
Adelia dan Fath turun ke bawah masih dengan rambut basahnya, di sambut Ibu Handayani dengan tersenyum dan mempersilahkan anak menantunya untuk duduk dan sarapan di meja makan.
Pak Surapraja yang masih duduk di meja makan juga tersenyum mengangguk kepada anak menantunya dan melipat surat kabarnya, sarapannya sudah selesai tapi mau menemani dan ngobrol saja.
"Gimana khabarnya Kakakmu di Bali Nak?"
"Baik semua Pak mereka kelihatan bahagia." Adel mengambil piring dan menyendok kan nasi goreng ke piringnya.
"Syukurlah, Bapak sudah kangen pada cucu Bapak dan entah kapan bisa bertemu"
Adelia menendang kaki Fath di bawah meja sebagai tanda siap siap dengan kata-kata nya seandainya Bapaknya keterusan membahas soal yang satu itu, dan biar Fath cepat cepat mengalihkan pembicaraan.
Adelia begitu sensitif kalau mendengar kata cucu, anak, hamil, lahiran dan hal hal yang menyangkut keturunan mungkin saking inginnya Adelia memiliki anak.
Walau menikah masih di bilang belum lama tapi bisa di bilang sudah siap untuk menerima kehadiran anak kadang Adelia sendiri yang uring uringan sendiri dan Fath tenang tenang saja.
Untuk apa dipusingkan dengan hal-hal yang belum saatnya kita nikmati kebersamaan kita sebelum hadirnya seorang anak kalau nanti sudah ada anak kita tidak mungkin sebebas ini pasti akan banyak pertimbangan untuk melakukan segala sesuatu yang kita sukai, Fath selalu bijaksana memberi pengertian terhadap Adelia.
Adelia mungkin mengerti tetapi orang tuanya dan juga mertuanya di Malaysia akankah mereka mengerti dan bisa memahami seperti bijaksananya hati seorang Fath?
"Bapak masih ke kantor?" Adelia duluan bertanya kepada bapaknya dan sekalian mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Ya ke kantor tapi semaunya" Pak Surapraja tersenyum lagi.
"Maksudnya?"
"Kapanpun Bapak mau ya jalan, juga kalau nggak mau ya di rumah saja sama Ibu kamu."
"Oh gitu."
"Kadang bapak hanya jalan-jalan aja keluar sama ibu, ke Hotel kemana saja kami ingin pergi ya pergi menyenangkan hati kami, dan memang benar-benar Bapak sama Ibu menikmati masa tua dengan penuh kebahagiaan. Cuman sayang kami hanya berdua rasanya ingin ada cucu Bapak yang tinggal bersama kami."
Sekali lagi Adelia menyentuh kaki Fath di bawah meja, dan Fath yang lagi meminum tehnya sampai tersedak karena kaget. Adelia menahan tawa melihat suaminya sedang tidak fokus.
"Bapak nggak menantang aku bermain catur?" Fath buru-buru menjawab mertua laki lakinya sebagai bahan pengalihan pembucaraan.
__ADS_1
"Haaaaaaaa...dengan senang hati Nak Fath, dan memang Bapak telah lama tidak bermain catur karena tidak ada partner yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk melatih otak tetap bekerja agar tidak pikun."
"Aku ada di rumah hari ini ya kan sayang?" Fath melirik istrinya Adelia yang lagi asyik makan.
"Iya, kan baru besok kita mau ke Anyer nya."
"Di rumah lah dulu barang sehari, namanya saja pulang ke rumah tapi tiap hari keluyuran aja nggak ada di rumah sampai Bapak Ibu mau ngobrol juga tidak ada waktu."
"Heee...kan Adel juga kangen sama teman Pak, juga tempat jajanan di kota Bandung ini, kan Fath yang minta di kenalkan."
"Heith...jangan suka mengalihkan sayang, aku sukanya tidur jadi siapa yang akan percaya kalau aku yang mengajak kamu keluar melulu?"
"Sudah-sudah yang penting hari ini kalian di rumah baru malam boleh keluar sebentar, Ibumu tuh sampai melirik lagi melirik lagi nungguin kamu pulang atau saat kamu belum bangun dari tidur. Mestinya kalian kasihan sama dia ingin melepas kangennya bisa ngobrol bareng, berenang dan juga bisa masak bareng-bareng."
Dan suasana yang begitu diinginkan Pak Surapraja dan Ibu Handayani ya hari-hari yang seperti ini bisa menikmati kebahagiaan pagi, melewatkan dengan aktivitas yang jarang mereka lakukan kalau tidak ada anak menantunya pulang seperti saat ini.
Kebahagiaan Ibu Handayani begitu kelihatan saat melihat Fath duduk berhadap-hadapan dengan suaminya Pak Surapraja bermain catur di teras depan, tawa suaminya mungkin saat mengakui kalah dan kepepet terdengar begitu nikmat.
Begitu juga saat Adelia ikut nimbrung masak di dapur dan Bi Ani membikin kan cilok kesukaannya sebuah kebahagiaan yang tidak tergantikan dan tidak bisa dibeli dengan harga berapapun.
Ibu Handayani tersenyum saat melihat Adelia dan menantunya berenang memperlihatkan kemesraan mereka sebagai suami istri besar harapan Ibu Handayani untuk segera menimang cucu dari anak bungsunya itu.
"Fath kita nonton ya sore ini mau nggak?"
"Nggak?"
"Aku lebih senang jalan-jalan bukan menghabiskan waktu dua jam pegangan tangan di tempat gelap dan nonton tidak fokus."
"Iiiiiiiiiih...maunya kamu ini apa sih?"
"Aku suka yang real-real saja seperti memandang kamu saat berpakaian renang seperti ini dan kita merealisasikannya berenang bersama nanti di tempat tidur kamar kita."
"Dasar kamu ngeres dan mesum saja otaknya."
"Haaaaaaaa...apaan daripada nonton aku lebih senang mengantar kamu cari makanan kesukaan kamu apa itu?"
__ADS_1
"Oke kalau begitu nanti sore kita jalan jalan."
"Hai sayang tahu nggak, tadi juga Bapak kamu masih saja menyinggung soal yang kamu nggak suka itu."
"Masa, apa katanya?"
"Istrimu masih suka ikut kamu bantuin kamu bekerja?" aku jawab iya hanya mengisi waktu saja dan membunuh kesepian saat menunggu suami pulang dari kantor, jadi apa salahnya membantu dan meringankan beban suami sambil santai menemani suami."
"Waduh sepertinya sudah mulai krisis harapan mereka itu, tapi Bapak nggak memojokan kamu sebagai laki-laki tidak tajam lah, kurang energik lah."
"Cuma aku ingat satu pesan Bapak tadi waktu kami sudah memasukkan bidak-bidak lalu menutup papan caturnya Bapak berpesan satu padaku, kata bapak tadi aku harus menambah lagi durasinya."
"Aaaaaah...bohong kalau yang itu mah maunya kamu saja pasti, nggak mungkin Bapak ngomong behityu, itu kedengarannya sangat akal-akalan emang aku mau percaya apa?"
Fath tertawa ngakak dan Adelia menyipratkan air kearahnya dan Fath berenang ke tengah menghindar tapi Adelia mengejarnya sampai dapat dan Fath memeluknya sambil masih tertawa,dan akhirnya mereka tertawa bareng, Fath membimbing istrinya menepi dan mereka duduk di pinggir kolam dan istirahat, kaki mereka masih masuk tercelup ke air dengan nafas yang masih terputus putus.
"Neng Adel cilok nya matang cobain nih, takut kepedasan." Bi Ani sudah menaruh mangkuk di meja taman.
"Iya Bi makasih, nggak apa pedas juga"
Ibu Handayani keluar dan duduk duluan di kursi taman sambil mencicipi masakan Bi Ani, melihat kebahagiaan putrinya yang menjadi kebahagiaannya. Besar harapannya untuk lebih menyempurnakan kebahagiaan itu dengan hadirnya seorang anak dari kehamilan putri kesayangannya, tetapi semua itu selalu Ibu Handayani tak mau mengungkapkannya takut anak dan menantunya merasa terganggu saat dirinya mengusik atau mengingatkan akan hal yang satu itu.
Tetapi melihat kemesraan mereka cukup mengobati hati Ibu Handayani. Dan dalam hatinya tetap berdo'a semoga kebahagiaan putri dan menantunya yang setiap saat jadinya doa akan mencapai kebahagiaan yang sempurna yaitu dengan hadirnya seorang anak cucu bagi mereka.
.
.
.
.
.
Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.
__ADS_1
Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝