Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Cinta datang karena terbiasa


__ADS_3

"Bisa saya bicara sama Pak Adrian ?"


"Ya ini dari mana,dengan siapa ?"


"Sampaikan saja dari Jihan sahabatnya..."


"Apa Ibu sudah ada janji sebelumnya ?"


"Belum,saya mencoba menghubungi pada ponselnya tapi tidak aktif apa ada nomor lain yang bisa saya hubungi ?"


"Sepertinya nggak ada Bu,nomor ponsel Pak Adrian hanya itu,juga nanti saya lihat dulu di agendanya Pak Adrian dua hari kedepan dan seminggu kedepan"


"Oh silahkan..."Jihan sabar menunggu dalam rasa herannya,kenapa dari kemarin tak bisa di hubungi,katanya mau mengenalkan istrinya tapi tiba tiba menghilang seperti hantu.


"Halo Bu Jihan masih di situ...? terima kasih telah menunggu..."


"Ya gimana bisa saya bicara ?"


"Maaf Bu Jihan Pak Adrian sudah pergi ke Bandung Senin malamnya,Menyusul Bu Aryanti yang berangkat duluan..."


"Apa ? sudah pergi


ke Bandung ? apa ada pesan buat saya sebelum pergi ke Bandung ?"


"Sepertinya tidak Bu nggak tahu kalau sama Bu Linda..."


"Siapa Bu Linda ?"


"Sekretaris atau asisten Bu Aryanti..."


"Apa pak Adrian punya sekretaris ?"


"Sepertinya tidak Bu" wah... menarik juga struktural nya, malah Istrinya yang punya sekretaris,sedangkan pimpinannya tidak...


"Halo Bu Jihan apa ada yang bisa di bantu lagi ?"


"Oh iya tidak terimakasih..."


"Terimakasih telah menghubungi The Praja Hotel dan Restourant Pangandaran..."


Ada apa dengan Mas Adrian kemarin mereka bertemu dan ngobrol,juga cerita semua tentang Hotelnya,tentang damainya hidup di Pangandaran ini,juga dengan rumahtangganya yang masih begitu enjoy sambil menunggu buah hati mereka hadir juga cerita pencapaian istrinya dalam memajukan Hotel ini,dan satu lagi Adrian akan memperkenalkan dirinya kepada istrinya dan juga Adrian mengajak Jihan untuk melihat arena outbound yang pertama ada di Pangandaran.


Dan juga cerita tentang diri Jihan ,soal perjodohan orangtuanya dengan sepupunya yang tak begitu Jihan setujui,tapi tak ada jalan lain juga kata penolakan karena dirinya tak bisa menyodorkan calon lain pada orangtuanya.

__ADS_1


Jihan dalam hati kecilnya ada rasa bersalah,karena dirinya datang masih dengan perasaan 'suka' di dalam hatinya pada Adrian yang selama ini menjadi obsesinya,walau benar Jihan dalam hatinya mengakui itu salah dan menyadari Adrian hanya memandang dirinya sebagai sahabat juga Adrian sekarang sudah berkeluarga dan satu catatan dalam hatinya seperti apa istrinya Adrian, sampai sebegitu Adrian memuja dan memujinya ? semua itu menggelitik hati Jihan untuk bisa melihat bagaimana sosok Nyonya Adrian seorang Manager itu ?


Jihan mengemas semua barang barangnya seperti tamu tak bertuan akhirnya keberadaan dirinya di Hotel ini,dan hanya menggantung sopir yang mengantar dirinya yang dengan setia menunggu dan mengantar kemana saja sang tuan membutuhkannya,Jihan menuliskan sesuatu di selembar kertas,permintaan maaf yang sebesar besarnya buat Adrian dan istrinya,maaf atas semua kehilapannya,telah memasuki kehidupan rumahtangganya Adrian tanpa permisi,mungkin dirinya menjadi masalah kesalahpahaman keduanya,dan Jihan memasukkan kertas ke amplop dan keluar kamar Hotel dengan menarik roda kopernya.


Jihan mendatangi resepsionis dan menitipkan amplopnya juga checkout dari Hotel itu,dan Jihan mantap melangkah ke mobilnya di susul sopir keluarganya yang berlari mengejarnya dan meraih kopernya dan memasukkan ke bagasinya.


"Kita pulang Neng ?"


"Bukan Pak,tapi sekarang ke tujuan utamanya..."


"Oh jadi kita sekarang ke mana Neng ?"


"Ayo masuk saja nanti di kasih tahu"


"Ya ya ya..."


"Mobil mini buatan Jepang itu melaju dan Jihan hanya termangu di jok belakang sambil melirik bangunan dan papan nama The Praja Hotel dan Restourant Pangandaran dan semakin hilang jauh tak terlihat lagi di belakangnya.


Dan selang beberapa saat mobil sampai di tempat yang di tuju,Pangandaran Beach Hotel.


"Belok Pak dan masuk ke parkiran,Bapak boleh bawakan koper saya ke Lobby Hotel saya kira kira di sini sekitar dua hari dua malam sebelum pergi ke Bandung,mau makan,mau istirahat silahkan kalau saya ada perlu juga ada perubahan nanti saya telephon"


"Oh iya iya Neng silahkan..."


Jihan berjalan Anggun menuju Lobby Hotel dan langsung bicara sama resepsionisnya,lalu Jihan duduk di sofa ruang tunggu dan tak lama seorang pegawai laki laki datang dari dalam mempersilahkan Jihan mengikutinya,dan Jihan di bawa masuk ke salah satu ruangan dan Si pengantar tadi mengetuk pintu membukakan pintu dan membungkuk lalu pergi lagi.


Sambil melirik kanan kiri Jihan tak sadar seseorang ada di hadapannya dengan senyum lebar,dan Jihan pun sama tersenyum juga.


"Ji...Masya Allah kiranya itu kamu itu ? ayo ayo masuk...kenapa tak menelephon dulu,biar aku jemput..."


"Kak Habil Apa khabar..." Jihan menyatukan telapak tangannya di dada.


"Alhamdulillah Ji aku sehat semua baik baik saja,Abi Ummi gimana semua ? kamu pulang kapan dari Australia ?


"Abi Ummi Alhamdulillah,aku pulang sudah dua minggu yang lalu..."


"Betah banget di Australia nya ya sampai sampai aku nggak punya nomor telephon kamu,ayo duduk di sini"


Habil begitu sopan nya dan begitu hangatnya menyambut adik sepupunya Jihan,Jihan semakin cantik dengan seiring kedewasaannya yang semakin matang,darah campuran Arab Sunda semakin menegaskan kecantikannya di usia yang sudah matang,tapi wajah Jihan tak bisa di hilangkan dari garis keturunan Bapaknya yang punya darah Arab,menjadikan seorang Jihan unik dan elok dengan postur yang tinggi juga pembawaannya yang agak keras.


Jihan melihat Habil juga semakin matang dan dewasa,selain kelihatan lebih tua dari usianya Habil mungkin karena rambutnya agak jarang dan hampir botak di atasnya.


"Berapa tahun ya kita tak bertemu Ji ?"

__ADS_1


"Ada kali enam tahun,terakhir kita bertemu saat aku ngantar Kak Habil berangkat ke Kairo,waktu itu aku kelas dua SMA,terus kuliah 4 tahun ya kira kira segitu lah..."


"Ya ya ya..."


"Sebenarnya aku mau minta tolong sama Kak Habil,mau di antar ke resepsi pernikahan sahabatku semasa kuliah di Australia,tapi di Bandung kira-kira Kak Habil ada waktu nggak ?"


"Ya ya ya...nanti aku lihat dulu jadwalku ya,boleh kenapa enggak ?"


"Jihan tersenyum"


"Terus kamu mau tidur di mana,maksudku mau di Hotel atau ke rumah Abi saja,pasti mereka senang..."


"Di sini saja Kak...nanti saja ke rumah Abi mu"


"Oh iya nggak apa apa..gampang biar aku carikan kamarnya mau yang di mana ?"


"Yang mana aja Kak nggak masalah..."


"Biar aku tanya resepsionis dulu"


Habil membawakan kopernya Jihan dan Jihan mencoba memberikan sinyal pada Habil dengan menggandeng tangan sebelahnya,dilema bagi Habil di sini dirinya pimpinan dan di sini juga dirinya akan jadi tontonan semua karyawannya sedangkan semua orang belum tahu siapa itu wanita di sampingnya.


Habil menarik nafas lega setelah sampai di kamar yang di tuju,dan Jihan masuk duluan di susul Habil,Habil berdiri dekat pintu dan Jihan telah duduk di tempat tidur dan menyimpan tasnya.


"Sini Kak kita ngobrol sebentar tutup saja pintunya"


Habil gelagapan dan langsung menutup pintu lalu duduk di samping Jihan,Habil menangkap begitu jauh perbedaan Jihan sekarang dan Jihan dulu,juga Jihan yang sekarang seperti begitu berani.


"Kak Habil kita langsung saja pada obrolan utama ya...saya tahu Kak Habil juga pasti tahu keinginan orangtua kita seperti apa harapannya pada kita,dan saya sekarang mau tanya sama Kak Habil apa Kak Habil punya kekasih tidak ?"


"Tidak,dan pertanyaan itu sekarang balik untukmu bagaimana ?"


"Aku juga sama,berarti kita sama sama tak punya teman dekat,oke dan selanjutnya seperti apa komitmen kita selanjutnya ?"


"Jihan...Aku seorang laki laki walau pada kenyataannya aku tak bisa berpaling dari aturan orang tua aku ingin seorang istri yang mencintaiku dan aku mencintainya,aku tidak bisa memaksa apalagi padamu aku menginginkan ketulusan"


Jihan terdiam, betapa dewasanya Habil sekarang ini kelihatannya,dan pertimbangan yang masuk akal untuk perencanaan masa depannya.


"Sebenarnya Aku juga begitu Kak walau dari awal terus terang aku tidak mencintaimu,Tapi aku minta waktu kita jalani dulu semuanya dan kita saling menjajaki walaupun itu bukan taaruf"


Habil terdiam dan Habil tahu dan sudah menduga dari awal kalau Jihan tidak mencintainya dan ada satu titik yang diberikan Jihan untuk penyelesaian semua ini kita jajaki dulu kita jalani dulu, siapa tahu cinta akan datang karena terbiasa.


Keduanya tak bisa berontak dengan aturan orang tua dan hanya itu yang bisa mereka lakukan.

__ADS_1


"Boleh aku memelukmu ?"


Habil tertawa dan merentangkan tangannya,dan Jihan mendekatinya dan bergeser...mereka berpelukan bukan sebagai saudara sepupu tapi mereka mencoba merubah semuanya.


__ADS_2