Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Kemesraan kebahagiaan


__ADS_3

"Halo Tante Adel!" Jihan duluan menyapa mewakili Zaid, saat mereka berkunjung ke The Praja Hotel & Restourant Pangandaran.


"Hai, ganteng Zaid. Akhirnya kalian ke sini juga mari-mari silahkan duduk." jawab Adel menerima sapaan Jihan Zaid dan Pak Habil Ismail di Lobby Hotel keluarga Surapraja.


Jihan menggendong Zaid yang begitu lucu dengan bicara bahasa Inggris yang masih belum bisa bilang huruf R.


Adel menarik Jihan ke samping ruangan dan meraba dalam kerudungnya dari belakang. Jihan merasa heran, Adel memang aneh.


"Selamat ya, berarti gue berhasil, rambut lo basah berarti habis keramas, ngapain lo malam tadi hayo?"


Jihan mengerti maksud Adel, lalu tertawa sambil melotot.


"Lo salah, sejak sore gue sudah melakukannya!"


Mereka tertawa berdua. Dua sahabat itu begitu bahagia dengan pertemuan dan kebersamaan mereka.


Habil dan Fath yang lagi ngobrol merasa heran melihat Adel dan Jihan tiba-tiba tertawa berdua.


Tapi keduanya ikut larut dalam kebahagiaan istri-istri mereka.


"Ji gue sepertinya nggak akan lama di sini, gue sadar nggak bisa mengikuti ego gue sendiri, ada ortu gue yang masih begitu ingin ber-kangen kangenan sama gue dan Fath, jadi gue mau habiskan liburan di rumah di Bandung saja, selama ini gue salah, gue selalu sensitif dan tersinggung terhadap siapa saja yang sudah bertanya tentang keturunan dan anak pada gue, tetapi kini gue sadar se-sadar sadarnya semua bukan harus dihindari tetapi harus dihadapi dengan lapang dada dan keikhlasan."


"Gue setuju, ada ortu lo yang harus lebih di utamakan, gue do'akan semoga pulang dari sini langsung jadi."


"Makasih Ji, gue akan kangen selalu pada keluarga kecil lo."


"Harusnya gue yang terimakasih sama lo. Lo telah membuka hati gue, menyadarkan gue dari semua langkah salah yang membuat hidup gue jadi terpuruk."


"Gue tunggu lo di Malaysia, sebelum Zaid punya adik!"


"Haaaa ... semoga!"


Habil sama Fath semakin heran tadi tertawa bersama, sekarang pelukan sambil keduanya menyeka air mata, perempuan memang susah dipahami tetapi mereka ingin dimengerti.


Habil berjalan di Lobby dan Restourant The Praja Hotel, sambil mengejar langkah kecil Zaid yang tak mau diam. Beribu kenangan seakan di depan matanya, saat tahun baru dirinya berduet dengan Aryanti di panggung taman itu. Duduk berhadapan di meja sudut Restourant saat Aryanti mengatakan kalau dirinya sudah bertunangan dan memperlihatkan cincin bermata berlian.


Permintaan maaf Aryanti dengan kata-kata sopannya


yang mengatakan, begitu menyukai Habil secara profesional, dan begitu menghargai persahabatan mereka.


Semua begitu ada di ingatan Habil, saat dirinya menemui Aryanti yang ternyata Aryanti lagi berenang, Aryanti begitu malu, walau memakai swimsuit muslimah dan saat Aryanti merekomendasikan semua inovasi nya yaitu area flying fox dan wahana bermain yang sampai sekarang masih di kelola dan terawat dengan baik.


Habil tersenyum, pasti Aryanti bahagia dengan pernikahannya, dan dirinya juga kini bahagia dengan pernikahannya. Tapi Habil begitu ingin bertemu, hanya ingin melihat wajah bahagianya Aryanti, walau kini mereka telah sama-sama memiliki keluarga, Bagi Habil Aryanti adalah teman yang sangat menginspirasi.


*****

__ADS_1


"Sayang, senang rasanya kali ini liburan kita yang paling bermakna, dari Bali, ke Anyer, ke Pangandaran, sekarang kita ke Bandung lagi." Adel memeluk sebelah pundak Fath dengan manja.


"Apa kita mampir lagi di Hotel sebelum kita sampai di Bandung?"


"Fath!"


"Haaaa ...."


"Aku ngebayangin si Jihan sama Habil gimana gitu sudah beberapa tahun nggak akur, sekarang mereka ketemu saling menyadari kalau mereka saling butuh."


"Kamu butuh aku nggak?" tanya Adel sambil mencium pipi Fath.


"Nggak!"


"Sama dong berarti."


"Mampir ya di Hotel."


"Faaaaath!"


Sepanjang jalan mereka berdua tak henti saling goda, dan usil juga saling manja, saling sayang. cinta diantara mereka semakin begitu terasa kuat dan saling menguatkan.


Sampai Adel tertidur di samping jok kemudi Fath yang santai membawa mobil. Fath mengusap pipi dan kepala Adelia dengan penuh perasaan cinta, 'Kamu adalah kebahagiaanku sayang.'


Memasuki kota Bandung hari menjelang sore, karena karena Fath melihat istrinya tidur walau lapar tak mau membangunkan Adel. Baru sudah sampai depan rumah Adel di bangunkan.


Adelia langsung turun sebelum pintu gerbang di buka dan membukanya sendiri.


"Alinea! Kak Adrian! Kak Aryanti! Kok kalian ada di sini sih?"


"Tante Adel nggak tahu ya, kalau kita sudah pindah ke sini yeeee ....!" jawab Adrian melihat Adel tertegun berdiri tak jauh dari Adrian dan Adelia berdiri.


"Kalian ada apa sih kok nggak ngobrol waktu kita di Bali kalau kalian mau ke Bandung juga?"


"Panjang ceritanya Tante, minum dulu sini." Aryanti mengajak Adel duduk dan minum jus yang Aryanti bawa.


"Tunggu di sini biar Papa cipratan air Tante Adel biar dia ikut kita mandi."


"Horeeeee ... mandi sama Tante." Alinea senang.


Adrian menyipratkan air ke muka dan tubuh Adel juga pada Aryanti dan masuk juga ke gelas minuman yang di pegang Adel.


Adrian tertawa ngakak sambil menuntun Alinea menjauh dan mereka masuk ke kolam renang.


"Kak Adrian! usil amat sih?"

__ADS_1


"Mandi sini biar segar! Fath sini balap renang!"


"Om Fath belenang yuk ..."


"Awas ya kalian ini, bikin aku basah aja! Adel gantian menyemburkan air pakai gelas yang jusnya kemasukan air, lalu di tumpahkan dan di pakai menyiram Adrian dan Alinea.


Adrian tertawa-tawa sambil melindungi putrinya Alinea dari siraman air.


Fath datang dan langsung membuka kaosnya lalu nyemplung juga ke kolam renang.


Akhirnya Aryanti sama Adel juga bersukacita berenang bersama.


"Kak Aryanti ada apa sih kok tiba tiba menyusul kita ke sini?" tanya Adel sambil bersandar di pinggir kolam renang dengan nafas ngos-ngosan. Setelah dua putaran pemanasan renang saling kejar sama Fath.


"Sebenarnya aku begitu ingin hidup nyaman dan tenang di Pulau impian Bali, dan itu telah kami jalani, kami rasakan memang begitu indah dan sangat nyaman juga menyenangkan, tapi kami rasakan itu hanya untuk beberapa waktu saja, Dan untuk pertumbuhan psycologis Alinea tak begitu bagus hidup di lingkungan Hotel tanpa punya teman dan tetangga, hidup di balik tembok tebal bangunan Hotel menjadi merasa terisolasi, kami menyadari itu dengan segala pertimbangan akhirnya kami memutuskan tempat ternyaman kami ya di sini dekat dengan orangtua. Aku sudah lama merasakan ingin hidup di Bandung kembali, dekat sama Ibu Bapak juga kedua orangtuaku itu yang paling penting."


Adelia diam dan merasa terharu, senangnya punya Kakak ipar Aryanti, begitu mengerti akan segalanya, Adel menarik nafas panjang begitu tenang dirinya meninggalkan kembali kedua orangtuanya karena tak akan kesepian lagi karena ada keluarga Kakaknya walau pasti nggak tinggal di rumahnya tapi pasti mereka tinggal di rumah sendiri. Tak apa yang penting dekat kalau kangen ingin bertemu tak memerlukan perjalanan jauh.


"Jadi Kak Aryanti mau menetap di Bandung?"


"Inilah tempat kami Adel, orangtua dan mertua ada di sini, teman kami banyak ada di sini, dan segala kenangan kami berdua berada di kota ini, kami lahir menjalani masa kecil dan sekolah di sini, dan bertemu Mas Adrian juga di sini, kami menikah di kota Bandung ini dan ingin menjalani hidup membesarkan anak kami di sini juga."


"Alhamdulillah Kak Aryanti, aku merasa tenang, aku titipkan orangtuaku pada kalian, aku percaya kalian bisa menjaganya dengan baik."


"Semoga Adel, itu juga yang menjadi pertimbangan kami biar Alinea bisa dekat dengan kedua keluarga kami kakek sama neneknya.


Komplit sudah kebahagiaan keluarga Surapraja walau kebahagiaan itu belum sempurna karena Adel belum memiliki seorang mungil ganteng atau cantik seperti Alinea, tak ada hidup yang sempurna pasti ada saja kekurangannya.


Tapi semua itu harus di jalani dengan keikhlasan dan rasa syukur yang tulus.


Selalu ada cerita yang menjadi tanya di akhir satu cerita, seperti Adel dan Fath akankah memiliki anak?


Jawabannya, Wallahu alam, setiap cerita selalu berpotensi untuk di lanjutkan dan stop sampai di sini.


********** T A M A T **********


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2