke bawah lantai dengan bercak darah dari tangannya yang terluka dan sebagian sudah terinjak injak,Adrian berjalan keluar sambil berkata pada Komang Putri yang dari tadi menemaninya,takut Ada yang di butuhkan atau ada perintah.
"Panggil room boy biar membersihkan bawah mejaku"
"Ya Pak..."
Adrian berjalan ke belakang dengan maksud menemui Anaknya dua Satpam yang berjaga berdiri dan mengangguk, terdengar Alinea lagi menangis Adrian mengetuk pintu dan memanggil Bi Inah...Bi Inah mengintip dulu dari balik kaca dan memastikan siapa yang datang,lalu membuka kunci dan pintu terbuka.
Dedeku kenapa Bi...sini sayang sudah bobo Bi belum ?"
Adrian memangku dan menggendong Alinea yang lagi nangis dan menciuminya dengan perasaan hancur dan terluka tak bisa di pisahkan melihat putrinya seakan melihat wujud istrinya,Adrian lupa jiwa laki lakinya lupa segalanya dan berlinang airmata melihat putrinya yang belum mengerti apa apa ,mungkin Alinea menangis karena mau tidur atau haus atau juga yang lainnya dan Bi Inah lagi bikin susu botol di belakang.
Adrian menggendong dan menenangkan putrinya dan membawanya ke kamar,bau harum parfum dan pewangi ruangan khas kesukaan istrinya menyeruak menerpa hidungnya seakan Adrian begitu kembali pada ingatan akan Aryanti yang begitu kuat mengikatnya erat lekat tak terlupakan,melihat tempat tidur yang telah begitu rapi Bi Inah yang membereskannya seakan menggali semua ingatan Adrian...di situlah selalu istrinya tidur ngelonin putrinya dan di situlah mereka memadu manisnya gelora cinta mereka dan Aryanti seperti tersenyum di tempat tidurnya.
__ADS_1
Adrian keluar lagi dan menyuruh Bi Inah menggelar kasur lantai biar Alinea tidur di ruang keluarga saja,Adrian menidurkan Alinea dan memberikan susunya lalu Bi Inah mengusap usap punggungnya dan tak lama Alinea pun tidur.
Perasaan Adrian begitu terkuras habis memandang putrinya yang lagi tidur,di situ Aryanti selalu menimang nimang Putri tercintanya menggodanya agar tertawa dan mengajaknya bermain apa saja dan selalu Aryanti mencium perut Alinea yang tertawa dengan renyahnya karena kegelian,tapi Aryanti begitu suka melihat Alinea saat kegelian.
"Bi Inah duduk sini,saya mau bicara"
Tanpa ngomong apa apa Bi Inah duduk di hadapan Adrian.
"Bi Ibu sampai saat ini belum ada khabar,tolong bibi jangan ngabarin siapa siapa,untuk ketenangan kita bersama,jaga dan saya titip Alinea di rumah, kemungkinan saya nggak tidur di sini,saya menunggu khabar dan informasi tentang Ibu di kantor...
Bibi do'akan Ibu agar semua baik baik saja, Bibi makan masak seperti biasa saja paling saya nengok sekali kali ke sini melihat Alinea"
"Kita semua sedih tapi ada yang harus kita lakukan yaitu kita berdo'a semoga semua baik baik saja dan masalah ini cepat selesai,Bibi nggak usah ngapa ngapain jaga Alinea saja jangan lupa makannya dan kasih buah"
"Ya Pak..."
"Bibi mengerti kan ? saya balik lagi ke kantor"
Adrian menghampiri putrinya dan bersimpuh lalu mencium Alinea yang tertidur dan mengusap kepalanya perlahan dan berjalan keluar tak bicara lagi.
Di luar Adrian tertegun mendengar bunyi suara ramai burung yang sudah datang dan telah mengisi ruang ruang yang di peruntukkan berbagai burung spesies yang sama satu jajar itu... khusus burung kecil yang berkandang luas bisa terbang dengan bebas.
__ADS_1
Adrian berjalan kembali ke kantornya dan masuk ke ruangannya dan Komang Putri masuk mengikuti Adrian di susul Pak Daman juga Pak Bharata.
"Pak Adrian saya tak mau Pak Adrian malah sakit,apapun itu tolong makan apa saja yang pak Adrian mau,jangan mempersulit keadaan makanlah dulu sedikit saja dan minum biar ada tenaga"
Komang Putri menyodorkan kotak makanan berisi roti roti dan kue kue basah,juga gelas teh yang masih hangat ke hadapan Adrian,semua makanan tadi sudah di ambil kembali dan tak di colek sedikit pun.
Adrian meliriknya dan membuka tutup gelas dan meminumnya lalu mengambil satu spon cake dan membukanya tetapi belum selesai membukanya Adrian menyimpannya kembali...Adrian menutup mukanya dengan kedua tangannya semua dalam pandangan Komang Putri, Pak Daman,dan Pak Bharata,semua diam menyaksikannya dan menghela nafas.
"Aku tak bisa makan...Aku tak masuk makan apapun...Aku di sini bisa makan sedang Istriku sudah ada yang di makan belum ? bagaimana nasibnya ? tolong berpikirlah...cari jalan keluarnya..." Adrian begitu lemah hanyut dengan perasaannya sendiri.
Komang Putri menelephon dan mendapat jawaban yang sama semua telephon Made Ardika seakan mati tak aktif lagi.
"Tak Ada lagi yang bisa di hubungi...semua tak aktif sampai telephon box galery nya,kantor travelnya juga kantor vila nya semua nggak bisa di hubungi"
"Ayo kita bersiap ke rumahnya kita kumpulkan informasi dari keluarganya"
"Pak Adrian ayo kita jalan,mencari informasi seperti yang di inginkan Pak Adrian,tapi kita harus taati aturan,semua masih dalam asas praduga tak bersalah,karena petunjuk mengarah pada Pak Made Ardika sementara Pak Made Ardika sebagai terduga,sama misi kita juga seperti polisi cuma kita bertindak duluan untuk menyelidiki,saya mohon pengertian Pak Adrian... Pak Adrian jangan emosi dulu nanti di hadapan keluarganya,apa tidak nunggu dulu Pak Daud untuk lebih bisa komunikasi apalagi Pak Daud kenal sama tetua adat kampung Belakang" Pak Bharata memberi sedikit masukan dan di setujui sama Pak Daman dan Komang Putri.
"Baiklah jika itu yang di anggap terbaik kita lakukan,kita tunggu dulu Pak Daud"
Suasana kembali hening dan suasana begitu kaku semua serba takut, mau ngomong juga mau bertindak menjadi satu kesalahan yang sangat di pertimbangkan.
__ADS_1