
"Kak Habil sudah melihat agendanya belum,hari minggunya bisa nggak ?"
"Buat kamu saya bisa usahain,semua bisa di atur tenang saja..." Habil tersenyum di sela sela mereka menghabiskan makan malamnya.
Jihan tersenyum dan mengangguk.
"Ji,sebenarnya aku tidak berpaku pada orangtua kita,menurutku hanya kita kurang bertemu ngobrol dan lebih akrab lagi denganmu, sebenarnya aku juga bukan orang yang begitu mudah jatuh hati,tapi jarangnya kita bersama sama,cobalah buka hatimu kita abaikan dulu orangtua kita biarkan hatimu dekat denganku"
"Aku sependapat denganmu Kak Habil,aku setuju makanya aku nggak mau dulu datang ke rumahmu,biarkan hatiku dekat denganmu untuk lebih mendapatkan keyakinan dan agar aku bisa lebih meyakinkan hatiku"
Habil menggenggam tangan Jihan dan Jihan membiarkan Habil mengusap usap dan memainkan tangannya.
"Sebenarnya orangtua itu tak ada salahnya,hanya saja terkadang kita menerimanya dan mencernanya dengan cara lain dan pengertian lain,sehingga kita merasa ada keterpaksaan"
"Aku tahu Kak Habil orang baik,bisa memahami dan menghargai,aku yakin itu
"Juga kamu Ji semakin dewasa semakin cantik saja,semoga secantik hatimu dan bisa memandang aku dari sisi yang berbeda menurut hatimu"
Jihan merasa tersanjung,dan membiarkan Habil menggenggam tangannya.
"Apa kamu mau jalan jalan dulu sebelum malam ? dengan senang hati aku bisa menemani dan mengantarmu..."
"Boleh...tapi aku nggak tahu objek di sini selain pantai,pantai memang tempat favorit ku karena sejak kecil aku sudah menjadi anak pantai heee..."
"Ya sudah kita ke pantai saja ya ?" Jihan mengangguk dan bangkit,Habil menggandeng tangan Jihan dan Jihan pun membiarkan dan seakan menikmatinya.
Habil dan Jihan duduk di bawah pohon yang rindang begitu dekatnya mereka,di redupnya langit dan cahaya sabit dan hamparan pantai dan pesisir pasir putih,ombak dan riak pantai menjadi saksi perubahan pandangan mereka,Jihan menyandarkan kepalanya di bahu Habil dan Habil merengkuhnya perlahan.
"Banyak kesalahan dalam kesendirianku Kak Habil, terkadang sangat bertentangan dengan hati nurani ku,saat aku mencari kedamaian juga saat apa yang kita harapkan tak sesuai kenyataan,pada akhirnya aku temukan kedamaian ku dengan membuka hati untuk belajar mencintaimu"
"Setiap orang punya kegalauan,kecemasan dan kegamangan hati dalam melangkah,apalagi kita sudah dewasa pasti banyak pertimbangan,sama sepertiku terkadang tak berfikir panjang dalam mengambil keputusan"
"Iya aku juga merasakan itu..."
__ADS_1
"Adakah seseorang yang kamu harapkan tapi tak sesuai dengan harapanmu ?"
"Sepertinya Kak Habil tahu ? tentu saja ada, Aku sadar semua hanya mimpi manis dan bukan sesuatu yang terbaik buat hidup kita, apa yang bukan menjadi milik kita,semua hanya menjadi masalah..."
"Aku senang mendengarnya Ji...aku melihat kedewasaan di dirimu,pandang aku sebagai laki laki pada umumnya dan aku juga begitu padamu,walau kita sama sama punya memori masa kecil bersama sama dan hidup di lingkungan yang sama..."
Habil mencium kedua tangan Jihan,dan Jihan merasa terenyuh, begitu istimewanya laki laki di hadapannya ini,apa yang kurang dengan seorang Habil Ismail Hasan Al Rasyid ? seorang pimpinan yang berkharisma juga pewaris sebuah Hotel ternama di Pangandaran,aktif di berbagai organisasi,lulusan Kairo, semua begitu mumpuni,dan masa depan cerah menyongsongnya,
tapi kenapa begitu sulit mencari pasangan yang cocok ? apa ini takdirku pikir Jihan...
Kedua kalinya mereka berpelukan,mencari getaran getaran hati mereka dan merasakan rasa yang belum mereka rasakan sebelumnya.
"Damaikan hatimu dan hiduplah bersamaku Ji..."
Jihan semakin tenggelam di pelukan Habil,hilang semua arogan,egois dan jago berdalih yang selama ini mewakili kesendiriannya dan bela diri atas alasan yang sama dan prinsip yang di pertahankan,pergaulan komunitas mahasisawa yang membuat Jihan banyak melihat keseharian pasangan mahasisawa lain dan kemesraan yang mereka umbar,Jihan semakin berani memasukkan tangannya ke dalam kemeja Habil dan mengusap dada berbulunya apa yang di lihat di lingkungan Australia nya sedikit banyak merubah adat ketimurannya dan seakan lupa darah Arab yang ada di dirinya.
Ya....Jihan juga sama seperti gadis dari belahan dunia lainnya,memperlihatkan jati diri yang sebenarnya,hatinya wanita dan perasaannya wanita,Habil memahami itu,sesaat mereka begitu menikmati kebersamaan dan kemesraan yang mereka ciptakan.
"Aku menyukai pria yang romantis Kak Habil..."
Jihan tersenyum merasa menang.
"Sudah kita pulang,malu dengan kerudung mu heee...kita lanjutkan ngobrolnya di Cafe saja"
Jihan hanya tersenyum,dirinya hanya ingin tahu respon Habil dan itu sudah menjadi sinyal buat dirinya dan membuat Jihan tersenyum senang.
Tak seperti perkiraan dan bayangannya sebelum bertemu dan dekat,Jihan membayangkan Habil yang dingin, keras,otoriter, ingin menang sendiri juga dominan dalam segala hal,Habil jauh dari perkiraan itu semua,Habil begitu ngemong, lembut walau belum begitu romantis,Habil bangkit dan Habil menyodorkan tangannya Jihan menyambutnya sambil tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Habil,dan Habil mendekatkan hidungnya dengan hidung Jihan lalu menggeseknya kiri kanan sambil tertawa.
Cinta mereka baru di mulai penjajakan baru di lakukan hanya perlu waktu dan kebersamaan juga selanjutnya saling pengertian dan saling menghargai satu sama lain mereka berjalan bergandengan kembali pulang meninggalkan pantai yang tetap bergemuruh dengan angin dingin yang lembut menyentuh kulit dan riak ombak di tengah temaram menyapa malam yang semakin sunyi.
Senyum tersungging di bibir Habil dan senyum merekah di bibir Jihan satu babak telah mereka lalui semua tak menakutkan seperti sugesti mereka tentang perjodohan pada umumnya,mereka anak muda milenial yang berfikir modern dan bisa menyiasati semuanya,di jodohkan no problem tapi pengenalan lebih lanjut hak mereka.
Mereka berjalan bergandengan, mungkin rasa di hati mereka telah berubah menjadi satu rasa yang baru mereka rasakan lain dari sebelumnya,sebelum mereka dewasa.
__ADS_1
Habil menggandeng tangan Jihan sampai naik ke mobilnya dan sampai Jihan duduk dengan nyamannya.
"Terimakasih Kak..."
Habil membungkuk dan sebelah tangannya satu ke belakang dan satunya terbentang ke depan seperti pelayan pelayan jaman dulu di negara negara Eropa kuno saat mempersilahkan tuanya,atau seperti pawang matador setelah suksesnya memberi pertunjukan pada para penontonnya,Jihan tertawa dan Habil tersenyum senang.
Mungkin kalau bukan Habil dan Jihan tak akan seperti ini awal sebuah penjajakan perjodohan,Jihan yang begitu beraninya memulai dan Habil begitu tak menduganya,dirinya yang begitu banyak pertimbangan menjadikan lamban merespon sikapnya Jihan,tapi seiring berjalannya waktu semua seperti natural adanya.
"Apa rencana selanjutnya setelah selesai studi mu Ji...?" Habil begitu mesranya memandang Jihan setelah mereka duduk berhadapan di Cafe.
"Aku belum punya rencana apapun Kak,paling di Hotel Hotel dulu walau aku bukan anak Hotel aku kan ngambil ekonominya Curtin University heeee..."
"Lho kok ? bukannya Perhotelan ?"
"Aku ingin beda dari tradisi keluarga kita,nggak apa apa kan ?"
"Masalahnya Abi mu setuju begitu ? bukankan anak yang baik adalah yang bisa meneruskan dan memajukan bisnis orangtuanya ?"
"Heeee... sepertinya aku bukan anak yang baik,tapi setidaknya aku menemui Kak Habil adalah bakti ku juga pada orangtua"
"Aku kagum padamu Ji...kamu lebih mengikuti kata hatimu, semoga kedatanganmu ke sini juga yang terbaik menurut kata hatimu"
"Heemght..." Jihan hanya tersenyum.
"Sudah terlalu malam ayo aku antar kamu ke kamar biar istirahat"
Jihan tak membantah dan mengikuti apa kata Habil mereka berjalan di lorong kamar kamar Hotel yang berderet,Jihan membuka tasnya mengambil anak kunci dan membukanya dan masuk duluan.
"Kak Habil nggak masuk dulu ?"
Habil melihat jam di pergelangan tangannya dan menggeleng.
"Sebenarnya penawaran yang menarik,tapi ini sudah malam...istirahatlah"
__ADS_1
Jihan mengerti dan Habil pun tahu itu hanya basa basi,dan Habil masih memegang sopan santunnya,