
"Aku kangen banget sama kamu Yang" Livia memeluk sebelah tangan Adrian,Adrian melepaskannya perlahan.
"Heemght"
"Sorry ya waktu itu aku nggak sengaja,aku lagi sensi banget"
"Emangnya kenapa ?" Adrian bertanya datar sambil melihat wajah Livia dengan sorot mata penuh selidik.
"Aku lagi banyak masalah di rumah,soal adik laki laki ku yang nggak bisa di urus juga soal Bapak tiri ku yang menyebalkan"
"Adikmu kenapa lagi ?"
"Ikut tawuran malam malam tertangkap aparat lagi pada kabur bawa motor sekencang kencangnya temannya ada yang celaka jadi pada ketangkap biang rusuh banget itu antek anteknya dia masih di polres sekarang"
"Terus di prosesnya seperti apa ?"
"Halah aku nggak tahu urusan Mamaku,Yang kita pergi kemana yang jauh gitu aku sumpek banget di rumah,sudah itu Bapak tiri ku tak mau perduli amat"
"Pergi ke mana ? kan aku kerja sekarang lebih tepatnya belajar kerja justru aku mau ngomong sama kamu sekarang aku punya waktu sedikit buat kamu,kalau di surat peringatan aku sudah di surat peringatan yang maksimal sama orangtuaku,dan aku sadar diri kesempatan nggak akan datang lagi padaku"
"Masa sih nggak ada toleransi kan kerja di perusahaan sendiri,bebas kali ?"
"Justru aku sadar diri aku harus memberi contoh yang baik bagi yang lain"
"Yaelah...Sayang kamu ngomongnya sudah kayak direktur aja,oke oke slow dikit apa... hidup ini begitu indah"
"Ya begitulah hidup harus memilih dan menentukan" kata Adrian sambil menyeruput kopi mix racikan barista cafe itu.
"Rupanya kamu mulai serius,kalau begitu kapan kamu melamar aku pada orangtuaku ?"
"Hah melamar ? terus terang aku belum terfikirkan untuk hal itu Via,aku sendiri aja masih begini belum jadi apa apa,belum mampu apa apa semua masih di topang orangtuaku yang sebenarnya aku ini harusnya menurut mereka kuliah lagi sampai tamat mau di dalam negeri apa di luar negeri"
__ADS_1
"Kamu kan pemilik dan pewaris The Praja Hotel yang ada di mana mana apa salahnya kamu ngambil satu Hotel untuk kita kelola beres semuanya,yang di Bali apa di Puncak Bogor.
"Emang segampang itu mengelola perusahaan dan jadi pimpinan itu menurutmu ? semua itu omong kosong,perlu bertahun tahun pengalaman dan keterampilan ilmu sampai kita mampu jangan bikin Hotel dulu,tapi mengelola aja yang sudah ada,jangan ngawur kamu..."
"Alah alah jadi ribet ah Yang ngobrol sama kamu udah lah ganti topik aja malah mumet otakku,terus mau mu apa sekarang ?"
"Aku ya fokus kerja,kamu dampingi aku dukung dan jangan bikin aku kesal juga macam macam"
"Terus waktu buat aku kapan ? nggak ada ? buat jalan jalan,belanja,makan makan ? kebayang aja hampa banget nggak jelas"
"Livia kamu kok seperti itu sih,terus mana sikap dewasa mu,kita mulai dari sekarang kita menata hidup kedepan,kalau mau kamu juga kerja biar ada kesibukan"
"Hah kerja ? katamu kerja lantas aku kerja jadi apa,sekretaris tar kamu cemburu sama bosnya,jadi pramugari tar kamu cemburu sama pilotnya,apa pantas calon istri Adrian Akbara Pratama Surapraja bekerja ?"
"Ssssssssst stop aku hanya menyarankan aja apa salahnya di coba"
"Pokoknya aku ingin serius,aku ingin jadi istri kamu titik"
"Berarti hubungan kita selama ini nggak jelas ngambang dan menggantung"
"Terserah penilaian kamu saja kalau soal itu,aku sekarang bukan ingin berumahtangga tapi fokus belajar kerja mengejar ketertinggalan ku dan kebodohan ku selama ini,aku menyerahkan pilihan padamu mau bertahan sama aku ya ayo kita jalani,nggak bisa ya aku nggak bisa mempertahankan mu"
"Terus sampai kapan aku harus menunggumu ? setahun dua tahun atau sampai aku bosan menunggu ? beri kejelasan dong jangan seperti ini "
"Livia aku selalu sabar dengan sikap kamu selama ini,aku sayang sama kamu tapi aku tak bisa menjanjikan apa apa dalam waktu dekat,aku dalam posisi lemah di hadapan orangtuaku aku banyak menghabiskan waktu sia sia,kuliah nggak tamat tamat apa yang bisa aku banggakan di hadapan mereka selain kerja yang serius di hadapan mereka"
"Jadi ujung ujungnya kamu menggantung aku kalau gini nggak ada kejelasan nggak ada keseriusan,membiarkan aku dalam ketidakpastian"
"Kalau kamu sabar ya ya syukur dengan keadaan dan posisiku yang sekarang ini,kalau enggak ya aku nggak bisa apa apa pilihan sebenarnya ada di tanganmu, fikirkan aja dulu baik buruknya"
"Oh jadi kamu seakan menyalahkan aku,memberi pilihan yang sulit bukannya solusi,pria macam apa kamu ?" Livia bicara agak keras juga tegang.
__ADS_1
"Jangan menghardik aku Livia ! aku sudah sabar dan bijaksana mengikuti mu,kalau nggak sabar ya terserah kamu,aku nggak bisa melamar kamu sekarang apalagi berencana berumahtangga belum ada di otakku,waktuku sekarang habis buat belajar kerja"
"Ternyata seorang Adrian tak seperti yang aku harapkan,apa masih bisa hubungan ini di pertahankan,aku ragu dengan rasa yang kamu berikan padaku itu tulus apa enggak"
"Justru aku lebih ragu padamu dengan sikap dan tuntutan yang seperti ini,coba mengerti sedikit keadaanku,jangan hanya kamu yang selalu ingin di dengar dan di mengerti"
"Saya mau tanya sama kamu,apa kamu sayang juga cinta sama aku ?"
"Terus terang aku sayang,tapi aku mau melihat sikap dewasa di dirimu"
"Tuh kan katanya sayang tapi tak memperjuangkannya,maunya kamu ini gimana ?"
"Ssssssssst,cukup ! aku nggak mau berdebat panjang sama kamu,ujung ujungnya mencari kepuasan hati menyudutkan orang lain,aku nggak mau berdebat panjang,aku hanya ingin di mengerti itu aja titik"
Livia terdiam merasa tersudut,tapi hatinya berontak,merasa bukan ini yang di harapkan nya,tapi percuma ngomong juga Adrian sekeras batu dan punya pendirian berbeda dengan dirinya,tapi hatinya tak rela harus putus dan meninggalkan Adrian karena baginya Adrian adalah aset selama ini.
Biarlah aku ikuti maunya seperti apa,tapi nanti kalau sudah tercapai cita citanya sudah ada kekuatan hukum yang mengikatnya aku manfaatin semuanya,cintanya juga uangnya mungkin itu adil.
Adrian memandang Livia yang terdiam,apa mengerti ini orang atau marah ? sulit di baca,tapi Adrian tak ada jalan lain selain memberitahukan semuanya dengan resiko yang dia tahu.
Livia itu manja, kekanakan dan selalu menuntut ini itu tapi selagi ada nggak masalah,tapi sekarang ini keuangan dirinya di stop dan ditukar dengan keseriusan belajar kerja,terus mau apa ? juga Livia menuntut di lamar atau sekalian di nikahi itu semua belum terfikirkan.
Adrian jadi pusing biarlah berjalan apa adanya dan menyerahkan pilihan pada Livia kekasihnya.
"Udah kita pulang yu,aku antar kamu"
"Kok pulang sih kan masih sore belum malam aku malas di rumah juga ngapain"
"Tapi aku mau pulang terserah kamu mau tetap di sini atau ikut aku,aku harus istirahat besok kerja" Adrian bangkit menuju kasir dan membayar makanan juga minumannya.
Adrian mematung menatap Livia yang masih duduk di kursinya,seperti enggan beranjak, lima detik,satu menit waktu terus berjalan dan Adrian berjalan ke arah parkiran tak menengok lagi ke belakang lalu masuk mobil dan meninggalkan cafe itu,samar terdengar suara Livia memanggil dan meneriakkan namanya tapi Adrian terus menjalankan mobil tak menghiraukannya...
__ADS_1