
Semua berjalan seperti biasanya dan Aryanti menjalani rutinitas seperti biasanya,di rumah dan di pekerjaannya, Aryanti tak memperlihatkan perubahan hatinya yang begitu tak menentu, cemas tak beralasan itu menurut fikirannya,tetapi tetap pertemuan dengan Pak Made Ardika sangat mengganggu mood dan gairahnya.
''Sayang makan yu '' Adrian menghampiri meja istrinya yang lagi termangu di depan komputernya dan Adrian mengusap punggung istrinya yang tak begitu bergairah dan tak semangat.
''Perasaan aku nggak lapar Mas,tapi ayo aja maunya apa ya...kira kira yang enak di mana ?''
''Hai kenapa apa nggak enak badan ? sarapan pagi kelihatan ogah ogahan tadi pagi sekarang nggak mau makan dengan alasan nggak lapar ini sudah nggak bener"
"Heee...selera orang kan turun naik Mas lagi seneng makan ya kita makan banyak, lagi nggak selera ya biasa saja"
"Itu tak seperti biasanya,atau kamu mau makan siang di luar saja biar sekalian cari angin segar ?" Adrian menawarkan diri.
Sekarang sejak Alinea lepas menyusu Aryanti begitu tenang tak semua waktu istirahatnya mengharuskan pulang tapi tetap di sela sela kesibukannya Adrian selalu mengingatkan, juga mengajak Aryanti untuk melihat putrinya di rumah,atau sekedar mengirim makanan buat Bi Inah takut nggak sempat masak.
"Kalau Mas mau makan di luar ayo aja aku senang kok,menyenangkan hati suami kan ibadah heee..."
Adrian tertawa dan menarik tangan istrinya melewati meja meja yang kosong karena lagi pada rehat menikmati santap makan siang menurut seleranya masing masing,Aryanti berjalan dengan suara sepatu truk...truk...truk... di suasana office yang hening,dan melihat meja Komang Putri yang juga kosong sambil berjalan di belakang Adrian.
Adrian mengeluarkan mobilnya dan Aryanti naik di samping sebelahnya,entah ke mana Adrian membawanya Aryanti tak ikut memberi komentar asal makan pulang lagi sudah selesai.
Aryanti menyadari saat mobil parkir di lantai dua Beachwalk Kuta Bali dan Adrian ingin membawa Aryanti pada suasana yang berbeda mungkin dan makan di resto yang ada di lantai dua dengan pemandangan Gemuruh pantai Kuta Bali di kejauhan,memang begitu lain dari yang lain dan begitu romantis tapi galau hati Aryanti semakin menjadi apalagi saat seminggu yang lalu dirinya belanja di sini bertemu dengan Pak Made Ardika yang belum bercerita pada siapapun termasuk Adrian suaminya sendiri.
"Gimana nyaman kan makan siang di sini sayang...? nih tinggal pilih menunya..."
"Heemght...tapi seharusnya makan malam Mas bukan makan siang heee..." Aryanti mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi kita kan lagi membatasi keluar malam malam sayang"
__ADS_1
"Iya Mas nggak apa apa Aku senang kok,tapi jangan lama lama ya Aku ingat Alinea..."
Adrian mengangguk selera makannya juga menjadi berkurang saat ingat Anak tersayangnya sama saja kali seperti seorang Mama seorang Papa juga kalau saat ingat anak seperti itu juga perasaannya.
''Sementara kita manfaatkan sisa tanah yang ada aja Mas nggak apa apa sampai halaman samping tempat tinggal kita jadi area Mini Zoo kita,biar kita bangun tidur semarak suara kicauan burung dan suara binatang lainnya Alinea pasti senang'' Aryanti mulai makan sambil santai ngobrol.
''Oke kita rancang senyaman mungkin jalur jalurnya,dan manfaatin samping Hotel yang sekarang jadi taman Aku rasa sementara segitu juga cukup, bagian belakang samping hunian kita begitu luas''
''Iya Mas kalau di lihat dari jauh perasaan kecil lahannya tapi kalau sudah di datangi dari dekat luas juga heee...''
''Jadi kita pending aja memperluas tanahnya sementara ya sayang...kita efektifkan dulu yang ada yang penting tetap jadi inovasi penting bagi The Praja Hotel dan Restourant Kuta Bali'' Aryanti mengangguk mengiyakan.
''Mas makasih ya,berdua denganmu selalu ada ketenangan,kedamaian dan kebahagiaan buatku,hingga aku lupa bagaimana rasanya sakit,Mas begitu romantis dan menempatkan kebahagiaan ku di atas segalanya..."
"Sayang kenapa kamu begitu melo ? itu semua kewajiban ku sebagai suami dan itu sudah sepantasnya kamu terima semua yang aku usahakan"
"Aku bahagia Mas,dan Aku adalah orang yang paling bahagia" Aryanti memasukkan jari jemarinya pada jemari Adrian dan meremasnya.
"Aku kangen senyum tulus mu sayang"
"Mas tahu aja tempat yang begitu aku suka,makasih juga ya untuk makan siangnya yang romantis ini heee..."
Adrian tersenyum dan mengangguk,lalu mencium sebelah tangan Istrinya dengan perasaan bangga,dan menggenggam tangan Aryanti di mukanya dan menggesek gesekkannya pada jambang,jenggot dan kumisnya yang mulai tumbuh,Adrian tersenyum menggoda istrinya dan memandangnya dengan pandangan nakal,membuat Aryanti mukanya bersemu merah.
"Hufts...Mas jangan memancing di tempat umum itu bagian dari habis makan malam,dan ini baru makan siang"
"Haaaaaaaa...Aku senang melihat saat kamu malu sayang,dan jawaban kamu selalu membuat aku sadar diri"
__ADS_1
"Dana juga seharusnya menahan diri" Aryanti cemberut.
"Iya aku tahu ini tempat umum nggak mau jadi tontonan gratis semua orang... sudah makannya ?"Aryanti mengangguk dan membereskan sedikit hijabnya dengan melihat di kaca kecil dari dalam tasnya dan sekilas melihat dandanan mukanya,lalu berdiri dan Adrian menggandengnya keluar dari Restourant itu.
"Mas beli buah dulu buat Dedek"
"Silahkan Aku tunggu di sini,nggak enak aku ikut milih"
"Heemght" Aryanti mengangguk.
Adrian duduk sambil membuka buka ponselnya dan begitu anteng sambil sesekali memperhatikan istrinya yang lagi memilih milih buah buahan.
Adrian tersenyum memandang istrinya Aryanti dari kejauhan... begitu sederhana pola fikir istrinya dalam menyikapi dan menghargai kehidupan,semua di bawa bahagia dan selalu terimakasih walau pada dirinya sebagai suami untuk hal terkecil apapun yang dia terima,juga pada orang lain hidupnya damai penuh cinta kasih pada siapa saja terlebih pada keluarganya.
Semua yang di lakukan Aryanti dilihat Adrian atas dasar keikhlasan,menghadapai karyawan,menghadapi staf stafnya juga menghadapi konsumen yang macam macam karakternya menghadapai Bi Inah begitu lembutnya juga pada Anaknya dan dirinya sebagai suaminya.
Aryanti selesai belanja dan menghampiri Adrian yang lagi duduk,Adrian mendongakkan kepalanya ke atas, Aryanti berdiri dengan dua tentengan kantong plastik.
"Ayo sudah selesai..."
Adrian bangkit berdiri dan mengambil alih kantong yang di jinjing istrinya dan mereka melenggang melewati cafe cafe di lantai dua Beachwalk Kuta Bali yang menghadap ke Pantai.
Sepasang mata memperhatikan Adrian dan Aryanti dari mulai makan dan terus belanja,penuh kebencian saat melihat sosok Adrian dan penuh cinta saat melihat sosok Aryanti yang begitu mesra di samping suaminya.
"Generasi Surapraja yang Aku benci ! Si keledai bodoh Adrian tapi beruntung dan hoki semua mengambil yang seharusnya menjadi milikku,begitu sukses di tanah leluhurku,juga mengambil Aryanti Saraswati ku,sampai kapan Kamu bisa melenggang di tanahku hai generasi Suraparaja, Aku hanya bagian yang tersisih dari keangkuhan kekuasaan mu hai Surapraja"
"Aku hanya bagian terkecil dari ambisi mu hai Surapraja Aku hanya dapat pendidikan dan jabatan bukan pemilik Hotel yang seharusnya itu adalah milikku,Aku sekolah dari luar negeri ilmu management perhotelanku sangat mumpuni,aku lulusan terbaik aku lulus cumlaude di angkatan ku,tapi aku harus menjadi pahlawan di keluargaku, dan pahlawan kebanggaan ku bagi putriku Aira yang setiap saat menanti kepulangan Aryanti Saraswati ku"
__ADS_1
"Aku ingin membahagiakan putriku yang setiap waktu menanti mu Aryanti,seperti juga aku yang merindukanmu,akan datang hari dimana anakku akan bertemu denganmu Aryanti Saraswati"
Cinta dan benci merasuki hati I Gusti Made Suardika,semua menjadi tak masuk akal dan logika,yang di lakukannya itu yang dianggapnya benar,semua berawal dari hilangnya kasih sayang dari istri tercinta dan mendapati Anaknya yang sakit dan hanya karena Aryanti memiliki kecantikan mirip istrinya menjadi samar bayangan, kenyataan hidup Made Ardika seakan tak masuk di akal sehat,satu kata Aryanti harus menjadi miliknya sehari,seminggu,sebulan atau seterusnya.