
Ibu Handayani begitu gembiranya dan senangnya melihat anak dan menantunya datang di gandeng nya Aryanti di bawa masuk ke dalam dan menyuruh Bi Ani membikin jus kesukaan Adrian dan jus jeruk buat Aryanti,semua begitu gembira Bi Ani menyalaminya juga Pak Surapraja begitu gembiranya tak sabar rasanya dirinya ingin segera menimbang cucu pertamanya.
Aryanti tersenyum saat menyalami Bapak mertua nya dan Pak Surapraja tertawa lebar sambil merengkuh bahu Aryanti yang hanya senyam senyum dan akhirnya Pak Surapraja merasa dirinya sempurna menjadi orangtua.
"Selama di sini nginep aja di sini besok tambah rame Adikmu datang jadi ada teman bikin rujak lagi heeee..."
"Dek Aryanti jangan terlalu cape ah...harus banyak istirahat" Bu Handayani mengingatkan.
Kenapa semua orang begitu perhatian sama wanita hamil terlebih ini Aryanti mengandung anak pertamanya,cucu pertama keluarga Surapraja juga cucu pertama dari mertuanya sedangkan aku sebagai peran utama di balik semua itu nggak ada yang mengistimewakannya hadeeeeeeeuh... Adrian menepuk dahinya sendiri.
"Dek Aryanti Istirahat saja dulu nanti makan malam bareng ya,ada yang di inginkan,atau mau apa sekarang ?"
"Nggak Bu,perasaan masih kenyang"
"Ya sudah,Nak Adri antar istrimu biar istirahat,hati hati naik tangganya ya..."
Adrian membuka kamarnya dan membiarkan istrinya masuk duluan lalu di susul dirinya,Adrian menyimpan tas pakaiannya di ujung sebelah bawah tempat tidurnya, dan Aryanti duduk di tepi tempat tidur dan menatap Adrian dengan masih sikap marahnya karena memang mereka belum membahasnya karena memang mereka belum menyelesaikannya.
"Mas !"
"Ya sayang apa hemght...?"
"Sini ponselnya !"
Adrian memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan mencabut ponselnya lalu memberikannya pada istrinya,Aryanti mengambilnya dan membukanya dan membaca semua riwayat panggilan yang sampai hari ini Jihan masih melakukan panggilan dan mengirimkan pesan pesan singkat,Aryanti membacanya dengan perasaan marah.
Lalu Aryanti menatap Adrian dengan air mata yang memenuhi bola matanya.
"Apa artinya semua ini Mas ? siapa dia ? bagaimana dengan perasaanmu padanya ?"
"Sayang...Jihan hanya teman Adelia juga temanku,kami hanya berteman itu saja..."
"Aku percaya sama Mas,tapi kenapa ada kata kata yang di luar kelaziman seorang sahabat ?"
"Jihan menyukaiku,tapi aku tidak ! dia di jodohkan tapi dia mau berontak tidak semudah yang dia bayangkan menolak keinginan orangtuanya,jalan terakhir dia mau menerima pertunangan itu tapi dia mau tahu dulu keseharian calon tunangannya itu,makanya dia numpang di Hotel kita,aku hanya menolongnya dan memfasilitasinya itu saja"
"Cukup ! Aku mengerti semuanya satu kata 'Dia memanfaatkan kebaikan Mas,dan mencari celah untuk memasuki hati Mas'
"Sayang dia nggak begitu..."
"Hapus semua panggilan dan pesan pesannya dan blokir nomornya..."
"Sayang..."
"Sudah cukup,atau masalah ini kita bawa ke orangtua Mas kalau kita tidak bisa menyelesaikannya,ini jalan penyelesaian terbaik dan paling bijaksana buat kita"
Aryanti menyodorkan ponselnya ke hadapan Adrian dan Adrian mengambilnya Adrian membuka ponselnya dan menghapus semua panggilan panggilan, riwayat panggilan semua pesan pesan dan memblokir nomor telepon Jihan.
"Aku tak menginginkan apa apa sekarang aku hanya ingin ketenangan,dan menghapus perasaan curiga,cemburu dan kecewa dari dalam hatiku,aku hanya ingin fokus dengan kesehatanku dan kehamilanku"
__ADS_1
Adrian memeluk Istrinya yang menangis sesenggukan,
sepertinya begitu sakit hati yang begitu dalam,kekecewaan Aryanti tumpah seketika,walau hatinya sedikit tenang dan merasakan longgar tak terlalu sesak seperti saat saat sebelum bicara dengan Adrian.
"Maafkan aku sayang,aku tidak mencintai siapapun,aku hanya mencintaimu,kalau aku ada hati sama dia aku begitu banyak kesempatan untuk melakukan apapun saat kami di Australia,peluangnya begitu banyak apalagi Jihan menyukaiku,tetapi aku tak mampu berbuat curang padamu, tetap senyummu dan segala yang ada di dirimu yang membuat aku rindu"
Aryanti menengadahkan wajah Adrian yang memeluk kedua pahanya dan menenggelamkan wajahnya di pangkuannya,
Aryanti mengusap ujung mata Adrian yang basah.
"Maafkan aku juga Mas,aku juga bukan istri yang sempurna,tapi setidaknya kita cari kesempurnaan itu dengan saling menyempurnakan,kita lupakan semua yang membuat hati kita tidak nyaman"
Adrian menganggukkan kepala.
"Minta maaflah pada calon anakmu,apakah Mas melihat betapa kedua orangtua kita,mertua kita begitu bahagianya ? masa kita berdua harus mengisi hari hari kita dengan sakit hati dan kecewa ?"
Adrian memeluk Aryanti dan perlahan menariknya untuk rebahan,mereka berpandangan,Adrian mengusap usap pipi istrinya dan mengecup bibirnya sekilas.
"Carilah kebahagiaan di luar sana tapi tak akan menemukan kebahagiaan bersama istri dan anakmu"
Adrian menggelengkan kepala.
"Aku mencintaimu sayang"
"Iiiiiiiiiih gombal amat udah mau ada anak baru aja di ucapkan, dari dulu dulu kemana aja ?"
"Tahu ah basi..."
"Haaaaaaaa..." Adrian memeluk Istrinya semakin erat.
"Aaaaaaah... Mas jangan kenceng kenceng nanti anak kita kenapa napa..."
"Alaaah...sekarang jadi punya alasan yah heee...sini Papa cium sayang calon dede bayinya" Adrian mencium perut istrinya yang masih rata.
"Aaaaaah Mas geli tahu"
"Terus di sebelah mana yang nggak geli ? di sini ?" Adrian memajukan kepalanya ke dada istrinya.
"Hai hai hai... itu suplai persediaan makanan buat anakmu nanti..."
"Itu kan nanti sekarang kan belum ada dede nya masih di perut jadi boleh dong buat Papanya dulu heee..."
Adrian tetap memaksa mengexplor daerah situ dan Aryanti tak bisa menolaknya dan membiarkan suaminya sampai puas,tapi bukannya puas tapi malah menstimulus bagian lain.
"Sayang aku kangen sama kamu juga dede nya boleh Papa menengoknya ?"
"Nggak boleh,Mas aku sudah baca ulasan soal hubungan suami istri di tiga bulan pertama kehamilan itu begitu beresiko dan berbahaya buat tumbuh kembang janin"
"Terus aku gimana ?"
__ADS_1
"Ya gimana apanya nggak ada jalan lain selain puasa dulu heeeee..."
"Ya ampuuuuun sayang,kamu tahu kan aku paling nggak bisa nunggu lama lama,paling lama
juga seminggu saat kamu datang bulan itu juga perasaanku sudah berat banget"
"Tapi kan ada syaratnya,boleh berhubungan suami istri tapi jangan banyak gaya,harus pelan pelan,dan jangan merangsang berlebihan"
"Heeee...oke berarti yang standar standar saja nggak apa apa yang penting jangan satu kata 'puasa'
"Itu syarat pertama syarat kedua dan ketiganya ada juga jangan salah..."
"Banyak banget syaratnya...terus apalagi ?"
"Yang kedua,aku kan baru positif dari testpack,harus cek melalui USG dan memastikan kondisi janinku baik baik saja..."
"Oke sayang aku setuju kita periksa mau besok mau sekarang ke klinik atau rumah sakit yang di sini saja ?"
"Dan yang ketiga aku nggak mau berhubungan suami istri di rumah mertua heee..."
"Aaaaaah...sayang jangan jadi syarat itu mah,curang yang bikin syaratnya haaa..."
"Ayo habis maghrib kita periksa yang seakurat mungkin ke Rumah Sakit biar Ibuku yang nelephon dulu Dokter Zakir pasti dia punya rekanan dokter SpOG,tunggu di sini ya aku ngomong dulu sama Ibuku"
Adrian bangkit dan turun ke bawah,seperti berlari dan terdengar Aryanti berteriak.
"Mas hati hati..."
Dan selang berapa menit Adrian naik lagi sambil antusias.
"Sayang Ibu sudah telephon kita periksa sekarang,Bapak sama Ibu juga mau ikut katanya"
"Apa ? memang nggak cukup kita aja Mas ?"
"Ya nggak apa apa masa kita larang,saking mereka bahagianya,habis sholat maghrib kata Ibu"
Dan memang kebahagiaan lagi ada di keluarga Pak Surapraja,semuanya lancar dan sangat sesuai dengan harapan, walaupun yang konsultasinya rombongan tapi dokter SpOG tetap menitik beratkan pada Ibu hamilnya.
"Alhamdulillah Ibu Adrian hamil memasuki minggu ke lima di hitung dari masa akhir datang bulan,darah normal, Ibunya sehat berat badan awal kehamilan bagus,dan jaga selalu kesehatan minum vitamin dan jangan lupa susu hamil untuk tumbuh kembang janinnya"
Suster mengelap gel di perut Aryanti dan Dokter SpOG memberikan hasil USG pada Adrian yang terdiri dari gambar hitam putih satu gumpalan di dalam rahim istrinya.
"Rajin kontrol dan periksa untuk tahu pertumbuhan janinnya,awal awal satu bulan satu kali nanti kalau sudah hamil besar lebih intensif lagi dua minggu sekali sampai pada bulannya satu Minggu sekali"
"Iya dokter terimakasih banyak"
"Sama sama semoga sehat selalu Ibu dan bayinya"
"Aamiin..."
__ADS_1