Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Cemburu


__ADS_3

Hari terakhir di tahun ini,bulan ini,minggu ini akan berakhir nanti malam,begitu banyak orang dari pagi lalu lalang di halaman,di parkiran juga di lobby suara terompet sayup terdengar di kejauhan,panggung musik di halaman dan personil band nya tengah mengecek sound dan menyetel nyetel alat lainnya.


The Praja Hotel dan Restourant penuh pertama kali sepanjang di kelola Aryanti,kapasitas kamar utama yang ratusan di tiga lantai isi semua,tamu keluarga,pasangan dan group sesama teman,sesama teman kerja,relasi usaha dan lain lain yang ingin bersuka cita melepas tahun lalu dan merayakan dan menyambut pergantian tahun baru.


Belum bungalo bungalo dan resort juga sama isi semua,Aryanti puas dengan pencapaiannya, melihat Hotel yang di kelolanya padat pengunjung Aryanti bersyukur ini awal tahun yang bagus semoga selanjutnya lancar tanpa hambatan apa apa.


Sebegini ramainya Hotel ini belum semua tamu datang,ada yang masih di perjalanan tapi sudah memesan kamar jauh hari melalui telephon atau online.


Tengah hari Aryanti baru bertemu Adrian,saat mau istirahat makan siang,ada yang berbeda di wajahnya,bukan keceriaan yang terlihat di matanya tapi kegelisahan,apa dia sakit atau kecapaian ?


"Hai makan yu"


"Makan aja duluan,aku habis ngopi,aku mau ada yang di bicarakan nanti aku tunggu di kamarku


urgent banget..."


"Deg" Aryanti kaget mendadak.


"Mas ada apa ? Mas sakit ?"


"Nggak,kalau kita bicara sekarang kamu nggak bakalan enak makan,makan aja dulu..."


"Aku nggak mau makan ayo kita ke belakang ada apa kita bicara sekarang"


Adrian menyadari kesalahannya memberitahukan akan ada yang di bicarakan kontan Aryanti nggak mau makan, Aryanti kukuh dalam pendapatnya.


"Ya sudah kita makan dulu bareng ayo" Adrian menarik tangan Aryanti menuju Restourant di samping office,mereka beriringan mengambil baki masing masing mengambil makanan yang di inginkan nya tak ada pembicaraan diantara mereka,Aryanti sibuk dengan menerka apa yang akan di bicarakan Adrian dan Adrian sibuk dengan fikiran kacaunya,mereka duduk di pojok ruangan.


Mereka makan masih dengan tanpa bicara,Aryanti melihat Adrian seperti asing,jauh dari sikap biasa yang di kenalnya,tapi Aryanti berusaha tenang walau makanannya sulit di telan begitu juga Adrian makanannya hampir tak di sentuhnya hanya menonton Aryanti makan.


"Kok nggak habis ?" Adrian menatap Aryanti dan piring yang masih tersisa makanan tapi Aryanti makannya sudah dan selesai minum.


"Mas sendiri nggak makan sama sekali,kenapa menyiksa diri ? seberapa urgent masalahnya sampai tak makan ? ayo aku selesai makannya,beri waktu aku mau sholat dulu,Mas juga Sholat dulu biar semua tenang"

__ADS_1


Aryanti bangkit dari duduknya dan pergi ke belakang ke kamarnya di ikuti Adrian,dengan perasaan tak menentu Aryanti Sholat berusaha khusu walau tetap tak membuat hatinya tenang, firasat jelek menghantuinya,apa ini soal pribadinya sama Adrian atau persoalan pekerjaannya antara itu terus di bolak balik tapi tak menemukan apa kira-kira persoalan yang akan di hadapinya.


Selesai Sholat Aryanti berdandan kembali seperti biasa,juga ber makeup sekedar menenangkan fikirannya,Aryanti menatap gambar dirinya di cermin,tenang Aryanti ! apapun persoalan yang datang padamu semua harus di hadapi.


Pintu di ketuk dan Adrian masuk lalu duduk di sofa mininya,lalu Aryanti juga duduk di sampingnya,Adrian berdiri lagi menutup pintu dan Aryanti hanya menatapnya,tanpa ingin memulai pembicaraan,biarlah Adrian tenang dan bisa bicara.


"Yanti,entah dari mana aku harus mulai bicara padamu,cuma aku minta maaf beribu ribu kali maaf darimu sebelumnya,Livia datang ke sini bersama Adit dan Irene juga teman yang lain"


Adian menelan ludah dengan susah payah,matanya nanar menatap Aryanti yang mendadak lemas sekujur tubuhnya,tungkainya terasa tak bergerak,tangan Adrian terasa dingin menggenggam kedua tangannya.


Ponsel Aryanti berbunyi,tapi tak di angkat di biarkan nya berbunyi dan berbunyi lagi,lalu Aryanti bangkit mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan mematikannya.


"Yanti,aku tak bisa mencegahnya,mereka sudah dua per tiga perjalanan sampai ke sini,Adit tak kompromi dulu juga konfirmasi ke aku,Aku takut Livia mengacaukan semua acara di sini,aku tahu karakternya seandainya dia tidak menerima keputusanku,tapi aku akan berusaha apapun yang terjadi aku harus bicara"


Aryanti tak bicara,hanya diam membisu dan mematung.


"Yanti apa yang harus aku lakukan,katakan Yanti..."


"Aku tidak berhak bicara apapun juga tak berhak memberi solusi apapun,ini masalah Mas sendiri,selesaikan secara laki laki yang bertanggung jawab,Ingat ! jangan ada kekacauan malam ini,ini acara ku aku yang merancangnya jauh jauh hari nggak mau ada yang mengganggu,aku mau acara ini sukses,dan satu lagi Aku ingin Mas ada bersamaku malam ini"


"Yanti, sekali lagi aku minta maaf mungkin aku tak bisa bersamamu malam ini, aku bingung,aku harus bagaimana ? mungkin Livia belum bisa menerima keputusanku,tapi aku akan berusaha bicara pelan pelan,kita bergabung saja sama teman temanku ya"


"Tidak ! Mas jangan datang padaku dengan permasalahan yang belum selesai,selesaikan semuanya,ini kesempatan yang Mas miliki,aku bisa menjadi penonton yang baik di acara ku,aku bisa mencari teman untuk menghabiskan malam ini tanpa kalian"


"Yanti jangan begitu,jangan menghukum aku seperti itu,aku mohon"


"Kalau Mas tidak bisa bersamaku nanti malam,kita lihat siapa yang punya peranan nanti malam,baik kita seakan nggak kenal kecuali urusan pekerjaan mulai sekarang sampai masalah Mas selesai"


"Yanti Apa nggak ada jalan keluar lain ?"


"Silahkan Mas fikirkan,yang ada di otakku saat ini itu adalah yang terbaik untuk kita jalani"


"Aku masih banyak pekerjaan,mau ke office lagi" Aryanti mengambil ponselnya dan menghidupkannya kembali lalu mengambil tas nya juga dan berdiri menatap Adrian yang masih duduk di sofa nya.

__ADS_1


"Sayang aku mencintaimu" Adrian menatap Aryanti


"Mas aku juga menyayangimu" Aryanti mengulurkan tangannya,Adrian menyambutnya lalu berdiri dan menarik Aryanti ke dalam pelukannya.


Mereka berpelukan,hati mereka tak karuan kacau balau,kalut,bingung khawatir,cemas,takut dan segudang rasa tak nyaman lainnya menyelimuti mereka.


Pertahanan Aryanti akhirnya jebol juga,se tegar apapun perasaannya lemah juga oleh rasa cinta itu sendiri,Aryanti menangis sesenggukan di pelukan Adrian,dan Adrian mengusap usap punggungnya dan mencium kepalanya berkali kali.


"Aku cemburu Mas,aku cemburu,aku sakit oleh rasa itu,rasanya aku tak ingin ada di sini"


"Aku tahu sayang,aku mengerti,tapi jangan kamu lakukan itu,siapa yang akan membuka acara, kalau kamu nggak ada, apa kata staf dan karyawan yang lain,lagian kamu mau menghindar kemana,kalau kamu pergi aku juga pergi"


Adrian menatap airmata di pipi Aryanti dengan perasaan haru biru lalu mengambil sapu tangan dari saku belakangnya dan mengusap usapnya dengan lembut di pipi Aryanti.


Dengan muka,mata dan hidung merah Aryanti melepaskan pelukannya,kembali duduk di sofa dan menangis lagi sambil menutup kedua mukanya dengan kedua telapak tangannya,semakin tak tega rasa hati Adrian melihat Aryanti bercucuran airmata.


"Sayang sudah jangan bikin aku lebih bersalah lagi, ayo kita hadapi semua ini"


Aryanti masih saja sesenggukan dengan sisa tangisan yang masih ada.


"Mas silahkan kedepan duluan,aku mau cuci muka dulu"


"Beneran nih yakin kamu baik baik aja ?"


"Iya Mas"


"Aku tunggu di depan ya..."


"Heemhgt"


Adrian keluar kamar Aryanti,hatinya agak tenang sedikit,yang pasti sudah aku sampaikan semuanya pada Aryanti,otak Adrian seakan buntu mencari jalan keluar dari permasalahan nya saat ini,di satu sisi betapa ingin Adrian bersama Aryanti menghabiskan malam ini,di sisi lain teman temannya ada di sini dan Livia yang di luar perkiraannya, dalam hati Adrian berharap semoga Adit dan yang lainnya segera datang agar dirinya bisa langsung bicara dari hati ke hati sama Livia,tapi etis kah orang baru datang langsung ngomong putus ?


Adrian terus memutar otak bagaimana cara mengantisipasi segala kemungkinan nanti.

__ADS_1


__ADS_2