
''Aku penat banget Mas...''
''Kita berendam di air hangat sayang''
Aryanti mengerlingkan matanya pada Adrian yang berjalan pulang menuju ke rumah tinggalnya,Adrian merengkuh bahu istrinya sambil berjalan hari sudah begitu sore.
Bi Inah sama Alinea bertemu di luar rumah sedang mengajak Alinea jalan jalan di sekitar halaman dan taman,kelihatan Alinea sudah mandi Bi Inah juga sudah ganti pakaian,Aryanti tersenyum melihatnya begitu senang dan begitu terimakasih juga pada pengasuh putrinya yang kelihatan betah betah saja Ikut dengan dirinya walau jauh dari kampung halamannya Pangandaran.
Aryanti duduk di sofa di susul Adrian ikut juga duduk sambil membuka sepatunya,dan Aryanti memperhatikan suaminya di sampingnya sambil menyandarkan badannya di sandaran sofa menikmati rasa lelah dan beristirahat sebentar sebelum mandi dan memejamkan matanya merefresh sesaat fikirannya.
Adrian membukakan sepatu Aryanti juga dan Aryanti begitu terperanjat dan menarik kakinya merasa nggak enak dengan suaminya,tapi Adrian malah tertawa dirinya mengerti istrinya kelihatan sangat capek.
"Kenapa heh ? sini Aku bukain "
"Aku nggak enak Mas biarin aku sendiri nanti,sekarang masih capek"
"Biar sekalian di simpan,apa salahnya aku juga melayani kamu sayang,ini rumah tangga kita berdua...sudah sepantasnya kita saling melayani,memberi dan saling menerima"Adrian memegang betis istrinya dan membuka sepatu istrinya perlahan dan menyimpannya di rak.
"Harusnya Aku Mas yang melayani mu,maafkan Aku ya..."
"Apa yang harus di maafkan,
kamu tak salah apa apa Aku melakukannya dengan senang hati kok..." Adrian tersenyum.
Adrian tak seharusnya seperti itu,tapi dengan senang hati Adrian melakukan apapun yang menjadi pekerjaan perempuan walau hasilnya kadang membuat Aryanti dan Bi Inah tertawa.
Aryanti berfikir Suaminya semakin matang dan dewasa dalam berfikir begitu juga menyikapi pekerjaan dan rumah tangga mereka,semua berawal dari melihat apa apa yang di lakukan Istrinya dan sekarang setelah hadirnya Alinea di tengah tengah mereka terlihat begitu sibuknya Istrinya hampir nggak ada waktu untuk dirinya dan waktu istirahat selalu sibuk nggak di pekerjaan juga di rumah jadi wajar sampai sore begini begitu kelihatan lelahnya,Adrian selalu mengambil alih pekerjaan yang dia bisa lakukan dan satu kelebihannya Adrian selalu ingin mencoba.
Dan Aryanti merasa bersalah jangan sampai terulang lagi suaminya membukakan sepatu untuk dirinya, Aryanti begitu nggak enak hati,suami yang harusnya di puja dan di layani tapi ini malah membukakan sepatunya dan menyimpannya.
Suami adalah pohon derajat yang memberimu perlindungan dan harga diri,hargai dia setinggi tingginya dan saling menutupi aib masing-masing itu lebih baik karena ada kemuliaan dan kebaikan dalam diri seorang suami,itulah nasehat Mamanya yang selalu di ingatnya.
"Mandi yu sayang...biar merasa segar kembali" Adrian menyodorkan tangannya dan Aryanti menyambutnya.
"Sepertinya ada yang baik baikin sama cari perhatian heee..."
"Kita kan sama sama capek, tapi aku mengerti... kamu itu lebih capek dari Aku, Aku seorang laki laki jadi harus lebih kuat dan bisa menjadi pelindungmu"
"Kedengarannya seperti seorang Papa yang heroik heee..."
__ADS_1
"Juga Papa yang bikin kangen ya kan...?"
"Yeeeee.. siapa yang bilang begitu? sendirinya saja,Air laut asin sendiri heeee....emang siapa yang kangen ?"
"Alah nggak ngaku, tapi Aku tahu dalam hatinya,bener kan kalau Aku selalu bikin kamu kangen ?"
"Iya iya tapi kangen gombalnya..."
"Haaaaaaaa...awas ya"
"Air laut asin sendiri..."
Aryanti tertawa dan masuk duluan ke kamar mandi di susul Adrian yang masih tertawa tawa.
"Aku senang banget kalau bisa membantu kamu sayang..."
"Iya Mas terimakasih"
"Sekarang juga boleh aku bantuin buka bajunya ?"
"Kalau yang ini kelihatan banget nggak ikhlas nya,itu namanya ada maunya"
"Heeee...itu sudah tahu"
Aryanti membiarkan suaminya membantu membukakan bajunya satu persatu.
"Makasih ya Mas,sekarang kita mandi saja karena sudah sore,nggak ada mesra mesra an di kamar mandi nggak enak berkeringat dan pada bau"
Adrian termangu menonton istrinya mandi dan Aryanti merasa malu lalu menyipratkan air pada suaminya.
"Enak banget nonton orang mandi,ayo mandi cepat malah asyik melamun..."
"Haaa... emang asyik lihat kamu mandi sayang"
"Iiiiiiiiiih ngeres aja fikirannya"
Adrian ikut nimbrung mandi dan menyalakan shower dan menarik Aryanti kembali yang hampir selesai mandinya.
"Aaaaaah Mas keterlaluan Aku kan jadi basah semua tuh, rambutku,juga handukku..."
__ADS_1
Adrian nggak perduli istrinya teriak teriak,dan semua jadi basah,malah sengaja memeluk dan membawanya ke bawah shower sambil tertawa.
"Jangan teriak teriak di kira orang kamu itu di apa apain sama Aku"
"Sudah sudah Maaaaaas..."
Aryanti melepaskan diri dan Adrian tertawa tawa,Aryanti mengambil handuknya Adrian dan keluar kamar mandi membiarkan handuk dan pakaiannya basah di keranjang cucian.
Dan akhirnya Adrian yang berteriak teriak meminta handuk pada Aryanti,karena Aryanti tadi memakai handuknya...
"Makanya jadi orang tuh jangan jail...handuk orang di basahi,udah jangan teriak teriak takut orang mengira Mas Aku apa apa in haaa..."
Bi Inah yang mendengar kedua pasangan Papa Mama muda ini hanya senyum dan geleng geleng kepala,senang rasanya Bi Inah melihat majikannya begitu serasi dan harmonis,dan yang di rasakan Bi Inah begitu baik kedua nya, begitu menghargai pada dirinya,selalu meminta maaf,tolong dan terimakasih setiap kata katanya,membuat Bi Inah menjadi orang yang sangat di hargai ingin memberi yang terbaik dari tenaganya untuk keluarga kecil ini.
Papanya begitu ganteng dan Mamanya begitu cantik seperti tutup ketemu wadah, seperti ulir dan baut nya jadi klop dan pas,maka jadilah Neng Alinea yang cantik ini,Bi Inah mencium tangan Neng Alinea,ingin rasanya Bi Inah memiliki cucu seperti ini dan anak satu satunya baru menikah dan belum ada khabar kalau Anaknya sudah hamil,dan suaminya telah lama meninggal karena sakit sakitan,jadi Bi Inah begitu leluasa ikut siapa saja dan bersyukur bisa menyumbangkan tenaganya,dan Alhamdulillah ketemu Neng Aryanti dan Pak Adrian yang begitu baik.
Bi Inah ikut keluarga Adrian dan Aryanti seusia Neng Alinea,tapi kalau waktu di Pangandaran Bi Inah datang pagi pagi dan menjelang petang tiap hari pulang dan di jemput menantunya,waktu Neng Aryanti menawarkan dan minta Bi Inah ikut ke Bali Bi Inah senang sekali dan runding sama anak menantunya,singkat kata Bi Inah naik pesawat terbang dengan senang bercampur takut sebagai pengalaman pertama,sekarang Bi Inah sudah di kasih ponsel sama Neng Aryanti buat komunikasi sama keluarganya,
biar Bi Inah betah dan bisa melepas kangen pada keluarganya,cuma Bi Inah belum bisa bisa mengoperasikan ponselnya membuat Neng Aryanti sama Pak Adrian selalu tertawa,dan dengan sabar Aryanti mengajarkan Bi Inah setiap menu dan fungsinya pelan pelan.
"Bi sini Dedek nya biar saya yang ajak main,tolong kasur lantainya di gelar ya biar Dedek nya bebas berguling guling... dan Bibi coba ambil ponselnya biar cepat lancar sini saya ajarkan lagi..."
"Iya Neng..."
Alinea Aryanti gendong dan begitu aktif meraih apa aja yang ada di hadapannya,juga mulai mengeluarkan suara suara ma..ma.. dan suara dari mulut mungilnya,juga mulai memainkan ludah sampai basah ke baju baju...
"Pa ajak main dulu Dedek nya,Mama mau ajarin lagi Bi Inah biar bisa nelephon ke keluarganya"
Adrian yang sudah memakai baju santai rumahan langsung tiduran sama putrinya yang lagi belajar telungkup,di tidurkan telungkup lagi dan lagi sampai capek dan bosan lalu menangis...meronta baru di gendong.
"Sayang sayang sayang...cup cup hemght hemght... yaaaaaah malah nangis"
"Gimana sih Pa kok malah nangis bukannya anteng..."
"Nih sama Mama aja"
"Ciluk ba...ciluk ba..."
"Sudah dulu Bi besok lagi ya nih Dedek nya mau di gendong dulu"
__ADS_1
"Iya nggak apa apa Neng..."
"Sini Papa gendong yu..."