
Mereka berpelukan dan berciuman tak perduli di mana mereka berada, seperti saat lagi kasmaran semua begitu bergairah dan bernafsu sampai sampai mereka baru sadar terdengar suara Pak Daman batuk di sofa luar ruangan mungkin memberitahukan kalau dirinya sudah ada di tempat kembali.
"Iiiiiiiiiih...Mas mancing mancing saja" Aryanti melepaskan pelukannya perlahan sambil menahan senyum juga menahan perasaannya
"Haaa...nyalahin orang lagi sendirinya juga begitu menikmatinya" Adrian sekali lagi mencium pipi Aryanti sambil tertawa dengan nafas belum beraturan.
Adrian menggandeng tangan istrinya dan keluar sambil tetap memandang semua hiasan dinding dan sekeliling ruangan,Pak Daman telah duduk di tempatnya kembali dan tersenyum saat Adrian dan Aryanti datang.
Ada Air mineral botol juga seduhan kopi khas Cafe yang begitu wangi menyegarkan di atas meja.
"Silahkan di minum dulu Pak Adrian,kalau kurang tidur saya juga suka agak puyeng kepala"
"Ya ya ya terima kasih Pak Daman" Adrian duduk di samping Aryanti yang lebih dulu telah duduk.
"Sampai di mana kita tadi bercerita Pak ?" Aryanti memulai bicara lagi.
"Oh ya tadi sampai di sini Bu Aryanti,kita adalah orang luar dari konflik mereka, kita fokus aja kepada pekerjaan kita jangan terganggu dengan cerita saya dengan kenyataan yang ada,toh kita disini ada hitam diatas putih nya kepemilikan Hotel sah ada badan hukumnya ada bukti-bukti otentiknya dan Insya Allah tidak ada apa-apa kepada kita semua"
"Kita ulang saja dari awal ya Bu Aryanti biar sekalian saya cerita di depan Pak Adrian" Pak Daman menambahkan.
"Ya ya ya secara garis besarnya saja tadi saya lagi ngobrol sama Pak Daman Mas saya mau tahu soal Pak Made Ardika,penting buat kita untuk bisa memahami permasalahan yang ada menjadi bahan masukan buat kita agar kita bisa lebih bijaksana menyikapinya" Aryanti menerangkan sedikit pada Adrian.
"Ya betul jadi gimana persoalannya ?" Adrian menyimpan cangkir kembali pada piring kecilnya dan menatap Pak Daman.
"Persoalan intinya begini Pak Adrian ini soal Pak Made Ardika, kami hanya mendengar saat masalah mencuat keluar dan semua terbongkar juga ini yang menurut saya dengar dan telisik dan melihat fakta, kalau sebagian dari keluarga besar Pak Made Ardika tidak setuju menjual tanah ini kepada pengembang Hotel ini yaitu Pak Surapraja, termasuk keluarga Pak Ardika sendiri, dan setelah itu saya tidak tahu lagi perkembangannya seperti apa cuman itu menurut pandangan saya dan menjadi konflik keluarga besar mereka sampai saat kini, istri Pak Ardika yang sakit sakitan waktu itu sampai meninggal dunia entah itu bagian dari pikiran konflik keluarga nya,entah itu dari penyakitnya, yang pasti menurut pandangan kita secara nalar itu sudah menjadi takdirnya, dari situ semuanya berawal konflik keluarga Pak Ardika merambah kepada konflik di Hotel ini yang Pak Ardika sebagai pimpinannya"
"Mas sampai sampai Istrinya Pak Made meninggal keluarga besarnya menuding itu akibat kualat karena menjual tanah leluhurnya pada Pak Surapraja kata keluarga besarnya"
Adrian bengong mendengar semua cerita yang seperti hanya ada di film film dan di buku buku cerita.
''Dari situ mulai goyang hatinya Pak Ardika,hidup dalam tekanan keluarga membuat Pak Made Ardika tidak fokus mengelola Hotel ini terjadi kemerosotan tajam setelah anaknya juga sakit,di satu sisi keluarga tak setuju jual tanah pada Pak Surapraja tapi di sisi lain pak Made Ardika bekerja di Hotelnya Pak Surapraja"
__ADS_1
''Hah !? Aira sakit ?" Aryanti begitu terkejut,terbayang wajah cantiknya Aira tiga tahun lalu.
"Ya Anaknya sakit tapi seakan di sembunyikan dari orang orang kata berita dia lumpuh,sejak saat itu semua begitu menyita perhatian Pak Made Ardika berobat ke mana mana tapi malah mungkin keuangan Hotel juga terseret agak terkikis
sampai pada akhirnya Hotel di kontrol secara menyeluruh kesalahan terletak pada pimpinan,dan Pak Made Ardika tak mengakuinya malah mengundurkan diri"
Aryanti mengambil air mineral di meja dan meminumnya, tenggorokannya terasa kering dan tersekat.
"Saya tidak tahu keberadaan Pak Made sekarang juga keluarganya dan saya menangkap Pak Made Ardika seperti orang linglung atau pura pura linglung entahlah Pak Adrian,Bu Aryanti...apa itu memang stress atau pura pura saya nggak tahu"
"Yang Pak Daman tahu soal keluarga besarnya sekarang gimana,maksud Saya paman,ua ua nya atau kakek neneknya ?"
"Waktu team management mendatangi mereka sama saya juga waktu itu,sebagian menerima mau gimana lagi ? lha sudah terjadi jual beli yang sah,juga sudah jadi Hotel ini ?tapi ada juga yang masih ngotot tidak terima dan masih belum memakai uang hasil pembagiannya sedikit juga..."
"Setelah sekian tahun masih belum memakai uangnya ?" Adrian seakan nggak percaya.
"Wow sangat menarik juga begitu mendalam permasalahan ini" Aryanti mengangguk angguk dan memegang tangan suaminya seakan ingin menyelesaikan semuanya.
Pak Daman mulai berfikir,karena semua karyawan tidak bisa di hitung satu satu,dan di pisah mana yang keluarga Pak Made Ardika mana yang bukan.
"Ada datanya Bu Aryanti,di daftar karyawan kita bisa cek nanti, saya tahu muka mukanya tapi nggak bisa menghitungnya,kalau karyawan asli pribumi mungkin ada 50 persenan apa kurang"
"Satu lagi Pa Daman saya mau tahu apa dari semua karyawan pribumi termasuk keluarganya Pak Made Ardika masih ada yang duduk di jajaran staf ? juga semuanya nggak ada yang kelihatan 'julid' atau semua pure berniat untuk kerja ? ini yang Pak Daman tangkap sepanjang pengalaman keberadaan Pak Daman di sini..."
Yang di jajaran staf hanya Komang Putri... Bu Aryanti, itu masih sepupunya Pak Made Ardika, terus yang lainnya karyawan biasa saja,tapi saya tidak bisa memastikan karena hati orang saya tidak tahu apa diantara sekian karyawan yang di bagian mana ada orang nya Pak Ardika saya tidak tahu"
"Ya sementara cukup Pak Daman,terimakasih segala informasinya,masukan dan semua jadi pertimbangan saya untuk langkah selanjutnya kita fikirkan lagi bersama,pelan pelan saja dan semua semoga secara berangsur kembali normal"
"Ya sama sama Bu Aryanti Pak Adrian..."
"Pak Daman apa Pak Bharata sama Komang Putri ada masuk kerja ?"
__ADS_1
"Ada...masuk nanti biar saya panggilkan"
"Ya sebelum pulang saya mau kenalan dulu..."
Pak Daman bangkit dan berjalan masuk ke office dan kembali bersama seorang perempuan sedang hitam manis dan mungkin yang satunya tinggi besar agak serem sedikit senyum sepantaran Pak Edi itu namanya Pak Bharata,
kelihatannya sangat sopan.
"Oh ya saya Aryanti dan ini pimpinan baru di sini Pak Adrian..." Aryanti mengenalkan diri duluan Koming Putri tersenyum manis dan ramah sambil mengangguk juga pak Bharata sama tersenyum dan mereka saling bersalaman.
"Besok kita lanjutkan lagi ya... saya hanya ingin berkenalan dulu juga sama staf staf yang lainnya besok saja"
Semua tersenyum dan membubarkan diri.
"Pak Daman,saya sama istri saya permisi dulu kalau saya perlu mobil sama siapa apa kuncinya di Satpam apa di resepsionis ?"
"Oh mari saya antar ada di resepsionis"
Adrian dan Aryanti diantar pada resepsionis untuk mengambil kunci mobil yang biasa di pakai sama pimpinan di sini, Adrian begitu selektif terhadap kendaraan apalagi ini tempat baru orang orang baru juga semua serba baru,apalagi pimpinan kemarin bermasalah dengan Hotel dan management,
Adrian nggak mau ambil resiko untuk dirinya dan anak istrinya ini hanya jaga jaga saja...
"Terakhir di pakai kapan ini mobil Pak Daman ?"
"Emght...saya kurang tahu Pak...paling setelah nggak di pakai Pak Made Ardika cuma di panas panaskan saja"
"Pokoknya saya nggak mau pakai sebelum di servis dan di pakai dulu sama Pak Daman... servis aja dulu,dan pakai dulu sama Pak Daman saya pinjam mobil operasional sehari hari saja nggak apa apa..."
"Oh mangga silahkan saja Pak Adrian" Pak Daman mengganti Kunci dan di berikan pada Adrian"
"Kalau ada apa apa telephon saya atau Pak Bharata saja ya... sama saja,kami berdua kepercayaan Pak Surapraja dan sekarang kami juga bertanggungjawab menjaga semua aset dan keluarga Pak Adrian..."
__ADS_1
Adrian dan Aryanti tersenyum sambil masuk ke dalam mobil.