Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Kesepian Ibu


__ADS_3

"Gimana Bi apa Adel sama suaminya sudah bangun?"


"Tadi belum Bu."


"Dari mana Bibi tahu mereka belum bangun?"


"Tadi Neng Adel jawab gini waktu Bibi ketuk dan panggil,


'Iya, Bi aku baru bangun dan masih di tindih susah bergerak nih."


"Itu namanya sudah bangun cuman masih tiduran mungkin masih malas-malasan."


"Kok Bibi nggak bangunin lagi?"


"Sepertinya mereka sudah bangun sekarang Bu."


Ibu Handayani tersenyum dalam hatinya, nggak tidur malam nggak tidur siang mereka masih saja tindih-tindihan.


Tak lama mungkin selang beberapa menit Adelia sudah turun dan kelihatan berdandan cantik dengan pakaian santai kasual nya tampak masih seperti masih gadis remaja juga menantunya di belakangnya tak kalah dengan rambut basahnya kelihatan banget segar dan ceria mukanya.


Sepertinya mereka mau pergi, Ibu Handayani menarik nafas ingin mencegah mereka pergi rasanya biar mereka tinggal di rumah saja mengobrol dan bercengkrama melepas kangennya yang belum puas bersama-sama putri bungsunya.


Entah kenapa dirinya seperti nggak rela anak dan menantunya selalu pergi-pergi inginnya Ibu Handayani mereka berkumpul ngobrol dan mengisi keceriaan di rumah ini kalaupun mau makanan atau apapun zaman sekarang kan bisa pesan lewat telepon atau memesan makanan lewat aplikasi tetapi anak dan menantunya selalu ingin keluar atau mungkin mengantar Adel untuk bernostalgia ke tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi dan sekarang setelah sekian tahun pernikahan tidak lagi dilakukan nya.


"Kemana lagi Nak sayang?"


"Adel mau ke tempat teman Bu, terus ini Kak Fath mau jalan-jalan wisata kuliner khas Bandung."


"Ibu sama Bi Ani masak banyak sayang sengaja Ibu memasak makanan kesukaan kamu tapi kalian malah mencari makanan di luar apa nggak kangen masakan Ibu? tadi pagi kalian cuman sarapan siang hanya makan makanan kecil cilok-cilok kan, sekarang makan malam mau keluar lagi jangan lama lama ya kan Ibu masih kangen."


Adelia memandang ke arah suaminya dan bergantian memandang ke wajah Ibunya. Perasaan bersalah dalam dirinya bergelayut dalam hatinya.


Seandainya Ibu tidak selalu mengungkit dan membicarakan soal keturunan mungkin aku tidak akan keluar dan mencari alasan menghindari kebersamaan.


"Ibu hanya sebentar saja hanya sekedar cuci mata mencari angin segar agar kami tidak bosan di sini, masa di rumah melulu kan Kak Fath belum tahu semua kota Bandung."


"Iya Ibu lupa, kalau kalian itu sudah besar sudah dewasa bahkan sudah berumah tangga dan berkeluarga, tetapi mungkin karena rasa sayang Ibu kepada kalian yang ingin selalu Ibu perlihatkan sampai Ibu lupa kalau kalian anak-anak Ibu sudah berkeluarga sudah ada yang bertanggungjawab."


"Ibu Jangan sedih gitu dong kan Adel masih ada waktu disini, maafin Adel ya Bu, Adel yang belum bisa ngasih cucu sama ibu dan memberi kebahagiaan."

__ADS_1


"Iya sayang. Jangan jadikan semua kata-kata Ibu dan harapan Ibu untuk segera menimang cucu dari kalian sebagai beban di hatimu, itu hanya ungkapan Ibu saja yang ingin melihat kalian bahagia dengan sempurna, Ibu hanya mengingatkan kalau kalian itu harus mulai banyak istirahat, makan makanan sehat."


"Makasih Ibu tersayang, semoga Adel juga bisa menyempurnakan kebahagiaan dan harapan Ibu."


Adel memeluk Ibunya dan mencium pipinya kiri dan kanan.


"Kita nggak lama kok Bu, mau jalan jalan doang sebentar habis itu pulang lagi kan besok kita mau ke Anyer, apa Ibu juga mau ikut sama Bapak sekalian jalan jalan?"


"Sepertinya Ibu nggak pergi jauh-jauh dulu. Kalian sajalah yang masih muda-muda Ibu sudah tua Ibu sekarang jadi cepet capek kalau pergi jauh, lagian kan Bapak sudah punya komunitas di lingkungan sini sekarang."


"Komunitas apa Bu?"


"Itu komunitas bapak-bapak pensiunan di lingkungan sini jadi biar Bapakmu punya kesibukan, kegiatan sosial, lingkungan juga keagamaan."


"Baguslah Bu biar Bapak pensiun masih ada kegiatan."


"Iya sekarang juga Bapak sudah jarang pergi ke kantor kalau tidak ada hal-hal yang penting yang mengharuskan Bapak hadir.


Keinginan Ibu sama Bapak sebenarnya ada salah satu anak Ibu sama Bapak yang tinggal di sini, walaupun waktunya entah kapan mungkin Bapak lebih menitikberatkan kepada Kakakmu."


"Iya Bu suruh Kak Adri sama Kak Aryanti pindah ke sini, biar Ibu sama Bapak tidak kesepian lagi lagian kan ada Alinea yang sangat lucu cantik dan menggemaskan bisa menjadi teman yang sangat menyenangkan."


Fath mengangguk angguk mengerti orangtua istrinya begitu pengertian terhadap kehidupan anak-anaknya dan juga terhadap rumah tangga anaknya memberi kebebasan atas pilihan-pilihannya.


"Ya sudah Bu Adel pergi dulu ya paling Fath nih mau keliling-keliling Kota Bandung mau tahu katanya apa yang dia belum tahu di sini."


"Hati-hati ya sayang, pulangnya jangan malam-malam."


"Jangan kuatir Bu Adel sekarang sudah punya pengawal heee..."


Bu Handayani mengangguk sambil tersenyum mengantar Adel juga Fath ke halaman depan, sampai mereka naik mobil dan mobil berjalan hilang di kejauhan.


"Sayang terkadang aku merasa kasihan dan tak tega banget sama Ibu juga Bapak di masa tuanya mereka jauh dengan semua anak-anaknya, tapi aku harus gimana kita juga begitu jauh, Kak Adrian Kak Aryanti juga sama jauh apa ya solusinya biar Ibu bisa bahagia sama Bapak?"


"Enggak ada jalan lain sayang selain salah satu anaknya kamu atau Kak Adrian yang bisa dekat dengan mereka tetapi aku pikir yang lebih memungkinkan adalah Kakakmu."


"Apa kita enggak ada kemungkinan Mas untuk bisa pindah ke Indonesia."


"Mungkin saja, bukan pindah namanya tetapi kita hidup terpisah kamu bisa di sini dan aku di Malaysia, tapi mungkin nggak kita menjalaninya? bisa nggak aku menahan rindu sama kamu dan kamu sendiri mampu nggak jauh dariku?"

__ADS_1


"Aku sepertinya nggak bisa." Adel melirik manja Fath.


"Apalagi aku sayang."


"Berarti nggak ada solusi untuk masalah Ibu sama Bapak dari kita ya Fath?"


"Begitulah, soalnya aku belum bisa melepaskan kebiasaan satu hari satu malam 3 kali."


"Aaaaah... Fath kamu seperti minum obat aja, kalau aku kasih empat kali berarti itu bonusnya ya?"


"Heee...kalau hari libur kan ada bobok siangnya jadi ada bonusnya."


"Dasar laki-laki semua sama nggak jauh otaknya dari tiga kali plus bonus."


"Coba aja ngobrol sama Kakakmu, siapa tahu ada harapan mereka terpikirkan untuk pulang."


"Sepertinya masih jauh Fath mereka masih menikmati Bali, entah untuk kedepannya."


"Ya, siapa tahu kan kita belum tahu, sepertinya mereka memang menikmati Bali tapi pada kenyataannya tempat wisata itu enaknya didatangi saat kita libur dan berwisata, tapi kalau ditempati sebagai tempat tinggal dan kita bekerja di situ tetap saja ada jenuhnya."


"Iya nanti aku ada waktu mau telephon tapi bukan sama Kakakku tapi sama Kak Aryanti aja, cowok susah di mengerti dan banyak alasan."


Fath tersenyum saja sambil fokus menyetir dan melihat jalan yang akan di laluinya.


.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2