
Hari itu benar benar di habiskan bersama sama dari mulai tengah hari, berdua mangkir alias bolos dari pekerjaannya,lagian siapa yang akan memarahi mereka mereka ? mereka berdua pucuk pimpinannya dan Aryanti orang kedua di tempatnya bekerja,dan gilanya ponsel mereka sama sama di matikan, hah !?
Seperti menemukan dunia lain yang baru di temukan nya mereka asyik menjelajah setiap ruang ruang asing bagi keduanya,ber basah basahan,berlarian main pasir dan menuliskan kata kata hati mereka di pasir,berpegangan tangan dan berteriak berdua menantang angin dan berteriak pada ombak,tertawa lepas saat keduanya saling tangkap lalu berpelukan.
Setelah cape mereka berpelukan di balik pohon, dan di bawah rindangnya dedaunan atau duduk berdua di tempat duduk bangku bangku an kayu dengan kaki di ayun bersama sama dan tangan mereka berpegangan erat,terkadang Aryanti menyandarkan kepalanya di sebelah bahu Adrian,tak ada kata hanya deburan hati mereka yang di rasakan dan di nikmati dengan sepenuh hati.
Dunia hanya milik mereka berdua,dan perasaan cinta mereka,dan kebahagiaan mereka berdua,semua di reguk nya begitu penuh gairah asmara yang bembuncah,melebihi buih yang di hasilkan ombak yang tiada henti di tepi pantai.
Tak ada kata yang dapat melukiskannya seperti apa kebahagiaan yang mereka berdua rasakan, tak ada kiasan yang bisa mengibaratkan bagaimana rasa cinta yang mereka berdua rasakan,hanya mereka yang mengerti betapa cinta tengah menguasainya,melihat pasangannya tersenyum sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keduanya.
"Sayang apa kamu bahagia ?"
"Heemght..." Aryanti menatap Adrian manja sambil menghadiahkan senyuman terindahnya.
"Ayo kita teriakan lagi perasaan kita ke tengah lautan...
"Heeeeee ayo yang keras ya biar seisi dunia mendengarnya dan mereka tahu"
"Haaaaaaaa..."
"Aryantiiiiiiii....aku sayang kamuuuuuuuu....!"
"Mas Adriaaaaaaaaaan...aku juga sayang kamuuuuuuuu...!"
"Haaaaaaaa, haaaaaaaa...."
Tak perduli apa kata orang,biarkanlah orang memandang aneh pada kita,biarkanlah orang bebas berpendapat tentang kita,kita tak perduli,memperdulikan pendapat orang akan panjang persoalannya karena tiap orang pasti berbeda pendapatnya.
Dan benar adanya sampai hari bergeser menjelang senja mereka masih di pantai dengan Aryanti duduk bersila dan Adrian merebahkan tubuhnya posisi telungkup dengan kepala ke atas mereka berhadapan dan tangan Adrian sibuk menggambar di pasir pakai kayu kecil,seperti di kasur saja semua terasa indah,pasir putih dan hangat setelah seharian di jemur matahari,angin semilir terasa menyejukkan hati.
"Ini aku Papanya,ini kamu Mamanya,dan ini anaknya ada satu dua tiga empat lima..."
"Heeeeee jelek banget Mas gambarnya"
"Biarin kan aslinya ganteng sama cantik"
"Idiiiih Mas banyak banget anaknya hapus tiga...dua aja cukup,kebanyakan itu aku yang repot nantinya" Adrian menghalangi tangan Aryanti yang akan menghapus gambar.
"Eh jangan jangan,jangan di hapus,nggak seru cuma dua aku mau lima"
"Aku nggak mau Mas aku mau dua" Aryanti tegas dengan keputusannya seakan ini sungguhan nyata adanya Aryanti menghapus tiga gambar anak di pasir dan Adrian menangkap tangannya sambil tertawa.
"Kamu main hapus aja biarin ini kan anak aku"
__ADS_1
"Terus Mamanya siapa ?"
"Ya kamu, haaaaaaaa..."
"Ya sudah urus tuh semua anak anaknya,aku mau makan Mas lapar banget"
"Ayo kita cari makan mau di mana yang seafood seafood itu lagi mau ?"
Aryanti mengangguk,Adrian berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Aryanti dan Aryanti menyambutnya lalu mereka berdiri menepuk nepuk pasir yang menempel di pakaian mereka,
Mereka beranjak menuju mobil dan meninggalkan satu kenangan yang tak akan terlupakan,jejak yang membekas bukan di pasir,tapi di sanubari mereka betapa anugrah cinta begitu indah melukis dua hati mereka.
Seperti kelaparan Aryanti makan,Adrian tersenyum melihat yang di sampingnya makan sampai nggak ngomong atau ngobrol atau berkomentar apa apa saking asyiknya menikmati santapannya.
"Pelan pelan sayang makannya kayak baru di kasih uang belanja saja sama Papanya"
"Habis lapar banget Mas juga capek ngurus anak sampai lima gitu heeeee..."
"Haaaaaaaaaaa, haaaaaaaaa ya sudah dua aja nggak apa apa kasihan nanti Mamanya nggak punya waktu buat Papanya"
"Mamanya kerja nggak nanti ?"
"Nggak kerja juga nggak apa apa,biar total ngurus anak sama Papanya"
"Mas emang serius anaknya mau lima ?"
"Ya sama apalagi aku Mas,malah aku sendirian apa apa hanya dengan orangtua ku saja lebih kesepian aku,tapi itu semua hukum alam semua pasti mengalami siklus itu,anak anak dewasa dan jadi orangtua,dan Nex generasi punya cucu,masa kecil masa sekolah masih bersama orangtua dewasa punya nasib dan takdir masing masing"
"Kamu jagan kesepian lagi sekarang ya,kan ada aku,kita saling mengisi dan saling berbagi" Aryanti mengangguk mengiyakan.
"Mas adik Mas yang perempuan itu Adelia ya namanya,orangnya seperti apa Mas ?"
"Oh iya aku belum pernah cerita ya sama kamu ya,anaknya baik pintar walau nggak sepintar kamu mungkin,tapi agak jutek gitu nggak tahu itu cuma karakter anak anak saja dan belum ada fikiran dewasa,semoga saja dengan jauhnya dari orangtua menjadikannya lebih bisa membawa dirinya"
"Kapan aku bisa berkenalan dengannya ya Mas,udah semester berapa dia di sana ?"
"Mau tiga semester kalau nggak salah, paling ngambil tiga tahun kuliahnya,nanti balik ke sini aku kenalin kamu pasti dia senang punya kakak ipar kamu"
"Semoga aja Mas heeee..."
"Mas waktu aku ketemu pak Habil di sekretariat PHRI malah dia mengira aku lulusan luar negeri ,lucu banget heeeeee..."
"Terus kamu jawab apa "
__ADS_1
"Ya aku jawab aku kuliah di Bandung malah harusnya aku jadi guru TK atau Paud bukan kerja di Hotel,kalau memang mengambil kerja sesuai jurusan kuliah"
"Hati hati tuh Arab sepertinya belum berkeluarga dan naksir sama kamu kalau sering ketemu,aku nggak rela kalau dia naksir kamu biar aku usir kembali ke Arab biar ngurus kebun kurmanya di sana"
"Hush jangan suudzon sama orang,berprasangka baik itu lebih baik,biarkan orang suka atau naksir yang penting kitanya nggak,hak azasi semua orang suka benci dan yang lainnya"
"Aku melihat waktu dia jadi tamu di peresmian itu,sorot matanya terus aja memandangi kamu,aku nggak suka itu"
"Heeeeee... ceilaaaaa... segampang itu menyimpulkan orang,Mas,hati orang itu dalam lebih dalam dari samudra dan lautan,nggak mudah menebak hati orang "
"Tapi aku nggak suka kamu di pandangi seperti itu,makanya aku nggak mau ketemu dia waktu ada undangan dari sekretariat PHRI itu"
"Baru di pandangi udah jealous, nggak boleh gitu ah...orang nggak ngapa ngapain biasa saja malah aku simpatik sama dia,dia baik,ramah,sopan juga pintar enak ngobrolnya bisa tukar pengalaman dan ilmu perhotelan"
"Itu Hotel orangtuanya ya Mas ?"
"Iya sama seperti Bapak punya group Hotel, keluarga Al-Rasyid bapaknya Si Habil Itu"
"Oh,aku baru tahu"
"Hati hati saja kamu jangan terlalu akrab"
"Ya hati hati lah Mas,lebih hati hati dari mau menyebrang jalan ramai heee..."
Adrian mencubit tangan Aryanti dan lama nggak di lepasin,baru setelah Aryanti minta maaf dan ampun baru di lepasin,Aryanti mengusap usap tangannya yang merah,hatinya geli melihat tingkah Adrian yang cemburu nggak jelas,orangnya di mana,perasaanya seperti apa,sangat tidak beralasan dan jauh dari fakta dan logika,rasa sayang dan cinta mungkin seperti itu,tak lepas dari rasa cemburu begitu indah di rasakan Aryanti,di cemburui orang yang di cintainya.
"Mas pulang yu,udah main HP nya,nggak tahan mau mandi"
"Bentar lagi nih aku baru kirim pesan sama Mamaku"
"Pesan apaan ?"
"Ada aja"
"Boleh aku tahu"
"Boleh tapi nanti"
"Nantinya kapan ?"
"Nantinya kalau kita mau tunangan dan tukar cincin haaaaaaaa..."
"Ah Mas curang"
__ADS_1
"Udah kita pulang yu"
Adrian menggandeng tangan Aryanti,mereka berjalan menuju ke mobil dan di dalam hati Adrian ingin saatnya nanti itu cepat datang,dan di dalam hati Aryanti ingin tahu seperti apa saat nanti itu.